
Segala puji bagi
Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasul
junjungan; Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Indah dan
melenakan. Itulah dunia. Karena itu, tak sedikit yang sengsara
dibuatnya. Ada yang celaka, ada juga yang terhina. Andaikata ada yang
bahagia karena dunia, itu hanya sementara. Karenanya, kita
harus senantiasa waspada. Jangan sampai terlena. Jika tidak, kita akan
menjadi korban berikutnya. Waspadalah..waspadalah..! Berikut ini catatan
penting tentang dunia yang tidak boleh dilewatkan begitu saja.
Dunia dengan segala
kemegahan dan keindahannya tidak ada nilainya jika dibandingkan dengan akhirat.
Camkanlah firman Allah berikut ini (Q.s. at-Taubah [9]: 38), yang
artinya: “Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti
kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan
dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit.” Berapa banyak yang
mampu manusia peroleh dari kepuasan itu? Padahal umurnya hanya sebentar. Jika
ia memilih kenikmatan yang sedikit itu, maka di akhirat kelak tidak ada
tempat yang pantas baginya, melainkan neraka.
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا
وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا
يُبْخَسُونَ أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ
وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barang siapa yang
menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada
mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia
itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat,
kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di
dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan” (Q.s. Hûd [11]:
15-16).
Apa yang menjadi
bagian manusia di dunia ini pasti akan diberikan kepadanya, tanpa dikurangi
sedikitpun dari haknya. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam berikut ini.
فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى
تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا
“Sesungguhnya tiap
jiwa tidak akan dicabut nyawanya hingga disempurnakan rezekinya, meskipun itu
terlambat” (HR. Ibnu Majah. Menurut Syaikh Albani, hadis
ini sahih).
Jika demikian, lantas
apa sebenarnya yang membuat manusia menjadi tamak terhadap dunia?
Bukankah masing-masing sudah ada jatahnya. Tidak berlebih dan tidak berkurang?
Siapa pun yang tamak
terhadap dunia, hingga membuatnya mengambil hak orang lain, atau membuat
perhatiannya hanya tertuju pada dunia semata melebihi batas kewajaran, maka
secara otomatis ia akan menyia-nyiakan akhiratnya. Yang mengakibatkan ia
dilempar ke dalam api neraka. Rasulullah pernah bersabda, yang artinya: “Pada
hari kiamat kelak akan didatangkan seorang penduduk neraka; dulu ketika di
dunia ia adalah orang yang paling enak hidupnya. Lantas dicelupkan ke dalam
neraka sekali celup. Kemudian ditanyai, “Wahai manusia, apakah
engkau pernah merasakan kenikmatan?” Ia pun menjawab, “Belum pernah, wahai
Tuhan, sedikitpun” (H.r. Muslim dan Ahmad).
Hanya sekali celupan
dalam siksaan, ia telah melupakan kesenangan, kebahagiaan, dan kenikmatan yang
dulu pernah dirasakannya di dunia. Itu pun cuma satu celupan. Nah, bagaimana
kalau azab akhirat itu adalah sesuatu yang akan ia rasakan untuk
selama-lamanya? Bukankah ia akan hidup dalam kesengsaraan yang abadi?
Orang
yang orientasinya akhirat tidak akan merugi di dunia. Bahkan, ia
justru akan mendapatkan bagian dunia dan akhirat sekaligus. Maka adalah suatu
kebodohan jika kita hanya memfokuskan amalan kita untuk mengejar dunia. Seperti
firman Allah berikut ini (Q.s. al-Baqarah [2]: 200): Maka di antara
manusia ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di
dunia,” dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.
Sedangkan orang yang berakal pasti akan memanjatkan doa dengan redaksi berikut.
وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا
فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Dan di antara mereka
ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia
dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”” (Q.s.
al-Baqarah [2]: 201). Inilah doa yang sebaik-baiknya bagi seorang Muslim.
Amalan yang
berorientasi akhirat adalah sebab seseorang memperoleh kebahagiaan di dunia.
Lalu kenapa banyak orang yang menyia-nyiakan dua kebahagiaan
ini? Itu tidak lain karena mereka berpaling dari tuntunan Allah ‘Azza
wa Jalla. Renungilah firman-Nya berikut (Q.s. Thâhâ [20]: 123-127), yang
artinya: “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu
menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk
daripada-Ku, lalu barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat
dan tidak akan celaka; Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka
sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya
pada hari kiamat dalam keadaan buta.” Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa
Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah
seorang yang melihat?”; Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu
ayat-ayat Kami, tetapi kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu
pun dilupakan,” Demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak
percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat
dan lebih kekal. Maka siapa saja yang beramal hanya untuk dunia, baginya
penghidupan yang sempit, dan di akhirat kelak ia akan disiksa dalam azab yang
pedih. Adapun jika ia beramal untuk akhirat, baginya sebenar-benar penghidupan
di dunia dan akhirat sekaligus.
Orang yang
“matian-matian” mengejar dunia, pada hakikatnya hanyalah mewujudkan hasil yang
sudah ditentukan. Atau, dengan kata lain mengejar sesuatu yang pasti akan
sampai ke pemiliknya, tanpa dikurangi sedikit pun. Oleh karena itu, apa pun
yang ia lakukan tidak akan memengaruhi bagian yang telah ditentukan untuknya. Layaknya
seorang yang masuk ke sebuah kebun, lalu merasa takjub dengan apa yang ada di
dalamnya. Namun, ia justru sibuk melobi pegawai dan pemilik kebun;
meminta dispensasi perpanjangan jam berkunjung. Ketika bel berbunyi tanda jam
berkunjung telah habis, ia baru tersentak kaget, sebab ia belum berhasil dengan
usaha lobinya. Dan Ia pun diminta keluar dengan perasaan terhina. Bahkan
sekadar mencicipi buah yang ada di kebun itu pun ia belum sempat.
Begitu juga keadaan
orang yang masuk ke dalam kebun yang bernama dunia. Ia akan tersibukkan oleh
keindahan dan kemegahan yang ada. Lalu berusaha memperpanjang masa kontraknya
dengan mencari ‘obat ampuh’ ke sana-ke mari demi memperpanjang umur. Namun,
tidak ada satu pun yang berhasil. Justru, ia dikegetkan oleh kedatangan
malaikat maut yang akan mencabut nyawanya, telah berdiri di depan matanya
seraya membisikkan sebuah kata di telinganya, “Waktumu sudah habis.
Kesempatanmu di dunia ini sudah habis. Ajalmu telah tiba. Keluarlah engkau
secara suka rela. Atau kalau tidak, engkau akan dipaksa”.
وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ
ذَلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ وَنُفِخَ فِي الصُّورِ ذَلِكَ يَوْمُ الْوَعِيدِ
وَجَاءَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَعَهَا سَائِقٌ وَشَهِيدٌ لَقَدْ كُنْتَ فِي غَفْلَةٍ
مِنْ هَذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ
“Dan datanglah
sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari
daripadanya Lalu ditiuplah sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman.
Kemudian datanglah tiap-tiap diri, bersama dengan Dia seorang Malaikat
penggiring dan seorang malaikat penyaksi. Sesungguhnya kamu berada dalam
Keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang
menutupi) matamu, Maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam” (Q.s. Qâf
[50]: 19-22).
Orang berakal berusaha
menggunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya demi sebuah kebahagiaan yang
hakiki. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Orang
yang berakal adalah orang yang menundukkan hawa nafsunya dan beramal
untuk kehidupan setelah mati. Sedangkan orang yang bodoh adalah orang yang
memperturutkan hawa nafsunya dan berangan-angan terhadap Allah” (HR.
Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad, menurut adz-Dzahabi hadis ini sahih, sedangkan
menurut Syeikh al-Albani dha’if).
Walhamdulillahi Rabbil
‘Alamin
***
Penulis: Abu Hasan
Abdillah, BA., MA.
Artikel Muslim.Or.Id