Islam Pedoman Hidup: Dakwah
Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Mei 2018

Apa Hukum Ceramah Tarawih?


Pertanyaan:
Apa hukum memberikan nasehat disela shalat  tarawih, atau kadang dilakukan di tengah-tengah pelaksanaan shalat tarawih secara rutin?

Jawaban Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin: 

Tidak terlarang. Jika setelah salam lalu imam berdiri untuk shalat berikutnya, kemudian ia melihat shaf agak kurang lurus, atau ma’mum terpisah-pisah hingga terdapat rongga, maka hendaknya imam memberi nasihat: “Luruskan dan rapatkan!”. Hal ini tidak terlarang. Sedangkan nasihat yang berbentuk ceramah, sebaiknya tidak dilakukan. Jika ada sesuatu yang perlu disampaikan atau suatu keperluan, sebaiknya setelah tarawih selesai. Jika melaksanakan ceramah tarawih tersebut dimaksudkan sebagai ibadah, maka ini bid’ah. Dan salah satu pertanda, ceramah tersebut dimaksudkan sebagai ibadah adalah dengan melaksanakannya secara rutin setiap malam.

Namun aku ingin bertanya: Saudaraku, mengapa engkau mengadakan ceramah disela tarawih? Bukankah sebagian orang memiliki kesibukan sehingga ia ingin segera menyelesaikan shalat tarawih karena mengharapkan pahala yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam:
من قام مع الإمام حتى ينصرف كتب له قيام ليلة
Orang yang shalat tarawih bersama imam sampai selesai, ditulis baginya pahala shalat semalam suntuk.

Apabila anda senang mendengarkan atau memberikan ceramah, atau juga misalnya setengah dari jamaah pun suka mendengarkan ceramah, atau bahkan tiga per empat jamaah menyukainya, maka janganlah membuat jamaah yang seperempat lagi merasa ‘terpenjara di masjid’, karena mengedepankan kesenangan dari tiga perempat jamaah lainnya. Bukankah Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, yang kurang lebih lafazhnya:
إذا أمّ أحدكم الناس فليخفف فإن من ورائه ضعيف والمريض وذي الحاجة
Jika seseorang menjadi imam, hendaknya ia ringankan shalatnya. Karena di barisan ma’mum terdapat orang lemah, orang sakit dan orang yang memiliki keperluan.

Maksudnya, janganlah samakan keadaan orang lain dengan keadaanmu atau keadaan orang yang lainnya yang senang mendengarkan ceramah. Hendaknya terapkan standar yang membuat semuanya merasa lega. Maka imamilah tarawih sampai selesai, jika anda selesai dan ma’mum pun sudah selesai, silakan sampaikan apa yang hendak anda sampaikan.

Kita memohon kepada Allah agar Ia menganugerahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat serta amal shalih. Ajaklah mereka dengan bahasa yang menyenangkan untuk menghadiri majelis ilmu
من سلك طريقاً يلتمس فيه علماً سهل الله له به طريقاً إلى الجنة
Orang yang menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu,maka Allah akan permudah jalannya menuju surga.”

والحمد لله رب العالمين، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
Kaset Liqaa Bab Al-Maftuh No.118

Jawaban Syaikh Abdur Rahman bin Nashir Al Barraak:  

Alhamdulillah. Mengajarkan perkara agama kepada manusia, disyariatkan di setiap waktu. Karena hal tersebut adalah da’wah ilallah dan merupakan usaha penyebaran ajaran agama. Namun sebaiknya anda melihat masing-masing kondisi manusia, atau memilih waktu yang tepat sehingga umumnya mereka siap menerima materi. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam serta para sahabat. Dan Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam biasa memperhatikan kesiapan orang yang diberi ceramah karena khawatir mereka jengkel. Ini para sahabat, dan guru mereka adalah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Demikian juga, terdapat riwayat tentang Ibnu Mas’ud bahwa beliau juga memperhatikan kesiapan orang yang diberi ceramah. Demikian teladan dari Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam. Dan tidak ada contoh dari para sahabat dan tabi’in dalam mengkhususkan ceramah tertentu di bulan Ramadhan. Mereka bersepakat untuk memperbanyak membaca Al Qur’an dan menunda kesibukan lain seperti belajar agama atau banyak mengobrol sampai bulan Ramadhan selesai.

Berkaitan dengan hal tersebut, yaitu masalah ceramah tarawih yang dilakukan disela-sela atau setelahnya secara rutin, ini menyebabkan sebagian makmum merasa jengkel. Maka sebaiknya tidak terlalu banyak melakukannya. Yang baik, hendaknya menyampaikannya sebelum shalat fadhu atau setelah selesai tarawih, namun jangan dilakukan secara rutin, juga jangan terlalu lama.

Namun menurutku, tidak perlu diadakan ceramah tarawih sedikitpun, agar meringankan orang yang berharap agar shalat tarawih segera selesai karena memiliki keperluan. Selain itu juga, adanya ceramah tarawih ini juga dapat menghambat orang untuk melakukan aktivitas membaca Al Qur’an, yang mereka prioritaskan untuk mendapatkan keutamaan bulan Ramadhan. Karena mereka sudah memprogramkan untuk meng-khatam-kan Al Qur’an dalam waktu tertentu.

Dan perlu diketahui, ada imam-imam masjid yang berlomba-lomba memperbanyak acara pengajian dengan berbagai macam tema, ada juga yang menguranginya. Kita memohon kebaikan kepada Allah atas niat dan usaha mereka.
وأن ينفعنا بما علمنا، وأن يلهمنا هدي نبينه الكريم صلى الله عليه وسلم

Keterangan dari saya:  

Bagi yang membaca dengan seksama, penjelasan beliau berdua ini bukanlah membid’ahkan ceramah tarawih. Mereka menganjurkan sebaiknya tidak perlu diadakan dengan alasan:
  1. Shalat tarawih itu rakaatnya banyak dan dilakukan berjamaah, bagi sebagian orang ini sudah berat. Apalagi ditambah dengan adanya ceramah. Dan ini kita lihat sendiri pada realita, kebanyakan orang terkantuk-kantuk ketika mendengarkan ceramah tarawih. Selain itu untuk meringankan makmum yang memiliki keperluan. Karena Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam menganjurkan para imam untuk meringankan makmumnya.
  2. Adanya ceramah ditengah tarawih membuat jengkel sebagian orang dan ia keluar dari jamaah sebelum shalat selesai semua, misalnya keluar setelah 8 rakaat dan mengerjaan witirnya di rumah. Padahal jika tidak ada ceramah mungkin ia akan ikut sampai selesai dan mendapatkan keutamaan pahala shalat semalam suntuk.
  3. Tidak ada teladan dari para sahabat dan ulama terdahulu
  4. Agar umat muslim bisa menyibukkan diri membaca Al Qur’an
Saya juga berprasangka, bisa jadi berkurangnya jamaah shalat tarawih dari hari-ke-hari dikarenakan adanya ceramah ini. Andaikan shalat tarawih dilakukan tanpa ceramah tentu lebih cepat dan ringan sehingga orang-orang semangat melakukannya.
Kemudian beliau berdua membolehkan ceramah tarawih dengan syarat:
  1. Tidak dimaksudkan sebagai ibadah. Dengan kata lain, tidak boleh berkeyakinan bahwa ada ceramah itu lebih afdhal, dan jika tidak ada merasa ada yang kurang.
  2. Ceramahnya tidak lama
  3. Sebaiknya dilakukan setelah shalat selesai semua
  4. Tidak dilakukan secara rutin setiap hari
Ceramah tarawih bisa terjerumus ke dalam bid’ah jika diniatkan dalam rangka ibadah tersendiri. Walau niat adalah masalah hati, namun ada indikasi yang dapat dikenali misalnya berkeyakinan bahwa ada ceramah itu lebih afdhal, dan jika tidak ada merasa ada yang kurang, tanda yang lain adalah melaksanakannya secara rutin setiap hari.
Imbauan ini sejatinya bagi para pengurus masjid atau orang yang berkewenangan terhadap kegiatan masjid. Jadi, jika anda pengurus masjid, sebaiknya dipertimbangkan lagi dalam menyelenggarakan ceramah tarawih. Atau jika anda jamaah masjid, anda bisa memberikan masukan kepada pengurus masjid tentang hal ini.

Wallahu’alam.

Sumber: kangaswad.wordpress.com

____________________________
Share Ulang


Baca Selengkapnya >>>

Sabtu, 14 April 2018

Itulah Majelis Rasulullah...



Shahabat Handzolah bercerita:


كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرْنَا الْجَنَّةَ وَالنَّارَ حَتَّى كَأَنَّا رَأْيَ الْعَيْنِ فَقُمْتُ إِلَى أَهْلِي وَوَلَدِي فَضَحِكْتُ وَلَعِبْتُ

Kami berada di sisi Rasulullah   , beliau pun menceritakan kepada kami tentang surga dan neraka sehingga seakan-akan kami melihatnya dengan mata kepala saya sendiri. Namun setelah kami menemui istri dan anak-anakku, maka akupun kembali tertawa dan bercanda...... sampai akhir hadits. Diriwayatkan oleh imam ibnu Majah dan Muslim dan ini adalah lafadz ibnu Majah.



Perhatikan saudaraku..

Majelis rasulullah bukanlah majelis gelak ketawa..

tapi majelis yang mengingat neraka dan surga..

majelis yang membuat hati takut kepada Allah..

Dan membuat ingat tentang hakekat kehidupan..

Maka bila anda mendapati sebuah majelis taklim yang dipenuhi gelak ketawa..


Maka itu hakekatnya adalah majelis untuk mengeraskan hati..

karena Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda..

إياكم وكثرة الضحك فإن كثرة الضحك تميت القلب

“Jauhilah olehmu banyak tertawa, karena banyak tertawa itu dapat mematikan hati.” HR Ahmad.



Namun sayang di zaman ini..

majelis tertawa lebih disukai oleh banyak manusia..

Padahal tujuan majelis taklim adalah agar menjadikan manusia takut kepada Allah dan mengingat kehidupan akherat.

-------------

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

____________________________
Share Ulang
  • Citramas, Cinunuk.
  • from=  http://bbg-alilmu.com/archives/35342

Baca Selengkapnya >>>

Selasa, 19 Desember 2017

Kriteria Menjadi Seorang Da’i (Penyeru kepada Islam)


Asy Syaikh Muhammad Bin Abdil wahhab rahimahulloh berkata : 
 ﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ : ﺍﻟﺪﻋﻮﺓ ﺇﻟﻴﻪ  Mendakwahkannya.
Asy Syaikh Al-utsaimin Rahimahullah  menjelaskan:
  • Mendakwahkannya maksudnya mendakwahkan syariat Allah yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Tahapannya ada 3 atau 4.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
ﺍﺩْﻉُ ﺇِﻟَﻰٰ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺭَﺑِّﻚَ ﺑِﺎﻟْﺤِﻜْﻤَﺔِ ﻭَﺍﻟْﻤَﻮْﻋِﻈَﺔِ ﺍﻟْﺤَﺴَﻨَﺔِ ۖ ﻭَﺟَﺎﺩِﻟْﻬُﻢْ ﺑِﺎﻟَّﺘِﻲ ﻫِﻲَ ﺃَﺣْﺴَﻦُ ۚ
Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik…”  (An-Nahl: 125)
Firman Allah :
ﻭَﻟَﺎ ﺗُﺠَﺎﺩِﻟُﻮﺍ ﺃَﻫْﻞَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﺎﻟَّﺘِﻲ ﻫِﻲَ ﺃَﺣْﺴَﻦُ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻇَﻠَﻤُﻮﺍ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ۖ
 “Dan janganlah berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara paling baik (Al-‘Ankabuut: 46)

SYARAT-SYARAT MENJADI SEORANG DA’I.

Seorang yang berdakwah harus memiliki ilmu tentang syariat Allah ta’ala, sehingga dakwah yang dilakukannya tegak diatas landasan ilmu dan bashirah, “hujjah nyata”. Hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala [artinya]: “Katakan, ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah nyata. Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik (Yusuf: 108)
Bashirah dalam dakwah akan terwujud jika seorang da’i memiliki ilmu tentang hukum syar’i, metode dakwah dan keadaan sasaran dakwah/orang yang didakwahi (mad’u).
Dakwah meliputi banyak bidang, diantaranya melalui:
1. khutbah dan ceramah
2. muhadoroh
3. halqah ilmu,
4. penulisan buku
Inilah bidang-bidang dakwah. Namun hendaknya dakwah dilakukan dengan cara yang tidak membosankan dan tidak memberatkan orang yang mendengarkan.
Nabi Shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim:
“Barangsiapa mengajak kepada petunjuk, maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang mengukutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa mengajak kepada kesesatan, maka ia mendapatkan dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinnya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.(HR. Muslim)
Nabi Shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim juga:
Siapa menunjukkan kebaikan, niscaya memperoleh pahala seperti pelakunya (HR. Muslim)
Nasehat Yang Berfaedah:
ﻛﻦ ﻋﺎﻟﻤﺎً ﺃﻭ ﻣﺘﻌﻠﻤﺎً ﺃﻭ ﻣﺴﺘﻤﻌﺎً ﺃﻭ ﻣﺤﺒﺎً ﻭﻻ ﺗﻜﻦ ﺍﻟﺨﺎﻣﺲ ﻓﺘﻬﻠﻚ
“Jadilah orang yang ‘alim atau orang yang mengajarkan ilmu, atau orang yang mendengarkan ilmu, atau orang yang mencintai ilmu, dan jangan engkau menjadi orang yang kelima, maka niscaya engkau binasa HR Al-Bazzar dan At-Thobrani
Wallohu a’lam bish Showaab
Walhamdulillah
Faedah Markiz Silale Ambon,  Dari kajian tsalaasatul ushuul
Disampaikan oleh : Al-Ustadz Abu ‘Usamah Al-Amboony Hafidzohulloh
__________________________


Share Ulang
  • Grand Trisula, Indramayu
  • from=  https://ashhabulhadits.wordpress.com/2017/11/04/kriteria-menjadi-seorang-dai-penyeru-kepada-islam/#more-23943

 
Baca Selengkapnya >>>

Selasa, 25 April 2017

Walau Dicemooh…


Kewajiban ahli ilmu adalah menyampaikan kebenaran walaupun dicemooh oleh orang orang yang kurang ilmunya.
Karena Allah Ta’ala mengambil perjanjian dari setiap ahli ilmu untuk menjelaskan kebenaran dan tidak boleh menyembunyikannya. Allah berfirman:
وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ
Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil perjanjian dari orang orang yang diberikan alkitab, “Hendaklah kalian menjelaskannya kepada manusia dan jangan menyembunyikannya.” (Ali Imron: 187)
Imam Qotadah rahimahullah berkata, “Ini adalah perjanjian yang Allah ambil dari para ahli ilmu. Siapa yang memiliki ilmu hendaklah ia menjelaskannya dan jangan menyembunyikannya.
Syaikh Muqbil berkata dalam kitab Jami’ shahihnya: Seorang alim mengamalkan sesuai ilmunya walaupun dicemooh oleh orang orang jahil.
Lalu membawakan atsar atsar dari sebagian shahabat. Diantaranya kisah Ma’qil bin yasar yang dikeluarkan oleh Ad Darimi: ketika beliau sedang makan lalu makanannya jatuh. Kemudian beliau mengambilnya dan membersihkan kotorannya dan memakannya. Maka orang orang ajampun mencemoohnya. Beliau berkata, “Aku tidak akan meninggalkan apa yang aku dengar dari Nabi shallallahu alaihi wasallam hanya karena cemoohan orang orang ajam tersebut.
______________
Abu Yahya Badrusalam, حفظه الله تعالى
from=http://bbg-alilmu.com/archives/26997
Baca Selengkapnya >>>

Manhaj Menuntut Ilmu…


Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah dalam kitabnya hilyah tholibil ‘ilmi mengatakan bahwa ilmu itu ibadah. Maka harus memenuhi dua syarat ibadah yaitu iklash dan mutaba’ah (sesuai dengan contoh rosulullah).
Diantara manhaj dalam menuntut ilmu adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
نضَّر الله امرأً سَمِع مقالتي فوَعَاها وحَفِظها وبَلَّغها، فرُبَّ حامل فِقْه إلى مَن هو أفقه منه،
Semoga Allah memberikan cahaya kepada wajah orang yang mendengarkan sabdaku lalu ia memahaminya lalu menghafalnya lalu menyampaikannya. Berapa banyak pembawa ilmu kepada orang yang lebih faham darinya.”
HR At Tirmidzi.
Hadits adalah hadits mutawatir yang diriwayatkan oleh sekitar 20 orang sahabat.
Perhatikanlah..
Dalam hadits ini Nabi menyebutkan manhaj menuntut ilmu:
1. Mendengar.
2. Memahami.
3. Menghafal.
4. Menyampaikan.
Oleh karena itu sebagian ulama berkata, “Awal ilmu adalah husnul istimaa’ yaitu pintar mendengar. Dan mendengar akan lebih sempurna dengan mencatat. Sebagaimana dikatakan oleh imam Az Zuhri: Ikatlah ilmu dengan mencatatnya.”
Maka hendaklah para penuntut pintar mendengar dan mencatat ilmu terlebih dahulu. Orang yang tak pandai mendengar ia tidak akan dapat menuntut ilmu.
Janganlah langsung loncat ke fase terakhir yaitu menyampaikan.. sehingga menjadi lebih pandai menshare dari pada mendengar.
Pandailah mendengar, lalu fahami lalu hafalkan dan kuasai lalu terakhir menyampaikan dengan penuh amanah ilmiyah.
Bila manhaj ini diabaikan.. akibatnya banyak bermunculan Lc (Langsung copas). Sehingga ilmu tak kokoh. Lebih banyak berkicau dan coment. Allahul Musta’an.
______________
Abu Yahya Badrusalam,  حفظه الله تعالى
from= http://bbg-alilmu.com/archives/27303
Baca Selengkapnya >>>

Selasa, 21 Februari 2017

Mau Terima, Silakan, Kalau Tidak, Ya Tidak Apa-Apa


Menularkan hidayah kepada orang lain adalah salah satu kewajiban kita. Lalu, mudahkah menularkan hidayah tersebut?
Sebenarnya, kita telah diberi bekal fitrah oleh Allah Ta’ala. Fitrah berupa mencintai kebenaran. Jadi, setiap orang telah tertanam dalam dirinya masing-masing fitrah berupa kecenderungan menerima hidayah. Sehingga relatif mudah dalam menerima hidayah tersebut.
Akan tetapi, masalahnya adalah banyak rintangan/godaan yang membuat hidayah tersebut susah ditularkan. Oleh karena itu, kita harus berusaha dalam menularkan hidayah tersebut dengan sebaik-baiknya alias berdakwah dengan menggunakan cara yang benar. Karena dakwah itu tidak sekadar mengatakan “Ini halal dan ini haram. Kamu mau terima silakan, tidak ya ngga apa-apa… yang penting aku sudah menyampaikan.”, tapi kita dituntut untuk mengemas dakwah tersebut dengan sebaik-baiknya sehingga dakwah tersebut bisa diterima dengan baik oleh masyarakat.
Jadi, dakwah itu tidak boleh asal-asalan atau sekadarnya dan berdalih dengan kalimat “Yang penting kita hanya menyampaikan. Kalau sudah menyampaikan berarti kita sudah terbebas di hadapan Allah.”
Lalu ketika ditanya, “Dalilnya apa?”
“Dalilnya di Alquran surat Al-Araf ayat 164 :
…مَعْذِرَةً إِلَىٰ رَبِّكُمْ …
…Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Rabbmu..
“Iya, tapi tolong baca ayat tentang hal tersebut dengan lengkap!”
وَإِذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا اللَّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا قَالُوا مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ
Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa.” (QS Al A’raf: 164)
Jadi, orang yang berdakwah itu minimalnya mempunyai dua tujuan utama:
  1. Agar terbebas dari tanggung jawab nanti di hadapan Allah Ta’ala.
  2. Agar objek dakwah kita menerima apa yang kita sampaikan.

Jadi, berdakwah itu tidak boleh asal-asalan, yang penting kita bebas. Tetapi kita harus berusaha sebaik-baiknya agar objek dakwah kita menerima apa yang kita sampaikan.

——-
Referensi: Rekaman kajian “Mencuri Hati” yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. –hafizhahullah- dan disiarkan dari Masjid Kampung Santri, Desa Cilembu, Sumedang.
Artikel www.muslimah.or.id


Sumber: https://muslimah.or.id/9279-mau-terima-silakan-kalau-tidak-ya-tidak-apa-apa.html
Baca Selengkapnya >>>

Senin, 06 Februari 2017

Wajib Berdakwah Mengajak Manusia Kepada Kebaikan Dan Haram Berdakwah Mengajak Kepada Kesesatan


Oleh
Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas  حفظه الله

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
Barangsiapa mengajak (manusia) kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa mengajak (manusia) kepada kesesatan maka ia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun
TAKHRIJ HADITS
Hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh Imam Muslim, no. 2674; Abu Dawud, no. 4611; At-Tirmidzi, no. 2674; Ibnu Mâjah, no. 206; Ahmad, II/397; Ad-Dârimi, I/130-131; Abu Ya’la, no. 6489) (649) tahqiq Husain Salim Asad; Ibnu Hibbân, no. 112-at-Ta’lîqâtul Hisân; Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah, no. 109
KOSA KATA HADITS
  • هُدًى : Petunjuk. Yaitu kebenaran dan kebaikan.
  • ضَلَالَة : Kesesatan. Yaitu kebathilan dan kejelekan (keburukan).[1]
SYARAH HADITS
Hadits ini –dan juga hadits-hadits yang serupa dengannya- mengandung anjuran untuk berdakwah yaitu mengajak manusia kepada petunjuk dan kebaikan, keutamaan da’i. Hadits ini juga peringatan dari perbuatan mengajak manusia kepada kesesatan dan penyimpangan, serta besarnya dosa penyeru (kepada kejelekan) tersebut dan akibatnya.
Ada hadits yang serupa dengan hadits di atas, yaitu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ سَنَّ فِـي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ ، وَمَنْ سَنَّ فِـي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِـّئَةً ، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ
Barangsiapa yang memberi teladan (contoh) perbuatan yang baik, ia akan mendapatkan pahala perbuatan tersebut serta pahala orang yang mengikutinya (sampai hari kiamat) tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang memberikan contoh kejelekan, maka ia akan mendapatkan dosa perbuatan tersebut serta dosa orang-orang yang mengikutinya (sampai hari kiamat) tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.[2]
Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Kedua hadits di atas jelas menunjukkan anjuran dan disukainya memberikan contoh perkara-perkara yang baik dan haramnya memberikan contoh perkara-perkara yang buruk. Orang yang memberi teladan perbuatan yang baik, maka ia akan mendapatkan pahala perbuatan tersebut serta pahala orang yang mengikutinya sampai hari kiamat. Dan orang yang memberikan contoh kejelekan, maka ia akan mendapatkan dosa perbuatan tersebut serta dosa orang-orang yang mengikutinya sampai hari kiamat. Begitu juga orang yang mengajak kepada petunjuk, ia mendapat pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, atau mengajak kepada kesesatan maka ia mendapat dosa seperti dosa-dosa pengikutnya, baik petunjuk atau kesesatan tersebut ia yang pertama kali memulainya, atau sudah ada sebelumnya (yang melakukannya). Dan baik itu dengan mengajarkan ilmu, atau ibadah, ataupun adab dan lainnya.
Perkataan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ) ‘yang mengerjakannya setelahnya, maknanya bahwa perbuatan teladan tersebut (diikuti oleh orang lain) baik semasa hidupnya ataupun setelah ia meninggal dunia. Wallâhu a’lam.”[3]
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa orang yang mengajak kepada petunjuk dengan dakwahnya, ia mendapat ganjaran seperti ganjaran orang yang mendapat petunjuk tersebut. Dan orang yang menyebabkan kesesatan dengan seruannya, ia akan mendapat dosa seperti dosa orang yang ia sesatkan tersebut. Karena orang yang pertama telah mencurahkan kemampuannya untuk memberikan petunjuk kepada manusia, dan orang kedua mencurahkan tenaganya untuk menyesatkan manusia. Maka masing-masing dari keduanya berkedudukan seperti orang yang melakukan perbuatan tersebut.
Ini adalah kaidah syari’at. Allâh Azza wa Jalla berfirman:
لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۙ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ
Mereka pada hari kiamat memikul dosa-dosanya sendiri secara sempurna, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, alangkah buruknya (dosa) yang mereka pikul itu. [An-Nahl/16 :25]
وَلَيَحْمِلُنَّ أَثْقَالَهُمْ وَأَثْقَالًا مَعَ أَثْقَالِهِمْ ۖ وَلَيُسْأَلُنَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَمَّا كَانُوا يَفْتَرُونَ
Dan mereka benar-benar akan memikul dosa-dosa mereka sendiri, dan dosa-dosa yang lain bersama dosa mereka dan pada hari Kiamat mereka pasti akan ditanya tentang kebohongan yang selalu mereka ada-adakan.” [Al-‘Ankabût/29 :13]
Ini menunjukkan bahwa orang yang mengajak manusia kepada selain sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dialah musuh Beliau yang sebenarnya. Karena ia memutus sampainya pahala orang yang mendapat petunjuk dengan sunnah Beliau kepadanya. Dan ini merupakan sebesar permusuhannya.”[4]
KEUTAMAAN BERDAKWAH MENGAJAK KEPADA KEBENARAN
Dakwah di jalan Allâh Azza wa Jalla merupakan amal yang sangat mulia, ketaatan yang besar dan ibadah yang tinggi kedudukannya di sisi Allâh Subhanahu wa Ta’ala.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. [Ali ‘Imrân/3:104]
Juga firman-Nya:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allâh, dan mengerjakan kebajikan dan berkata, ‘Sungguh aku termasuk orang-orang Muslim (yang berserah diri).’ [Fushshilat/41:33]
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu :
فَوَاللهِ، لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ
Demi Allâh, bila Allâh memberi petunjuk (hidayah) lewat dirimu kepada satu orang saja, lebih baik (berharga) bagimu daripada unta-unta yang merah.[5]
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Demi masa! Sungguh, semua manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih (kebajikan) serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran. [Al-‘Ashr/103:1-3]
Berdasarkan ayat-ayat al-Qur-an dan hadits ini, yang dimaksud dengan اَلْهُدَى adalah ilmu yang bermanfaat dan amal shalih.
Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا
Dialah Yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allâh sebagai saksi. [Al-Fath/48: 28]
Yang dimaksud dengan اَلْهُدَى (petunjuk) ialah ilmu yang bermanfaat, dan yang dimaksud dengan دِيْنُ الْحَقِّ (agama yang benar) ialah amal shalih. Allâh Azza wa Jalla mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjelaskan kebenaran dari kebathilan, menjelaskan tentang Nama-Nama Allâh Azza wa Jalla, Sifat-Sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, hukum-hukum dan berita yang datang dari-Nya, memerintahkan semua yang bermanfaat untuk hati, ruh dan jasad. Beliau memerintahkan untuk mengikhlaskan ibadah semata-mata karena Allâh Azza wa Jalla, mencintai-Nya, berakhlak dengan akhlak yang mulia, beramal shalih, beradab dengan adab yang bermanfaat. Beliau melarang perbuatan syirik, perilaku dan akhlak yang buruk yang berbahaya untuk hati dan badan, dunia dan akhirat.[6]
Maka setiap orang yang mengajarkan ilmu atau mengarahkan orang lain kepada jalan yang bisa ditempuh untuk mendapatkan ilmu, maka dia disebut sebagai penyeru kepada petunjuk. Dan setiap orang yang menyeru kepada amal shalih yang berkaitan dengan hak Allâh atau hak makhluk secara umum dan khusus, maka dia juga disebut sebagai penyeru kepada petunjuk.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Barangsiapa menunjukkan (manusia) kepada kebaikan, maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang yang melakukannya.[7]
Setiap orang yang memberi nasehat berkaitan dengan agama atau dunia yang bisa mengantarkannya kepada ajaran agama, maka orang itu adalah penyeru kepada petunjuk.
Setiap orang yang mendapat petunjuk dalam ilmu serta amalnya, lalu diikuti oleh orang lain, maka dia adalah penyeru kepada petunjuk.
Dan setiap orang yang membantu orang lain dalam amal kebaikan atau proyek umum yang bermanfaat, maka dia masuk dalam kategori hadits ini, seperti berdakwah, sedekah, membangun masjid, sekolah, pondok pesantren dan lainnya.
Setiap orang yang menolong orang lain dalam kebaikan dan takwa, maka dia termasuk penyeru kepada petunjuk.
Sebaliknya, setiap orang yang menolong orang lain dalam dosa dan permusuhan, maka dia termasuk penyeru kepada kesesatan.
DEFENISI DAKWAH
Dakwah (mengajak manusia ke jalan Allâh), yaitu mengajak manusia untuk beriman kepada Allâh Azza wa Jalla, mengimani apa yang dibawa para Rasul-Nya, dengan membenarkan apa yang mereka kabarkan kepada manusia, mentaati mereka, mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, puasa di bulan Ramadhan, haji ke Baitullah, mengajak manusia untuk beriman kepada Allâh Azza wa Jalla, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, beriman kepada hari akhir (dibangkitkannya manusia sesudah mati), iman kepada qadar yang baik dan buruk, dan mengajak manusia untuk beribadah hanya kepada Allâh saja seolah-olah ia melihat-Nya.[8]
Jadi, yang dikatakan dakwah adalah mengajak manusia kepada Rukun Islam, Rukun Iman, dan melaksanakan syari’at Islam, taat kepada Allâh dan Rasul-Nya, mengajak manusia untuk mentauhidkan Allâh Azza wa Jalla, melarang perbuatan syirik, mengajak umat untuk ittiba’ (meneladani Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) dan melarang dari berbuat bid’ah. Mengajak manusia ke jalan yang benar agar selamat di dunia dan di akhirat dengan mengikuti Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat.
Dakwah di jalan Allâh merupakan sebesar-besar ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla. Dan perkataan yang paling baik adalah mengajak manusia ke jalan Allâh dan beramal shalih.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allâh, dan mengerjakan kebajikan dan berkata, ‘Sungguh aku termasuk orang-orang Muslim (yang berserah diri). [Fushshilat/41:33]
RUKUN DAKWAH 
Orang yang berdakwah di jalan Allâh Azza wa Jalla harus mengetahui fikih dakwah serta pokok-pokoknya agar dakwahnya berjalan di atas bashirah (ilmu dan keyakinan).  Maka di antara rukun dakwah, yaitu:
Rukun pertamamaudhu’ (tema) dakwah, yaitu agama Islam.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
Sesungguhnya agama di sisi Allâh ialah Islam [Ali ‘Imrân/3:19]
Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Dan barangsiapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi. [Ali ‘Imrân/3:85]
Rukun keduada’i (penyeru) yaitu orang yang mengajak kepada kebenaran dan kebaikan.
Seorang da’i hendaknya mengetahui bekal seorang da’i dan senjatanya, apa tugasnya, bagaimana seharusnya akhlak seorang da’i, dan memahami itu semua merupakan hal paling penting bagi seorang da’i.
Di antara bekal yang harus dimiliki oleh seorang da’i yaitu:
  • Pemahaman yang mendalam yang dibangun di atas ilmu sebelum beramal. Yaitu memahami aqidah dengan pemahaman yang benar dengan dalil-dalil dari al-Quran, hadits, serta ijma’ para Ulama ahlus sunnah. Juga memahami tujuannya dalam hidup ini dan perannya di antara manusia, senantiasa terikat dengan akhirat dan tidak tertipu dengan kehidupan dunia.
  • Iman yang mendalam dan berbuah cinta kepada Allâh Azza wa Jalla, takut kepada Allâh Azza wa Jalla, berharap hanya kepada-Nya, bertawakkal, beristighatsah kepada-Nya, ikhlas semata-mata karena-Nya, dan jujur dalam setiap perkataan dan perbuatan.
Rukun ketiga, mad’u (orang yang diseru).
Seorang da’i harus mengetahui bahwa dakwah Islam ini bersifat umum kepada seluruh manusia, bahkan untuk jin dan manusia seluruhnya, di setiap waktu dan tempat sampai hari Kiamat.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. [Al-Anbiyâ’/21:107]
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada seluruh ummat manusia, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. [Saba’/34:28]
Dan seorang da’i harus mengetahui bahwa keadaan ummat yang diseru ini bermacam-macam.
Rukun keempatuslub (cara) berdakwah dan menyampaikannya.
Seorang da’i harus memahami cara berdakwah dan menyampaikannya, agar ia mampu menyampaikan dakwah dengan bijaksana, sempurna dan di atas bashirah (ilmu dan keyakinan).[9]
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabb-mu, Dia-lah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.  [An-Nahl/16:125]
Sesungguhnya orang yang memperhatikan perjalanan para Ulama ahli hadits pada masa-masa yang telah lewat, dia akan melihat bahwa mereka mengikuti metode yang sama dalam berdakwah menuju Allâh di atas cahaya dan bashîrah (ilmu dan keyakinan).
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Katakanlah (Muhammad): ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allâh dengan yakin, Mahasuci Allâh, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik. [Yûsuf/12:108]
Yaitu metode yang meliputi ilmu, belajar dan mengajar. Karena sesungguhnya apabila dakwah menuju Allâh merupakan kedudukan yang paling mulia dan utama bagi seorang hamba, maka hal itu tidak akan terjadi kecuali dengan ilmu. Dengan ilmu seseorang dapat berdakwah, dan kepada ilmu ia berdakwah. Bahkan demi sempurnanya dakwah, haruslah ilmu itu dicapai sampai batas usaha yang maksimal.
Syarat seseorang berdakwah harus berilmu dan paham tentang ilmu syar’i. Dengannya ia dapat mengajak ummat kepada agama Islam yang benar.
Metode ilmiah ini dibangun di atas tiga dasar:
  • Al-‘Ilmu, yaitu mengetahui al-haq (kebenaran).
  • Dakwah menuju al-haq (mengajak manusia kepada kebenaran).
  • Teguh dan Istiqamah di atas kebenaran.
Berdakwah atau mengajak manusia kepada Islam yang benar, yaitu mengajak manusia kepada cara beragama yang benar, baik tentang ‘aqidah, manhaj, ibadah, akhlak, dan yang lainnya menurut pemahaman as-salafush shalih. Dakwah ini harus memenuhi tiga syarat:
Pertama:  Akidahnya Benar (سَلاَمَةُ الْمُعْتَقَدِ)
Maksudnya seseorang yang berdakwah harus meyakini kebenaran akidah Salaf tentang tauhid RubûbiyyahUlûhiyyah, Asma’ dan Shifat, serta semua yang berkaitan dengan masalah akidah dan iman.
Kedua: Manhajnya Benar (سَلاَمَةُ الْمَنْهَجِ)
Yaitu memahami al-Qur-an dan as-Sunnah sesuai dengan pemahaman as-Salafush Shalih. Mengikuti prinsip dan kaidah yang telah ditetapkan oleh para Ulama Salaf.
Ketiga: Beramal dengan Benar (سَلاَمَةُ الْعَمَلِ)
Seorang yang berdakwah, mengajak umat kepada Islam yang benar, maka ia harus beramal dengan benar yaitu beramal semata-mata ikhlas karena Allâh dan ittiba’ (mengikuti) contoh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak mengadakan bid’ah, baik i’tiqad (keyakinan), perbuatan atau perkataan.
Dalam hadits di atas juga disebutkan tentang orang yang mengajak manusia kepada kesesatan, dia akan mendapat dosa seperti dosa-dosa orang yang ia sesatkan. Mengajak manusia kepada kesesatan dosanya besar sekali. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa mereka, yaitu para da’i, ustadz, kyai, tuan guru, habib atau ulama yang mengajak manusia kepada kesesatan, kesyirikan, bid’ah, dan maksiat, maka mereka adalah penyeru manusia ke neraka Jahannam.
Diriwayatkan dari Hudzaifah bin al-Yaman Radhiyallahu anhu, ia berkata:
كَانَ النَّـاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْـخَيْرِ ، وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِـيْ. فَقُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ كُنَّا فِـيْ جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ ، فَجَاءَنَا اللهُ بِهٰذَا الْـخَيْرِ ، فَهَلْ بَعْدَ هـٰذَا الْـخَيْرِ شَرٌّ؟ قَالَ: نَعَمْ. فَقُلْتُ: هَلْ بَعْدَ ذٰلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ؟ قَالَ: نَعَمْ، وَفِيْهِ دَخَنٌ. قُلْتُ: وَمَا دَخَنُهُ؟ قَالَ: قَوْمٌ يَسْتَنُّوْنَ بِغَيْرِ سُنَّتِـيْ وَيَهْدُوْنَ بِغَيْرِ هَدْيِـيْ، تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ. فَقُلْتُ: هَلْ بَعْدَ ذٰلِكَ الْـخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟ قَالَ: نَعَمْ، دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ، مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا. فَقُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ، صِفْهُمْ لَنَا ، قَالَ: نَعَمْ ، قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُوْنَ بِأَلْسِنَتِنَا. قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ ، فَمَا تَـرَى إِنْ أَدْرَكَنِـيْ ذٰلِكَ؟ قَالَ: تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَإِمَامَهُمْ. فَقُلْتُ: فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ؟ قَالَ: فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا ، وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذٰلِكَ.
Orang-orang bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan, namun aku justru bertanya kepada Beliau tentang keburukan karena aku takut terjerumus kepadanya. Maka aku berkata, ‘Wahai Rasûlullâh! Sesungguhnya kami dahulu berada di masa Jahiliyyah dan masa penuh kejahatan (kejelekan), lalu Allâh mendatangkan kepada kami kebaikan ini (Islam). Apakah setelah kebaikan ini akan datang keburukan lagi?’
Beliau menjawab, ‘Ya.’
Aku bertanya lagi, ‘Apakah setelah keburukan itu akan datang lagi kebaikan?
Beliau menjawab, ‘Ya, tetapi kebaikan itu terselimuti kabut.
Aku bertanya, ‘Bagaimana wujud kabut itu?’ Beliau menjawab, ‘Adanya sekelompok orang yang menjalani sunnah yang bukan sunnahku, mengambil petunjuk juga bukan dari petunjukku. Kalian mengenali mereka, tetapi kalian mengingkari mereka.’
Aku bertanya lagi, ‘Apakah setelah kebaikan (berkabut) itu akan datang lagi keburukan lain?’
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ya, adanya para da’i yang mengajak ke pintu-pintu Neraka Jahannam. Barangsiapa yang menjawab panggilan mereka, pasti mereka akan mencampakkannya ke Neraka Jahannam tersebut.’
Aku bertanya, ‘Wahai Rasûlullâh! Gambarkanlah ciri-ciri mereka kepada kami.’
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Baiklah. Mereka adalah orang-orang yang kulitnya sama dengan kita (berasal dari negeri kita), berbicara juga dengan bahasa kita.’
Aku bertanya, ‘Wahai Rasûlullâh! Apa pendapatmu jika kami mendapati zaman tersebut?’
Beliau menjawab, ‘Hendaklah engkau bersatu dengan jama’ah dan imamnya kaum Muslimin.’ Aku berkata, ‘Jika mereka sudah tidak memiliki jama’ah dan imam lagi?’
Beliau menjawab, ‘Jauhilah semua kelompok tersebut, meskipun harus mengigit akar pohon hingga engkau mati dalam keadaan seperti itu.’[10]
Yang paling Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam khawatirkan atas ummat Islam yaitu da’i-da’i yang mengajak kepada kesesatan, yang mengajak kepada syirik, bid’ah, dan maksiat. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّـمَـا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِيْ الْأَئِمَّةَ الْـمُضِلِّيْنَ
Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan.[11]
Pada hadits tersebut Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhawatirkan atas ummat dari bahaya pemimpin dan ulama yang sesat dan menyesatkan, karena manusia akan mengikuti mereka dalam kesesatan mereka. Dan orang yang mengajak manusia kepada kesesatan dan kebathilan, maka ia akan menanggung dosa orang-orang yang ia sesatkan.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۙ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ
Mereka pada hari Kiamat memikul dosa-dosanya sendiri secara sempurna, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, alangkah buruknya (dosa) yang mereka pikul itu. [An-Nahl/16 :25]
FAWA-ID
  • Wajib berdakwah menyeru manusia kepada kebenaran (kebaikan) dan petunjuk.
  • Wajib berdakwah menyeru manusia dengan dasar ilmu dan keyakinan.
  • Dakwah wajib dilakukan dengan ikhlas karena Allâh dan ittiba’ kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
  • Dakwah adalah mengajak manusia kepada agama Islam yang benar agar ummat paham tentang Iman, prinsip-prinsip akidah Islam dan ibadah lainnya.
  • Wajib mengajak manusia ke jalan Allâh Azza wa Jalla, kepada agama Islam yang benar berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah menurut pemahaman assalafush shalih.
  • Seorang Muslim harus benar-benar memperhatikan akhir dari segala sesuatu (yang dijalaninya) dan nilai-nilai amalnya, sehingga dia akan selalu berusaha berbuat kebaikan agar menjadi teladan yang baik.
  • Orang yang mengajak kepada kebaikan dan petunjuk akan memperoleh pahala yang berlipat ganda.
  • Orang yang paling baik perkataannya adalah orang yang berdakwah di jalan Allâh dan dia beramal shalih dengan ikhlas.
  • Haramnya berdakwah atau mengajak manusia kepada kesesatan dan kebathilan.
  • Orang yang menjadi penyebab dilakukannya suatu perbuatan dan orang yang melakukan perbuatan tersebut diberi nilai yang sama, baik dalam hal siksaan maupun pahala.
  • Hendaklah setiap Muslim menghindari seruan palsu dan teman yang buruk, sebab dia ikut bertanggung jawab atas apa yang dikerjakannya.
  • Orang yang mengajak kepada kesesatan, kesyirikan, bid’ah, dan kebathilan akan memperoleh siksaan yang berlipat ganda dan akan meikul dosa-dosa orang yang ia sesatkan.
  • Peringatan dari para penguasa, ulama, ahli ibadah dan da’i-da’i yang sesat.
  • Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mengkhawatirkan adanya da’i-da’i yang sesat yang mengajak kepada kesyirikan, bid’ah, dan maksiat.
  • Setiap Muslim wajib berusaha menjadi pelopor dalam kebaikan, menjadi pintu-pintu kebaikan dan menutup jalan-jalan keburukan.
MARAAJI
  • Kutubus sittah dan kitab hadits lainnya.
  • Shahîh Muslim bi Syarh an-Nawawi.
  • Majmû’ Fatâwâ Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
  • Miftâh Dâris Sa’âdah, Ibnul Qayyim.
  • Taisîrul Karîmir Rahmân fii Tafsîr Kalâmil Mannân, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di
  • Bahjatu Qulûbil Abrâr fii Syarh Jawâmi’il Akhbâr, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di
  • Bahjatun Nâzhirîn Syarh Riyâdhish Shâlihîn, Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali.
  • Muqawwimât ad-Dâ’iyatin Nâjih fii Dhau-il Kitâb was Sunnah, karya Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani
  • Dan lainnya.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XIX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1]  Bahjatun Nâzhirîn, I/262
[2]     Shahih: HR. Ahmad, IV/357, 358-359, 360, 361, 362; Muslim, no. 1017 [15]; an-Nasa-I, V/76-77; ad-Dârimi, I/130, 131; Ibnu Mâjah, no. 203; Ibnu Hibbân, no. 3297-at-Ta’lîqâtul Hisân ‘ala Shahîh Ibni Hibbân; Ath-Thahawi dalam Musykilul Âtsâr, no. 243; Ath-Thayâlisi, no. 705 dan al-Baihaqi, IV/175-176 dari Sahabat Jarir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhu
[3]  Shahîh Muslim bi Syarh an-Nawawi, XVI/226-227
[4]  Miftâh Dâris Sa’âdah, I/250-251, tahqiq Syaikh Ali Hasan.
[5]      Shahih: HR. Al-Bukhâri, no. 2942, 3701 dan Muslim, no. 2406 dari Sahl bin Sa’d Radhiyallahu anhu
[6]      Lihat Taisîrul Karîmir Rahmân fii Tafsîr Kalâmil Mannân oleh Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di , hlm. 795, cet. Darus Sunnah.
[7]     Shahih: HR. Muslim, no. 1893 dari Abu Mas’ud al-Anshari Radhiyallahu anhu
[8]     Majmû’ Fatâwâ, XV/157-158 karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
[9]     Muqawwimât ad-Dâ’iyatin Nâjih fii Dhau-il Kitâb was Sunnah, karya Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani, hlm. 82-92, dengan ringkas.
[10]    Shahih: HR. Al-Bukhâri, no. 3606, 7084 dan Muslim, no. 1847, dan ini lafazh dalam riwayat Imam Muslim
[11]    Shahih: HR. Ahmad, V/278; At-Tirmidzi, no. 2229 dan ad-Dârimi, I/70 dan II/311, dari Sahabat Tsaubân z . Hadits ini dihukumi shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah, IV/109-111, no. 1582


Sumber: https://almanhaj.or.id/6354-wajib-berdakwah-mengajak-manusia-kepada-kebaikan-danharam-berdakwah-mengajak-kepada-kesesatan.html
Baca Selengkapnya >>>