Islam Pedoman Hidup: Bantahan
Tampilkan postingan dengan label Bantahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bantahan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Juni 2019

Simbol Segitiga dan Illuminati dalam Masjid (Kritikan untuk Ustadz Rahmat Baequni)


Tulisan Rumaysho kali ini ingin mengkritik Ustadz Rahmat Baequni–semoga Allah memberi taufik pada beliau–yang pernyataan-pernyataannya kontroversi saat berdialog dengan Gubernur Jabar Bapak Ridwan Kamil– semoga Allah senantiasa menjaga beliau dalam kebaikan–. Bisa lihat video lengkapnya di sini, di mana dialog yang ada ingin meluruskan desain masjid yang dirancang oleh Bapak Ridwan Kamil yaitu Masjid Al-Safar yang berada di rest area KM 88 B Tol Cipularang, Bandung, Jawa Barat.
 
Bagaimana hukum masjid dengan simbol segitiga di mihrab yang diklaim sebagai simbol illuminati dan Dajjal. Jawabannya moga ditemukan dalam tulisan ini.
 
Sudah Kenal Dajjal? 

Terlebih dahulu kita lihat siapakah Dajjal dan bagaimana ciri-cirinya. Karena sebagian orang menyatakan bahwa segitiga dengan di tengahnya terdapat mata sebagai simbol dari Dajjal.
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ أَطُوفُ بِالْكَعْبَةِ ، فَإِذَا رَجُلٌ آدَمُ سَبْطُ الشَّعَرِ يَنْطُفُ – أَوْ يُهَرَاقُ – رَأْسُهُ مَاءً قُلْتُ مَنْ هَذَا قَالُوا ابْنُ مَرْيَمَ . ثُمَّ ذَهَبْتُ أَلْتَفِتُ ، فَإِذَا رَجُلٌ جَسِيمٌ أَحْمَرُ جَعْدُ الرَّأْسِ أَعْوَرُ الْعَيْنِ ، كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِيَةٌ قَالُوا هَذَا الدَّجَّالُ . أَقْرَبُ النَّاسِ بِهِ شَبَهًا ابْنُ قَطَنٍ » . رَجُلٌ مِنْ خُزَاعَةَ

Ketika aku tidur, aku bermimpi thawaf di ka’bah, tak tahunya ada seseorang yang rambutnya lurus, kepalanya meneteskan atau mengalirkan air. Maka saya bertanya, ‘Siapakah ini? ‘ Mereka mengatakan, ‘Ini Isa bin Maryam’. Kemudian aku menoleh, tak tahunya ada seseorang yang berbadan besar, warnanya kemerah-merahan, rambutnya keriting, matanya buta sebelah kanan, seolah-olah matanya anggur yang menjorok. Mereka menjelaskan, ‘Sedang ini adalah Dajjal. Manusia yang paling mirip dengannya adalah Ibnu Qaththan, laki-laki dari bani Khuza’ah.’” (HR. Bukhari, no. 7128 dan Muslim, no. 171)
Dari ‘Ubadah bin Ash Shaamit radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنِّى قَدْ حَدَّثْتُكُمْ عَنِ الدَّجَّالِ حَتَّى خَشِيتُ أَنْ لاَ تَعْقِلُوا إِنَّ مَسِيحَ الدَّجَّالِ رَجُلٌ قَصِيرٌ أَفْحَجُ جَعْدٌ أَعْوَرُ مَطْمُوسُ الْعَيْنِ لَيْسَ بِنَاتِئَةٍ وَلاَ جَحْرَاءَ فَإِنْ أُلْبِسَ عَلَيْكُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ

Sungguh, aku telah menceritakan perihal Dajjal kepada kalian, hingga aku kawatir kalian tidak lagi mampu memahaminya. Sesungguhnya Al-Masih Dajjal adalah seorang laki-laki yang pendek, berkaki bengkok, berambut keriting, buta sebelah dan matanya tidak terlalu menonjol dan tidak pula terlalu tenggelam. Jika kalian merasa bingung, maka ketahuilah bahwa Rabb kalian tidak bermata juling.” (HR. Abu Daud, no. 4320 dan Ahmad, 5:324. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda tentang Dajjal,
أَعْوَرُ هِجَانٌ أَزْهَرُ كَأَنَّ رَأْسَهُ أَصَلَةٌ أَشْبَهُ النَّاسِ بِعَبْدِ الْعُزَّى بْنِ قَطَنٍ فَإِمَّا هَلَكَ الْهُلَّكُ فَإِنَّ رَبَّكُمْ تَعَالَى لَيْسَ بِأَعْوَرَ

“(Dajjal) buta sebelah, putih dan berkilau, seolah kepalanya adalah (kepala) ular, dan (dia) adalah orang yang paling mirip dengan Abdul ‘Uzza bin Qathan. Jika dia itu celaka dan sesat, maka ketahuilah bahwa Tuhan kalian tidaklah buta sebelah.”
(HR. Ahmad, 1:240. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih li ghairihi).
Di antara dua mata Dajjal tertulis KAFIR, sebagaimana disebutkan dalam hadits,
إِنَّهُ مَكْتُوبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ كَافِرٌ يَقْرَؤُهُ مَنْ كَرِهَ عَمَلَهُ أَوْ يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ

Di antara kedua matanya tertulis KAFIR yang bisa dibaca oleh orang yang membenci perbuatannya atau bisa dibaca oleh setiap orang mukmin.” (HR. Muslim, no. 169)
 
Masalah Simbol Salib
 
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,
أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – لَمْ يَكُنْ يَتْرُكُ فِى بَيْتِهِ شَيْئًا فِيهِ تَصَالِيبُ إِلاَّ نَقَضَهُ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamtidaklah meninggalkan salib di rumahnya melainkan beliau menghapusnya.” (HR. Bukhari, no. 5952).

Imam Bukhari membawakan hadits di atas pada Bab “Menghapus shuwar (gambar)”. Maksud dari Imam Bukhari bukanlah hanya menghapus gambar atau patung makhluk bernyawa. Salib juga termasuk di dalamnya dan lebih daripada itu karena salib dijadikan sesembahan selain Allah. Yang dimaksud naqodh dalam hadits adalah menghilangkan atau menghapus. (Lihat Fath Al-Bari karya Ibnu Hajar, 10:385).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,
وَالصَّلِيبُ لَا يَجُوزُ عَمَلُهُ بِأُجْرَةِ وَلَا غَيْرِ أُجْرَةٍ وَلَا بَيْعُهُ صَلِيبًا كَمَا لَا يَجُوزُ بَيْعُ الْأَصْنَامِ وَلَا عَمَلُهَا . كَمَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيحِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : ” { إنَّ اللَّهَ حَرَّمَ بَيْعَ الْخَمْرِ وَالْمَيْتَةَ وَالْخِنْزِيرَ وَالْأَصْنَامَ}

“Tidak boleh seorang muslim membuat salib untuk mendapatkan upah. Tidak boleh pula seorang muslim menjual salib sebagaimana tidak boleh menjual berhala begitu pula membuatnya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang shahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan jual beli khamar, bangkai, babi dan ashnam (berhala). (Majmu’ah Al-Fatawa, 22:141-142) 

Bentuk salib beraneka ragam. Bentuk berbagai macam salib bisa dilihat di Wikipedia.
Kalau bentuk salib beraneka ragam, lantas bentuk manakah yang dihapus?
1- Kalau bentuknya sebagaimana yang sudah masyhur saat ini yang ada di berbagai gereja dan dikenakan pula oleh orang Nashrani yaitu ada dua garis yang dibentuk, ada di sisi panjang dan ada di sisi lebar, di mana dua garis tersebut disilangkan dan bagian atas lebih pendek dibandingkan bawahnya, inilah yang wajib dihapus atau diubah bentuknya menjadi tidak seperti salib.
2- Kalau bentuknya tidak nampak dan tidak dimaksudkan untuk salib, seperti palang untuk bagian bangunan yang dirancang oleh para insinyur, atau tanda penambahan (plus) dalam matematika, seperti itu tidak wajib untuk dihapus dan tidak termasuk dalam larangan jual beli karena illah (sebab) larangan sudah ternafikan (sudah tidak ada). Di situ tidak ada lagi maksud tasyabbuh dan mengagungkan simbol-simbol mereka. Intinya, tanda seperti itu tidak teranggap sebagai salib. (Keterangan dari Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid dalam Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 121170)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

أَمَّا مَا ظَهَرَ مِنْهُ أَنَّهُ لاَ يُرَادُ بِهِ الصَّلِيْبُ ، لاَ تَعْظِيْمًا ، وَلاَ بِكَوْنِهِ شِعَارًا ، مِثْلُ بَعْضِ العَلاَمَاتِ الحِسَابِيَّةِ ، أَوْ بَعْضِ مَا يَظْهَرُ بِالسَّاعَاتِ الإِلِكْتُرُوْنِيَّةِ مِنْ عَلاَمَةٍ زَائِدٍ ، فَإِنَّ هَذَا لاَ بَأْسَ بِهِ ، وَلاَ يَعُدُّ مِنَ الصَّلْبَانِ بِشَيْءٍ

“Adapun sesuatu yang nampak namun bukan dimaksudkan untuk salib, simbol tersebut tidak diagungkan, juga bukan sebagai syi’ar seperti tanda tambah (plus) dalam perhitungan matematika, begitu pula simbol pada jam elektonik, seperti itu tidaklah masalah dan tidak teranggap seperti salib.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu ‘Utsaimin, 18:114-115, jawaban soal no. 74)
 
Hukum Shalat di Gereja dan di Tempat yang Ada Salib  
 
Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Adapun pakaian yang terdapat gambar salib, atau sesuatu yang melalaikan, maka terlarang (dimakruhkan) shalat dengannya, shalat menghadapnya, atau shalat di atasnya.” (Al-Majmu’, 3:185)
Namun kalau dalam kondisi hajat, yang makruh jadi dibolehkan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan mengenai pakaian yang terlarang,
إنْ كَانَ مَكْرُوهًا؛ فَعِنْدَ الْحَاجَةِ تَزُولُ الْكَرَاهَةُ
“Yang makruh akan hilang kemakruhannya ketika ada hajat.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 21:203)

Dalam Syarh Manzhumah Ushul Al-Fiqh wa Qawa’iduhu(hlm. 62-63), Syaikh Ibnu Utsaimin menyebutkan, “Makruh itu dibolehkan ketika ada hajat. Karena derajat makruh di bawah derajat haram. Kalau perbuatan haram harus ditinggalkan dan pelakunya divonis hukuman. Sedangkan perbuatan makruh terlarang karena memilih mana yang lebih utama, pelaku yang mengerjakan yang makruh tidaklah dikenakan hukuman. Oleh karenanya perbuatan makruh dibolehkan ketika ada hajat.
Ibnu Qudamah rahimahullah dalam Al-Mughni (2:57) menerangkan mengenai hukum shalat di gereja, ia menyatakan, “Tidaklah mengapa melakukan shalat di gereja yang bersih. Al-Hasan Al-Bashri, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, Asy-Sya’bi, Al-Auza’i, Sa’id bin ‘Abdul ‘Aziz memberikan keringanan (rukhsah) untuk hal ini. Diriwayatkan pula hal yang sama dari ‘Umar dan Abu Musa. Sedangkan Ibnu ‘Abbas dan Malik menyatakan makruhnya shalat di kanisah (gereja) karena alasan adanya gambar (makhluk bernyawa). Alasannya yang membolehkan adalah karena dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di Kabah yang ada gambar (makhluk bernyawa, juga terdapat patung, pen.). Juga alasan dibolehkannya karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Di mana saja engkau mendapati tempat shalat, maka shalatlah karena itu masjid.
 
Simbol Mata itu Lambang Dajjal?
 
Ada yang menyebar isu bahwa bahwa Simbol Mata merupakan Simbol Zionis. Sampai menuduh Kerajaan Saudi Arabia yang terdapat banyak simbol Zionis, seperti pada lambang kepolisian Saudi Arabia. Yang menyebar isu semacam ini tidak paham Budaya Bangsa Arab. Bagi Bangsa Arab sejak dulu, mata adalah sesuatu yang sangat terhormat dan merupakan simbol pengawasan serta kecintaan. Sehingga ketika seseorang menyatakan loyalitasnya atau kecintaannya, orang Arab sering mengatakan “’Ala ra’s wal ‘ain” (di atas kepala dan mata) atau “’Ala ra’si wa ‘aini” (di atas kepalaku dan mataku). Bahkan ada juga ucapan orang Arab untuk menyatakan janjinya dengan mengatakan “’Ainayya” (dengan kedua mataku). Sekarang pertanyaannya, lebih manakah yang dahulu ada: Budaya Arab atau Simbol Zionisme?? Kalau jawabannya simbol zionisme, maka yang menyatakan harus belajar lagi sejarah dunia dengan baik.
 
Apakah Shalat di Masjid yang Ada Segitiga Tidak Sah?
 
Karena menganggap simbol segitiga adalah simbol Zionis dan Dajjal, akhirnya mereka membuat bid’ah yang baru dengan menyatakan tidak sahnya shalat di masjid semacam itu. Sampai yang merinci menyatakan bahwa di Masjid Nabawi ada simbol-simbol Zionis semacam ini. Kami tidak mengetahui bagaimanakah nantinya ketika ia menjalankan shalat di Masjid Nabawi.
 
Kritikannya adalah sebagai berikut.
Pertama: Menyatakan simbol segitiga sebagai simbol Dajjal tidaklah berdalil. Sumber bacaan dari yang menyatakan seperti ini hanyalah dari Muhammad Isa Dawud, seorang jurnalis dari Mesir, bukan seorang ulama yang berkompeten.
Kedua: Asalnya shalat di tempat mana pun itu sah. Bahkan ada sebagian ulama sampai memberi keringanan shalat di gereja dan shalat di tempat yang ada salib sebagaimana keterangan di atas.

Dalil bahwa shalat di tempat mana saja itu sah dan itulah hukum asalnya.
Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku dianugerahi lima perkara yang tidak pernah diberikan seorang pun dari Rasul-Rasul sebelumku, yaitu:
أُعْطِيْتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ مِنَ الأَنْبِيَاءِ قَبْلِي ، نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيْرَةَ شَهْرٍ ، وَجُعِلَتْ لِي الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُوْرًا ، فَأَيُّمَا رَجُلٍ أَدْرَكَتْهُ الصَّلاَة ُفَلْيُصَلِّ ، وَأُحِلَّتْ لِي الغَنَائِمُ ، وَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي ، وَأُعْطِيْتُ الشَّفَاعَةُ ، وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ لِلنَّاسِ عَامَّةً
“(1) aku diberikan pertolongan dengan takutnya musuh mendekatiku dari jarak sebulan perjalanan, (2) dijadikan bumi bagiku sebagai tempat shalat dan bersuci (untuk tayammum, pen.), maka siapa saja dari umatku yang mendapati waktu shalat, maka hendaklah ia shalat, (3) dihalalkan rampasan perang bagiku dan tidak dihalalkan kepada seorang Nabi pun sebelumku, (4) dan aku diberikan kekuasaan memberikan syafa’at (dengan izin Allah), (5) Nabi-Nabi diutus hanya untuk kaumnya saja sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 438 dan Muslim, no. 521, 523)
Ketiga: Menyatakan suatu tempat tidak sah untuk shalat haruslah dengan dalil untuk membatalkan hukum asal di atas. Maka kalau mau menyatakan shalat di masjid yang ada simbol segitiga jadi tidak sah, haruslah dibuktikan dengan dalil dari Al-Qur’an dan hadits.
 
Ada beberapa tempat yang dilarang untuk shalat sebagai berikut.
 
1. Shalat di tempat najis
Sebagaimana sepakat para ulama, tidak boleh shalat di tempat najis, lihat Maratib Al-Ijma’, hlm. 29, dinukil dari Ad-Dalil ‘ala Manhaj As-Salikin, hlm. 66.
Larangan shalat di tempat najis adalah berdasarkan hadits Arab Badui, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Ketika kami duduk-duduk di masjid bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika itu datang seorang Arab Badui, ia berdiri lantas kencing di dalam masjid. Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Ayo pergi, pergi.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam malah mengatakan, “Tak perlu kalian menghardiknya. Biarkan ia menyelesaikan kencingnya.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilnya dan mengatakan kepadanya,
إِنَّ هَذِهِ المَسَاجِدَ لاَ تَصْلُحُ لِشَيْءٍ مِنْ هَذَا البَوْلِ وَلاَ القَذَرِ . إِنَّمَا هِيَ لِذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالصَّلاَةِ، وَقِرَاءَةِ القُرْآنِ
Sesungguhnya masjid-masjid ini tidaklah boleh ada kencing dan kotoran (najis). Masjid adalah tempat untuk berdzikir kepada Allah ‘azza wa jalla, untuk shalat, dan untuk membaca Al-Qur’an.” Atau beliau mengatakan semisal itu. Kemudian beliau meminta seseorang dari kaum, lantas didatangkanlah wadah berisi air, lantas kencingnya pun disiram.” (HR. Muslim, no. 285)
 
2. Shalat di tanah rampasan
Al-magshub diartikan dengan merampas harta orang lain dengan paksa tanpa alasan yang dibenarkan.
Ada dua rincian untuk shalat di tanah rampasan.
Pertama: Hukum shalat di tanah rampasan adalah tidak boleh, ada ijmak (kata sepakat ulama) dari Imam Nawawi akan hal ini.
Kedua: Shalat yang dilakukan di tanah rampasan itu sah. Inilah pendapat jumhur ulama seperti Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah, dan salah satu pendapat dari Imam Ahmad. Lihat Mulakhash Fiqh Al-‘Ibadat, hlm. 182.
 
3. Shalat di area pekuburan
Tidak sah shalat di area pekuburan (walaupun dimakamkan hanya satu jenazah), inilah pendapat ulama Hambali dan menjadi pendapat yang disandarkan pada kebanyakan ulama seperti menjadi pendapat Ibnu Hazm, menjadi pilihan Ibnu Taimiyyah, Ash-Shan’ani, Syaikh Ibnu Baz, dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin. Lihat Mulakhash Fiqh Al-‘Ibadat, hlm. 181.
Dari Abu Martsad Al-Ghonawi, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تُصَلُّوا إِلَى الْقُبُورِ وَلاَ تَجْلِسُوا عَلَيْهَا
Janganlah shalat menghadap kubur dan janganlah duduk di atasnya. (HR. Muslim, no. 972).

Juga ada larangan menyatukan kubur dan masjid. Dari Jundab, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلاَ وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ إِنِّى أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ
Ingatlah bahwa orang sebelum kalian, mereka telah menjadikan kubur nabi dan orang saleh mereka sebagai masjid. Ingatlah, janganlah jadikan kubur menjadi masjid. Sungguh aku benar-benar melarang dari yang demikian.” (HR. Muslim, no. 532).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan dalam Al-Qaul Al-Mufid (1:411) bahwa yang dimaksud menjadikan kubur sebagai masjid ada dua makna:
  • Membangun masjid di atas kubur.
  • Menjadikan kubur sebagai tempat untuk ibadah seperti shalat, di mana kubur menjadi maksud tujuan ibadah.
Catatan: Ada satu shalat yang masih dibolehkan di pekuburan yaitu shalat jenazah bagi yang belum sempat melaksanakannya.
 
4. Shalat di tempat pemandian (al-hammam

Menurut jumhur (kebanyakan ulama) boleh shalat di tempat pemandian, namun makruh hukumnya. Inilah yang menjadi pendapat ulama Hanafiyyah, Malikiyyah, dan Syafi’iyyah, juga salah satu pendapat dari Imam Ahmad. Lihat Mulakhash Fiqh Al-‘Ibadat, hlm. 180.
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلاَّ الْمَقْبُرَةَ وَالْحَمَّامَ
Seluruh bumi adalah masjid (boleh digunakan untuk shalat) kecuali kuburan dan tempat pemandian.” (HR. Tirmidzi, no. 317; Ibnu Majah, no. 745; Abu Daud, no. 492; Ad-Darimi, no. 1390, dan Ahmad, 3:83. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih).
 
5. Shalat di tempat menderumnya unta

Dari Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

وَسُئِلَ عَنِ الصَّلاَةِ فِى مَبَارِكِ الإِبِلِ فَقَالَ « لاَ تُصَلُّوا فِى مَبَارِكِ الإِبِلِ فَإِنَّهَا مِنَ الشَّيَاطِينِ ». وَسُئِلَ عَنِ الصَّلاَةِ فِى مَرَابِضِ الْغَنَمِ فَقَالَ « صَلُّوا فِيهَا فَإِنَّهَا بَرَكَةٌ»

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang shalat di tempat menderumnya unta, beliau menjawab, Jangan shalat di tempat menderumnya unta karena unta biasa memberikan was-was seperti setan.’ Beliau ditanya tentang shalat di kandang kambing, Silakan shalat di kandang kambing, di sana mendatangkan keberkahan (ketenangan).’ (HR. Abu Daud, no. 184; Tirmidzi, no. 81; Ahmad, 4:288. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih).

Dilarang shalat di kandang unta di mana disebut dalam hadits bahwa unta itu dari setan, maksudnya adalah unta itu beramal seperti amalan setan dan jin yaitu sering memberikan gangguan pada hati orang yang shalat. Lihat ‘Aun Al-Ma’bud, 1:231-232.
 
Dasarnya Pakai Ilmu Cocoklogi
 
Ilmu cocoklogi adalah ilmu yang mencoba mengaitkan suatu kejadian, waktu, tempat, atau apapun dengan sabda alam. Maksudnya adalah mengkaitkan segala sesuatu yang terjadi saat ini dengan tanda-tanda kejadian di masa depan. Ilmu ini di sebagian orang bisa disebut dengan ilmu nujum atau jangka. Salah satu tokoh di kalangan masyarakat Indonesia (di Jawa khususnya) adalah prabu Jayabaya dengan bukunya Jangka Jayabaya (Jawa: Jongko Joyoboyo).
Di tengah arus kemajuan teknologi dan informasi yang cukup pesat seperti saat ini, mayoritas masyarakat [yang katanya modern] lebih percaya dengan temuan-temuan serta simpulan ilmiah dari ilmu pengetahuan. Hal-hal di luar nalar sains dianggap sebagai sebuah isapan jempol dan cerita pengiring tidur semata. Tapi kenyataan ini justru tidak terjadi di semua lapisan masyarakat Indonesia. Masyarakat [maaf] berpendidikan rendah lebih percaya takhayul, masyarakat berpendidikan menengah lebih percaya hasil nujum, dan masyarakat berpendidikan tinggi justru percaya dengan ilmu cocoklogi. Mereka mencoba membungkusnya dengan kemasan yang lebih saintis agar tidak terlihat janggal, mereka menyebutnya sebagai teori konspirasi. Teori ini sebenarnya sangat lemah apabila diujicobakan hipotesisnya pada sebuah riset.
Salah satu contoh penerapan sebagian orang pada ilmu cocoklogi pernah tersebar dalam pesan berantai saat meletusnya Gunung Kelud, Kediri, Jawa Timur dengan nomor ayat-ayat tertentu yang sengaja dicocok-cocokkan.
Mereka katakan bahwa meletusnya Gunung Kelud telah tertulis jelas di Al-Quran, ini buktinya:
Tanggal 13 Bulan 2 (Surat 13 ayat 2), “Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. ALLAH MENGATUR URUSAN (Makhluk-Nya), MENJELASKAN TANDA-TANDA (Kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.”-
Meletus Jam 22:49, 22:50 (Surat 22: 49-50), Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya Aku adalah seorang PEMBERI PERINGATAN YANG NYATA kepadamu.”Maka ORANG-ORANG YANG BERIMAN DAN BERAMAL SALEH, BAGI MEREKA AMPUNAN DAN REZKI YANG MULIA.-
Tahun 2014 (Surat 20:14): “Sesungguhnya Aku ini adalah ALLAH, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, Maka SEMBAHLAH AKU dan DIRIKANLAH SHALAT untuk MENGINGAT AKU.”—- SUBHANALLAH —-
Kalau kita perhatikan, cara mengaitkan ayat dengan kejadian tertentu itu jelas keliru. Karena hal itu baru dikaitkan setelah peristiwa itu terjadi seperti Gunung Kelud meletus. Seandainya tidak terjadi, apa ia bisa menebak seperti itu? Tentu saja tidak.
Lalu kenapa hanya dikaitkan dengan meletusnya Gunung Kelud, bagaimana dengan Gunung Merapi yang dahulu meletus dan bagaimana lagi dengan Gunung Sinabung? Apa ketika gunung tersebut meletus baru dikait-kaitkan?
Kemudian kalau dalam ayat disebutkan suatu siksaan atau azab, maka tidak bisa kita katakan berlaku untuk kejadian-kejadian saat ini.
Cara menafsirkan seperti di atas jelas adalah cara yang keliru yang tidak pernah dicontohkan oleh salafush shalih.
Yang perlu dipahami terlebih dahulu, ayat Al-Qur’an diturunkan untuk ditadabburi, direnungkan dan dipahami maknanya. Ayat Al-Qur’an bukanlah turun untuk mengaitkannya dengan kejadian-kejadian atau peristiwa saat ini. Allah Ta’ala berfirman,
كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ
Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shaad: 29)
Namanya tadabbur Al-Qur’an itu sebagaimana disebutkan oleh Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah–seorang tabi’in–, Demi Allah, Al-Qur’an bukanlah ditadabburi dengan sekedar menghafal huruf-hurufnya, namun lalai dari memperhatikan hukum-hukumnya (maksudnya: mentadabburinya). Hingga nanti ada yang mengatakan, ‘Aku sudah membaca Al-Qur’an seluruhnya.’ Namun ternyata Al-Qur’an tidak diwujudkan dalam akhlak dan juga amalannya.”  Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim. (Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:419).
 
Begitu pula cara menafsirkan Al-Qur’an seperti mengaitkan nomor ayat dengan kejadian seperti itu, hanyalah menafsirkannya dengan logika dan ini tercela.
 
Ibnu Katsir mengatakan, “Menafsirkan Al-Qur’an dengan logika semata, hukumnya haram.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 1:11).
Dalam hadits disebutkan,
وَمَنْ قَالَ فِى الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
Barangsiapa berkata tentang Al-Qur’an dengan logikanya (semata), maka silakan ia mengambil tempat duduknya di neraka.” (HR. Tirmidzi, no. 2951. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dhaif).
Lihat saja ‘Umar bin Al-Khaththab mencontohkan tidak seenaknya kita menafsirkan ayat. Ketika beliau membaca ayat di mimbar,
وَفَاكِهَةً وَأَبًّا
Dan buah-buahan serta rumput-rumputan.”(QS. ‘Abasa: 31). Umar berkata, kalau “fakihah” dalam ayat ini sudah kita kenal. Namun apa yang dimaksud “abba”?” Lalu ‘Umar bertanya pada dirinya sendiri. Lantas Anas mengatakan,
إِنَّ هَذَا لَهُوَ التَّكَلُّفُ يَا عُمَرُ
“Itu sia-sia saja, mempersusah diri, wahai Umar.” (Dikeluarkan oleh Abu ‘Ubaid, Ibnu Abi Syaibah, Sa’id bin Manshur dalam kitab tafsirnya, Al-Hakim, serta Al-Baihaqi. Al-Hakim mengatakan bahwa hadits ini sahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim. Imam Adz-Dzahabi juga menyetujuinya).
Yang dimaksud adalah Umar dan Anas ingin mengetahui bagaimana bentuk abba itu sendiri. Mereka sudah mengetahuinya, namun bentuknya seperti apa yang mereka ingin ungkapkan. Abba yang dimaksud adalah rerumputan yang tumbuh di muka bumi. (Lihat Tafsir Al-Qur’an Al ‘Azhim, 1: 14).
Lihat saja seorang sahabat yang mulia–seperti ‘Umar bin Al-Khaththab dan Anas bin Malik–begitu hati-hati dalam menafsirkan ayat. Mereka begitu khawatir jika salah karena dapat jauh dari apa yang dikehendaki Allah Ta’ala tentang maksud ayat itu. Beda dengan orang saat ini yang menafsirkan seenaknya perutnya tanpa memakai tuntunan, hanya semata-mata memakai logika dengan mengaitkan nomor ayat dengan peristiwa gempa dan meletusnya gunung.
 
Ibnu Katsir menunjukkan bagaimana cara terbaik menafsirkan Al-Qur’an sebagai berikut:
  1. Menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an. Jika ada ayat yang mujmal (global), maka bisa ditemukan tafsirannya dalam ayat lainnya.
  2. Jika tidak didapati, maka Al-Qur’an ditafsirkan dengan sunnah atau hadits.
  3. Jika tidak didapati, maka Al-Qur’an ditafsirkan dengan perkataan sahabat karena mereka lebih tahu maksud ayat, lebih-lebih ulama sahabat dan para senior dari sahabat Nabi seperti khulafaur rosyidin yang empat, juga termasuk Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Umar.
  4. Jika tidak didapati, barulah beralih pada perkataan tabi’in seperti Mujahid bin Jabr, Sa’id bin Jubair, ‘Ikrimah (bekas budak Ibnu ‘Abbas), ‘Atha’ bin Abi Rabbah, Al-Hasan Al-Bashri, Masruq bin Al-Ajda’, Sa’id bin Al-Musayyib, Abul ‘Aliyah, Ar-Rabi’ bin Anas, Qatadah, dan Adh-Dhahak bin Muzahim. (Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhimkarya Ibnu Katsir, 1:5-16)
 
Bahaya Mengambil Ilmu dari Ustadz Cocoklogi
 
Muhammad bin Sirin (seorang pembesar ulama tabi’in) berkata,
إِنَّ هَذَا العِلْمَ دِيْنٌ فَانْظُرُوْا عَمَّنْ تَأْخُذُوْنَ دِيْنَكُمْ

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapakah kalian mengambil agama kalian.” (Diriwayatkan oleh Muslim dalam muqaddimah kitab Shahih-nya)
Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah menyatakan, “Ilmu tidaklah diambil dari empat orang,

مِنْ سَفِيْهٍ مُعْلِنٌ بِالسَّفِهِ وَإِنْ كَانَ أَرْوَى النَّاسِ وَلاَ تَأْخُذْ مِنْ كَذَّابٍ يَكْذِبُ فِي أَحَادِيْثِ النَّاسِ إِذَا جَرَبَ ذَلِكَ عَلَيْهِ وَإِنْ كَانَ لاَ يُتَّهَمُ اِنْ يَكْذِبَ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلاَ مِنْ صَاحِبِ هَوَى يَدْعُوْ النَّاسَ اِلَى هَوَاهُ وَلاَ مِنْ شَيْخٍ لَهُ فَضْلٌ وَعِبَادَةٌ إِذَا كَانَ لاَ يَعْرِفُ مَا يحْدُث
“(1) Orang yang bodoh yang menampakkan kebodohannya meskipun ia banyak meriwayatkan dari manusia; (2) Pendusta yang ia berdusta saat berbicara kepada manusia, meskipun ia tidak dituduh berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam (dalam hadits); (3) Orang yang memperturut hawa nafsunya dan mendakwahkannya; dan (4) Orang yang mempunyai keutamaan dan ahli ibadah, namun ia tidak tahu apa yang dikatakannya (yaitu tidak fakih).” (Al-Kifaayah, 1:77-78)
 
Mengenai Hal Ghaib, Diamlah Kalau Tidak Diketahui Dalil
 
Kita diperintahkan beriman kepada yang ghaib sebagaimana disebutkan dalam ayat,

الــم {1} ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ ِفيهِ هُدَى لِلْمُتَّقِينَ {2} الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ  يُنْفِقُونَ {3} وَالَّذِينِ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِاْلآخِرَةِ هُمْ يُوِقنُونَ {4} أُولَـئِكَ عَلَى هُدًى مِن رَبِّهِمْ وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Alif lam mim. Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rizki yang kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Alquran) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Rabb mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Baqarah: 1-5)

Apa yang dimaksud beriman dengan yang ghaib dalam ayat ini?
Abul ‘Aliyah mengatakan mengenai ayat ini bahwa beriman kepada yang ghaib adalah beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, surga dan neraka, serta perjumpaan dengan Allah, dan beriman kepada kehidupan setelah kematian dan beriman kepada hari berbangkit. Semua ini termasuk beriman kepada yang ghaib.
Ada juga pendapat dari Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Mas’ud bahwa perkara ghaib adalah perkara yang tidak tampak bagi hamba mengenai surga, neraka, dan hal-hal yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Demikian disebutkan dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir.
Berbicara tentang Dajjal dan akhir zaman harus berdasarkan dalil, tidak sekadar berita-berita koran, dan berita website yang digunakan sebagai rujukan.
Perkara Dajjal cuma dicirikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan buta sebelah, tanpa menyebutkan lambang-lambang tertentu. Sebagaimana hadits berikut pula menyebutkan,
إِنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِأَعْوَرَ ، أَلاَ إِنَّ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُمْنَى ، كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِيَةٌ

Sesungguhnya Allah tidak buta sebelah. Ingatlah bahwa Al-Masih Ad-Dajjal buta sebelah kanan, seakan matanya seperti buah anggur yang menjorok.” (HR. Bukhari, no. 3439 dan Muslim, no. 169)

Sehingga mau bicarakan tentang Dajjal harus berdasarkan wahyu. Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ ۚ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

Katakanlah : “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (An-Naml: 65)

Dalam ayat lain disebutkan,
عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا﴿٢٦﴾إِلَّا مَنِ ارْتَضَىٰ مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا

“(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridahiNya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan belakangnya
.” (QS. Al-Jin: 26-27)
 
Apakah Masjid Bermihrab Segitiga Perlu Diubah?
 
Kami terus menanyakan kenapa sampai diklaim simbol segitiga dan ada mata di tengah sebagai simbol Dajjal. Berbicara masalah Dajjal ini adalah perkara ghaib sehingga harus butuh dalil. Akhirnya ada masjid yang di mihrabnya berbentuk segitiga–walau sebenarnya masjid yang dikritik di mihrabnya berbentuk trapesium yang jelas berbeda dengan segitiga—saat ini menjadi polemik. Sebenarnya kami tidak setuju kalau desain masjid yang trapesium ini diubah karena cuma dengar komentar netizen dan sejatinya kritikan yang ada berbau politik. Kalau kritikan ini diikuti sehingga desain masjid diubah, masyarakat akan memahami kalau simbol segitiga adalah simbol Dajjal sehingga tidak boleh ada sama sekali pada tiap bangunan, padahal menyatakan seperti ini tidak berdalil. Tentu jadi edukasi kurang baik di tengah masyarakat muslim Indonesia, karena sebenarnya teori konspirasi yang diutarakan tidaklah bersumber dari dalil Al-Qur’an maupun hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
 
Kesimpulan 
  1. Perkara Dajjal adalah perkara yang ghaib, sehingga harus dijelaskan dengan dalil baik Al-Qur’an maupun hadits. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menjelaskan bahwa Dajjal adalah orang (yang mirip dengan Abdul ‘Uzza bin Qathan), bukan organisasi illuminati sebagaimana klaim sebagian kalangan yang tidak pernah membawakan dalil akan hal ini.
  2. Mengenai simbol Dajjal, tidak ada dalil mengenai segitiga atau satu mata, yang ada hanya tulisan “KAFIR” antara kedua matanya.
  3. Shalat di masjid bermihrab segitiga atau trapesium sah, tidak ada masalah. Shalat di gereja dan shalat di tempat yang ada salib saja masih diberi keringanan oleh sebagian ulama, apalagi shalat di masjid yang bermihrab segitiga atau trapesium yang tidak ada dalil tegas yang melarangnya.


Semoga tulisan kami ini mencerahkan, dan para pengkritik masjid yang bermihrab segitiga atau trapesium mendapatkan hidayah.
 
Salah satu referensi penting:
Artikel Ustadz Danni Nursalim Harun, Lc. Dipl. IS.
 
Baca juga artikel Rumaysho:
Munculnya Dajjal dalam tujuh serial



Disusun saat perjalanan safar ke Ambon, 9 Syawal 1440 H
Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com
Baca Selengkapnya >>>

Selasa, 18 Juni 2019

Mereka Membenci Kitab “al-Ibanah” Karya Abul Hasan al-Asy’ari?! (Bagian 2 dari 2 Tulisan)






(Sebuah Kajian Historis)

Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi


Pada edisi lalu, telah kita bahas tentang keabsahan kitab al-Ibanah sebagai karya Imam Abul Hasan al-Asy’ari, kedudukannya di mata ulama Sunnah, sejarah penulisannya, dan bahwasanya kitab al-Ibanah adalah karya terakhir al-Asy’ari.
Nah, pada kesempatan kali ini, kita akan mengulas tentang tuduhan-tuduhan dusta yang dialamatkan kepada ulama Salaf Ashabul Hadits bahwa mereka telah memalsukan dan memanipulasi kitab al-Ibanah. Bagaimana kebenaran tuduhan tersebut?! Ikutilah kajian berikut ini.
Benarkah Wahhabi Memanipulasi Kitab al-Ibanah?! Membongkar Kedustaan Idahram

Kitab al-Ibanah ini memang mengundang kontroversi sejak dahulu hingga sekarang sehingga berbagai pihak dan kalangan mengingkarinya dan ada yang meragukannya. Jadi, dapat kita bagi mereka dalam dua bagian:
Golongan Pertama: Golongan yang meragukan nisbah kitab al-Ibanah kepada al-Asyari, seperti yang dikatakan oleh Abdurrahman al-Badawi, “Kami sangat meragukan tentang keabsahan nisbah kitab al-Ibanah.[1]
Pengingkaran seperti bukanlah perkara baru, melainkan sudah ada sejak dahulu kala. Imam Ibnu Dirbas Rahimahullahu Ta’ala mengatakan, Sesungguhnya kitab al-Ibanah pernah disodorkan kepada salah seorang tokoh Jahmiyyah yang menisbahkan diri kepada Abul Hasan al-Asy’ari di Baitul Maqdis, lalu dia mengingkari dan menolaknya seraya mengatakan, ‘Kami tidak pernah mendengarnya sama sekali, buku ini bukanlah karya tulisnya. Ada lagi yang mencoba berpikir realistis lalu mengatakan setelah menggerakkan jenggotnya, ‘Mungkin ini ditulis tatkala dia masih Hasyawi.’ Saya tidak mengerti, dari ucapan siapa yang lebih mengherankan? Apakah dari kejahilannya terhadap kitab ini padahal sangat populer dan sering disebut oleh para ulama?! Atau dari kejahilannya tentang keadaan gurunya yang dia nisbahkan dirinya kepadanya secara dusta.”[2]
Kami tidak memperpanjang bantahan kepada golongan ini, karena telah kami jelaskan di muka dengan bukti-bukti autentik tentang keabsahan nisbah kitab al-Ibanah ini kepada Imam Abul Hasan al-Asy’ari dan bahwasanya kitab tersebut termasuk buku (kitab) terakhir beliau.
Golongan Kedua: Golongan yang menetapkan kitab al-Ibanah sebagai karya al-Asy’ari tetapi meragukan keaslian kitab al-Ibanah yang beredar dan tercetak sekarang, sehingga mengatakan bahwa kitab al-Ibanah yang tercetak sekarang sudah tidak asli lagi, terdapat manipulasi, tambahan dan pengurangan oleh tangan-tangan yang tidak amanah, yang menurut mereka pelakunya adalah para Salafi dan Wahhabi. Inilah yang banyak didengungkan oleh para Asya’irah sekarang seperti Muhammad Idrus Ramli dan seorang misterius bergelar Syaikh Idahram (!) yang telah kami nukil ucapannya di awal tulisan.
Baiklah, berikut ini kami akan menanggapi beberapa data yang dikemukakan oleh Syaikh Idahram dalam bukunya Mereka Memalsukan Kitab-Kitab Klasik Ulama hlm. 73–81 yang menurutnya adalah bukti-bukti bahwa Salafi telah memalsukan kitab al-Ibanah sehingga sudah tidak asli lagi. Insya Allah, kami akan membantahnya secara gamblang karena itulah inti dari tulisan ini:

Syubhat Pertama:


Pada hlm. 79, Idahram menukil ucapan gembong Jahmiyyah yaitu Muhammad Zahid al-Kautsari. Katanya:
Al-Allamah al-Kautsari pada muqoddimah yang disyarahnya menyatakan, naskah kitab al-Ibanah yang dicetak di India adalah naskah yang sebagian isinya juga telah dipalsukan. Bahkan, dicurigai, manuskrip kitab al-Ibanah adalah manuskrip yang sudah diredukasi dan dimanipulasi isinya oleh tangan-tangan terampil yang tidak amanah…[3]

Jawaban
:
Ini adalah sebuah omongan kosong tanpa bukti yang semua orang bisa saja mengatakannya. Ada beberapa poin untuk membantahnya
1.      Saya tidak mengerti kenapa Syaikh Idahram menukil ucapan al-Kautsari di atas. Apakah dia mengerti siapakah al-Kautsari sebenarnya?! Atau memang dia ingin mengelabui para pembaca?!! Al-Kautsari adalah tokoh pengibar bendera Jahmiyyah pada abad ini yang telah dibongkar kedok kesesatannya oleh para ulama Ahlus Sunnah sekarang[4].

Al-Allamah Muhammad Bahjat al-Baithar mengatakan dalam risalahnya al-Kautsari wa Ta’liqatuhu hlm. 26, “Kesimpulannya, orang ini (al-Kautsari) tidak dianggap akalnya, nukilannya, ilmunya, dan agamanya. Barangsiapa yang menelaah komentar-komentarnya (terhadap kitab-kitab ulama) niscaya dia akan membenarkan kejujuran ucapan kami.[5]

Syaikh al-Allamah Abdul Aziz bin Baz menyifatinya, “Al-Affak (penuduh/pendusta), al-Atsiim (banyak dosa), al-Maftun (terkena fitnah).[6]

Syaikh al-Albani menyifatinya, “Dia seorang berpaham Jahmiyyah Mu’aththilah, fanatik tulen terhadap madzhab Hanafi, pencela ahli hadits nomor wahid.[7]

Dan tahukah Idahram serta pembaca bahwa al-Kautsari adalah pencela para ulama[8], bahkan di antaranya adalah Imam Syafi’i?! Al-Ghumari mengatakan, “Al-Kautsari telah mencela nasab Imam Syafi’i yang telah disepakati, dan menganggapnya sebagai bekas budak bukan dari Quraisy, dan mengatakan bahwa Imam Syafi’i bodoh tentang bahasa Arab dan hadits, lemah dan jahil tentang hukum-hukum fiqih, menyelisihi ijma’ dalam empat ratus masalah, dan masih banyak lagi celaan-celaan lainnya terhadap imam yang mulia tersebut.”[9]

2.      Anggapan al-Kautsari yang diikuti oleh Idahram bahwa ada manipulasi pada al-Ibanah adalah anggapan tanpa bukti yang semua orang bisa saja mengatakan seperti itu. Namun, anggapan ini adalah tidak terbukti sama sekali berdasarkan beberapa alasan:
a.      Kitab al-Ibanah memiliki enam manuskrip yang ditemukan dan semuanya sama dalam babnya, permasalahannya, dan lafal-lafalnya, yang semua itu membuktikan tidak adanya manipulasi. Seandainya memang terjadi manipulasi, tentunya akan terjadi perbedaan lafal yang menonjol dan kontroversi yang sangat tampak. Adapun adanya perbedaan antara manuskrip, itu hanya perbedaan-perbedaan parsial yang tidak berkaitan dengan isi kitab; seperti shalawat, ada yang diberi shalawat ada yang tidak, ada yang diberi radhiyallahu ’anhu pada sahabat ada yang tidak, ada yang menggunakan lafal Ta’ala setelah Allah ada yang Azza wa Jalla, demikian seterusnya. Adapun perbedaan yang mengubah isi dan maksud kitab, sama sekali tidak ada.
b.     Setelah kita bandingkan kitab al-Ibanah yang beredar sekarang dengan nukilan-nukilan ulama dahulu, ternyata sama dan sesuai. Sebagai contoh, al-Hafizh al-Baihaqi menukil sebuah pasal dari kitab al-Ibanah dalam kitabnya al-I’tiqad hlm. 114, ternyata sesuai dengan al-Ibanah cetakan sekarang. Demikian juga Ibnu Asakir menukil beberapa pasal dalam kitabnya Tabyin Kadzibil Muftari hlm. 152–162 ternyata sesuai dengan al-Ibanah cetakan sekarang. Ibnu Taimiyyah menukil beberapa pasal dalam beberapa kitabnya seperti Naqdhu Ta‘sis hlm. 63–85, Majmu’ Fatawa 3/224–225, 5/93–98 dan 168–178, Bayanu Talbis Jahmiyyah 1/420–426, 2/12–26 dan 348–349 ternyata sesuai dengan cetakan sekarang. Ibnul Qayyim menukil dalam Tahdzib Sunan 13/35–36, Mukhtashar Shawa’iq 2/169, dan Ijtima’ul Juyusy hlm. 182–190 ternyata sesuai dengan cetakan sekarang. Demikian juga adz-Dzahabi menukil dalam al-’Uluw hlm. 218 dan al-’Arsy hlm. 291–303 ternyata sesuai dengan cetakan sekarang.
c.      Apa yang disampaikan oleh al-Asy’ari dalam al-Ibanah tentang aqidah ahli hadits kebanyakannya sesuai dan sama dengan apa yang beliau sampaikan dalam kitab-kitab lainnya seperti Maqalat Islamiyyin dan Risalah ila Ahli Tsaghar. Hal itu menguatkan bahwa tidak ada manipulasi pada isi kandungan kitab-kitab tersebut.[10]
Syubhat Kedua:

Pada hlm. 80–81, Idahram mengatakan:
Selain itu, mereka juga mendapati bahwa ternyata kitab al-Ibanah yang banyak beredar di pasaran adalah kitab al-Ibanah yang memiliki banyak versi, alias sudah tidak asli lagi. Di antara indikasinya adalah, pada halaaman 16 tertulis:
وأنكروا أن يكون له عينان
Mereka mengingkari Allah memiliki dua mata.

Kata عينان pada teks tersebut berbentuk tatsniyah (dua) dan kalimatnya menunjukkan penolakan Allah punya dua mata. Sedangkan dalam kitab al-Ibanah ’an Ushul Diyanah yang ditahkik oleh Dr. Fauqiyah Husain Mahmoud, seorang professor di Universitas Ain Syams Kairo, Mesir, cetakan ke-2 tahun 1987 M, pada masalah yang sama[11] di halaman 22 berbunyi:
وأن له عينين بلا كيف
Allah punya dua mata tanpa diketahui bagaimana caranya (haikakatnya).

Kata yang digunakan juga berbentuk tatsniyah, hanya saja berbentuk manshub inna[12] dan kalimatnya menunjukkan tidak menolak Allah punya dua mata. Sedangkan dalam kitab al-Ibanah versi Ibnu Asakir pada halaman 158 tertulis lagi:
وأن له عينا بلا كيف
Allah punya mata tanpa diketahui bagaimana caranya.

Kata yang digunakan berbentuk mufrod (satu mata) dan kalimatnya menunjukkan arti Allah punya mata tanpa harus tahu kondisinya”.

Jawaban:
Ada beberapa poin untuk membantah tulisan di atas:
1.      Idahram telah melakukan manipulasi dalam tulisan di atas ketika dia mengatakan tentang teks kedua yang menunjukkan penetapan sifat mata dengan teks pertama yang meniadakan dianggap sebagai masalah yang sama, padahal teks pertama adalah ketika al-Asy’ari menceritakan pendapat kaum Mu’tazilah, sedangkan teks kedua ketika beliau menetapkan aqidah ahli hadits. Untuk mengecoh pembaca, dia menyebutkan al-Ibanah dari tahqiq lain yaitu tahqiq Dr. Fauqiyah Husain. Sungguh ini kelicikan dan penipuan yang luar biasa, namun Allah pasti akan membongkar kedustaan para pendusta.
Namun, tidak perlu heran dengan tadlis (manipulasi) ini, karena Idahram memang dikenal sebagai pembohong besar dalam tulisan-tulisannya terutama trio bukunya Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahhabi, Mereka Memalsukan Kitab-Kitab Klasik Ulama dan Ulama Sejagad Menggugat Wahhabi.[13]
Buku pertama—misalnya—dari sampul depan hingga sampul belakang penuh dengan kebohongan dan kedustaan. Adapun sampul depan, penulis misterius ini menyebut dirinya dengan bertopeng Syaikh Idahram, padahal itu bukan nama sesungguhnya. Dan telah sampai kabar kepada kami dari beberapa ikhwan di Jakarta yang terpercaya bahwa nama sesungguhnya adalah Marhadi kebalikan dari Idahram. Bayangkan, jika nama penulisnya saja terbalik, bagaimana dengan isinya?! Jangan aneh jika isinya banyak terbalik dari kenyataan. Kenapa penulis ini begitu pengecut dalam pertempuran wacana ilmiah sehingga tidak menampakkan identitas aslinya?!
Adapun sampul akhirnya, karena mencatut nama-nama tokoh tersohor yang memberikan rekomendasi terhadap buku ini seperti KH Ma’ruf Amin (Ketua MUI) dan Muh. Arifin Ilham, padahal keduanya menyatakan tidak pernah memberikan rekomendasi tersebut, baca aja belum apalagi memberi rekomondasi?! Tentang Muh. Arifin Ilham, terdapat sebuah artikel di internet[14] yang memuatnya. Adapun tentang KH. Ma’ruf Amin, kami pernah menanyakan kepada kawan yang sangat dekat dengan beliau, ternyata beliau menyatakan, “Benar, saya mendapatkan kiriman buku itu, tapi saya belum membacanya apalagi memberi rekomendasi, dan saya tidak ingin terlibat dalam pertikaian umat.” Jika sampul depan dan akhirnya saja dusta, lantas bagaimana dengan isinya?! Sungguh, sangat luar biasa kebohongannya!!

2.      Adapun perbedaan teks kedua dengan ketiga antara mutsanna dan mufrad, maka memang benar ada perbedaan tersebut. Dari enam manuskrip kitab al-Ibanah yang ada, satu manuskrip menggunakan lafal mufrad (tunggal) yaitu manuskrip Darul Kutub al-Qaumiyyah di Cairo, Mesir. Adapun lima manuskrip lainnya menggunakan lafal mutsanna (dua).
Namun, perlu diketahui bahwa perbedaan seperti ini adalah tidak mempengaruhi keabsahan sebuah kitab dan tidak mengubah makna, karena hampir semua kitab tidak selamat dari adanya perbedaan seperti ini, karena perbedaan manuskrip dan penyalinnya. Bahkan kitab-kitab hadits seperti Shahih Bukhari juga tidak luput dari perbedaan seperti ini. Andaikan seperti ini disebut pemalsuan, maka tidak ada kitab yang sah kalau begitu.
3.      Sekalipun demikian, kami menguatkan pendapat yang menggunakan redaksi mutsanna bukan mufrad, dengan alasan sebagai berikut:
a.      Demikian yang tertulis dalam banyak manuskrip sebagaimana berlalu penjelasannya.
b.     Lafal mutsanna sesuai dengan aqidah salaf shalih.[15]
c.      Lafal tersebut sesuai dengan apa yang tertulis di kitab-kitab al-Asy’ari lainnya seperti Maqalat Islamiyyin[16] dan Risalah ila Ahli Tsaghar[17].
d.     Tidak ada pertentangan antara lafal mufrad dan mutsanna, karena mufrad tersebut maksudnya adalah jenis.[18]

Syubhat Ketiga:

Pada hlm. 74–75, dia mengatakan:
Salafi Wahabi telah mengacak-acak isi kitab Al-Ibanah fi Ushul ad-Diyanah karya al-Imam Abu Hasan al-Asy’ari dengan menghapus kalimat-kalimat yang tidak sejalan dengan akidah mereka. Di antaranya adalah menghilangkan beberapa kalimat Imam al-Asy’ari tentang istiwa’ dalam al-Ibanah versi terbitan mereka. Kalimat yang hilang itu, di antaranya:
وأن الله تعالى استوى على العرش على الوجه الذي قاله وبالمعنى الذي أراده استواء منزها عن المماسة والاستقرار والتمكن والحلول والانتقال لا يحمله العرش بل العرش وحملته محمولون بلطف قدرته ومقهورون في قبضته وهو فوق العرش وفوق كل شيء إلى تخوم الثرى فوقية لا تزيده قربا إلى العرش والسماء بل هو رفيع الدرجات عن العرش كما أنه رفيع الدرجات عن الثرى وهو مع ذلك قريب من كل موجود وهو أقرب إلى العبد من حبل الوريد وهو على كل شيء شهيد
“Dan sesungguhnya Allah istiwa’[19] atas arsy seperti yang dia firmankan, dan dengan makna yang Dia inginkan. Istiwa’ yang bersih dari arti menyentuh, menetap, bertempat, dia dan pindah. Arsy tidak membawanya, melainkan arsy (yang dibawa). Arsy yang dibawa maksudnya tercakup dalam kelembutan kuasaNya, serta tunduk dalam genggamannya. Dia di atas (tidak menyentuh) arsy, bahkan di atas segala sesuatu hingga gugusan bintang tata surya sekalipun. Di atas yang tidak membuatNya tambah dekat ke arsy dan langit, melainkan dia sangat tinggi derajatNya dari arsy sebagaimana dia sangat tinggi derajatnya dari tata surya, dan Dia dengan itu dengan segala yang ada. Dia lebih dekat kepada hambaNya daripada urat lehernya dan menyaksikan segala sesuatu”.[20]
Pembaca budiman, saksikanlah, semua kalimat di atas raib sama sekali tanpa bekas dari dalam kitab al-Ibanah yang diterbitkan oleh penerbit-penerbit Salafi Wahabi, sehingga terbitan mereka sangat berbeda dengan versi aslinya.[21]
Jawaban:
Demikianlah ucapan Idahram, kami menukilnya secara lengkap beserta catatan kakinya dari dia agar kita bisa mengetahui lebih lanjut bantahan berikut:
1.      Idahram menukil ucapan di atas dari seorang bernama Hasan bin Ali as-Segaf. Apakah Anda mengetahui siapa dia?! Hasan bin Ali as-Segaf adalah seorang gembong Jahmiyyah abad sekarang, ahli bid’ah dari Yordania. Kami tidak yakin kalau Idahram seorang Asy’ari, namun kami lebih cenderung bahwa dia adalah seorang Jahmi dan Mu’tazili, seperti Abul Hasan al-Asy’ari pada fase awal. Berikut gambaran secara ringkas tentangnya:[22]
a.      Orang ini ber‘aqidah Jahmiyyah tulen, mengingkari Sifat-Sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan takwil dan ta’thil. Dia berkata dalam bukunya at-Tandid liman ‘Addada at-Tauhid hlm. 50, “Ahlus Sunnah wal Jama’ah menegaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak boleh disifati bahwa Dia berada di luar alam maupun di dalam alam.”
b.     Sering melecehkankan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam seperti ucapannya tentang hadits budak perempuan pada hlm. 188, “Itu adalah lafal yang keji[23]!!!”
c.      Menghina sebagian sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam seperti Mu’awiyah bin Abu Sufyan Radhiallahu ‘Anhu, juru tulis Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
d.     Mulutnya sangat kotor, sering melontarkan kata-kata keji terhadap para ulama seperti Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Muhammad bin Abdul Wahhab, Ibnu Baz, al-Albani, dan sebagainya.
e.     Memuji para tokoh ahli bid’ah, lebih-lebih gurunya yang bernama Muhammad Zahid al-Kautsari, panglima Jahmiyyah pada zaman sekarang[24].
f.       Sering melakukan kedustaan, tadlis (penipuan), dan talbis (kerancuan).

Sungguh, telah banyak para ulama yang membongkar kesesatan Hasan as-Seggaf ini seperti Syaikh Sulaiman al-Ulwan, Syaikh Ali Hasan al-Halabi, Syaikh Abdul Karim al-Humaid, Syaikh Khalid al-Anbari, Syaikh Abdurrazzaq al-Badr, Syaikh Amr Abdul Mun’im dan masih banyak lagi lainnya.[25]
2.      Adapun penafsiran Idahram dalam catatan kaki bahwa di antara makna istawa adalah istaula (menguasai), maka ini adalah penafsiran yang batil dari beberapa segi, di antaranya:
a.      Penafsiran ini tidak dinukil dari kalangan salaf, baik dari kalangan sahabat maupun tabi’in. Tidak seorang pun dari mereka yang menafsirkan seperti penafsiran ini, bahkan orang yang pertama kali menafsirkan istawa dengan istaula adalah sebagian kaum Jahmiyyah dan Mu’tazilah sebagaimana diceritakan oleh Abul Hasan al-Asy’ari dalam bukunya al-Ibanah.[26]
b.     Sesungguhnya menafsirkan kitab Allah dengan penafsiran yang baru dalam menyelisihi penafsiran as-salaf ash-shalih, mengandung dua perkara, yaitu: entah dia yang salah atau kaum as-salaf ash-shalih yang salah. Seorang yang berakal sehat tidak akan ragu bahwa penafsiran baru yang menyelisihi as-salaf ash-shalih ini yang pasti salah.
c.      Tidak ada dalam bahasa Arab, kata istawa berarti istaula, bahkan hal ini diingkari oleh pakar bahasa seperti Imam Ibnu A’rabi.[27]
d.     Asal sebuah kalam (ucapan) harus dibawa kepada makna hakikatnya, tidak boleh dipalingkan kecuali dengan dalil. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullahu Ta’ala berkata, “Kaidah asal suatu ungkapan adalah secara hakikatnya. Hal ini telah disepakati oleh seluruh manusia dari berbagai bahasa, karena tujuan bahasa tidak sempurna kecuali dengan hal itu.”[28]

3.      Tambahan di atas yang dibawakan oleh pengibar bendera Jahmiyyah abad ini Hasan as-Segaf adalah tambahan yang bukan asli ucapan al-Asy’ari dalam kitab al-Ibanah[29] dengan beberapa argumen sebagai berikut:
a.      Tambahan ini tidak ada dalam semua manuskrip asli kitab al-Ibanah yang berjumlah enam, kecuali hanya satu manuskrip saja di Iskandariyyah. Dan menurut penelitian, ternyata manuskrip ini tidak diketahui penulisnya dan tanggal penyalinannya.
b.     Biasanya kalau ada perbedaan dalam menyalin manuskrip itu tidak lebih dari beberapa kalimat atau maksimal satu lembar, bukan beberapa lembar seperti tambahan ini yang tidak ada dalam seluruh manuskrip lainnya dan tidak ada dalam cetakan lainnya seperti cetakan India dan Lebanon.
c.      Para ulama yang menukil ungkapan al-Asy’ari dalam masalah ini tidak menampilkan tambahan tersebut, padahal al-Ibanah saat itu disalin oleh seorang ulama terpercaya yaitu Imam Nawawi.[30] Di antara ulama yang menukil adalah Ibnu Asakir dalam Tabyin hlm. 128, Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa 5/142, Dar‘u Ta’arudhil Aql 7/104, Bayanu Talbis Jahmiyyah 3/313, Ibnu Qayyim dalam Ijtima’ Juyusy hlm. 169, adz-Dzahabi dalam al-’Uluw 2/1240 dan Kitab al-Arsy 2/291, Ibnul Imad dalam Syadzarat Dzahab 2/304, Abdul Baqi dalam al-’Ain wal Atsar hlm. 111, Hamd bin Nashir dalam Tuhfah Madaniyyah hlm. 129, asy-Syinqithi dalam Adhwa‘ul Bayan 7/281. Perhatikanlah delapan ulama tersebut menukil dari al-Ibanah tanpa adanya tambahan tersebut, apakah mereka berpedoman pada manuskrip yang salah semua?!!
d.     Dalam kitab lainnya seperti Maqalat Islamiyyin 1/168 dan 290, al-Asy’ari juga menyampaikan masalah istiwa‘ yang sama tanpa adanya tambahan tersebut dalam cetakan yang ada mana pun.
e.     Lafal tersebut adalah lafal Abu Hamid al-Ghazali dalam tiga kitabnya yaitu Ihya‘ Ulumuddin 1/90, al-Arba’in fi Ushuliddin hlm. 7-8, Qawa’idul Aqa‘id hlm. 52. Dan ucapan al-Ghazali ini dinukil dengan menisbatkan padanya oleh sejumlah ulama seperti Ibnu Asakir dalam Tabyin hlm. 300, Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa 5/503 dan as-Subki dalam Thabaqat Syafi’iyyah 6/231. Seandainya ungkapan tersebut adalah ungkapan al-Asy’ari maka mereka akan bersemangat menisbahkannya kepada al-Asy’ari bukan kepada al-Ghazali, bahkan Ibnu Asakir sendiri—yang menukil ucapan Abul Hasan al-Asy’ari dari al-Ibanah—menisbahkan ucapan ini kepada al-Ghazali bukan kepada al-Asy’ari.
f.       Ungkapan tersebut jika dicermati justru meniadakan ketinggian Allah yang diimani oleh al-Asy’ari. Oleh karenanya, Ibnu Taimiyyah setelah menukil ucapan ini dari al-Ghazali, beliau menghukuminya termasuk orang yang mengingkari ketinggian Allah di atas Arsy[31]. Maka menisbahkan ucapan ini kepada al-Asy’ari merupakan kezaliman terhadap beliau.[32]
Dengan demikian, jelaslah bagi kita bahwa tambahan tersebut bukanlah ucapan al-Asy’ari, melainkan itu adalah ucapan al-Ghazali yang dicantumkan sebagian penyalin kitab al-Ibanah pada satu manuskrip yang ada.
Syubhat Keempat:
Pada hlm. 81, Idahram mengatakan:
Selain pemalsuan pada tema tersebut, contoh pemalsuan lain dari kitab al-Ibanah yang dapat dijumpai adalah penghapusan hadits-hadits Nabi Saw tentang keistimewaan Sayyidina Ali dan kasus kekhalifahannya.

Jawaban:
Ada beberapa poin untuk menjawab tuduhan ini:
1.      Kami menuntut kepada Idahram untuk membuktikan tuduhannya tersebut. Apakah memang dia melihat manuskrip asli kitab al-Ibanah yang memuat hadits-hadits tentang keutamaan Ali Radhiallahu ‘Anhu?! Dari mana dia berani mengatakan demikian?! Apakah berdasarkan bukti ataukah sekedar bualan yang menjadi kebiasaannya?!
2.      Kalau seandainya memang ada pembuangan pada hadits-hadits keutamaan Ali Radhiallahu ‘Anhu karena kebencian kepada Ali Radhiallahu ‘Anhu seperti dugaan Idahram, niscaya akan dibuang juga lafal-lafal yang menunjukkan keutamaan Ali Radhiallahu ‘Anhu, seperti ucapan al-Asya’ari, “Kami berkeyakinan bahwa para khalifah empat adalah para khalifah yang cerdas dan mendapatkan petunjuk, tidak ada selain mereka yang bisa menandingi keutamaan mereka.”[33] Juga ucapan al-Asy’ari, “Kekhalifahan Ali Radhiallahu ‘Anhu telah ditetapkan setelah Utsman Radhiallahu ‘Anhu dengan kesepakatan para sahabat Radhiallahu ‘Anhum. Dan telah disepakati tentang keutamaan beliau dan keadilannya.[34]
3.      Ada sesuatu yang membuat hati bertanya-tanya, mengapa dia mengkhususkan hal itu pada Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu. Apakah ini adalah adalah salah tanda-tanda bau Syi’ah dia yang telah dicium oleh para peneliti buku-bukunya. Ya, itu bukanlah hal yang mustahil, karena buku-bukunya banyak ditunggangi oleh pemikiran Syi’ah, sebagaimana disingkap oleh para peneliti buku-bukunya.
Akhuna al-Ustadz Firanda Abu Abdil Muhsin—semoga Allah menjaganya—menjelaskan bahwa aroma Syi’ah sangat mencolok dalam buku Idahram dengan beberapa bukti:
1)     Idahram mengatakan bahwa dalam dunia Islam ada tujuh madzhab yang dikenal, yaitu madzhab Hanafi, Maliki, asy-Syafi’I, Hanbali, Zhahiri, Ja’fari, dan Imamiyah.[35] Dan dua kelompok terakhir adalah Syi’ah.
2)     Idahram banyak menukil dari buku-buku sejarawan Syi’ah.
3)     Kedustaan yang banyak dilakukannya, sebagaimana kebiasaan Syi’ah yang gemar berdusta (taqiyyah).[36]

Peneliti buku Idahram lainnya, yaitu A.M. Waskito, berpendapat sama, dia mengemukakan enam bukti tentang kesyi’ahan Syaikh Idahram, seperti menyebut Najaf dengan kata Najaf al-Asyrof—sebutan yang hanya dikenal dari Syi’ah, sering mengutip referensi Syi’ah, berpendapat Ali Radhiallahu ‘Anhu lebih utama daripada Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu, sering berlaku curang, kebenciannya yang mendalam terhadap Ahlus Sunnah.[37]
Peneliti lainnya lagi adalah Ust. Agus Hasan Bashori dalam makalahnya berjudul “Waspada! Buku ‘Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi’ Mengusung Faham Rafidhah (Syi’ah Iran)”.[38]
Mengapa Mereka Membenci al-Ibanah?!

Setelah Anda mengetahui tentang keabsahan kitab al-Ibanah kepada Imam Abul Hasan al-Asy’ari dan keasliannya tanpa manipulasi, sekarang di penutup ini kami mengajak Anda untuk berpikir jernih, mengapa Asya’irah begitu berusaha mendustakan atau meragukan kitab al-Ibanah ini? Jawabannya tidak lain dan tidak bukan adalah karena kitab ini sangat berseberangan dengan keyakinan Asya’irah sendiri, bahkan menampar mereka, sehingga boleh dikata bahwa dalam kitab al-Ibanah ini, Imam al-Asy’ari menggugat Asya’irah.
Syaikh Abu Zahrah telah mempelajari manhaj Abul Hasan al-Asy’ari lalu menyimpulkannya dalam beberapa poin berikut:
1)     Al-Asy’ari berpendapat untuk mengimani seluruh apa yang terdapat dalam al-Qur‘an dan Sunnah dalam masalah-masalah aqidah, dan berhujjah dengan segala cara yang memuaskan untuk mendukung hal itu.
2)     Beliau menerima nash-nash dalam ayat-ayat yang dianggap tasybih tanpa terjatuh dalam tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk), dia meyakini Allah punya wajah tetapi tidak seperti wajah hamba, demikian juga Allah punya tangan tetapi tidak sama seperti tangan makhluk.
3)     Beliau berhujjah dengan hadits-hadits ahad dalam masalah aqidah untuk penetapannya. Beliau menegaskan untuk meyakini beberapa masalah aqidah yang ditetapkan dengan hadits ahad.
4)     Beliau membantah seluruh ahli hawa nafsu dan Mu’tazilah dan berusaha untuk tidak tergelincir dalam penyimpangan.[39]

Sekadar sebagai contoh kebencian mereka terhadap al-Ibanah karena bertolak belakang dengan aqidah mereka yang rusak adalah ucapan Idahram sebagai berikut:

Pada halaman. 127, dalam buku itu bahkan Imam al-Asy’ari mengatakan sebuah kesimpulan yang mengejutkan, yang berbunyi:
وهذا يدل على أن الله عز وجل على عرشه فوق السماء
Ini menunjukkan bahwa Allah ada di arsy di atas langit.[40]

Para pembaca budiman, mungkinkah Imam Abul Hasan al-Asyari mengatakan kalimat seperti ini? Padahal, Imam Asy’ari sangat membenci kalimat-kalimat tasybih seperti ini dalam buku-bukunya. Imam Asy’ari-lah yang bahkan menjadi musuh utama faham tasybih dan tajsim yang diusung Salafi Wahhabi. Apalagi, isi kitab al-Ibanah cetakan Salafi Wahabi ini telah terbukti berbeda dari versi manuskrip aslinya.[41]
Lihatlah, Idahram ingin agar Abul Hasan al-Asy’ari mengikuti aqidah Jahmiyyah dan Asya’irah belakangan yang mengatakan bahwa Allah di mana-mana, karena Imam Abul Hasan al-Asya’ri dalam kitabnya al-Ibanah (hlm. 405–423) telah memaparkan secara panjang lebar dalil-dalil tentang istiwa‘ dan ketinggian Allah di atas langit-Nya serta membantah orang-orang yang menyimpang dalam masalah ini[42]. Di antara ucapannya:
وَزَعَمَتِ الْمُعْتَزِلَةُ وَالْحَرُوْرِيَّةُ وَالْجَهْمِيَّةُ أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ, فَلَزِمَهُمْ أَنَّهُ فِيْ بَطْنِ مَرْيَمَ وَفِيْ الْحُشُوْشِ وَالأَخْلِيَةِ, وَهَذَا خِلاَفُ الدِّيْنِ, تَعَالَى اللهُ عَنْ قَوْلِهِمْ
“Dan kaum Mu’tazilah, Haruriyyah, dan Jahmiyyah beranggapan bahwa Allah berada di setiap tempat. Hal ini melazimkan mereka bahwa Allah berada di perut Maryam, tempat sampah, dan WC. Paham ini menyelisihi agama. Maha Suci Allah dari ucapan mereka.[43]

Setelah ini, lantas pantaskah bagi Idahram untuk menisbahkan diri kepada al-Asy’ari?!! Semoga Allah merahmati al-Hafizh Abul Abbas ath-Tharqi tatkala berkata, “Saya melihat kaum Jahmiyyah yang meniadakan Arsy dan menakwilkan istiwa‘, mereka menisbahkan diri kepada Abul Hasan al-Asy’ari. Ini bukanlah awal kebathilan dan kedustaan yang mereka lakukan. Saya telah membaca dalam kitabnya yang berjudul al-Ibanah ’an Ushul Diyanah dalil-dalil yang menetapkan istiwa‘.[44]
Adapun tuduhan Idahram bahwa aqidah yang meyakini bahwa Allah di atas Arsy adalah tasybih dan tajsim, maka ini adalah kedustaan, sebab as-salaf ash-shalih tatkala menetapkan sifat-sifat Allah, dalam waktu yang sama mereka tidak menyerupakannya dengan makhluk. Namun, demikianlah ciri khas ahli bid’ah sepanjang zaman sejak dahulu hingga sekarang, mereka mengecap Ahli Sunnah sebagai Musyabbihah karena menetapkan sifat-sifat Allah berdasarkan dalil.
Semoga Allah merahmati Imam Abu Hatim ar-Razi yang telah mengatakan:
وَعَلاَمَةُ أَهْلِ الْبِدَعِ : الْوَقِيْعَةُ فِيْ أَهْلِ الأَثَرِ وَعَلاَمَةُ الْجَهْمِيَّةِ أَنْ يَسُمُّوْا أَهْلَ السُّنَّةِ مُشَبِّهَةً
“Tanda ahli bid’ah adalah mencela ahli atsar. Dan tanda Jahmiyyah adalah menggelari Ahli Sunnah dengan Musyabbihah.[45]

Ishaq bin Rahawaih juga mengatakan:
عَلاَمَةُ جَهْمٍ وَأَصْحَابِهِ دَعْوَاهُمْ عَلَى أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ مَا أُوْلِعُوْا مِنَ الْكَذِبِ أَنَّهُمْ مُشَبِّهَةٌ بَلْ هُمُ الْمُعَطِّلَةُ
“Tanda Jahm dan pengikutnya adalah menuduh ahli sunnah dengan penuh kebohongan dengan gelar Musyabbihah padahal merekalah sebenarnya Mu’atthilah (meniadakan/mengingkari sifat bagi Allah).[46]
Imam Nu’aim bin Hammad Rahimahullahu Ta’ala berkata, “Barangsiapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya maka dia telah kufur, barangsiapa mengingkari sifat Allah maka dia telah kufur, dan tidaklah penetapan apa yang Allah sifatkan pada diri-Nya atau yang disifatkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam disebut tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk).”

Imam adz-Dzahabi Rahimahullahu Ta’ala mengomentari ucapan di atas, “Ucapan ini benar sekali. Kita berlindung kepada Allah dari tasybih dan mengingkari sifat-sifat Allah.”[47]
Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr Rahimahullahu Ta’ala berkata, “Seluruh Ahlus Sunnah telah bersepakat untuk menetapkan sifat-sifat yang terdapat dalam al-Qur‘an dan as-Sunnah serta mengartikannya secara lahirnya, tetapi mereka tidak menggambarkan bagaimana (bentuk)nya sifat-sifat tersebut. Adapun Jahmiyyah, Mu’tazilah, dan Khawarij mereka mengingkari sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak mengartikannya secara lahirnya. Lucunya, mereka menyangka bahwa orang yang menetapkannya termasuk Musyabbih (kaum yang menyerupakan Allah dengan makhluk.[48]
Sesungguhnya aqidah yang meyakini bahwa Allah di atas Arsy telah ditetapkan dalil-dalil yang banyak sekali dalam al-Qur‘an[49], hadits, ijma’, fitrah, dan akal; tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang yang sesat.[50] Akankah para ulama semuanya yang bersepakat tersebut memiliki aqidah tasybih seperti anggapan Idahram?!!

Penutup dan Kesimpulan

Dari penjelasan di atas dapat kita tarik beberapa poin kesimpulan sebagai berikut:
1.      Kitab al-Ibanah ’an Ushul Diyanah adalah benar-benar karya Imam Abul Hasan al-Asy’ari.
2.      Kitab al-Ibanah termasuk karya terakhir al-Asy’ari.
3.      Imam al-Asy’ari telah berlepas dari paham Mu’tazilah, Kullabiyyah, dan mengikuti jejak Ashabul Hadits, Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Salaf Shalih dalam aqidah.
4.      Tuduhan bahwa al-Ibanah yang yang beredar sekarang telah diacak-acak adalah tuduhan yang dusta.
5.      Kitab al-Ibanah tidak disukai oleh Asya’irah karena tidak sesuai dengan paham mereka bahkan bertentangan dengan paham mereka.
Demikianlah kajian yang dapat kami ketengahkan kepada pembaca. Akhirnya, kami berdo’a kepada Allah agar merahmati Imam Abul Hasan al-Asy’ari dan sebagaimana kami berdo’a juga kepada Allah agar melapangkan hati kita semua untuk menerima kebenaran. Amin ya Rabbal ’Alamin.

 Daftar Referensi Induk
1.      Al-Ibanah ’an Ushul Diyanah karya Imam Abul Hasan al-Asy’ari, tahqiq Dr. Shalih bin Muqbil al-Ushaimi, Darul Fadhilah, KSA, cet. pertama, 1432 H.
2.      Risalah ila Ahli Tsaghar karya Imam Abul Hasan al-Asy’ari, tahqiq Abdullah Syakir Muhammad al-Junaidi, Maktabah al-Ulum wal Hikam, KSA, cet. kedua, 1422 H.
3.      Maqalat Islamiyyin karya Imam Abul Hasan al-Asy’ari, tahqiq Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid, al-Maktabah al-Ashriyyah, Beirut, cet. pertama, 1419 H.
4.      Al-Asya’irah fi Mizani Ahli Sunnah karya Faishal bin Qazar al-Jasim, al-Mabarrah al-Khairiyyah, Kuwait, cet. pertama 1428 H.
5.      Muqaddimah ’ala al-Ibanah oleh Syaikh Hammad al-Anshari, tergabung dalam Rasa‘il fil Aqidah, Maktabah al-Furqan, Emirat Arab, cet. pertama, 1424 H.
6.      Madzhab Al-Asy’ari Benarkah Ahlussunnah wal Jama’ah? Jawaban Terhadap Aliran Salafi. Muhammad Idrus Ramli, Penerbit Khalista, Surabaya, cet. pertama, April 2009.
7.      Mereka Memalsukan Kitab-Kitab Karya Ulama Klasik. Episode Kebohongan Publik Sekte Salafi Wahabi. Syaikh Idahram, Percetakan PT LKIS Printing Cemerlang, Yogyakarta, cet. pertama, 2011.


[1]     Lihat bukunya Madzahib Islamiyyin hlm. 533.
[2]     Risalah adz-Dzabb ’an Abil Hasan al-Asy’ari hlm. 131
[3]     Imam Ibnu Asakir, Tabyin Kidzbi al-Muftari, al-Maktabah al-Azhariyyah li Turots, Cairo, Mesir, h. Mukaddimah. — [Ini adalah catatan kaki yang ditulis oleh Idahram]
[4]     Di antaranya adalah al-Hafizh Abdurrahman bin Yahya al-Mu’allimi dalam kitabnya at-Tankil Bima fi Ta’nibil Kautsari minal Abathil, Muhammad Bahjat al-Baithar dalam al-Kautsari wa Ta’liqatuhu, Ahmad bin Shiddiq al-Ghumari dalam Talbis Kadzibil Muftari Muhammad Zahid al-Kautsari, Syaikh Bakr Abu Zaid dalam kitabnya Bara‘ah Ahli Sunnah minal Waqi’ah fi Ulama‘il Ummah, dan sebagainya.
[5]     Dinukil dari Bara‘ah Ahli Sunnah minal Waqi’ah fi Ulama‘il Ummah (ar-Rudud hlm. 274) oleh Bakr Abu Zaid.
[6]     Kata pengantar buku Bara‘ah Ahli Sunnah karya Syaikh Bakr Abu Zaid
[7]     Muqaddimah Syarh ath-Thahawiyyah hlm. 45 oleh Ibnu Abil Izzi al-Hanafi, cet. Maktab Islami
[8]     Syaikh al-Albani Rahimahullahu Ta’ala mengatakan dalam muqaddimah tahqiq at-Tankil, “Kitab at-Tankil… karya al-Allamah al-Muhaqqiq Abdurrahman bin Yahya al-Mu’allimi yang berisi penjelasan dengan argumen dan bukti yang valid dalam membongkar kedok dan penghinaan Ustadz al-Kautsari terhadap para imam dan perawi hadits, seperti tuduhannya bahwa para ulama adalah kelompok Mujassimah dan Musyabbihah, serangannya terhadap para ulama dengan hawa nafsu dan fanatik buta, sehingga merembet hingga mencela sebagian sahabat, yaitu tatkala dia menyatakan bahwa Abu Hanifah membenci hadits-hadits mereka(!) dan qiyas (analogi)nya lebih utama daripada perkataan Sahabat. Belum lagi cercaan-cercaannya terhadap keutamaan dan ilmu para imam besar seperti omongannya bahwa nasab Imam Malik bukan Arab tetapi bekas budak(!); Imam Syafi’i tidak fasih berbahasa Arab dan tidak pintar fiqih(!); Imam Ahmad tidak faqih(!); Abdullah putra Imam Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Utsman ad-Darimi, Ibnu Abi Hatim, dan para imam lainnya adalah Mujassimah!; Imam Daraquthni buta, sesat dalam aqidah, dan pengekor hawa nafsu(!); Imam al-Hakim seorang Syi’ah dan hafalannya rusak parah(!). Demikianlah, sehingga hampir tak satu pun ulama selamat dari kejahatan lidahnya, bahkan seperti al-Humaidi, Shalih bin Muhammad al-Hafizh, Abu Zur’ah ar-Razi, Ibnu Adi, Ibnu Abu Dawud, adz-Dzahabi, dan sebagainya…
[9]     Talbis Kadzibil Muftari hlm. 66
[10]   Dinukil dari kitab al-Asya’irah fi Mizani Ahli Sunnah hlm. 689–691 oleh Faishal bin Qazar al-Jasim dengan beberapa tambahan.
[11]   Perhatikanlah kalimat yang kami pertebal, dia menganggapnya pada masalah yang sama, padahal berbeda; pada kalimat sebelumnya adalah ketika al-Asy’ari menceritakan pendapat kaum Mu’tazilah dan Qadariyyah yang mengingkari sifat mata bagi Allah, sedangkan yang kedua ini adalah pendapat ahli hadits yang menetapkan sifat mata bagi Allah tanpa membagaimanakan tangan Allah atau menyerupakannya dengan tangan makhluk. Subhanallah, alangkah liciknya mereka dalam berdusta.
[12]   Ini juga termasuk tadlis (penipuan) Idahram kepada pembaca yang belum mengerti bahasa Arab sehingga menggambarkan adanya pertentangan dan perbedaan dengan sebelumnya, padahal teksnya berbeda, pada yang pertama kata ‘ainani marfu’ karena sebagai isim kana, sedangkan di sini manshub karena sebagai isim inna.
[13]   Alhamdulillah, telah banyak para penulis yang membongkar aurat buku ini, di antaranya adalah: al-Ustadz Firanda Abu Abdil Muhsin dalam bukunya “Sejarah Berdarah Sekte Syi’ah”, AM. Waskito dalam bukunya “Bersikap Adil Terhadap Wahabi”, dan Sofyan Cholid dalam bukunya “Salafy Antara Tuduhan dan Kenyataan”. Belum lagi artikel-artikel para ustadz lainnya di internet. Oleh karenanya, saya kira bantahan-bantahan tersebut sudah cukup bagi orang yang berakal.
[14]   http://arrahmah.com/read/2011/12/08/16720-kebohongan-syaikh-idahram-atas-nama-arifin-ilham.html
[15]   Lihat ar-Raddu ’ala al-Marisi 1/327 oleh ad-Darimi, at-Tauhid hlm. 42 oleh Ibnu Khuzaimah.
[16]   1/285, 290, 345, 271
[17]   Hlm. 225–226
[18]   Disadur dari al-Asya’irah fi Mizani Ahli Sunnah hlm. 692–696 oleh Faishal bin Qazar al-Jasim.
[19]   Di antara arti istawa adalah menguasai. — [Ini adalah catatan kaki yang ditulis oleh Idahram]
[20]   Dinukil dari Syaikh Hasan ibnu Ali as-Segaf saat dia menjelaskan biografi Ibnul Jauzi, lihat kitab Daf’u Syibhi at-Tasybih, buku tahkikannya, h. 19. — [Ini adalah catatan kaki yang ditulis oleh Idahram]
[21]   Mereka Memalsukan Kitab-Kitab Ulama Klasik hlm. 74–75
[22]   Lihat Silsilah Ahadits ash-Shahihah I/7–17 dan al-Qaulus Sadid fi Man Ankara Taqsim Tauhid oleh Syaikh Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad. Kata pengantar: Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan.
[23]   Sebaliknya, ucapan as-Saqqaf (biasa dituliskan dengan “as-Segaf”) ini yang malah keji sekali. Aduhai, apakah Anda berani mengucapkan hal itu di hadapan Nabi ?!! Pikirkanlah baik-baik!! Lihat pembelaan kami terhadap hadits ini dalam buku kami Membela Hadits Nabi hlm. 27–48, cet. Media Tarbiyah, Bogor.
[24]   Demikian juga Idahram, dia menyifati al-Kautsari dengan “al-Allamah”. Lihat bukunya Mereka Memalsukan Kitab-Kitab Ulama Klasik hlm. 79.
[25]   Lihat Kutub Hadzara Minha Ulama‘ 1/301 oleh Syaikhuna Masyhur bin Hasan alu Salman.
[26]   Imam al-Asy’ari Rahimahullahu Ta’ala mengatakan, “Kaum Mu’tazilah, Jahmiyyah, dan Haruriyyah mengatakan bahwa istawa maknanya adalah istaula ‘menguasai’ dan bahwasanya Allah berada di setiap tempat dan mengingkari kalau Allah di atas arsy-Nya sebagaimana pendapat ahlil haq, sehingga mereka berpendapat bahwa istawa adalah menguasai. Seandainya apa yang mereka katakan benar, berarti tidak ada bedanya antara Arsy dan bumi karena Allah menguasai segala sesuatu.” (al-Ibanah ’an Ushul Diyanah hlm. 410–411, tahqiq al-Ushaimi)
[27]   Lihat penelitian Dr. Fauqiyah Husain dalam tahqiqnya terhadap al-Ibanah hlm. 21 dan 188.
[28]   Tanbih Rajulil Aqil 2/487
[29]   Sebagaimana dikuatkan oleh Dr. Abdurrahman al-Mahmud dalam kitabnya Mauqif Ibnu Taimiyyah minal Asya’irah 1/354–355.
[30]   Lihat al-Uluw 2/1240 oleh adz-Dzahabi.
[31]   Majmu’ Fatawa 5/502
[32]   Kami banyak mengambil faedah poin bantahan ini dari ta’liq Dr. Shalih al-Ushaimi terhadap al-Ibanah hlm. 205–208.
[33]   Al-Ibanah ’an Ushul Diyanah hlm. 246
[34]   Ibid. hlm. 620
[35]   Sejarah Berdarah Salafi Wahhabi hlm. 203
[36]   Sejarah Berdarah Sekte Syi’ah. Membongkar Koleksi Dusta Syaikh Idahram. Firanda Andirja, Lc., M.A., hlm. xviii–xix, Penerbit Nashirusunnah, Tahun 1433 H.
[37]   Lihat Bersikap Adil Kepada Wahhabi. Bantahan Kritis dan Fundamental Terhada Buku Propaganda Karya Syaikh Idahram hlm. 122–135 oleh A.M. Waskito, Pustaka Al-Kautsar, Oktober 2011.
[38]   Silakan baca di http://www.gensyiah.com/waspada-buku-sejarah-berdarah-sekte-salafi-wahabi-mengusung-faham-rafidhah-syiah-iran.html
[39]   Ibnu Taimiyyah wa ’Ashruhu. Ara‘uhu wa Fiqhuhu hlm. 154
[40]   Abu Hasan al-Asy’ari: al-Ibanah fi Ushul Diyanah, Universitas Islamiyyah Madinah, cet ke-5, Kerajaan Saudi Arabia 1409, h. 27. — [Ini adalah catatan kaki yang ditulis oleh Idahram]
[41]   Mereka Memalsukan Kitab-Kitab Klasik Ulama hlm. 78
[42]   Demikian juga dalam Risalah ila Ahli Tsaghar hlm. 232–236, beliau menukil ijma’ (kesepakatan ulama) tentang ketinggian Allah di atas Arsy-Nya dan bahwasanya hal itu tidak bertentangan dengan kebersamaan Allah dengan hamba-Nya. Demikian juga dalam Maqalat Islamiyyin 1/284. Apakah semua kitab ini dusta seperti klaim sebagian kalangan?! Ataukah karena bertentangan dengan hawa nafsu dan pemikiran sesat mereka?! Dan lebih mengejutkan lagi, apabila kita tahu bahwa Abdullah bin Sa’id bin Kullab juga menetapkan ketinggian Allah di atas langit-Nya. Imam adz-Dzahabi berkata dalam biografinya, “Dia menulis tentang tauhid dan menetapkan sifat dan bahwa ketinggian Allah di atas makhluk telah diketahui dengan fitrah dan akal sesuai dengan nash.” (Siyar A’lam Nubala‘ 11/175)
[43]   Al-Ibanah hlm. 423, tahqiq al-Ushaimi
[44]   Risalah fi Dzabbi ’an Abil Hasan al-Asy’ari, Ibnu Dirbas hlm. 111–112
[45]   Syarh Ushul I’tiqad Ahli Sunnah wal Jama’ah al-Lalikai 1/204, Dzammul Kalam al-Harawi 4/390, Aqidah Salaf Ashabul Hadits ash-Shabuni hlm. 304.
[46]   Syarh Ushul I’tiqad al-Lalikai: 937, Syarh Aqidah ath-Thahawiyyah 1/85 oleh Ibnu Abi Izzi al-Hanafi.
[47]   Siyar A’lam Nubala‘ 10/610
[48]   Mukhtashar al-’Uluw hlm. 278–279
[49]   Sebagian sahabat kondang Imam Syafi’i pernah mengatakan, “Dalam al-Qur‘an, terdapat seribu dalil lebih yang menunjukkan bahwa Allah tinggi di atas makhluk-Nya.” (Majmu’ Fatawa 5/121)
[50]   Penulis telah membahas masalah ini secara khusus dalam bukunya Di Mana Allah. Pertanyaan Penting yang Terabaikan, cet. Media Tarbiyah, Bogor. Silakan menelaahnya.

+++++++++
Share Ulang:
Citramas, 15 Syawal 1440
Sumber= http://abiubaidah.com/1725-mereka-membenci-kitab-al-ibanah-karya-abul-hasan-al-asyari-bagian-2-dari-2-tulisan.html
Baca Selengkapnya >>>