Islam Pedoman Hidup: Ahlul Ba'it
Tampilkan postingan dengan label Ahlul Ba'it. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahlul Ba'it. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Juni 2021

Fitnah Nasab

Penjajahan Belanda memberikan pengaruh besar bagi bangsa Indonesia hingga struktur DNA-nya. Hampir 75 tahun bangsa kita merdeka dari mereka, namun peninggalan mereka belum juga binasa oleh jalannya roda zaman. Terutama, bagaimana mereka membangun strata sosial berbasis keturunan dan jabatan. Terbentuklah kemudian kalangan ndoro-ndoro yang biasanya petentang-petenteng, dan kawula alit yang punya kewajiban mengabdi melayani golongan pertama. Feodalisme. Sistem sosial yang menomorsekiankan prestasi dan produktivitas individu. Yang penting, situ anaknya siapa, keturunan siapa, dan jabatannya apa. Banyak fasilitas disediakan khusus untuk mereka dan ‘haram’ dicicipi kawula alit. Misalnya Eurospeesch Lagere School (ELS), sekolah setara SD yang diperuntukkan khusus bagi orang Belanda dan Eropa, serta pribumi golongan terpandang. Pribumi berduit kelas dua, disediakan Hollandsche Inlandsche School (HIS). Terakhir, pribumi rendahan kawulo alit di pedesaan - sekolahnya simbah saya dulu - Tweede Inlandsche School atau bahasa kerennya : Sekolah Ongko Loro, yang bisa melanjutkan ke sekolah rakyat atau Schakel School (dimana lulusannya setara dengan HIS). Ini adalah contoh kecil diskriminasi penerapan sistem feodalistik Belanda bagi bangsa Indonesia.

 
Feodalisme warisan Belanda kini banyak bermutasi dengan berbagai beragam bentuknya. Dalam dunia politik –katanya-, dikenal dengan politik keluarga. Mirip dengan monarki. Pemimpin partai didapatkan dari warisan keturunan keluarga. Keturunan bagaikan berlian. You know lah…. Dalam agama ada juga. Sistem kasta di agama tetangga. Celakanya, sistem ini direpro dan dilestarikan oleh sebagian orang dalam agama kita, Islam. Mereka membuat pengkelasan dalam masyarakat. Imbasnya, sebagian mereka minta dihormati secara berlebihan. Dikuatkan lagi dengan bumbu-bumbu dalil palsu  (baca : dongeng). Tempo hari, ada video viral oknum yang mengaku keturunan Nabi ﷺ. Dengan sangat konyolnya dia membangga-banggakan keturunan dan nasab, dan seolah ingin mengatakan dirinya dan kelompoknya lebih mulia daripada kaum muslimin kebanyakan. Ada sisipan bualan garing yang membuat setiap penonton tertawa sekaligus sedih. Katanya, wanita paling jahat di dunia adalah wanita syarifah (keturunan Nabi ﷺ) yang menikah bukan dengan habib. Alasannya, memutuskan nasab. Ia dianggap sebagai wanita paling kurang ajar karena menghasilkan anak yang tidak diakui Nabi ﷺ kelak di hari kiamat sebagai keturunannya. Wanita itu telah melakukan perbuatan yag diharamkan agama ? What ?!!.
 
Membantah bualan ini mudah saja. Kita lihat teladan salaf kita yang shalih dan kita sisihkan sejenak perkataan orang ini. Akan saya sebutkan beberapa contoh –diantara banyak contoh– wanita keturunan Nabi ﷺ dari garis Faathimah yang menikah dengan laki-laki bukan dari kalangan ahli bait.
1.      Ummu Kultsuum bintu 'Aliy bin Abi Thaalib dinikahkan ayahnya dengan 'Umar bin Al-Khaththaab yang notabene bukan berasal dari Bani Haasyim.
2.      Ummul-Husain bintu Al-Hasan bin 'Aliy bin Abi Thaalib dinikahkan dengan 'Abdullah bin Az-Zubair bin Al-'Awwaam [Ref : Nasabu Quraisy oleh Abu 'Abdillah Al-Mush'ab Az-Zubairiy, hal. 50].
3.      Ummu Salamah bintu Al-Hasan bin 'Aliy bin Abi Thaalib dinikahkan dengan 'Amru bin Al-Mundzir bin Az-Zubair bin Al-'Awwaam [idem].
4.      Ummu Kultsuum bintul-Husain bin Al-Hasan bin 'Aliy bin Abi Thaalib dinikahkan dengan Ismaa'iil bin 'Abdil-Malik bin Al-Haarits bin Al-Hakam bin 'Aash [idem, hal 51].
5.      Zainab bintu Al-Hasan bin Al-Hasan bin 'Aliy bin Abi Thaalib dinikahkan dengan Al-Waliid bin 'Abdil-Malik bin Marwan Al-Umawiy [idem, hal. 52].
6.      Faathimah bintu Al-Hasan bin Al-Hasan bin 'Aliy bin Abi Thaalib dinikahkan dengan Ayyuub bin Salamah bin 'Abdillah bin Al-Waliid bin Mughiirah bin 'Abdillah Al-Makhzuumiy [idem, hal. 52-53].
7.      Mulaikah bintu Al-Hasan bin Al-Hasan bin 'Aliy bin Abi Thaalib dinikahkan dengan Ja'far bin Mush'ab bin Az-Zubair bin Al-'Awwaam [idem, hal. 53].
8.      Ummul-Qaasim bintu Al-Hasan bin Al-Hasan bin 'Aliy bin Abi Thaalib dinikahkan dengan Marwaan bin Abaan bin 'Utsmaan bin 'Affaan [idem].
9.      Faathimah bintu Muhammad bin Al-Hasan bin Al-Hasan bin 'Aliy bin Abi Thaalib dinikahkan dengan Abu Bakr bin 'Abdil-Malik bin Marwan [idem].
10.   Sukainah bintu Al-Husain bin 'Aliy bin Abi Thaalib dinikahkan dengan Mush'ab bin Az-Zubair bin Al-'Awwaam. Kemudian Mush'ab digantikan oleh 'Abdullah bin 'Utsmaan bin 'Abdillah bin Hakam bin Hizaam bin Khuwailid. Kemudian Mush'ab digantikan oleh Zaid bin 'Amru bin 'Utsmaan bin 'Affaan. Kemudian Zaid digantikan oleh Ibraahiim bin 'Abdirrahmaan bin 'Auf. Kemudian terakhir, Ibraahiim digantikan oleh Al-Ashbagh bin 'Abdil-'Aziiz bin Marwaan bin Al-Hakam [idem, hal. 59].
11.   Faathimah bintu Al-Husain bin 'Aliy bin Abi Thaalib dinikahkan dengan 'Abdullah bin 'Amru bin 'Utsmaan Al-Umawiy [idem].
Rahimahumullah.
 
InsyaAllah saya masih bisa memberikan contoh yang lain. Akan tetapi, saya kira contoh di atas cukup bagi kita semua untuk mengetahui sikap salaf dari kalangan ahli bait yang berbeda dengan keyakinan orang tersebut. Kita patut bertanya : “Apakah mereka semua, keluarga ‘Aliy bin Abi Thaalib, Al-Hasan bin ‘Aliy, dan Al-Husain bin ‘Aliy radliyallaahu ‘anhum telah membuat murka Allah ﷻ dengan melakukan perkara yang diharamkan syari’at ? bermaksiat kepada-Nya?”. Sungguh jauh mereka dari bualan orang itu….
 
Kita pun dapat mencontoh Nabi ﷺ bagaimana beliau bersikap dan memandang kaum muslimin secara general.
 
Ketika Nabi ﷺ ditanya siapakah laki-laki yang paling beliau cintai, beliau ﷺ tidak menjawab 'Aliy bin Abi Thaalib yang notabene keluarga dekat beliau, suami dari anaknya (Faathimah) yang keturunannya kelak menjelang hari kiamat akan menjadi pemimpin bagi kaum muslimin (Al-Mahdi). Akan tetapi beliau menjawab Abu Bakr, lalu 'Umar radliyallaahu 'anhum.
 
عَنْ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ بَعَثَهُ عَلَى جَيْشِ ذَاتِ السُّلَاسِلِ فَأَتَيْتُهُ فَقُلْتُ أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ قَالَ عَائِشَةُ فَقُلْتُ مِنْ الرِّجَالِ فَقَالَ أَبُوهَا قُلْتُ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَعَدَّ رِجَالًا
 
Dari ‘Amru bin Al-‘Aash radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Nabi ﷺ mengutusnya beserta rombongan pasukan Dzatus-Sulaasil. Lalu aku ('Amru) bertanya kepada beliau : "Siapakah manusia yang paling engkau cintai?”. Beliau menjawab : "'Aaisyah". Aku kembali bertanya : "Kalau dari kalangan laki-laki?". Beliau menjawab : "Bapaknya (yaitu Abu Bakr)". Aku kembali bertanya : "Kemudian siapa lagi?". Beliau menjawab : "'Umar bin Al-Khaththaab". Selanjutnya beliau menyebutkan beberapa orang laki-laki" [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3662].
 
Ini menunjukkan kecintaan hakiki dalam Islam bukan kecintaan karena nasab atau keturunan, akan tetapi karena iman dan taqwa. Dan itulah yang ada pada diri Abu Bakr dan ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa. Begitu juga dengan kaum muslimin, siapapun diantara mereka yang paling bertaqwa, maka ia lah yang dicintai Nabi ﷺ. Beliau ﷺ pernah bersabda :
 
إِنَّ أَهْلَ بَيْتِي هَؤُلاءِ يَرَوْنَ أَنَّهُمْ أَوْلَى النَّاسِ بِي، وَلَيْسَ كَذَلِكَ، إِنَّ أَوْلِيَائِي مِنْكُمُ الْمُتَّقُونَ، مَنْ كَانُوا وَحَيْثُ كَانُوا.....
 
“Sesungguhnya ahlul-baitku memandang bahwa mereka adalah orang yang paling berhak terhadapku. Padahal tidak seperti itu. Sesungguhnya wali-waliku di antara kalian adalah orang-orang yang bertaqwa, dimanapun mereka berada…” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Aashim dalam As-Sunnah no. 212 & 1011, dan Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiiir 20/120-121 no. 241; shahih].
 
Sabda beliau ﷺ sejalan dengan firman Allah ﷻ:
 
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian " [QS. Al-Hujuraat : 13].
 
Al-Qurthubiy rahimahullah berkata tentang ayat di atas:
وفي هذه الآية ما يدلك على أن التقوى هي المراعى عند الله تعالى وعند رسوله دون الحسب والنسب
“Dan dalam ayat ini menunjukkan bahwa ketaqwaan adalah hal yang dipertimbangkan di sisi Allah ta’ala dan Rasul-Nya, bukan keturunan dan nasab” [Tafsir Al-Qurthubiy, 16/345].
 
Rasulullah ﷺ bersabda dalam khuthbahnya saat Fathu Makkah:
 
أَمَا بَعْدَ، أَيُّهَا النَّاسُ، فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ، يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّمَا النَّاسُ رَجُلانِ بَرٌّ تَقِيٌّ كَرِيمٌ عَلَى رَبِّهِ، وَفَاجِرٌ شَقِيٌّ هَيِّنٌ عَلَى رَبِّهِ "، ثُمَّ تَلا: يَأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا حَتَّى قَرَأَ الآيَةَ، ثُمَّ قَالَ: " أَقُولُ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ "
 
Ammaa ba’du. Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah ﷻ telah menghilangkan dari kalian kesombongan Jahiliyyah. Wahai sekalian manusia. Ada dua golongan manusia, yaitu (1) golongan yang baik, bertaqwa, dan mulia di sisi Rabb-Nya; serta (2) golongan yang fajir (jahat), celaka, dan hina di sisi Allah”. Kemudian beliau ﷺ membaca ayat : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Al-Hujuraat : 13). Lalu beliau melanjutkan : “Aku katakan ini dan aku memohon ampun kepada Allah untukku dan untuk kalian semua” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 3270, Ibnu Hibbaan no. 3228; dan yang lainnya; shahih].
 
‘Abdullah bin ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa berkata:
 
لا أَرَى أَحَدًا يَعْمَلُ بِهَذِهِ الآيَةِ: يَأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى، حَتَّى بَلَغَ: إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ، فَيَقُولُ الرَّجُلُ لِلرَّجُلِ: أَنَا أَكْرَمُ مِنْكَ، فَلَيْسَ أَحَدٌ أَكْرَمَ مِنْ أَحَدٍ إِلا بِتَقْوَى اللَّهِ
 
Aku tidak memandang seseorang mengamalkan ayat ini : ‘Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan – hingga : Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian(QS. Al-Hujuraat : 13), yaitu ketika seseorang berkata kepada orang lain : ‘Aku lebih mulia daripada dirimu’. Padahal tidaklah seseorang lebih mulia daripada orang lain kecuali dengan ketaqwaan kepada Allah” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy dalam Al-Adabul-Mufrad no. 898 dan dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Shahiih Al-Adabil-Mufrad hal. 333].
 
مَا تَعُدُّونَ الْكَرَمَ ؟ وَقَدْ بَيَّنَ اللَّهُ الْكَرَمَ، فَأَكْرَمُكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ، مَا تَعُدُّونَ الْحَسَبَ؟ أَفْضَلُكُمْ حَسَبًا أَحْسَنُكُمْ خُلُقًا
“Apa yang kalian nilai/perhitungkan dari kemuliaan itu ? Sungguh, Allah telah menjelaskan tentang kemuliaan. Orang yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa di antara kalian. Apa yang kalian nilai/perhitungkan dari keturunan ?. Yang paling utama keturunannya diantara kalian adalah yang paling baik akhlaqnya diantara kalian” [idem no. 899 dan dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Shahiih Al-Adabil-Mufrad hal. 334].
 
Adakah diantara kita yang ingin membangkitkan kembali slogan-slogan Jahiliyyah membangga-banggakan keturunan ?. Ada, kata Nabi ﷺ sebagaimana dalam sabdanya:
 
أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ، لَا يَتْرُكُونَهُنَّ: الْفَخْرُ فِي الْأَحْسَابِ، وَالطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ، وَالْاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ، وَالنِّيَاحَةُ
 
“Ada empat perkara Jaahiliyyah dari umatku dan mereka belum meninggalkannya : Membanggakan keturunan, mencela nasab, meminta hujan dengan bintang-bintang, dan niyahah (meratapi mayit)…..” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 934].
 
Siapakah mereka ?. Silakan dijawab masing-masing.
 
Dalam pernikahan, faktor bagusnya agama seseorang menjadi pertimbangan utama bagi seorang wanita untuk menikah dengannya. Barangsiapa bermaksiat kepada Allah ﷻ, baik yang mengaku keturunan Nabi, raja, presiden maupun yang bukan - , maka baginya dosa dan bara'ah kaum muslimin terhadapnya sesuai kadar maksiat yang dilakukannya. Sangat tidak dianjurkan keluarga perempuan kita dinikahkan dengan orang sepertinya.
 
Saya contohkan Khumaini, ulama Syi'ah. Dia mengaku keturunan ahli-bait [http://bit.ly/2Tn6L1O dan http://bit.ly/3axQMUx]. Termasuk golongan habaaib dalam bahasa kita. Seandainya pun pengakuannya benar - sementara kita tahu dia seorang pendusta - tetap saja kita katakan Khumaini KAFIR, perusak Islam[1]. HARAM anak perempuan kita dinikahkan dengan dirinya atau orang semisalnya dari kalangan Raafidlah.
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا جَاءَكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ اللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِهِنَّ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ
 
“Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka” [QS. Al-Mumtahanah : 10].
 
Nasab sama sekali tak dapat menolong dari kemurkaan Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ bersabda:
 
يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ اشْتَرُوا أَنْفُسَكُمْ مِنْ اللَّهِ يَا بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ اشْتَرُوا أَنْفُسَكُمْ مِنْ اللَّهِ يَا أُمَّ الزُّبَيْرِ بْنِ الْعَوَّامِ عَمَّةَ رَسُولِ اللَّهِ يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ اشْتَرِيَا أَنْفُسَكُمَا مِنْ اللَّهِ لَا أَمْلِكُ لَكُمَا مِنْ اللَّهِ شَيْئًا سَلَانِي مِنْ مَالِي مَا شِئْتُمَا
 
“Wahai Bani ‘Abdi Manaaf, belilah diri-diri kalian dari Allah !. Wahai Bani ‘Abdil-Muthallib, belilah diri-diri kalian dari Allah !. Wahai Ummuz-Zubair bin Al-‘Awwaam bibi Rasulullah, wahai Faathimah bintu Muhammad, belilah diri kalian dari Allah. Aku tidak berkuasa melindungi diri kalian dari murka Allah. Mintalah kepadaku harta sesuka kalian” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3527].
 
Beliau ﷺ pun baraa’ (berlepas diri) atas kemaksiatan dan/atau kekufuran yang mereka lakukan (jika mereka melakukannya), dan mereka kelak akan dijauhkan dari beliau ﷺ.
 
Allah ﷻ berfirman:
 
فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلا يَتَسَاءَلُونَ
 
“Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya” [QS. Al-Mukminuun : 101].
 
Rasulullah ﷺ bersabda:
 
إِنِّي عَلَى الْحَوْضِ حَتَّى أَنْظُرَ مَنْ يَرِدُ عَلَيَّ مِنْكُمْ وَسَيُؤْخَذُ نَاسٌ دُونِي فَأَقُولُ يَا رَبِّ مِنِّي وَمِنْ أُمَّتِي فَيُقَالُ هَلْ شَعَرْتَ مَا عَمِلُوا بَعْدَكَ وَاللَّهِ مَا بَرِحُوا يَرْجِعُونَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ
 
“Sesungguhnya aku (kelak akan) berada di telaga Haudl, hingga kemudian aku melihat beberapa orang akan datang kepadaku di antara kalian, dan beberapa manusia dihalau dariku, dan aku akan berkata : ‘Ya Rabb, mereka bagian dariku dan dari ummatku’. Kemudian akan dikatakan : ‘Apakah kamu mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu?’. Demi Allah, mereka telah berbalik ke belakang (dari agamamu)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6593].
 
Ahli bait Nabi yang shalih ? (Sangat) banyak. Ahli bait yang menjadi ulama dan fuqahaa’?. Banyak. Ahli bait yang menjadi ahli hadits ? Banyak. Yang mengaku ahli bait Nabi tapi doyan bid'ah dan khurafat ? Tak sedikit. Yang mengaku ahli bait tapi membiarkan dan bangga istrinya secara vulgar berkonde dan tidak berjilbab ? Ada dan telah viral. Yang kena kasus korupsi dan telah inkracht kena hukum bui ? Ada juga. Yang kena borgol polisi karena tuduhan pencabulan?. Ada, viral masuk berita kemarin lengkap dengan penampakan tato wanita cabul di lengan kurusnya. Tahun 2012, jagat media dibuat heboh akan pemberitaan oknum habib yang dituduh mencabuli laki-laki (homo?). Mereka semua sama seperti kita, ada yang baik dan ada yang buruk, ada yang shaalih dan ada yang thaalih (jahat), ada yang ‘aalim dan ada yang jaahil (bodoh). Yang baik diberikan walaa’ (loyalitas), sedangkan yang buruk diberikan baraa’ (berlepas diri) – sesuai kadar masing-masing.
 
Kembali,.…
 
Dalam ruang fiqh, pertimbangan nasab sebagai kafa'ah memang dikatakan oleh jumhur ulama. Akan tetapi jika si wanita dan walinya ridla; tak mengapa, pernikahannya sah, tidak haram, dan si wanita bukan dikatakan wanita paling jahat dan kurang ajar[2]. Jika pernikahannya tersebut dibangun di atas dasar taqwa, lalu menghasilkan generasi unggulan yang shalih, maka terpuji (dan ‘mesti’ dipuji). Karena tujuan utama pernikahan untuk mencetak rumah tangga dan generasi yang shalih tercapai.
 
Btw, ahli bait Nabi ﷺ mempunyai hak khusus yang diakui dalam syari’at. Kita tidak memungkirinya. Mereka memiliki hak untuk dicintai, sebagaimana firman Allah ﷻ:
 
ذَلِكَ الَّذِي يُبَشِّرُ اللَّهُ عِبَادَهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ قُلْ لا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى وَمَنْ يَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْنًا إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ
 
Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. Katakanlah: "Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan". Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri” [QS. Asy-Syuuraa : 23].
 
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، (إِلا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى)، قَالَ: فَقَالَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ: قُرْبَى مُحَمَّدٍ ﷺ فَقَالَ " إِنَّ النَّبِيَّ ﷺ لَمْ يَكُنْ بَطْنٌ مِنْ قُرَيْشٍ إِلَّا وَلَهُ فِيهِ قَرَابَةٌ فَنَزَلَتْ عَلَيْهِ إِلَّا أَنْ تَصِلُوا قَرَابَةً بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ "
 
Dari Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa tentang ayat : ‘kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan’. Perawi berkata : Maka Sa’iid bin Jubair berkata : “Kekeluargaan Muhammad ﷺ”. Lalu Ibnu ‘Abbaas berkata : “Sesungguhnya Nabi ﷺ, tidak ada satu pun perut di kalangan Quraisy, kecuali beliau mempunyai kekerabatan dengan mereka. Lalu ayat itu pun kepada beliau, yang mengkonsekuensikan agar kalian menyambung kekerabatan antara aku dan kalian” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3497].
 
عَنْ الْعَبَّاس عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ قَالَ : وَاللَّهِ لَا يَدْخُلُ قَلْبَ امْرِئٍ إِيمَانٌ حَتَّى يُحِبَّكُمْ لِلَّهِ وَلِقَرَابَتِي "
 
Dari Al-‘Abbaas, dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda : “Demi Allah, tidak akan masuk iman pada hati seseorang hingga mencintai kalian karena Allah dan karena kekerabatanku” [Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad 1/207 & 207-208 & 4/165 dan dalam Al-Fadlaail no. 1756-1757 & 1760; dishahihkan oleh Ahmad Syaakir dalam syarah-nya terhadap Musnad Ahmad].
 
Mereka juga memiliki hak pengakuan nasab mereka adalah nasab yang mulia. Hal itu dikarenakan Rasulullah ﷺ bersabda :
 
إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ، وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ، وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ، وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ
“Sesungguhnya Allah telah memilih dari anak Ismaa’iil, dan telah memilih Quraisy dari (anak-anak) Kinaanah, dan telah memilih dari (anak-anak) Quraisy Bani Haasyim, dan telah memilihku dari Bani Haasyim” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2276].
 
Kecintaan terhadap kemuliaan nasab mengikuti ketaatan dan ketaqwaannya kepada Allah ﷻ. Barangsiapa yang tidak taat kepada Allah ﷻ dan bertaqwa kepada-Nya, maka tak ada kecintaan karena kemuliaan nasab yang dimilikinya. Alias tak bermanfaat (useless).
 
Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
 
لا ريب أنه لآل محمد صلى الله عليه وسلم حقا على الأمة لا يشركهم فيه غيرهم ، ويستحقون من زيادة المحبة والموالاة ما لا يستحقه سائر بطون قريش...وأما ترتيب الثواب والعقاب على القرابة ، ومدح الله عز وجل للشخص المعين وكرامته عند الله تعالى ، فهذا لا يؤثر فيه النسب ، وإنما يؤثر فيه الإيمان والعمل الصالح ، وهو التقوى ، كما قال تعالى : ( إن أكرمكم عند الله أتقاكم ) وفي الصحيح ( أن النبي ﷺ سئل : أي الناس أكرم ؟ فقال : أتقاهم )
 
“Tidak diragukan keluarga Muhammad ﷺ mempunyai hak atas umat yang tidak dimiliki oleh siapapun selain mereka. Mereka juga berhak menerima tambahan kecintaan dan loyalitas dimana hal tersebut tidak diterima oleh seluruh kabilah Quraisy…. Adapun pengkelasan pahala dan hukuman atas kekerabatan, serta pujian Allah ‘azza wa jalla kepada seorang individu dan kemuliaannya di sisi Allah ta’ala; maka nasab tidak berpengaruh. Yang berpengaruh padanya hanyalah iman dan amal shaalih, yaitu ketaqwaan, sebagaimana firman Allah ta’ala: ‘Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian" (QS. Al-Hujuraat : 13). Dan juga hadits yang terdapat dalam Ash-Shahiih bahwasannya Nabi ﷺ pernah ditanya : ‘Siapakah manusia yang paling mulia?’. Maka beliau ﷺ menjawab : ‘Yang paling bertaqwa diantara mereka” [Minhaajus-Sunnah, 4/599, 601].
 
الذي ينفع الناس طاعة الله ورسوله وأما ما سوى ذلك فإنه لا ينفعهم لا قرابة ولا مجاورة ولا غير ذلك كما ثبت عنه في الحديث الصحيح أنه قال يا فاطمة بنت محمد لا أغني عنك من الله شيئا يا صفية عمة رسول الله لا أغني عنك من الله شيئا يا عباس عم رسول الله لا أغني عنك من الله شيئا وقال ص - إن آل أبي فلان ليسوا لي بأولياء إنما وليي الله وصالح المؤمنين وقال إن أوليائي المتقون حيث كانوا ومن كانوا
 
“Yang bermanfaat bagi manusia adalah ketaatan kepada Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ, sedangkan selain keduanya tidaklah bermanfaat; baik kekerabatan, kedekatan, dan yang lainnya. Hal itu sebagaimana tetap dari Nabi ﷺ dalam hadits shahih bahwasannya beliau ﷺ bersabda : ‘Wahai Faathimah bintu Muhammad, aku tidak dapat membelamu sedikitpun dari murka Allah. Wahai Shafiyyah, bibi Rasulullah, aku tidak dapat membelamu sedikitpun dari murka Allah. Wahai ‘Abbaas, paman Rasulullah, aku tidak dapat membelamu sedikitpun dari murka Allah’.[3] Beliau ﷺ bersabda : ‘Sesungguhnya keluarga Abu Fulaan bukanlah waliku, sesungguhnya waliku adalah Allah dan orang-orang mukmin yang shalih’.[4] Dan beliau ﷺ juga bersabda : ‘Sesungguhnya waliku adalah orang-orang yang bertaqwa dimanapun ia berada dan siapapun dia[5]” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 27/435].
 
Asy-Syaikh ‘Abdul-Muhsin Al-‘Abbad hafidhahullah berkata :
 
ويَرَون أنَّ شرَفَ النَّسَب تابعٌ لشرَف الإيمان، ومَن جمع اللهُ له بينهما فقد جمع له بين الحُسْنَيَيْن، ومَن لَم يُوَفَّق للإيمان، فإنَّ شرَفَ النَّسَب لا يُفيدُه شيئاً، وقد قال الله عزَّ وجلَّ: {إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللهِ أَتْقَاكُمْ}، وقال ﷺ في آخر حديث طويلٍ رواه مسلم في صحيحه (2699) عن أبي هريرة رضي الله عنه: ((ومَن بطَّأ به عملُه لَم يُسرع به نسبُه)).
 
“Ahlus-Sunnah berpendapat bahwa ketinggian nasab mengikuti ketinggian iman. Barangsiapa yang Allah kumpulkan baginya dua hal tersebut, sungguh telah terkumpul baginya dua kebaikan. Dan barangsiapa tidak menetapi/konsekuen pada iman, maka ketinggian nasab tidak bermanfaat sedikitpun. Allah ‘azza wa jalla telah berfirman : ‘Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu adalah orang yang paling bertaqwa’ (QS. Al-Hujuraat : 13). Dan juga berdasarkan sabda Nabi ﷺ dalam akhir satu hadits panjang yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya no. 2699 dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu : ‘Barangsiapa yang lambat amalnya, maka tidak akan bisa dipercepat oleh (kemuliaan) nasabnya” [Fadhlu Ahlil-Bait wal-‘Uluwwu Makaanatihim ‘inda Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah oleh ‘Abdul-Muhsin Al-‘Abbad – www.dorar.net].
 
An-Nawawiy rahimahullah menjelaskan hadits Abu Hurairah yang dibawakan oleh Asy-Syaikh ‘Abdul-Muhsin hafidhahullah di atas dengan perkataannya:
 
مَعْنَاهُ : مَنْ كَانَ عَمَله نَاقِصًا ، لَمْ يُلْحِقهُ بِمَرْتَبَةِ أَصْحَاب الْأَعْمَال ، فَيَنْبَغِي أَلَّا يَتَّكِل عَلَى شَرَف النَّسَب ، وَفَضِيلَة الْآبَاء ، وَيُقَصِّر فِي الْعَمَل
“Maknanya : Barangsiapa amalannya kurang, maka (nasabnya) tidak akan menyampaikannya pada kedudukan orang-orang yang rajin beramal (shalih). Maka seseorang tidak boleh bersandar pada kemuliaan nasab dan keutamaan nenek-moyang, sementara amalannya defisit” [Syarh Shahiih Muslim, 17/22-23].
 
Wallaahu a’lam bish-shawwaab.[6]
 
[abul-jauzaa’ – 14 Rajab 1441]
 
 
[1]    Seperti pendahulunya dari kalangan Bani Faathimiyyah yang mendirikan Daulah Faathimiyyah di Mesir, penganut sekte Syi’ah Ismaa’iiliyyah. Pendirinya, Abu Muhammad ‘Ubaidullah Al-Mahdiy mengklaim keturunan ahli bait dari jalur Ismaa’iil bin Ja’far Ash-Shaadiq. ‘Ubaidullah dan keturunannya dari Daulah Faathimiyyah. Daulah Faathimiyyah merupakan bencana bagi kaum muslimin. Banyak ulama yang mengkafirkan Syi’ah Ismaa’iiliyyah. Klaim keturunan tidak mengkonsekuensikan agamanya mesti benar. Bahkan, ‘Ubaidullah dan keturunannya menggunakan faktor nasab sebagai legalisasi meraih kekuasaan dan membuat aliran yang merusak Islam dari dalam.
 
[2]    Silakan baca artikel : Gak Level......
[3]    Diriwayatkan oleh Muslim no. 206.
[4]    Diriwayatkan oleh Ahmad 4/203; shahih.
[5]   Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Aashim dalam As-Sunnah no. 1011 dan Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiir 20/120-121 no. 241; shahih.
[6]    Sebagai pengaya bacaan, silakan simak artikel lain di Blog ini berjudul :
 
 
  

Baca Selengkapnya >>>

Ahlul-Bait Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam

 

Pembahasan Ahlul-Bait menjadi pembahasan yang cukup penting untuk dikupas, karena ada di antara kaum muslimin yang berlebih-lebihan dalam mencintai seperti Syi’ah Rafidlah, dan di antara mereka ada yang berlebih-lebihan dalam membenci dan memusuhi seperti Nawaashib. Adapun golongan pertengahan di antara dua sisi ekstrim tersebut adalah Ahlus-Sunnah. Ahlus-Sunnah adalah ahlul-wasath. Mereka mencintai Ahlul-Bait menurut apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya.

 
Siapakah Ahlul-Bait Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam?
 
Terjadi silang pendapat di kalangan ‘ulama dalam hal ini. Di antara pendapat-pendapat tersebut antara lain adalah :
 
1. Ahlul-Bait adalah istri-istri dan keturunan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
 
Para ulama yang memegang pendapat ini membawakan dalil firman Allah ta’ala :
 

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلا مَعْرُوفًا * وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأولَى وَأَقِمْنَ الصَّلاةَ وآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا * وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا

 
“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik, dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunah Nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui” [QS. Al-Ahzaab : 32-34].
 
Ibnu Abi Haatim rahimahullah membawakan satu riwayat dalam tafsirnya :
 

من طريق عكرمة رضي الله عنه عن ابن عباس رضي الله عنهما في قوله : { إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ } قال : نزلت في نساء النبي صلى الله عليه وسلم خاصة. وقال عكرمة رضي الله عنه : من شاء بأهلته أنها نزلت في أزواج النبي صلى الله عليه وسلم.

 
Dari jalan ‘Ikrimah radliyallaahu ‘anhu, dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma, tentang firman Allah : “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait” ; ia berkata : “Ayat ini turun kepada istri-istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam secara khusus”. ‘Ikrimah berkata : “Barangsiapa yang mau, aku tantang dia mubahalah, ayat ini turun tentang istri-istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam (saja)” [Tafsir Ibni Abi Haatim hal. 3132 no. 17675; tahqiq : As’ad Muhammad Thayyib; Maktabah Nizaar Mushthafaa Al-Baaz, Cet. 1/1417 H].
 
Pada awal ayat, Allah ta’ala berfirman mengenai istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Begitu juga pada akhir ayat. Pada pertengahan ayat, Allah berfirman : “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”. Maka, tidak ada alasan bagi mereka yang mengatakan bahwa keluarga atau ahlul-bait yang dimaksudkan bukan istri-istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Jika ada yang mengatakan istri-istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bukan yang dimaksud oleh ayat, maka itu menyelisihi siyaq (susunan) ayat sebagaimana dhahirnya.
 
(-) Lantas bagaimana dengan kalimat yuthahhirakum dan ‘ankum pada ayat di atas yang menunjukkan jama’ mudzakkar (laki-laki) ?
 
(+) Maka dijawab : Sesungguhnya perkara yang disebutkan di awal ayat tertuju kepada para wanita secara khusus. Kemudian datang miim jama’ karena masuknya laki-laki bersama para wanita tersebut, yaitu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sebagai sayyidul-bait. Apabila laki-laki masuk pada kumpulan wanita, maka nun niswah berubah (kalah) menjadi miim jama’ (mudzakkar). Hal ini adalah sesuatu hal yang ma’lum (diketahui) dalam ilmu nahwu.
 

إذا اجتمع المذكر مع المؤنث غلب المذكر

 
“Apabila mudzakkar (laki-laki) dan muannats (wanita) berkumpul (dalam satu kalimat), maka dimenangkan mudzakkar”.
 
Selain itu, dalil yang dibawakan ulama yang merajihkan pendapat ini adalah hadits yang menyebutkan bacaan shalawat dalam tasyahud :
 

اللهم! صل على محمد وعلى أزواجه وذريته. كما صليت على آل إبراهيم. وبارك على محمد وعلى أزواجه وذريته. كما باركت على آل إبراهيم. إنك حميد مجيد

 
“Ya Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada istri-istrinya serta keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada keluarga Ibrahim. Dan berikanlah barakah kepada Muhammad, dan kepada istri-istrinya serta keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia” [HR. Al-Bukhari no. 3369 dan Muslim no. 407].
 
Lafadh “wa ‘alaa azwaajihi wa dzurriyyaatihi” (dan kepada istri-istrinya serta keturunannya) merupakan penafsir dari lafadh “wa ‘alaa aali Muhammad” (dan kepada keluarga Muhammad) sebagaimana terdapat dalam riwayat lain yang dibawakan oleh Al-Bukhari :
 

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد

 
“Ya Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Dan berikanlah barakah kepada Muhammad, dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia” [HR. Al-Bukhari no. 3370].
 
2. Ahlul-Bait adalah orang-orang yang diharamkan padanya menerima zakat.
 
Para ulama yang memegang pendapat ini membawakan dalil sebagai berikut :
 

عن يزيد بن حيان. قال: قال زيد بن أرقم: قام رسول الله صلى الله عليه وسلم يوما فينا خطيبا. بماء يدعى خما. بين مكة والمدينة. فحمد الله وأثنى عليه. ووعظ وذكر. ثم قال "أما بعد. ألا أيها الناس! فإنما أنا بشر يوشك أن يأتي رسول ربي فأجيب. وأنا تارك فيكم ثقلين: أولهما كتاب الله فيه الهدى والنور فخذوا بكتاب الله. واستمسكوا به" فحث على كتاب الله ورغب فيه. ثم قال "وأهل بيتي. أذكركم الله في أهل بيتي. أذكركم الله في أهل بيتي. أذكركم الله في أهل بيتي". فقال له حصين: ومن أهل بيته؟ يا زيد! أليس نساؤه من أهل بيته؟ قال: نساؤه من أهل بيته. ولكن أهل بيته من حرم الصدقة بعده. قال: وهم؟ قال: هم آل علي، وآل عقيل، وآل جعفر، وآل عباس. قال: كل هؤلاء حرم الصدقة؟ قال: نعم.

 
Dari Yaziid bin Hayyaan ia berkata : Telah berkata Zaid bin Arqam : “Pada satu hari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah berdiri dan berkhutbah di sebuah mata air yang disebut Khumm. Beliau memuji Allah, kemudian menyampaikan nasihat dan peringatan kepada kami : “Amma ba’du, ketahuilah wahai sekalian manusia, bahwasannya aku hanyalah seorang manusia sama seperti kalian. Sebentar lagi utusan Rabb-ku (yaitu malaikat maut) akan datang dan dia diperkenankan. Aku akan meninggalkan kepada kalian dua hal yang berat, yaitu : 1) Al-Qur’an yang berisi petunjuk dan cahaya, karena itu laksanakanlah isi Al-Qur’an itu dan berpegangteguhlah kepadanya – beliau mendorong dan menghimbau pengamalan Al-Qur’an - ; 2) Ahlul-Baitku (keluargaku). Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul-Bait-ku (beliau mengucapkan tiga kali)”. Hushain berkata kepada Zaid : “Wahai Zaid, siapakah ahlul-bait Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ? Bukankah istri-istri beliau adalah ahlul-baitnya ?”. Zaid bin Arqam menjawab : “Istri-istri beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam memang ahlul-baitnya. Namun ahlul-bait beliau adalah orang-orang yang diharamkan menerima zakat sepeninggal beliau”. Hushain berkata : “Siapakah mereka itu ?”. Zaid menjawab : “Mereka adalah keluarga ‘Ali, keluarga ‘Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga ‘Abbas”. Hushain berkata : “Apakah mereka semua itu diharamkan menerima zakat ?”. Zaid menjawab : “Ya [HR. Muslim no. 2408 dan Ibnu Khuzaimah no. 2357].
 

عن أبي هريرة يقول: أخذ الحسن بن علي تمرة من تمر الصدقة. فجعلها في فيه. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : " كخ كخ. ارم بها. أما علمت أنا لا نأكل الصدقة ؟ ".

 

وفي رواية البخاري : أما علمت أن آل محمد لا يأكلون الصدقة

 
Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “Al-Hasan bin ‘Aliy pernah mengambil sebutir kurma dari kurma shadaqah yang kemudian ia masukkan ke dalam mulutnya. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Kikh, kikh, muntahkan ! Tidakkah engkau tahu bahwa kita tidak boleh memakan harta shadaqah (zakat) ?”.
 
Dan pada riwayat Al-Bukhari : “Tidakkah engkau tahu bahwa keluarga Muhammad tidak memakan harta shadaqah (zakat) ? [HR. Al-Bukhari no. 1485 dan Muslim no. 1069].
 

عن ابن أبي مُلَيكة: ((أنَّ خالد بنَ سعيد بعث إلى عائشةَ ببقرةٍ من الصَّدقةِ فردَّتْها، وقالت: إنَّا آلَ محمَّدٍ صلى الله عليه وسلم لا تَحلُّ لنا الصَّدقة)).

 
Dari Ibnu Abi Mulaikah : Bahwasannya Khaalid bin Sa’iid pernah diutus untuk memberikan seekor sapi shadaqah (zakat) kepada ‘Aisyah, namun ia menolaknya seraya berkata : “Sesungguhnya keluarga Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak dihalalkan menerima shadaqah (zakat) [HR. Ibnu Abi Syaibah3/214 dengan sanad shahih].
 
Juga hadits ‘Abdul-Muthallib atau Muthallib bin Rabi’ah – terdapat perbedaan pendapat atas namanya – dan Al-Fadhl bin Al-‘Abbas, bahwasannya mereka berdua memohon kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam agar ditugasi menarik zakat. Ketika mereka meminta bagian dari harta zakat, maka beliau bersabda :
 

إن الصدقة لاتنبغي لآل محمد. إنما هي أوساخ الناس

 
“Sesungguhnya shadaqah itu tidak diperkenankan bagi keluarga Muhammad, sebab ia hanyalah kotoran manusia” [HR. Muslim no. 1072].
 
Dapat dipahami dari larangan beliau di atas bahwa ‘Abdul-Muthallib bin Rabi’ah dan Al-Fadhl bin Al-‘Abbas – keduanya berasal dari Bani Haasyim bin ‘Abdil-Manaaf – termasuk keluarga Muhammad (Ahlul-Bait) yang terlarang menerima harta shadaqah/zakat.
 
Selain Bani Haasyim, sebagian ulama (seperti Asy-Syafi’iy dan Ahmad rahimahumallah) juga menambahkan Bani Al-Muthallib bin ‘Abdil-Manaaf sebagai Ahlul-Bait, karena beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam menganggap keduanya adalah satu :
 

عن جبير بن مطعم قال: مشيت أنا وعثمان بن عفان إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقلنا: يا رسول الله، أعطيت بني المطلب وتركتنا، ونحن وهم منك بمنزلة واحدة؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (إنما بنو المطلب وبنو هاشم شيء واحد).

 
Dari Jubair bin Muth’im ia berkata : “Aku dan ‘Utsman bin ‘Affaan berjalan menuju Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Kami berkata : “wahai Rasulullah, Anda memberi bagian khumus kepada Bani Al-Muthallib, namun tidak memberikannya kepada kami. Padahal kedudukan kami dan mereka terhadapmu adalah sama”. Maka beliau menjawab : “Sesungguhnya Bani Al-Muthallib dan Bani Haasyim adalah satu (sama kedudukannya)” [HR. Al-Bukhari no. 3140].
 
Namun yang shahih, Bani Al-Muthallib bukan termasuk orang-orang yang diharamkan menerima zakat, karena hadits di atas hanyalah penyamaan dalam masalah khumus saja. Wallaahu a’lam.
 
3. Ahlul Bait adalah ‘Ali, Fathimah, Al-Hasan, dan Al-Husain; tanpa selain mereka.
 
Dalil yang mereka bawakan adalah hadits kisaa’ :
 

عن عمر بن أبي سلمة ربيب النبي صلى الله عليه وسلم قال نزلت هذه الآية على النبي صلى الله عليه وسلم {إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا} في بيت أم سلمة، فدعا النبي صلى الله عليه وسلم فاطمة وحسنا وحسينا فجللهم بكساء وعلي خلف ظهره فجلله بكساء ثم قال: اللهم هؤلاء أهل بيتي فأذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا. قالت أم سلمة وأنا معهم يا رسول الله؟ قال أنت على مكانك وأنت الى خير".

 
Dari ‘Umar bin Abi Salamah, anak tiri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata : “Ayat ini (“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya) turun kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam” di rumah Ummu Salamah. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memanggil ‘Ali, Fathimah, Hasan, dan Al-Husain, lalu beliau menyelimuti mereka dengan kisaa’ (kain/baju), dan beliau pun menyelimuti ‘Ali yang berada di belakang punggungnya dengan kisaa’. Kemudian beliau bersabda : “Ya Allah, mereka semua adalah Ahlul-Bait-ku. Hilangkanlah dari mereka rijs dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya”. Maka Ummu Salamah berkata : “Apakah aku bersama mereka wahai Rasulullah ?”. Beliau menjawab : “Tetaplah kamu di tempatmu, dan kamu di atas kebaikan” [HR. At-Tirmidzi no. 3205; shahih].
 
Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah menjelaskan berkaitan hadits kisa’ di atas :
 

و أهل بيته في الأصل هم " نساؤه صلى الله عليه وسلم و فيهن الصديقة عائشة رضي الله عنهن جميعا كما هو صريح قوله تعالى في (الأحزاب ) : *( إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت و يطهركم تطهيرا )*

 

بدليل الآية التي قبلها و التي بعدها : *( يا نساء النبي لستن كأحد من النساء إن اتقيتن فلا تخضعن بالقول فيطمع الذي في قلبه مرض و قلن قولا معروفا . و قرن في بيوتكن و لا تبرجن تبرج الجاهلية الأولى و أقمن الصلاة و آتين الزكاة و أطعن الله و رسوله إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت و يطهركم تطهيرا . و

 

اذكرن ما يتلى في بيوتكن من آيات الله و الحكمة إن الله كان لطيفا خبيرا )* , و تخصيص الشيعة ( أهل البيت ) في الآية بعلي و فاطمة و الحسن و الحسين رضي الله عنهم دون نسائه صلى الله عليه وسلم من تحريفهم لآيات الله تعالى انتصارا لأهوائهم كما هو مشروح في موضعه , و حديث الكساء و ما في معناه غاية ما فيه

 

توسيع دلالة الآية .

 
“Ahlul-Bait Nabi pada asalnya adalah istri-istri beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Termasuk pula di dalamnya Ash-Shiddiqah ‘Aisyah binti Abi Bakr Ash-Shiddiq radliyallaahu ‘anhum jamii’an sebagaimana yang jelas dinashkan dalam firman Allah ta’ala : “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”. Bukti bila Ahlul-Bait di sini adalah istri-istri Nabi adalah ayat sebelum dan sesudahnya : “Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik, dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunah Nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui”. Sedangkan anggapan Syi’ah (Rafidlah) bahwa Ahlul-Bait dalam ayat ini hanyalah ‘Ali, Fathimah, Al-Hasan, dan Al-Husain radliyallaahu ‘anhum, tanpa mengikutsertakan istri-istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka hal itu adalah bagian dari tahrif mereka terhadap ayat-ayat Allah yang mereka lakukan untuk menolong, membantu, serta membela hawa nafsu dan kebid’ahan mereka. Adapun hadits kisaa’ dan yang semakna dengan itu, kemungkinan terbesar yang dimaksud adalah penunjukan perluasan ayat (yaitu ayat ini umum mencakup istri-istri Nabi, berikut ‘Ali, Fathimah, Al-Hasan, dan Al-Husain)” [Silsilah Ash-Shahiihah, 4/359-360 no. 1761].
 
Adapun yang paling kuat di antara ketiga pendapat tersebut mengenai makna Ahlul-Bait adalah orang-orang yang diharamkan menerima shadaqah/zakat, yang terdiri dari : istri-istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan keturunannya serta seluruh muslim dan muslimah keturunan Bani Haasyim (termasuk di dalamnya keluarga ‘Ali, keluarga ‘Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga ‘Abbas). Ini adalah pendapat paling ‘adil yang mengambil semua hadits shahih yang berkaitan dengan Ahlul-Bait Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Adapun klaim Syi’ah Rafidlah bahwa Ahlul-Bait itu hanyalah khusus pada keluarga dan keturunan ‘Ali saja - itupun mengeluarkan keturunan Al-Hasan bin ‘Ali dan sebagian keturunan Al-Husain - tentu saja ini tidak benar. Mereka mengambil satu hadits yang sesuai dengan hawa nafsu mereka, dan namun membuang hadits-hadits yang lain yang bertentangan dengannya. Allaahul-Musta’aan.
 
‘Aqidah Ahlus-Sunnah terhadap Ahlul-Bait Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam
 
Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata ketika menjelaskan ‘aqidah Ahlus-Sunnah terhadap Ahlul-Bait :
 

ويحبون أهل بيت رسول الله ويتولونهم ويحفظون فيهم وصية رسول الله صلى الله عليه وسلم حيث قال يوم (غدير خم) : (أذكركم الله في أهل بيتي)، وقال أيضاً للعباس عمه وقد اشتكى إليه أن بعض قريش يجفو بني هاشم فقال : (والذي نفسي بيده لا يؤمنون حتى يحبوكم لله ولقرابتي (وقال) إن الله اصطفى بني إسماعيل واصطفى من بني إسماعيل كنانة واصطفى من كنانة قريشاً واصطفى من قريش بني هاشم واصطفاني من بني هاشم). ويتولون أزواج رسول الله صلى الله عليه وسلم أمهات المؤمنين ويؤمنون بأنهن أزواجه في الآخرة خصوصاً خديجة رضي الله عنها أم أكثر أولاده أول من آمن به وعاضده على أمره وكان لها منه المنزلة العالية والصِّدّيقة بنت الصّدّيق رضي الله عنها التي قال النبي صلى الله عليه وسلم : (فضل عائشة على النساء كفضل الثريد على سائر الطعام).

 
“Dan mereka (Ahlus-Sunnah) mencintai Ahlul-Bait Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, setia kepada mereka, serta menjaga wasiat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang mereka, yaitu ketika beliau bersabda di satu hari (Ghaadir-Khum) : “Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul-Bait-ku”. Beliau juga berkata kepada pamannya, Al-‘Abbas, dimana ketika itu ia (Al-‘Abbas) mengeluh bahwa sebagian orang Quraisy membenci Bani Haasyim. Beliau bersabda : “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, mereka itu tidak beriman sehingga mereka mencintai kalian karena Allah, dank arena mereka itu sanak kerabatku”. Beliau juga bersabda : “Sesungguhnya Allah telah memilih dari Bani Isma’il yaitu suku Kinaanah, dan dari Bani Kinaanah, yaitu suku Quraisy, dari suku Quraisy, terpilih Bani Haasyim. Dan Allah memilihku dari Bani Haasyim”. Dan Ahlus-Sunnah senantiasa setia dan cinta kepada istri-istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, karena mereka adalah Ummahatul-Mukminin, serta meyakini bahwasannya mereka adalah istri-istri beliau di akhirat nanti, khususnya Khadijah radliyallaahu ‘anhaa, ibu dari sebagian besar anak-anak Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ia adalah orang yang pertama kali beriman kepada beliau, mendukungnya, serta mempunyai kedudukan yang tinggi. Dan juga Ash-Shiddiqah binti Ash-Shiddiq radliyallaahu ‘anhaa dimana Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentangnya : “Keutamaan ‘Aisyah atas seluruh wanita adalah seperti keutamaan tsarid atas semua jenis makanan [selesai - Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah].
 
Asy-Syaikh Shaalih Al-Fauzan berkata : “…kita diperintahkan untuk mencintai mereka (Ahlul-Bait), menghormati, dan memuliakan mereka selama mereka ber-ittiba’ kepada sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang shahihah, dan istiqamah di dalam memegang dan menjalankan syari’at agama. Adapun jika mereka menyelisihi sunnah-sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan tidak istiqamah di dalam memegang dan menjalankan syari’at agama, maka kita tidak diperbolehkan mencintai mereka, sekalipun mereka Ahlul-Bait Rasul…” [Syarh Al-‘Aqidah Al-Washithiyyah, hal. 148].
 
Oleh karena itu, orang-orang yang mengaku punya nasab dengan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam namun ternyata mereka termasuk golongan penyeru bid’ah dan penggalak kesyirikan (seperti banyak habaaib di tanah air); kita tidak perlu mencintai mereka. Bahkan, mereka menjadi ‘musuh’ kita dalam agama, karena pada hakekatnya mereka merongrong dan ingin merubuhkan sendi-sendi agama dari dalam.
 
Asy-Syaikh ‘Abdul-Muhsin Al-‘Abbad hafidhahullah berkata :
 

ويَرَون أنَّ شرَفَ النَّسَب تابعٌ لشرَف الإيمان، ومَن جمع اللهُ له بينهما فقد جمع له بين الحُسْنَيَيْن، ومَن لَم يُوَفَّق للإيمان، فإنَّ شرَفَ النَّسَب لا يُفيدُه شيئاً، وقد قال الله عزَّ وجلَّ: {إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللهِ أَتْقَاكُمْ}، وقال صلى الله عليه وسلم في آخر حديث طويلٍ رواه مسلم في صحيحه (2699) عن أبي هريرة رضي الله عنه: ((ومَن بطَّأ به عملُه لَم يُسرع به نسبُه)).

 
“Ahlus-Sunnah berpendapat bahwa ketinggian nasab mengikuti ketinggian iman. Barangsiapa yang Allah kumpulkan baginya dua hal tersebut, sungguh telah terkumpul baginya dua kebaikan. Dan barangsiapa tidak menetapi/konsekuen pada iman, maka ketinggian nasab tidak bermanfaat sedikitpun. Allah ‘azza wa jalla telah berfirman : “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu adalah orang yang paling bertaqwa” (QS. Al-Hujuraat : 13). Dan juga berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam akhir satu hadits panjang yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya no. 2699 dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu : ““Barangsiapa yang lambat amalnya, maka tidak akan bisa dipercepat oleh (kemuliaan) nasabnya” [Fadhlu Ahlil-Bait wal-‘Uluwwu Makaanatihim ‘inda Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah oleh ‘Abdul-Muhsin Al-‘Abbad – www.dorar.net].
 
Demikianlah tulisan singkat mengenai ahlul-bait Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Semoga ada manfaatnya.
 
 
Abu Al-Jauzaa’ Al-Bogoriy
 
Direvisi tanggal 25 Nopember 2009 – [editing kalimat dan kata-kata yang salah dalam pengetikan].
 
 
  

Baca Selengkapnya >>>

Senin, 15 Agustus 2016

Hak-Hak Ahlul-Bait Menurut Ahlus-Sunnah



 Di antara hal-hak Ahlul-Bait [1] yang diakui dalam syari’at islam yang mulia di antaranya :
 
1.      Hak untuk dicintai.
Wajib mencintai mereka karena hubungan kekerabatannya dengan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Allah ta’ala berfirman :
 
ذَلِكَ الَّذِي يُبَشِّرُ اللَّهُ عِبَادَهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ قُلْ لا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى وَمَنْ يَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْنًا إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ
“Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba- hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. Katakanlah: ‘Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan’. Dan barangsiapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri” [QS. Asy-Syuuraa : 23].
 
Mengenai makna ayat di atas, Al-Bukhaariy rahimahullah meriwayatkan :
 
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ شُعْبَةَ، حَدَّثَنِي عَبْدُ الْمَلِكِ، عَنْ طَاوُسٍ، عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، (إِلا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى)، قَالَ: فَقَالَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ: قُرْبَى مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ " إِنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم لَمْ يَكُنْ بَطْنٌ مِنْ قُرَيْشٍ إِلَّا وَلَهُ فِيهِ قَرَابَةٌ فَنَزَلَتْ عَلَيْهِ إِلَّا أَنْ تَصِلُوا قَرَابَةً بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ"
Telah menceritakan kepada kami Musaddad : Telah menceritakan kepada kami Yahyaa, dari Syu’bah : Telah menceritakan kepadaku ‘Abdul-Malik, dari Thaawuus, dari Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa tentang ayat : ‘kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan’. Perawi berkata : Maka Sa’iid bin Jubair berkata : “Kekeluargaan Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam”. Lalu Ibnu ‘Abbaas berkata : “Sesungguhnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada satu pun perut di kalangan Quraisy, kecuali beliau mempunyai kekerabatan dengan mereka. Lalu ayat itu pun kepada beliau, yang mengkonsekuensikan agar kalian menyambung kekerabatan antara aku dan kalian [Shahih Al-Bukhaariy no. 3497].
 
 عَنْ الْعَبَّاس عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : وَاللَّهِ لَا يَدْخُلُ قَلْبَ امْرِئٍ إِيمَانٌ حَتَّى يُحِبَّكُمْ لِلَّهِ وَلِقَرَابَتِي
 
Dari Al-‘Abbaas, dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Demi Allah, tidak akan masuk iman pada hati seseorang hingga mencintai kalian karena Allah dan karena kekerabatanku [Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad 1/207 & 207-208 & 4/165 dan dalam Al-Fadlaail no. 1756-1757 & 1760, ‘Abdullah bin Ahmad dalam Al-Fadlaail no. 1783 & 1792, Al-Haakim 3/332-333, Al-Fasawiy 1/499, Al-Bazzaar dalam Al-Bahr no. 2175, Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 12/108-109 dan dalam Al-Musnad no. 918 dan Taariikh Al-Madiinah no. 1049, Al-Marwaziy dalam Ta’dhiimu Qadrish-Shalaah 1/453 no. 470, Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiir no. 12228, Abu Ja’far Al-Bakhtariy dalam Juz-nya no. 574, Al-Khathiib dalam At-Taariikh 3/259-260 & 4/596, dan Al-Mizziy dalam Tahdziibul-Kamaal 33/340; hasan – dishahihkan oleh Ahmad Syaakir dalam syarah-nya terhadap Musnad Ahmad].
 
عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ، عَنْ رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: "وأهل بيتي. أذكركم الله في أهل بيتي. أذكركم الله في أهل بيتي. أذكركم الله في أهل بيتي"
 
Dari Zaid bin Arqam, dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Dan ahlul-baitku. Aku ingatkan kalian akan Allah terhadap ahlu-baitku, aku ingatkan kalian akan Allah terhadap ahlu-baitku, aku ingatkan kalian akan Allah terhadap ahlu-baitku” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2408, Ahmad 4/366-367, Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Musnad no. 514, An-Nasaa’iy dalam Al-Kubraa 7/319-320 no. 8119, ‘Abd bin Humaid no. 265, Ad-Daarimiy 4/2090-2091 no. 3359, Ibnu Abi ‘Aashim no. 1551, Ibnu Khuzaimah no. 2357, Al-Baihaqiy 2/149-150 & 7/31-32 & 10/114-115, Al-Bazzaar dalam Al-Bahr 10/240-241 no. 4336, Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiir 5/182-184 no. 5026 & 5028, Ibnu Mandah dalam Majaalis min Aamaliy no. 75, Al-Laalikaa’iy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqaad no. 88, Al-Baghawiy dalam Syarhus-Sunnah 14/117-118 no. 3913 dan dalam Ma’aalimut-Tanziil 1/318-319 dan Al-Anwar fii Syamaailin-Nabiy no. 257].
 
عَنْ عَلِيّ: وَالَّذِي فَلَقَ الْحَبَّةَ وَبَرَأَ النَّسَمَةَ، إِنَّهُ لَعَهْدُ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ صلى الله عليه وسلم إِلَيَّ أَنْ " لَا يُحِبَّنِي إِلَّا مُؤْمِنٌ، وَلَا يُبْغِضَنِي إِلَّا مُنَافِق"
 
Dari ‘Aliy (bin Abi Thaalib) : “Demi Dzat yang membelah biji-bijian dan melepaskan angin. Sesungguhnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah berjanji kepadaku bahwasannya tidak ada yang mencintaiku kecuali ia seorang mukmin, dan tidak ada yang membenciku kecuali ia seorang munafiq” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 78, Ahmad 1/84 & 95 & 128 dan dalam Al-Fadlaail no. 948 & 961, ‘Abdullah bin Ahmad dalam Zawaaid Fadlaailush-Shahaabah no. 1107, Ibnu Abi Syaibah 12/56-57, An-Nasaa’iy dalam Ash-Shughraa no. 5022 & dalam Al-Kubraa no. 8431-8432 & 8097 & dalam Fadlaailush-Shahaabah no. 50 & dalam Al-Khashaaish no. 100-102, Ibnu Maajah no. 114, At-Tirmidziy no. 3736, Ibnu Hibbaan no. 6924, Al-Bazzaar no. 560, Abu Ya’laa no. 445, Ibnu Abi ‘Aashim no. 1325, Ibnu Mandah dalam Al-Iimaan no. 261, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 4/185, Al-Baghawiy no. 3908-3909, Ibnul-‘Arabiy dalam Al-Mu’jam 1/333-334, Ibnu Jamii’ dalam Mu’jamusy-Syuyuukh no. 187, Al-Balaadzuriy dalam Al-Ansaab 2/350, dan Adz-Dzahabiy dalam As-Siyar 12/509].
 
2.      Hak untuk mendapatkan pembelaan dan pembebasan dari segala tuduhan (yang tidak benar).
Sebagai konsekuensi dari rasa cinta adalah melakukan pembelaan dan pembebasan dari segala tuduhan, fitnah, dan berbagai celaan tak berdasar yang dialamatkan kepada Ahlul-Bait.
 
Seperti halnya pembelaan terhadap ‘Aaisyah atas tuduhan berbuat zina, karena Allah ta’ala telah memberikan persaksian bebasnya ‘Aaisyah atas hal itu :
 
إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالإفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الإثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ
 
“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar” [QS. An-Nuur : 11].
 
Juga pembelaan terhadap ‘Aaisyah yang dituduh telah menjadi kafir, padahal Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda bahwa ia istrinya di dunia dan di akhirat (jannah).[2]
Juga pembelaan terhadap Ahlul-Bait dari anggapan memiliki sebagian sifat Rububiyyah Allah ta’ala.[3]
 
Kecintaan kita terhadap Ahlul-Bait tidak lah buta sehingga membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar. Misalnya : Kecintaan kita tidaklah membuat kita membenarkan tuntutan Faathimah atas tanah Fadak dan menyalahkan Abu Bakr radliyallaahu ‘anhumaa yang menahannya. Abu Bakr melakukan hal itu hanyalah berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.[4] Kecintaan kita tidak lah membuat kita membenar-benarkan tindakan sebagian ‘habaaib’ yang sering mengajak manusia untuk mengkultuskan mereka, sebab Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah melarang pengkultusan individu.
 
عَنْ عُمَر رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، يَقُولُ: عَلَى الْمِنْبَرِ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: " لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا: عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ"
 
Dari ‘Umar radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Aku mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam di atas mimbar bersabda : “Janganlah kalian berlebih-lebihan terhadapku sebagaimana Nashara berlebih-lebihan terhadap Ibnu Maryam. Aku ini hanyalah seorang hamba, maka katakanlah bahwa aku adalah hamba dan Rasul-Nya [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3445 & 6830, Ad-Daarimiy no. 2784, Ahmad 1/23 & 1/24 & 1/47 & 1/55-56, Ibnu Hibbaan dalam Shahih-nya no. 413 & 414 & 6239 dan dalam Ats-Tsiqaat 2/152-153, Al-Baihaqiy dalam Al-Madkhal no. 535 dan dalam Dalaailun-Nubuwwah 1/291 & 5/498, Ath-Thayaalisiy no. 24, Al-Humaidiy no. 27, Al-Bazzaar dalam Al-Bahr no. 194, Abu Ya’laa no. 153, ‘Abdurrazzaaq dalam Al-Mushannaf no. 9758 dan dalam At-Tafsiir no. 3642, Ath-Thabaraaniy dalam Al-Ausath no. 1937, Ibnu Jamii’ dalam Mu’jamusy-Syuyuukh no. 111, Adz-Dzahabiy dalam Al-Mu’jamul-Mukhtash 1/41 & 1/193, Al-Laalikaa’iy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqaad  no. 2436 & 2674, Al-Baghawiy no. 3681, At-Tirmidziy dalam Asy-Syamaail no. 330, Ibnu Abi Khaitsamah dalam At-Taariikh no. 968, Al-Khathiib dalam Al-Fashl no. 408, dan Abu Zur’ah Thaahir Al-Maqdisiy dalam Shafwatut-Tashawwuf no. 679].
 
‘Ali bin Al-Husain Zainal ‘Aabidiin rahimahumallah pernah berkata dalam sebuah riwayat berikut:
 
أبو خالد الكابلي سمعت علي بن الحسين عليه السلام يقول : ان اليهود أحبوا عزيرا حتى قالوا فيه ما قالوا فلا عزير منهم ولا هم من عزيز، وأن النصارى أحبوا عيسى حتى قالوا فيه ما قالوا، فلا عيسى منهم ولاهم من عيسى. وانا على سنة من ذلك ان قوما من شيعتنا سيحبونا حتى يقولوا فينا ما قالت اليهود في عزير، وما قالت النصارى في عيسى بن مريم، فلاهم منا ولا نحن منهم.
 
Abu Khaalid Al-Kaabaliy : Aku mendengar ‘Aliy bin Al-Husain ‘alaihis-salaam berkata : “Sesungguhnya Yahudi mencintai ‘Uzair hingga mereka berkata tentangnya apa-apa yang telah mereka katakan.[5] Padahal. ‘Uzair bukan termasuk golongan mereka, dan mereka pun bukan termasuk pengikut ‘Uzair. Dan sesungguhnya Nashaaraa mencintai ‘Iisaa hingga mereka berkata apa-apa yang telah mereka katakan. Padahal ‘Iisaa bukan termasuk golongan mereka, dan mereka bukan termasuk pengikut ‘Iisaa. Sesungguhnya hal itu juga berlaku pada kami. Ada suatu kaum dari Syi’ah kami yang mencintai kami hingga mereka mengatakan tentang kami (seperti) apa-apa yang telah dikatakan oleh Yahudi terhadap ‘Uzair dan yang dikatakan Nasharaa terhadap ‘Iisaa bin Maryam. Maka mereka itu bukan termasuk kami, dan kami pun bukan termasuk mereka [Rijaalul-Kasysyiy, hal 111 – referensi Syi’ah].[6]
 
3.      Hak untuk disampaikan shalawat dan salam.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan dan memerintahkan kita untuk mengucapkan kepada ahlul-bait beliau. Misalnya setelah tasyahud pada waktu saat shalat :
 
عَنْ مَعْمَرٍ، عَنِ ابْنِ طَاوُسٍ، عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ، عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم أَنّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقُولُ: " اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَعَلَى أَزْوَاجِهِ، وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ"
 
Dari Ma’mar, dari Ibnu Thaawus, dari Abu Bakr Muhammad, dari ‘Amru bin Hazm, dari seorang laki-laki dari kalangan shahabat Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : “Ya Allah, berilah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada Ahli Baitnya, istri-istrinya serta keturunannya sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Dan berikanlah barakah kepada Muhammad dan kepada Ahli Baitnya, istri-istrinya, serta keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia[Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq no. 3103, dan dari jalannya Ahmad 5/374; shahih].
 
Dalam doa :
 
أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ الْأُمَوِيُّ فِي حَدِيثِهِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عُثْمَانَ بْنِ حَكِيمٍ، عَنْ خَالِدِ بْنِ سَلَمَةَ، عَنْ مُوسَى بْنِ طَلْحَةَ، قَالَ: سَأَلْتُ زَيْدَ بْنَ خَارِجَةَ، قَالَ: أَنَا سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: " صَلُّوا عَلَيَّ وَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ وَقُولُوا: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ"
 
Telah mengkhabarkan kepada kami Sa’iid Al-Umawiy dalam haditsnya, dari ayahnya, dari ‘Utsmaan bin Hakiim, dari Khaalid bin Salamah, dari Muusaa bin Thalhah, ia berkata : Aku pernah bertanya kepada Zaid bin Khaarijah, ia berkata : Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda : “Bershalawatlah kepadaku dan bersungguh-sungguhlah dalam berdoa. Ucapkanlah : “Ya Allah, berikanlah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad” [Diriwayatkan oleh An-Nasaa’iy no. 1292; shahih].
 
Atau secara umum di waktu-waktu yang lain.[7]
 
4.      Hak mendapatkan khumus (seperlima harta ghanimah atau fai’).
Allah ta’ala berfirman :
مَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الأغْنِيَاءِ مِنْكُمْ
 
“Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu” [QS. Al-Hasyr : 7].
 
وَاعْلَمُوا أَنَّمَا غَنِمْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ
 
“Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnus-sabiil…..” [QS. Al-Anfaal : 41].
 
حدثنا أحمد بن سنان ، ثنا عبد الرحمن بن مهدي ، ثنا سفيان ، عن قيس بن مسلم ، قال : سألت الحسن عن قوله : « ( واعلموا أنما غنمتم من شيء فأن لله خمسه وللرسول ولذي القربى ، قال : اختلف الناس بعد وفاة رسول الله صلى الله عليه وسلم في هذين السهمين ، فقال قائلون : سهم القرابة لقرابة النبي صلى الله عليه وسلم ، وقال قائلون : لقرابة الخليفة » وروي عن سعيد بن جبير ، وعكرمة ، قالا : « قرابة النبي صلى الله عليه وسلم»
 
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Sinaan : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Mahdiy : Telah menceritakan kepada kami Sufyaan, dari Qais bin Muslim, ia berkata : Aku bertanya kepada Al-Hasan tentang firman Allah : ‘Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul’ (QS. Al-Anfaal : 41), maka ia menjawab : “Orang-orang berselisih pendapat setelah wafatnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang dua bagian ini. Beberapa orang berkata : ‘Bagian kekerabatan adalah untuk kerabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam’. Sebagian lain mengatakan : ‘Untuk kerabat khaliifah”. Dan diriwayatkan dari Sa’iid bin Jubair dan ‘Ikrimah, mereka berdua berkata : “(Untuk) kerabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Haatim dalam Tafsir-nya 7/97; sanadnya shahih sampai Al-Hasan].
 
Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :
 
وكذلك آل بيت رسول الله صلى الله عليه وسلم، لهم من الحقوق ما يجب رعايتها؛ فإن الله جعل لهم حقا في الخمس والفيء، وأمر بالصلاة عليهم مع الصلاة على رسول الله صلى الله عليه وسلم،
 
Dan begitu pula keluarga Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Mereka mempunyai hak-hak yang wajib untuk dipelihara. Karena Allah ta’ala telah menjadikan bagi mereka hak (memperoleh bagian) khumus dan fai’. Dan memerintahkan mengucapkan shalawat kepada mereka bersama shalawat yang diucapkan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam… [Majmuu’ Al-Fataawaa, 3/407].
 
Seperti yang telah kita lihat, bahwa Allah ta’ala hanya menentukan bagian khumus ini dari ghanimah dan fai’. Akan tetapi, Syi’ah mengada-adakan sendiri aturan bahwa khumus itu juga diambil dari semua jenis harta kaum muslimin.[8]
 
Sebagai tambahan : Ahlul-bait berhak mendapatkan khumus, akan tetapi mereka diharamkan menerima shadaqah. Hal itu dikarenakan untuk memuliakan mereka dan membersihkan mereka dari kotoran, sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
 
إِنَّ هَذِهِ الصَّدَقَاتِ إِنَّمَا هِيَ أَوْسَاخُ النَّاسِ، وَإِنَّهَا لَا تَحِلُّ لِمُحَمَّدٍ وَلَا لِآلِ مُحَمَّدٍ
 
“Sesungguhnya shadaqah-shadaqah ini hanyalah kotoran manusia. Ia tidak halal bagi Muhammad dan juga bagi keluarga Muhammad” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 1072, Ahmad 4/166, Abu Daawud no. 2985, An-Nasaa’iy dalam Ash-Shughraa no. 2609 dan dalam Al-Kubraa no. 2401, Ibnu Abi ‘Aashim dalam Al-Aahaadul wal-Matsaaniy no. 438, Ibnu Khuzaimah no. 2342 & 2352, Abu ‘Awaanah no. 2605, Abu Nu’aim dalam Al-Musnad Al-Mustakhraj no. 2396 dan dalam Ma’rifatush-Shahaabah no. 2755, Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiir 5/54-55 no. 4566, Al-Khaththaabiy dalam Ghariibul-Hadiits 2/186, Al-Qaasim bin Sallaam dalam Al-Amwaal no. 842, Ibnu Abi Syaibah dalam Taariikh Al-Madiinah no. 1051].
 
Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :
 
وأما تحريم الصدقة، فحرمها عليه وعلى أهل بيته تكميلًا لتطهيرهم ودفعًا للتهمة عنه، كما لم يورث، فلا يأخذ ورثته درهمًا ولا دينارًا،
 
“Adapun pengharaman shadaqah, maka ia diharamkan terhadap beliau dan ahlul-baitnya sebagai satu kesempurnaan penyucian mereka dan menolak kecurigaan terhadap beliau. Sebagaimana juga beliau tidak mewariskan sesuatu pun. Oleh karena itu, mereka tidak diperbolehkan mengambil satu dinar atau satu dirham pun” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 19/30].
 
5.      Hak pengakuan bahwa nasab mereka adalah nasab yang (paling) mulia.
Hal itu dikarenakan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :
 
إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ، وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ، وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ، وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ"
 
“Sesungguhnya Allah telah memilih dari anak Ismaa’iil, dan telah memilih Quraisy dari (anak-anak) Kinaanah, dan telah memilih dari (anak-anak) Quraisy Bani Haasyim, dan telah memilihku dari Bani Haasyim” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2276, Ibnu Abi Syaibah 11/478, Ahmad 4/107, At-Tirmidziy no. 3605-3606, Ibnu Abi ‘Aashim dalam As-Sunnah no. 1499 dan dalam Al-Aahaadu wal-Matsaaniy no. 893, Al-Laalikaa’iy no. 1399, Abu Ya’laa no. 7485 & 7487, Ibnu Sa’d dalam Ath-Thabaqaat 1/5, Ibnu Hibbaan no. 6242 & 6333 & 6375, Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiir 22/no. 161, Al-Haakim dalam Al-Ma’rifah 1/161, Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa 6/363 & 7/132 dan dalam Dalaailun-Nubuwwah 1/165-166 dan dalam Syu’abul-Iimaan no. 1391, Al-Jurjaaniy dalam Al-Amaaliy no. 247, Al-Jurqaaniy dalam Al-Abaathil no. 161, Abu Nu’aim dalam Ma’rifatush-Shahaabah 1/38-39 no. 27, Al-Baghawiy dalam Syarhus-Sunnah no. 3613 dan dalam Ma’aalimut-Tanziil no. 1390, dan Al-Khathiib dalam At-Taariikh 13/64].
 
Satu hal yang patut di simak dalam hal bahasan ini adalah perkataan Ibnu Rajab Al-Hanbaliy rahimahullah :
 
معناه أنَّ العملَ هو الذي يَبلُغُ بالعبدِ درجات الآخرة، كما قال تعالى: {وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا}، فمَن أبطأ به عملُه أن يبلُغَ به المنازلَ العاليةَ عند الله تعالى لَم يُسرِع به نسبُه، فيبلغه تلك الدَّرجات؛ فإنَّ اللهَ رتَّب الجزاءَ على الأعمال لا على الأنساب، كما قال تعالى: {فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلاَ أَنسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلاَ يَتَسَاءَلُونَ}، وقد أمر الله تعالى بالمسارعةِ إلى مغفرتِه ورحمتِه بالأعمال، كما قال: {وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِن رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالكَاظِمِينَ الغَيْظَ} الآيتين، وقال: {إِنَّ الَّذِينَ هُم مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِم مُشْفِقُونَ وَالَّذِينَ هُم بِآيَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ وَالَّذِينَ هُم بِرَبِّهِمْ لاَ يُشْرِكُونَ وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ}
 
“Maknanya adalah amal-lah yang menyampaikan seorang hamba kepada derajat-derajat akhirat, sebagaimana firman Allah ta’ala : ‘Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan’ (QS. Al-An’am : 32). Barangsiapa yang melambatkan amalnya yang dapat menyampaikannya ke tempat yang tinggi di sisi Allah, maka tidaklah bisa dipercepat dengannya oleh (kemuliaan) nasabnya yang kemudian menyampaikannya kepada derajat tersebut. Karena sesungguhnya Allah menetapkan balasan berdasarkan amal, bukan berdasarkan nasab, sebagaimana firman Allah ta’ala : ‘Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya’ (QS. Al-Mukminuun : 101). Allah ta’ala telah memerintahkan untuk berlomba-lomba menuju ampunan dan rahmat-Nya dengan amalan, sebagaimana firman-Nya : ‘Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya’ (QS. Ali ‘Imraan : 133-134). Dan juga firman-Nya : ‘Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka, Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apa pun), Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya’ (QS. Al-Mukminuun : 57-61)” [Dinukil melalui perantaraan Fadhlu Ahlil-Bait wa ‘Uluwwu Makanaatihim ‘inda Ahlis-Sunnah wal-Jamaa’ah oleh ‘Abdul-Muhsin Al-‘Abbaad Al-Badr, hal. 14-15; Daar Ibnil-Atsiir, Cet. 1/1422].
 
Dan tingkat ketaqwaan lah yang akan menentukan kemuliaan seseorang di sisi Allah ta’ala, sebagaimana firman-Nya :
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu” [QS. Al-Hujuraat : 13].
 
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، حَدَّثَنَا سَعِيدٌ الْجُرَيْرِيُّ، عَنْ أَبي نَضْرَةَ، حَدَّثَنِي مَنْ سَمِعَ خُطْبةَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي وَسَطِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ، فَقَالَ: " يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَلَا إِنَّ رَبكُمْ وَاحِدٌ، وَإِنَّ أَباكُمْ وَاحِدٌ، أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ، وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبيٍّ، وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ، وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ، إِلَّا بالتَّقْوَى، أَبلَّغْتُ؟ "، قَالُوا: بلَّغَ رَسُولُ اللَّهِ
 
Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil : Telah menceritakan kepada kami Sa’iid Al-Jurairiy, dari Abu Nadlrah : Telah menceritakan kepadaku dari seseorang yang mendengar khutbah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada pertengahan hari-hari tasyriq. Beliau bersabda : “Wahai sekalian manusia, ingatlah bahwa Rabb kalian itu satu, dan bapak kalian juga satu. Dan ingatlah, tidak ada kelebihan bagi orang ‘Arab atas orang ‘Ajam (non-‘Arab), tidak pula orang ‘Ajam atas orang ‘Arab, tidak pula orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, dan tidak pula orang berkulit hitam di atas orang berkulit merah; kecuali atas dasar ketaqwaan. Apakah aku telah menyampaikannya ?”. Mereka menjawab : “Rasulullah telah menyampaikannya…..[Diriwayatkan oleh Ahmad 5/411. Orang yang mendengar khutbah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tersebut adalah Jaabir bin ‘Abdillah radliyallaahu ‘anhu, sebagaimana tertera dalam riwayat Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 3/100 dan Al-Baihaqiy dalam Syu’abul-Iimaan no. 4921 & 5137. Hadits ini shahih].
 
Oleh karena itu, bagi bapak-bapak habiib (habaaib) yang mengaku punya nasab mulia, maafkanlah kami seandainya kami tidak memberikan loyalitas kepada sebagian antum yang masih saja doyan bid’ah atau bahkan kesyirikan. Nasab bukanlah objek yang bisa dijadikan alat untuk mendapatkan loyalitas, dukungan, atau bahkan……. (mesin penghasil keuntungan dunia – inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun jika ada yang demikian).
 
Semoga yang sedikit ini dapat bermanfaat bagi kita semua…..
 
Wallaahu ta’ala a’lam.
[abul-jauzaa’ al-bogoriy – 1432 – hari pertama tahun 2011 M].
 
 
[1]      Mengenai pembahasan Ahlul-Bait, silakan baca artikel kami : http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/05/ahlul-bait-nabi-shallallaahu-alaihi-wa.html.
[2]      Silakan baca artikel kami : http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/11/aisyah-adalah-istri-nabi-shallallaahu.html.
[3]      Sebagaimana anggapan orang-orang Syi’ah bahwa ‘Aliy dan sebagian keturunannya mengetahui semua perbendaharaan ilmu, mengetahui kapan akan mati, bebas dari kesalahan dan lupa, dan yang lainnya. Silakan baca artikel kami :
http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/03/sekilas-tentang-pemikiran-klenik-al.html.
http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/11/ahlul-bait-adalah-jaminan-keselamatan.html.
[4]      Silakan baca artikel kami : http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/06/rasulullah-shallallaahu-alaihi-wa.html.
[5]      Yaitu ‘Uzair anak Allah, sebagaimana firman Allah ta’ala :
وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ
Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putra Allah" dan orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putra Allah". Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?” [QS. At-Taubah : 30].
[6]      Nukilan ini sebagai pelajaran bagi orang Syi’ah yang terbiasa dengan sikap berlebih-lebihan dalam ‘mencintai’ (???); yang diambil dari perkataan salah satu imam mereka.
[7]      Sebagai suplemen, silakan baca artikel kami : http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/03/fatwa-asy-syaikh-ibnu-utsaimin.html.
[8]      Silakan baca : http://aljawad.tripod.com/arsipbuletin/khumus.htm.
 
 
Sumber= http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/01/hak-hak-ahlul-bait-menurut-ahlus-sunnah.html
  

Baca Selengkapnya >>>