Islam Pedoman Hidup: Nama
Tampilkan postingan dengan label Nama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nama. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 September 2016

Siapakah Abu Thurob Sebenarnya?

masjid_nabawi
Dari sahabat Sahl ibn Sa’ad radhiyallahu ‘anhu beliau berkata,
حدثنا قتيبة بن سعيد حدثنا عبد العزيز يعني ابن أبي حازم عن أبي حازم عن سهل بن سعد قال استعمل على المدينة رجل من آلمروان قال فدعا سهل بن سعد فأمره أن يشتم عليا قال فأبى سهل فقال له أما إذ أبيت فقل لعن الله أبا التراب فقال سهل ما كان لعلي اسم أحب إليه من أبي التراب وإن كان ليفرح إذا دعي بها فقال له أخبرنا عن قصته لم سمي أبا تراب قال جاء رسول الله صلى الله عليه وسلم بيت فاطمة فلم يجد عليا في البيت فقال أين ابن عمك فقالت كان بيني وبينه شيء فغاضبني فخرج فلم يقل عندي فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم لإنسان انظر أين هو فجاء فقال يا رسول الله هو في المسجد راقد فجاءه رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو مضطجع قد سقط رداؤه عن شقه فأصابه تراب فجعل رسول الله صلى الله عليه وسلم يمسحه عنه ويقول قم أبا التراب قم أبا التراب
Telah mengabarkan pada kami Qutaibah ibn Sa’id, dia berkata telah mengabarkan pada kami ‘Abdul ‘Aziz yaitu Ibn Abi Hazim, dari Abu Hazim, dari Sahl ibn Sa’ad beliau berkata, suatu ketika Madinah dikuasai oleh seorang dari Bani Marwan, maka ia memanggil Sahl ibn Sa’ad dan menyuruhnya untuk mencela ‘Ali. Sahl pun menolaknya. Penguasa itu pun berkata, ‘Kalau engkau enggan, ucapkan saja semoga Allah melaknat Abu Thurob!’. Sahl pun berkata, ‘Tidak ada nama yang lebih dicintai ‘Ali daripada Abu Thurob bahkan ia sangat senang apabila dipanggil dengan nama itu!’. Penguasa itu pun berkata, ‘Kalau begitu kabarkan aku bagaimana kisahnya hingga ia dipanggil dengan nama Abu Thurob’. Sahl pun bercerita,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang ke rumah Fatimah namun ‘Ali tidak ada di rumah. Beliau lalu bertanya: “Kemana putera pamanmu?” Fatimah menjawab, “Antara aku dan dia terjadi sesuatu hingga dia marah kepadaku, lalu dia pergi dan tidak tidur siang di rumah.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada seseorang: “Carilah, dimana dia!” Kemudian orang itu kembali dan berkata, “Wahai Rasulullah, dia ada di masjid sedang tidur.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatanginya, ketika itu Ali sedang berbaring sementara kain selendangnya jatuh di sisinya hingga ia tertutupi debu. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membersihkannya seraya berkata: “Wahai Abu Thurab (thurob = debu), bangunlah. Wahai Abu Thurob, bangunlah” (HR Bukhari dan Muslim).

Faidah hadits :

  1. Keutamaan shahabat ‘Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.
  2. Bolehnya mencandai seorang yang sedang marah dengan sesuatu hal yang tidak membuatnya marah, bahkan lupa dengan marahnya
  3. Bolehnya menamai seseorang bukan dengan nama kuniyah selain nama anaknya, bahkan boleh menamai seseorang yang sudah punya nama kuniyah.
  4. Bolehnya menggelari seseorang dengan nama kuniyah selama tidak membuatnya merasa terganggu.
  5. Termasuk akhlak mulia Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebagai seorang mertua beliau justru menghibur menantunya yang sedang marah.
  6. Bolehnya orang tua masuk ke rumah anaknya tanpa izin suami anaknya selama ia yakin apabila suaminya tahu ia akan ridha.
  7. Bolehnya tidur berbaring di masjid.
___
Penulis: Yhouga Mopratama Ariesta
Artikel Muslim.or.id


Sumber: https://muslim.or.id/28697-siapakah-abu-thurob-sebenarnya.html
Baca Selengkapnya >>>

Selasa, 13 Oktober 2015

Ganti Nama Ketika Masuk Islam

Pertanyaan:
هل يلزم من أعلن إسلامه أن يغير اسمه السابق مثل جورج وجوزيف وغيرهما ؟
“Apakah diwajibkan bagi orang yang mengumumkan keislamannya untuk mengganti namanya yang dahulu, seperti George, Joseph, dan yang lainnya?”.
Asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah menjawab:
 لا يلزمه تغيير اسمه ، إلا إن كان معبدا لغير الله ، ولكن تحسينه مشروع ، فكونه يحسن اسمه من أسماء أعجمية إلى أسماء إسلامية فهذا مناسب وطيب ، أما الوجوب فلا ، أو إن كان اسمه عبد المسيح وأشباهه من الأسماء المعبدة لغير الله فالواجب تغييره . لأنه من التعبيد لغير الله بإجماع أهل العلم ، كما نقل ذلك أبو محمد بن حزم رحمه الله . وبالله التوفيق
“Tidak wajib mengganti namanya, kecuali jika namanya mengandung penghambaan kepada selain Allah. Akan tetapi memperbaiki namanya itu tetap disyari’atkan, yaitu dengan memperbaiki namanya yang berasal dari nama-nama A’jamiyyah (non-‘Arab) menjadi nama-nama Islam. Maka ini sesuai (dengan syari’at) dan bagus. Adapun jika dikatakan kewajiban, maka tidak. Atau jika namanya adalah ‘Abdul-Masiih atau yang serupa dengannya dari nama-nama yang mengandung penghambaan kepada selain Allah, maka wajib untuk menggantinya, karena termasuk penghambaan kepada selain Allah berdasarkan konsensus para ulama – sebagaimana dinukil oleh Abu Muhammad bin Hazm rahimahullahWabillaahit-taufiiq.


[Majmuu’ Fataawaa wa Maqaalaat Asy-Syaikh Ibni Baaz juz 4 – translated by abul-jauzaa’ – perumahan ciomas permai – 19042014 – 11:05].

from=http://abul-jauzaa.blogspot.fr/2014/04/ganti-nama-ketika-masuk-islam.html
Baca Selengkapnya >>>

Selasa, 22 September 2015

Fatwa Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dalam Menyingkat Shalawat

Pernah diajukan sebuah pertanyaan kepada As-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahsebagai berikut :
بعض الناس يكتبون حرف "ص" بين قوسين ويقصدون به الرمز لجملة صلى الله عليه وسلم ، فهل يصح استعمال حرف "ص" رمزًا لكلمة صلى الله عليه وسلم؟
“Sebagian orang menulis huruf “ص” di antara dua tanda kurung yang mereka maksudkan dengan itu sebagai simbol dari kalimat shallallaahu ‘alaihi wa sallam (صلى الله عليه وسلم). Apakah hal ini dapat dibenarkan menulis huruf “ص” sebagai simbol dalam penulisan shalawat ?

Jawaban beliau rahimahullah adalah sebagai berikut :
من آداب كتابة الحديث كما نص عليه علماء المصطلح ألا يرمز إلى هذه الجملة بحرف "ص" وكذلك لا يعبر عنها بالنعت مثل "صلعم"، ولا ريب أن الرمز أو النعت يفوت الإنسان أجر الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم فإنه إذا كتبها ثم قرأ الكتاب من بعده وتلا القارئ هذه الجملة صار للكاتب الأول نيل ثواب من قرأها، ولا يخفى علينا أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال فيما ثبت عنه: "أن من صلى عليه صلى الله عليه وسلم مرة واحدة صلى الله عليه بها عشرًا". فلا ينبغي للمؤمن أن يحرم نفسه الثواب والأجر ؛ لمجرد أن يسرع في إنهاء ما كتبه.
Termasuk bagian dari adab-adab menulis hadits sebagaimana dijelaskan oleh para ‘ulama mushthalah (hadits), adalah tidak menyingkat penulisan kalimat shalawatdengan huruf “ص”. Begitu pula tidak dituliskan dengan singkatan “صلعم[1]. Tidak diragukan lagi bahwasannya penulisan simbol atau singkatan akan menyebabkan seseorang luput dari pahala bershalawat kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Apabila ia menulis kalimat shalawat dan kemudian ada orang yang membaca tulisan tersebut, maka Penulis pertama akan mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang membacanya. Tidaklah samar bagi kita apa yang disabdakan Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam secara shahih :
“Barangsiapa yang bershalawat kepada beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali”.[2]
Tidak sepatutnya bagi seorang mukmin untuk menghalangi dirinya perolehan pahala dan ganjaran akibat ketergesa-gesaannya untuk menyelesaikan apa yang akan ia tulis (dari kalimat shalawat).
[Diambil dan diterjemahkan dari Kitaabul-‘Ilmi karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, pertanyaan no. 72, hal. 128-129, tahqiq : Shalaahuddin Mahmuud; Maktabah Nuurul-Hudaa].



[1]     Atau dalam bahasa Indonesia sering ditulis dengan singkatan “SAW”. – Abu Al-Jauzaa’
[2]     Shahih; diriwayatkan oleh Muslim no. 384, Abu Dawud no. 523, dan An-Nasa’i no. 678.
from=http://abul-jauzaa.blogspot.fr/2009/03/fatwa-asy-syaikh-ibnu-utsaimin.html
Baca Selengkapnya >>>

Selasa, 15 September 2015

Gelar Karamallaahu Wajhah Bagi 'Ali

Tanya : Dalam beberapa buku sering disebut gelar khusus bagi ‘Ali bin Abi Thalib dengan Karamallaahu wajhah (Semoga Allah memuliakan wajahnya). Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman yang juga termasuk dalam Khulafaur-Rasyidiin tidak disebut dengan gelar ini. Apakah ini dapat dibenarkan dan sesuai dengan dalil ?
Jawab : Asy-Syaikh Abdulaziz bin Muhammad bin Abdillah As-Sadhan telah menjawab dengan jawaban yang sangat bagus sebagai berikut :
Ada yang memberikan 3 gelar atau sanjungan kepada ‘Ali bin Abi Thalib yang tidak diberikan kepada shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam yang lain, yaitu : Karamallaahu wajhahAl-Imam, dan’Alaihis-salaam.
Biasanya gelar ini diberikan oleh orang-orang Syi’ah. Namun ada sebagian orang yang menuliskan gelar tersebut dengan alasan karena niat baiknya. Walaupun demikian tidak sepatutnya ketiga gelar tersebut diberikan secara khusus hanya kepada ‘Ali bin Abi Thalib.” Kemudian beliau (Asy-Syaikh ‘Abdulaziz) membantah penyebutan gelar Al-Imam dan ‘Alaihis-Salaam. Setelah itu beliau melanjutkan :
“Adalagi orang yang memberinya gelar Karamallaahu wajhah. Dia beralasan bahwa gelar ini diberikan, karena ‘Ali tidak pernah sama sekali menyembah berhala. Pendapat ini dibela oleh Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Kitab Al-Fatawaa Al-Haditsiyyah yang menyatakan : “Sesungguhnya ‘Ali berhak mendapatkan gelar ini, karena dia tidak pernah sama sekali menyembah berhala. Selain itu, Abu Bakar juga tidak pernah menyembah berhala, namun gelar ini lebih tepat diberikan diberikan kepada ‘Ali, karena berdasarkan ijma’. Ali masuk Islam ketika ia masih kanak-kanak, sehingga dapat diketahui secara pasti bahwa dia tidak pernah sama sekali menyembah berhala”.
Sekalipun alasan di atas benar, namun bukan berarti hanya ‘Ali saja yang tidak pernah menyembah berhala. Ada beberapa orang shahabat yang dilahirkan dalam lingkungan Islam, ayah dan ibu mereka muslim, mereka ikut berjuang di jalan Allah, mereka juga mendapatkan cobaan berat, bahkan seharipun mereka tidak pernah meletakkan kening mereka kepada berhala. Walaupun demikian mereka tetap tidak diberikan gelar seperti di atas.
Di samping itu, ada di antara para shahabat yang lebih mulia dan utama dari ‘Ali, seperti Abu Bakar, ‘Umar, dan ‘Utsman sekalipun mereka baru masuk Islam setelah dewasa. Namun berdasarkan keyakinan Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, sebagaimana dikatakan Imam Ahmad rahimahullah : “Bagi orang yang tidak menomor-empatkan ‘Ali hendaklah tidak mengunggulinya (dari ketiga shahabat di atas) dan juga tidak mengucapkan salam (seperti kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam) kepadanya”. Oleh karena itu, gelar atau sanjungan yang sebaiknya diberikan kepada para shahabat adalah kalimat : radliyallaahu ‘anhum/radliyallaahu ‘anhu (semoga Allah meridlai mereka).
[Selesai - Ara Khathi’ah wa Riwayat Bathilah fii Siyar Al-Anbiyaa’ wal-Mursaliin; Maktabah Malik Fahd Al-Wathaniyyah, Cet. I, 1420 H ].
Gelar (doa) radliyallaahu ‘anhu/’anhaa/’anhum inilah yang sesuai dengan firman Allah ta’ala :
وَالسّابِقُونَ الأوّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالّذِينَ اتّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدّ لَهُمْ جَنّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَآ أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
”Orang-orang yang terdahulu masuk lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah ridla kepada mereka dan mereka pun ridla kepada Allah dan Allah menyediakan mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar” (QS. At-Taubah : 100).

from= http://abul-jauzaa.blogspot.fr/2008/07/gelar-karamallaahu-wajhah-bagi-ali.html
Baca Selengkapnya >>>

Bolehkah Menyebutkan Nama Kunyah ?

Maksudnya, bolehkah seseorang menyebutkan nama kun-yah ketika ia bertamu ke rumah seseorang dan si pemilik rumah bertanya identitasnya dari dalam rumah ?. Sebelum sedikit membahas hal ini, ada baiknya kita mengetahui bahwa diantara adab bertamu yang diajarkan syari’at Islam[1] adalah meminta izin, mengucapkan salam, dan menyebutkan identitas yang bertamu kepada yang ditamui (pemilik rumah).
Allah ta’ala berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ * فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فِيهَا أَحَدًا فَلَا تَدْخُلُوهَا حَتَّى يُؤْذَنَ لَكُمْ وَإِنْ قِيلَ لَكُمُ ارْجِعُوا فَارْجِعُوا هُوَ أَزْكَى لَكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ * لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ مَسْكُونَةٍ فِيهَا مَتَاعٌ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا تَكْتُمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum minta izin dan memberikan salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. Jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu : “Kembali (saja)lah”; maka hendaknya kamu kembali. Itu lebih bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Tidak ada dosa atasmu memasuki rumah yang tidak disediakan untuk didiami, yang di dalamnya ada keperluanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan” [QS. An-Nuur : 27-29].
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ رِبْعِيٍّ، قَالَ: حَدَّثَنَا رَجُلٌ مَنْ بَنِي عَامِرٍ، أَنَّهُ اسْتَأْذَنَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَ وَهُوَ فِي بَيْتٍ، فَقَالَ: أَلِجُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِخَادِمِهِ: اخْرُجْ إِلَى هَذَا فَعَلِّمْهُ الِاسْتِئْذَانَ، فَقُلْ لَهُ قُلْ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ، أَأَدْخُلُ ؟، فَسَمِعَهُ الرَّجُلُ، فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ، أَأَدْخُلُ؟، فَأَذِنَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَدَخَلَ "
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah : Telah menceritakan kepada kami Abul-Ahwash, dari Manshuur, dari Rib’iy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami seorang laki-laki dari Bani ‘Aamir : Bahwasannya ia pernah meminta izin (bertamu) kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam di rumahnya. Laki-laki itu berkata : “Bolehkah aku masuk ?”. Lalu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada pembantunya : “Keluarlah untuk menemui orang itu, lalu ajarkanlah ia adab meminta izin. Katakan kepadanya : ‘Katakanlah : assalaamu’alaikum, bolehkah aku masuk ?”. Hal itu didengar oleh laki-laki tersebut, kemudian ia berkata : “Assalaamu’alaikum, bolehkah aku masuk ?”. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengizinkannya, lalu orang itu pun masuk” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 5177; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Shhaiih Sunan Abi Daawud 3/270].
حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ هِشَامُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ، قَالَ: سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، يَقُولُ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي دَيْنٍ كَانَ عَلَى أَبِي، فَدَقَقْتُ الْبَابَ، فَقَالَ: " مَنْ ذَا "، فَقُلْتُ: أَنَا، فَقَالَ: " أَنَا، أَنَا، كَأَنَّهُ كَرِهَهَا "
Telah menceritakan kepada kami Abul-Waliid Hisyaam bin ‘Abdil-Malik : Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Muhammad bin Al-Munkadir, ia berkata : Aku mendengar Jaabir bin ‘Abdillah radliyallaahu ‘anhu berkata : “Aku mendatangi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk perkara hutang ayahku.  Maka aku mengetuk pintu. Lalu beliau bertanya : “Siapa?”. Aku menjawab : “Aku”. Lalu beliau berkata : “Aku, aku”. Sepertinya beliau membencinya [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6250].
Hadits Jaabir di atas merupakan petunjuk yang jelas bahwa apabila pemilik rumah berkata kepada orang yang meminta izin bertamu ke rumahnya: “Siapakah engkau ?”, maka ia (tamu) menjelaskan identitas namanya. Selain nama, tamu juga boleh menyebutkan kun-yah-nya atau sesuatu yang ia dikenal dengannya. Ibnul-Qayyimrahimahullah berkata :
وكان من هديه أن المستأذن إذا قيل له : من أنت ؟ يقول : فلان بن فلان أو ذكر يذكر كنيته أو لقبه ولا يقول : أنا كما قال جبريل للملائكة في ليلة المعراج لما استفتح باب السماء فسألوه من ؟ فقال : جبريل واستمر ذلك في كل سماء سماء
“Dan termasuk dari petunjuknya shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah apabila orang yang meminta izin (yaitu : tamu) apabila dikatakan kepadanya : ‘siapakah engkau ?’, maka ia menjawab : ‘Fulaan bin Fulaan’, atau menyebutkan kun-yah-nya, atau laqab (julukan)-nya. Ia tidak boleh berkata : ‘aku’. Sebagaimana dikatakan Jibriil kepada para malaikat pada malam mi’raaj ketika ia minta dibukakan pintu langit, para malaikat bertanya kepadanya : ‘siapa ?’, ia menjawab : ‘Jibriil’. Hal itu terus berlangsung dari satulangit ke langit berikutnya” [Zaadul-Ma’aad, 2/393].
Perkataan Jaabir ‘sepertinya beliau tidak menyukainya’; padanya terdapat kemunculan kebencian dan ketidakridlaan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam atas jawaban tersebut (yaitu : ‘saya’). Dhaahir hadits menunjukkan jawaban orang yang meminta izin (tamu) :‘saya’ tidak diperbolehkan dengan sebab kebencian dan ketidakridlaan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tersebut. Berbeda halnya dengan orang yang mengatakan bahwa hukumnya sekedar makruh tanziih, dimana hal itu merupakan pendapat jumhur ulama.Wallaahu a’lam [lihat : Adlwaaul-Bayaan, 6/177].
Yang menjadi ‘illat hukum adalah (penyebutan) identitas sehingga yang bertanya (pemilik rumah) dapat mengenalnya. Oleh karena itu, sebagaimana tertera dalam judul, boleh bagi seseorang menyebutkan kun-yah-nya selama ia memang dikenal dengannya. Dalilnya adalah :
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ، عَنْ مَالِكٍ، عَنْ أَبِي النَّضْرِ مَوْلَى عُمَرَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ، أَنَّ أَبَا مُرَّةَ مَوْلَى أُمِّ هَانِئٍ بِنْتِ أَبِي طَالِبٍ أَخْبَرَهُ، أَنَّهُ سَمِعَ أُمَّ هَانِئٍ بِنْتَ أَبِي طَالِبٍ، تَقُولُ: " ذَهَبْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْفَتْحِ فَوَجَدْتُهُ يَغْتَسِلُ وَفَاطِمَةُ تَسْتُرُهُ، فَقَالَ: مَنْ هَذِهِ؟ فَقُلْتُ: أَنَا أُمُّ هَانِئٍ "
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Salamah, dari Maalik, dari Abun-Nadlrmaulaa ‘Umar bin ‘Ubaidillah, bahwasannya Abu Murrah maulaa Ummu Haani’ bintu Abi Thaalib telah mengkhabarkan kepadanya, bahwa ia pernah mendengar Ummu Haani’ bintu Abi Thaalib berkata : Aku pernah pergi menemui Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada tahun Fathu Makkah. Aku dapati beliau ketika itu sedang mandi dan Faathimah menutupinya. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bertanya : “Siapakah itu ?”. Aku menjawab : “Aku Ummu Haani’” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 280].
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيل بْنُ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ، عَنْ أَبِي الْمَلِيحِ، قَالَ: خَرَجْتُ فِي لَيْلَةٍ مَطِيرَةٍ، فَلَمَّا رَجَعْتُ اسْتَفْتَحْتُ، فَقَالَ أَبِي: مَنْ هَذَا ؟، قَالَ: أَبُو الْمَلِيحِ، قَالَ: " لَقَدْ رَأَيْتُنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْحُدَيْبِيَةِ، وَأَصَابَتْنَا سَمَاءٌ لَمْ تَبُلَّ أَسَافِلَ نِعَالِنَا، فَنَادَى مُنَادِي رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلُّوا فِي رِحَالِكُمْ "
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah : Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin Ibraahiim, dari Khaalid bin Al-Hadzdzaa’, dari Abul-Maliih, ia berkata : Aku pernah keluar pada satu malam yang turun hujan. Ketika aku kembali, aku minta dibukakan pintu. Ayahku berkata : “Siapakah itu ?”. Aku berkata : “Abul-Maliih”. Ayahku berkata : "Pada hari Hudaibiah aku pernah bersama Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam. Ketika itu kami kehujanan, namun tidak sampai membasahi bawah sandal-sandal kami. Kemudian berserulah muadzdzin Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam :‘Shalluu fii rihaalikum (shalatlah di rumah-rumah kalian)" [Diriwayatkan oleh Ibnu Maajah no. 936; dishahihkan oleh Basyar ‘Awwaad dalam Takhriij Sunan IbniMaajah2/189-190].
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ رُفَيْعٍ، عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: خَرَجْتُ لَيْلَةً مِنَ اللَّيَالِي، فَإِذَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْشِي وَحْدَهُ وَلَيْسَ مَعَهُ إِنْسَانٌ، قَالَ: فَظَنَنْتُ أَنَّهُ يَكْرَهُ أَنْ يَمْشِيَ مَعَهُ أَحَدٌ، قَالَ: فَجَعَلْتُ أَمْشِي فِي ظِلِّ الْقَمَرِ فَالْتَفَتَ فَرَآنِي، فَقَالَ: مَنْ هَذَا، قُلْتُ: أَبُو ذَرٍّ...
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’iid : Telah menceritakan kepada kami Jariir, dari ‘Abdul-‘Aziiz bin Rufai’, dari Zaid bin Wahb, dari Abu Dzarr radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Aku pernah keluar pada suatu malam. Tiba-tiba aku melihat Rasulullahshallallaahu 'alaihi wasallam berjalan sendirian tanpa ditemani oleh seorang pun. Abu Dzarr berkata : Aku menyangka barangkali beliau memang ingin berjalan sendirian tanpa ditemani oleh orang lain. Maka aku pun berjalan di bawah bayangan bulan, dan ternyata beliau menoleh dan melihatku, dan bersabda: “Siapakah ini?”. Aku menjawab : “Abu Dzarr....” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 5226].
Wallaahua’lam.
Ini saja yang dapat dituliskan, semoga ada manfaatnya.
[abul-jauzaa-perum ciomas permai, ciapus, ciomas, bogor – 12041434/22022013 – 01:20].


from=http://abul-jauzaa.blogspot.fr/2013/02/bolehkah-menyebutkan-nama-kunyah.html
Baca Selengkapnya >>>