Islam Pedoman Hidup: Takdir
Tampilkan postingan dengan label Takdir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Takdir. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Juli 2021

Semua Takdir Itu Baik

 


Semua takdir itu baik. Ada hikmah di balik itu. Yang merasakan jelek adalah kita. Allah itu sama sekali tidak berbuat jelek. Takdir Allah tidaklah kejam.
 
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَجِبْتُ لِلْمُؤْمِنِ، إِنَّ اللهَ لاَ يَقْضِي لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ
Aku begitu takjub pada seorang mukmin. Sesungguhnya Allah tidaklah menakdirkan sesuatu untuk seorang mukmin melainkan pasti itulah yang terbaik untuknya.” (HR. Ahmad, 3:117. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini sahih).
 
Takdir Baik dan Takdir Buruk
Hadits Jibril yang membicarakan tentang rukun iman menyebutkan,
وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
Dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim, no. 8)

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Takdir itu tidak ada yang buruk. Yang buruk hanya pada yang ditakdirkan (almaqdur, artinya manusia atau makhluk yang merasakan jelek). Takdir jika dilihat dari perbuatan Allah, semua takdir itu baik. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, Kejelekan tidak disandarkan kepada-Mu.’ Jadi, takdir Allah itu selamanya tidak ada yang jelek. Karena ketetapan takdir itu ada karena rahmat dan hikmah. Kejelekan murni itu hanya muncul dari pelaku kejelekan. Sedangkan Allah itu hanya berbuat baik saja selama-lamanya.” (Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah, hlm. 88)

 
Dalam salah satu doa iftitah yang terdapat dalam hadits ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu disebutkan,
وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِى يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ
“Kebaikan itu seluruhnya pada kedua tangan-Mu dan kejelekan tidak disandarkan kepada-Mu.” (HR. Muslim, no. 771)

 
Mengapa Allah menakdirkan kejelekan?
Karena ada hikmah di balik itu seperti:
1.   agar kebaikan dapat dikenal;
2.   supaya manusia menyandarkan diri kepada Allah;
3.   supaya manusia bertaubat kepada-Nya setelah ia berbuat dosa;
4.   banyak meminta perlindungan kepada Allah dari keburukan dengan berdzikir dan berdoa;
5.   ada maslahat besar di balik kesulitan atau musibah yang menimpa.

 
Bisa Jadi yang Jelek itu Baik untuk Kita
Allah Ta’ala berfirman,
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Allah yang lebih mengetahui akibat terbaik setiap perkara. Allah yang Mahatahu yang paling maslahat untuk urusan dunia dan akhirat kita. Sedangkan kita sendiri tidak mengetahui yang terbaik dan yang jelek untuk kita. (Tafsir Az-Zahrawain, hlm. 348-349)

 
Doa Agar Semua Takdir Kita Baik
Dari Ummul Mukmini ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa berikut ini,
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ بِهِ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الجَنَّةَ وَمَا قرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَولٍ أَوْ عَمَلٍ ، وَأَعُوْذُ بِكَ مَنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ ، وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لِي خَيْرًا
ALLOHUMMA INNI AS-ALUKA MINAL KHOIRI KULLIHI ‘AAJILIH WA AAJILIH, MAA ‘ALIMTU MINHU WA MAA LAM A’LAM. WA A’UDZU BIKA MINASY SYARRI KULLIHI ‘AAJILIH WA AAJILIH MAA ‘ALIMTU MINHU WA MAA LAM A’LAM. ALLOHUMMA INNI AS-ALUKA MIN KHOIRI MAA SA-ALAKA ‘ABDUKA WA NABIYYUK MUHAMMADUN SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM. WA A’UDZU BIKA MIN SYARRI MAA ‘AADZA BIHI ‘ABDUKA WA NABIYYUK. ALLOHUMMA INNI AS-ALUKAL JANNAH WA MAA QORROBA ILAIHAA MIN QOULIN AW ‘AMAL. WA ‘AUDZU BIKA MINAN NAARI WA MAA QORROBA ILAIHAA MIN QOULIN AW ‘AMAL. WA AS-ALUKA AN TAJ’ALA KULLA QODHOO-IN QODHOITAHU LII KHOIROO.
Artinya:
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu semua kebaikan yang disegerakan maupun yang ditunda, apa yang aku ketahui maupun tidak aku ketahui. Aku berlindung kepada-Mu dari semua keburukan, baik yang disegerakan maupun yang ditunda, yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui. Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu dari kebaikan apa yang diminta oleh hamba dan Nabi-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari apa yang diminta perlindungan oleh hamba dan nabi-Mu. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga dan apa yang mendekatkan kepadanya baik berupa ucapan maupun perbuatan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan apa yang mendekatkan kepadanya baik berupa ucapan atau perbuatan. Dan aku memohon kepada-Mu semua takdir yang Engkau tentukan baik untukku. (HR. Ibnu Majah, no. 3846 dan Ahmad, 6:133. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih).

 
Semoga kita diberikan kesabaran dan kekuatan dalam menghadapi semua ketetapan Allah. Semoga pandemi segera berakhir di seluruh muka bumi. 
 

Malam Senin, 25 Dzulqa’dah 1442 H
Muhammad Abduh Tuasikal 

 
Sumber 
https://rumaysho.com/28668-semua-takdir-itu-baik.html?utm_source=feedburner&utm_medium=email&utm_campaign=Feed%3A+rumaysho%2FrFAC+%28Feed+Rumaysho.com%29
 

Baca Selengkapnya >>>

Rabu, 23 Juni 2021

Bahagia Ketika Sakit

 


Pertanyaan:

Aku orangnya tak suka bergaul, tak suka berbagi, tak mau menceritakan apa yang sedang terjadi padaku, sehingga saat aku sakit pun tak ada yang tahu kecuali ibuku.

Tapi yang ingin kutanyakan, apakah ibuku berdosa jika dia menyalahkan Tuhan dengan keadaan yang sedang menyiksanya? Bisa dibilang jika dia sakit dan beban yang dipikulnya berat sehingga dia menyalahkan apa yang ada disekelilingnya, sedangkan aku tak tahan mendengar keluhan dan rintihan karena penyakitku dan beban hidupku terlalu berat membuat aku tak tahan dengan keadaan ini sedangkan usiaku hanya 16 tahun sudah mengalami sakit yang tak tertahan ini dan ditambahkan cemohan tetangga dan orang orang yang didekatku membuat aku makan hati tiap hari dan membuat penyakitku sulit untuk sembuh.

Dari: Intan

Jawaban:

Tiada gading yang tak retak. Itulah ungkapan pepatah yang sering kita dengar. Sebagaimana gading, tiada manusia yang tidak pernah sakit. Saya, Anda, dia, mereka, siapapun dia, pasti pernah merasakan sakit. Karena itu, bukanlah sakit itu satu-satunya yang menjadi masalah terbesar bagi kita. Namun yang lebih penting untuk kita perhatikan adalah bagaimana kita bisa menjadi hamba yang baik ketika sakit. Sakit itu pasti, sementara bagaimana cara melakukan yang terbaik ketika sakit, itu kembali kepada pilihan kita.

Kita bisa mendapatkan banyak pahala ketika sakit. Sebaliknya, sakit yang kita derita juga bisa menjadi sebab munculnya perbuatan dosa.

وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

Sesungguhnya Allah ketika mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka dengan musibah. Siapa yang ridha dengan musibah itu maka dia akan mendapatkan ridha Allah. Sebaliknya, siapa yang marah dengan musibah itu maka dia akan mendapatkan murka Allah.” (HR. Ahmad 23623, Tirmidzi 2396 dan dishahihkan al-Albani).

Mari kita perhatikan hadis di atas. Sesungguhnya ujian yang Allah berikan kepada para hamba, hakikatnya didasari kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Karena seorang hamba akan bisa mendapatkan derajat yang lebih tinggi, ketika mereka mendapatkan ujian dan mampu bersabar terhadap ujian tersebut.

Namun ada dua sikap manusia yang berbeda. Ada yang memahami musibah  itu dengan baik, sehingga dia bisa ridha terhadap ujian yang Allah berikan. Dia berkeyakinan bahwa ujian ini adalah sumber pahala baginya. Sehingga sama sekali dia tidak merasa telah didzalimi oleh Allah. Di saat itulah, Allah akan memberikan keridhaan dan pahala yang besar kepadanya.

Sebaliknya, ada orang yang menyikapi musibah itu dengan cara yang salah. Dia menganggap sakit ini adalah kezaliman dan ketidakadilan. Mengapa dia sakit, sementara orang lain tidak sakit. Mereka dia tidak bisa mendapatkan kenikmatan hidup, sementara tetangganya bisa mendapatkan banyak kenikmatan. Dia marah dan tidak sabar dengan musibahnya. Sebagai hukumannya, Allah justru murka kepadanya.

Bapak, ibu, pembaca yang budiman. Satu pertanyaan yang patut kita renungkan, ketika orang itu marah dengan musibah yang dideritanya, apakah dengan marahnya itu akan bisa menghilangkan musibahnya? Ketika orang sakit itu merasa marah dengan musibah sakitnya, apakah dengan marah itu dia bisa cepat mendapatkan kesembuhan?

Kita sangat yakin, yang terjadi justru sebaliknya. Mereka yang marah dan tidak ridha dengan sakit yang dideritanya, akan semakin memperparah sakitnya. Dia sakit badannya dan juga sakit hatinya. Dia sakit dua kali, lahir dan batin.

Abu Said al-Khudri pernah mengunjungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang saat itu sedang sakit. Ketika Abu Said meletakkan tangannya ke badan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ternyata panasnya luar biasa. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّا كَذَلِكَ يُشَدَّدُ عَلَيْنَا الْبَلَاءُ وَيُضَاعَفُ لَنَا الْأَجْرُ

Sesungguhnya kami para nabi, diberi ujian yang sangat berat, sehingga pahala kami dilipat gandakan.”

Abu Said-pun bertanya, ‘Ya Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat ujiannya?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab;

الْأَنْبِيَاءُ وَالصَّالِحُونَ، لَقَدْ كَانَ أَحَدُهُمْ يُبْتَلَى بِالْفَقْرِ حَتَّى مَا يَجِدُ إِلَّا الْعَبَاءَةَ يَحْويهَا فَيَلْبَسَهَا، وَيُبْتَلَى بِالْقُمَّلِ حَتَّى يَقْتُلَهُ، وَلَأَحَدُهُمْ كَانَ أَشَدَّ فَرَحًا بِالْبَلَاءِ مِنْكُمْ بِالْعَطَاءِ

Para nabi, kemudian orang shaleh. Sungguh ada diantara mereka yang diuji dengan kemiskinan, sehingga harta yang dimiliki tinggal baju yang dia gunakan. Ada juga yang diuji dengan kutu badan dan rambutnya, sampai kutu itu membunuhnya. Sungguh para nabi dan orang shaleh itu, lebih bangga dengan ujian yang dideritanya, melebihi kegembiraan kalian ketika mendapat rezeki. (HR. Abu Ya’la dalam al-Musnad 1045, al-baihaqi dalam Sunan al-Kubro (3/372), Hakim dalam al-Mustadrak 119, dan dishahihkan al-Albani).

Seperti itulah yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang shaleh. Mereka bisa berbahagia ketika sakit. Mereka lebih gembira dengan ujian yang dideritanya, melebihi kegembiraan orang yang baru saja mendapatkan banyak harta. Karena mereka meyakini, sakit adalah sumber pahala baginya.

Suatu ketika, Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu datang ke Mekah. Beliau sudah menginjak usia tua dan matanya buta. Melihat kedatangan Sa’ad, masyarakat pada berdatangan dan menyambutnya. Mereka berkeyakinan doa Sa’ad sangat mustajab, seperti yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Satu demi satu orang meminta didoakan Sa’ad.

Sampai akhirnya datang seorang pemuda yang bernama Abdullah bin Saib. Beliau memperkenalkan diri kepada Sa’ad bin Abi Waqqash. Setelah berkenalan, Abdullah bertanya keheranan, “Wahai paman, Anda mendoakan banyak orang (dan itu mustajab). Mengapa Anda tidak berdoa meminta kebaikan untuk diri Anda sendiri, sehingga Allah akan mengembalikan penglihatan Anda?”

Mendengar uacapan pemuda ini, Sa’ad tersenyum, kemudian mengatakan,

يابني، قضاء اللّه عندي أحسن من بصري

Wahai anakku, (menerima) takdir Allah untukku, itu lebih baik dari pada mataku.” (Qut al-Qulub, 1/435).

Insya Allah, kita-pun bisa melakukannnya. Berbahagia ketika mendapat musibah. Berbahagia ketika sakit. Tinggal saatnya kita sekarang mulai  melatihnya.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)



Sumber: https://konsultasisyariah.com/15816-berbahagia-ketika-sakit.html

Baca Selengkapnya >>>

Minggu, 30 Juli 2017

Rencana Allah

 
Sering kita mendengar beberapa rekan kita mengatakan perihal suatu peristiwa ‘sungguh indah rencana Allah’. ‘Allah mempunyai rencana’. Dan kalimat semisal yang intinya Allah berencana atau merencanakan sesuatu atau punya rencana.
Istilah-istilah ini sebenarnya bukan istilah syar’iy. Istilah yang berasal dari kaum Nashara. Mereka (kaum Nashara) sering sekali mengucapkan ‘sungguh indah rencana-Mu ya Tuhan’ sebagaimana senandung gereja mereka.[1] Kita tidak sadar bahwa lisan kita menirunya karena sering mendengar atau membaca tulisan sebagian orang.
Rencana, dalam bahasa manusia, adalah satu susunan konsep sebelum kegiatan dilaksanakan/terjadi. Rencana tidak sama pengertiannya dengan aturan atau ketetapan, sehingga sifatnya bisa berubah (tentative). Kalau tidak seperti itu, bukan rencana namanya.....
Jika demikian, tepatkan menisbatkan rencana itu kepada Allah ta’ala ?. Jawabnya : tidak tepat. Minimal karena 3 (tiga) sebab, yaitu :
1.     Tidak ada dalilnya.
2.     Tasyabbuh pada orang Nashara.
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka [Dikeluarkan oleh Ahmad dan yang lainnya, serta dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al-Irwaa’ no. 1269 – takhriij selengkapnya silakan baca di sini].
3.     Allah tidak berencana, akan tetapi berkehendak dan menetapkan taqdir seluruh makhluk-Nya.
Semua kejadian mulai awal penciptaan hingga hari kiamat, semuanya telah diketahui Allah berdasarkan ilmu-Nya yang tertulis dalam Lauh Mahfuudh. Allah ta’ala berfirman :
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلا يَعْلَمُهَا وَلا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأرْضِ وَلا رَطْبٍ وَلا يَابِسٍ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuudh)[QS. Al-An’aam : 59].
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا
Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lohmahfuz) sebelum Kami menciptakannya” [QS. Al-Hadiid : 22].
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ لَهُ: اكْتُبْ قَالَ: رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ
Sesungguhnya sesuatu yang pertama kali diciptakan Allah adalah pena (qalam). Lalu Allah berfirman kepadanya : ‘Tulislah’. Pena berkata : ‘Wahai Rabbku, apakah yang harus aku tulis ?’. Allah berfirman kepadanya : ‘Tulislah taqdir-taqdir segala sesuatu hingga terjadinya hari kiamat” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 4700, At-Tirmidziy no. 2155 & 3319, Ahmad 5/317, dan yang lainnya; At-Tirmidziy berkata : “Hadits hasan shahih ghariib”].
كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ، قَالَ: وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ
Allah telah menuliskan taqdir para makhluk 50.000 tahun sebelum Ia menciptakan langit-langit dan bumi” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2653].
Apa yang dikehendaki Allah ta’ala dalam ketetapan taqdir-Nya pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki Allah tidak mungkin terjadi.
Allah ta’ala berfirman :
وَمَا تَشَاءُونَ إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam” [QS. At-Takwiir : 29].
فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ
Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit” [QS. Al-An’aam : 125].
قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا
Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami" [QS. At-Taubah : 51].
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ
Ketahuilah, bahwa jikalau ada seluruh umat berkumpul untuk memberikan suatu manfa’at bagimu, maka mereka tidak akan dapat memberikannya kecuali sesuatu yang telah ditakdirkan Allah atasmu, dan jikalau mereka berkumpul untuk merugikanmu (membahayakanmu) dengan sesuatu, maka mereka tidak akan bisa melakukan itu kecuali sesuatu yang telah ditakdirkan Allah atasmu. Pena-pena (pencatat) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 2516, dan ia berkata: “Hadits hasan shahih”].
Wallaahu a’lam.
Semoga tulisan singkat ini ada manfaatnya.
[abul-jauzaa’ – perumahan ciomas permai, ciapus, ciomas, bogor – 08041435/08022014 – 00:40].




[1]        Seperti yang ada di sini.

Posting Ulang:
from= http://abul-jauzaa.blogspot.co.id/2014/02/rencana-allah.html
Cisaat, Nengkelan, Ciwidey.
Baca Selengkapnya >>>

Sabtu, 22 April 2017

Masalah Taqdir


ANTARA AT & AH (Masukan untuk al-Ustadz al-Fadhil Adi Hidayat MA hafidzohullah)

BAGIAN PERTAMA : Aqidah Qodariyah AH tentang masalah Taqdir

Beberapa waktu yang lalu sempat muncul kritikan dari seorang ustadz AT terhadap ustadz AH. Lalu muncul komentar-komentar yang buruk dan menganggap ustadz AT hasad dan dengki kepada ustadz AT (?=mungkin salah tik, sepertinya harusnya AH=dass). Tentu seseorang berusaha untuk berprasangka baik terhadap saudaranya yang mengkritik. Jika kritikannya baik hendaknya diterima dengan baik dan segera berusaha memperbaiki diri. Namun jika kritikannya keliru maka silahkan kritikan tersebut dikritiki kembali. Toh para ulama sejak dahulu hingga sekarang saling mengkritiki, saling memperbaiki satu dengan yang lainnya, saling mengingatkan satu dengan yang lainnya.
Alhamdulillah masing-masing baik AT maupun AH sudah memunculkan klarifikasi atau komentar atas apa yang telah bergulir. Dan AH pun telah menyatakan siap untuk diberi masukan.
Untuk menanggapi -sedikit kegaduhan ini- maka penulis bertekad untuk turut berpartisipasi memberi masukan kepada al-Ustadz AH hafizohullah, semoga bermanfaat. Dan penulis juga menyadari bahwa tidak ada yang luput dari kesalahan, termasuk penulis yang juga tidak luput dari kesalahan, akan tetapi hal ini tidak menghalangi penulis untuk memberi masukan dan juga diberi masukan demi kemasalahatan umat, dan menjauhkan umat dari segala kesalahan sejauh-jauhnya, baik kesalahan dalam aqidah atau yang lainnya.

Dalam ceramah ustadz AH yang mulia dengan judul : Perbedaan antara Taqdir dan Qodarullah https://www.youtube.com/watch?v=p5g7e_o7dJM
Al-Ustadz AH berkata (menit 0:27) : Yang seperti ini aliran qodariyah, semua terserah Allah semuanya terserah Allah, bahkan tidak mungkin saya bersin kecuali Allah berkehendak, tidak mungkin saya minum kecuali Allah berkehendak. Tapi kesimpulannya ini salah, Anda harus membendakan antara qodar dengan taqdir. Kehendak Allah yang tidak ada intervensi kita di dalam itu disebut qodar, contoh tentang ajal seseorang....
(Komentar : AH keliru, kelompok yang seperti itu namanya bukan qodariyah tapi jabariyah)

Beliau berkata (pada menit 1:29) :”Taqdir itu adalah ketetapan Allah yang dikukuhkan ditetapkan berdasarkan ikhtiar makhluk. Jadi kita ikhtiar dulu baru Allah menetapkan. Jadi bukan seketika Allah menetapkan...
(Pada menit 2:37) “Jadi ada sesuatu yang kehendak Allah tidak mutlaq disitu, kehendak Allah bergantung ikhtiar yang kita kerjakan...

Dalam ceramah AH yang lain dengan judul : Apakah jodoh termasuk taqdir (https://www.youtube.com/watch?v=anabATdqrWQ)
(pada menit : 0.50) : “Sedangkan taqdir adalah ketetapan Allah yang dikukuhkan atas ikhtar makhluk, jadi ada usaha kita dulu, usaha baru Allah tetapkan.... dan jodoh termasuk taqdir

KRITIKAN :
Apa yang diutarakan oleh al-Ustadz AH adalah aqidah al-Qodariyah. Sesungguhnya semua yang terjadi di alam semesta ini baik makan dan minum maupun bersin, iman dan kufur, jodoh, rizki dan ajal semuanya dikehendaki dan telah ditetapkan oleh Allah.
Allah berfirman :
‎إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan taqdir (QS al-Qomar : 49)
‎وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا
dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan taqdir (segala sesuatu)nya  (QS Al-Furqon : 2)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda
‎كَتَبَ اللهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
Allah telah mencatat taqdir para makhluq 50 ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi (HR Muslim No. 2653)
Nabi juga menjelaskan bahwa amal sholeh maupun amal buruk, masuk surga maupun masuk neraka semuanya telah ditaqdirkan oleh Allah. Tidak ada bedanya hal ini dengan masalah rizki dan ajal yang juga telah ditaqdirkan. Beliau bersabda :
‎إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا نُطْفَةً ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيُنْفَخُ فِيْهِ الرُّوْحُ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ : بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا (رواه البخاري ومسلم)

Sesungguhnya (fase) penciptaan kalian dikumpulkan dalam perut ibunya selama 40 hari (dalam bentuk) nutfah (sperma), kemudian selama itu (40 hari) menjadi segumpal darah kemudian selama itu (40 hari) menjadi segumpal daging, kemudian diutuslah Malaikat, ditiupkan ruh dan dicatat 4 hal: rezekinya, ajalnya, amalannya, apakah ia beruntung atau celaka. Demi Allah Yang Tidak Ada Sesembahan yang Haq Kecuali Dia, sungguh di antara kalian ada yang beramal dengan amalan penduduk jannah (surga) hingga antara dia dengan jannah sejarak satu hasta kemudian ia didahului dengan catatan (taqdir) sehingga beramal dengan amalan penduduk an-Naar (neraka), sehingga masuk ke dalamnya (an-Naar). Sesungguhnya ada di antara kalian yang beramal dengan amalan penduduk an-Naar, hingga antara dia dengan an-Naar sejarak satu hasta kemudian ia didahului dengan catatan (taqdir) sehingga beramal dengan amalan penduduk jannah (surga) sehingga masuk ke dalamnya (jannah) (HR al-Bukhari dan Muslim)

Pernyataan AH : “Yang seperti ini aliran qodariyah, semua terserah Allah semuanya terserah Allah, bahkan tidak mungkin saya bersin kecuali Allah berkehendak, tidak mungkin saya minum kecuali Allah berkendak. Tapi kesimpulannya ini salah, Anda harus membendakan antara qodar dengan taqdir. Kehendak Allah yang tidak ada intervensi kita di dalam itu disebut qodar, contoh tentang ajal seseorang....”
Demikian juga pernyataan AH : “Jadi ada sesuatu yang kehendak Allah tidak mutlaq disitu, kehendak Allah bergantung ikhtiar yang kita kerjakan...
Adalah pengingkaran terhadap taqdir. Diantaranya :
- Menganggap ada kehendak Allah yang tidak mutlaq
- Menganggap manusia bisa ikut intervensi dalam keputusan Allah, bahkan keputusan Allah tergantung kehendak manusia
Padahal Allah berfirman :
‎وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا
Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana  (Al-Insan : 30)
‎وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam (At-Takwir : 29)
‎وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا
Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. (QS Yunus : 99)
‎فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ
Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. (QS Al-AN’aam : 125)
Nabi Nuuh berkata kepada kaumnya :
‎وَلَا يَنْفَعُكُمْ نُصْحِي إِنْ أَرَدْتُ أَنْ أَنْصَحَ لَكُمْ إِنْ كَانَ اللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يُغْوِيَكُمْ
Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasehatku jika aku hendak memberi nasehat kepada kamu, sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu, Dia adalah Tuhanmu, dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan" (QS Huud : 34)
‎مَنْ يَشَأِ اللَّهُ يُضْلِلْهُ وَمَنْ يَشَأْ يَجْعَلْهُ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Barangsiapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya), niscaya disesatkan-Nya. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya petunjuk), niscaya Dia menjadikan-Nya berada di atas jalan yang lurus (QS Al-An’aam : 39)
Diakhir zaman para sahabat mulailah muncul kelompok qodariyah yang sulit menerima dengan akal mereka bahwa semuanya telah ditaqdirkan oleh Allah, dan kelompok ini telah diingkari oleh Ibnu Umar. Tatkala seseorang berkata kepada Ibnu Umar :
‎أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنَّهُ قَدْ ظَهَرَ قِبَلَنَا نَاسٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ، وَيَتَقَفَّرُونَ الْعِلْمَ... وَأَنَّهُمْ يَزْعُمُونَ أَنْ لَا قَدَرَ، وَأَنَّ الْأَمْرَ أُنُفٌ
Wahai Abu Abdirrahman (Ibnu Umar), sesungguhnya telah muncul dari sisi kami (di Iraq) sekelompok orang yang membaca al-Qur’an dan mendalami ilmu...dan bahwasanya mereka menyangka  bahwa tidak ada qodar, dan bahwasanya perkara adalan baru
Imam An-Nawawi menjelaskan pernyataan mereka ini :
‎أَيْ مُسْتَأْنَفٌ لَمْ يَسْبِقْ بِهِ قَدَرٌ وَلَا عِلْمٌ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى وَإِنَّمَا يَعْلَمُهُ بَعْدَ وُقُوعِهِ
Yaitu perkara baru tidak didahului oleh takdir dan tidak ada diketahui oleh Allah, akan tetapi Allah mengetahuinya setelah terjadi” (Syarah Shahih Muslim jilid 1 halaman 138, letaknya di bagian kanan atas kalau di cetakan milik penulis)
Mereka menganggap bahwa perkara belum ditaqdirkan, Allah baru mentaqdirkan (mengkukuhkan/menetapkan) kecuali setelah hamba berbuat. Dan ini sama persis dengan pernyataan ustadz AH “Keputusan Allah baru dikukuhkan setelah ikhtiar/perbuatan manusia”.
Karenanya qodariyah dijuluki dengan majusi umat ini, karena menganggap ada penentu keputusan di alam semesta selain Allah. Apalagi menyatakan bahwa kehendak manusia yang menentukan keputusan Allah?!.
Apa komentar Ibnu Umar terahadap pernyataan qodariyah di atas ?, beliau berkata :
‎فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيءٌ مِنْهُمْ، وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي، وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ «لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ»
“Jika engkau bertemu dengan mereka maka kabarkanlah kepada mereka bahwasanya aku berlepas diri dari mereka, dan bahwasanya mereka berlepas diri dariku. Dan demi Dzat Yang Ibnu Umar bersumah denganNya, seandainya salah seorang dari mereka memiliki emas sebesar gunung Uhud lalu ia infaqkan maka tidak akan diterima oleh Allah hingga ia beriman dengan taqdir” (Shahih Muslim halaman 24 hadits no 1, letaknya si bagian buku sebelah kanan agak kiri atas)
Semoga bermanfaat, dan semoga Allah menjaga aqidah kita. Aaamiin  
Yang benar dari Allah, yang salah dari kesilapan penulis, semoga Allah menunjukkan kita semua kepada jalan yang lurus. (bersambung)

Jakarta, 01-07-1438 H / 29-03-2017
Abu Abdil Muhsin Firanda
www.firanda.com


Baca Selengkapnya >>>

Jumat, 28 Oktober 2016

Tidak Protes dengan Takdir Allah


Pernahkah kita diperlakukan tidak adil atau dizalimi oleh orang lain?

Bagaimana respon kita? Tentu tidak senang dan kita protes,  bisa jadi keluar kata-kata mencaci maki bahkan ingin membalas

Mengapa? Karena kita MENGANGGAP perbuatan orang tersebut adalah kejelekan dan dia berniat jelek kepada kita

Nah, begitu juga wahai saudaraku

Ketika kita mendapat takdir yang kita anggap jelek (hakikatnya semua takdir Allah baik) semisal mendapat musibah, maka janganlah keluar dari lisan kita kata-kata PROTES, caci-maki, tidak terima bahkan mengumpat takdir yang terjadi tanpa bisa memberi solusi
Padahal takdir dan kejadian di dunia adalah ciptaan Allah, bisa saja artinya menganggap dan BERPRASANGKA Allah bermaksud jelek pada kita.

Ini harus kita hindari, karena bisa berpotensi MENGURANGI TAUHID seseorang dan bisa jadi mengurangi POTENSI MASUK SURGA TANPA HISAB

Hindarilah walaupun hanya protes dengan perkatan halus, bahkan puncak keimanan bahwa kita bersyukur dengan semua takdir Allah. Allah sesuai prasangka hamba-Nya. Allah berfirman dalam hadits qudsi,

أنا عند ظن عبدي بي

 “Aku sesuai persangkaan hamba-Ku.”(HR. Bukhari)

Jika kita ridha maka Allah akan ridha, jika kita marah maka Allah akan marah dalam hal takdir.

وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

“Sesungguhnya pahala yang besar didapatkan melalui cobaan yang besar pula. Apabila Allah mencintai seseorang, maka Allah akan memberikan cobaan kepadanya, barangsiapa yang ridho (menerimanya) maka Allah akan meridhoinya dan barangsiapa yang murka (menerimanya) maka Allah murka kepadanya.( HR. At-Tirmidzi no. 2396, Hasan)

Padahal Allah sangat sayang kepada Hamba-Nya melebihi kasih sayang ibu kepada anaknya.

Dari Umar bin Al Khattab radhiallahu ‘anhu , beliau menuturkan

ﻗﺪﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺳﺒﻲ، ﻓﺈﺫﺍ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﺒﻲ ﻗﺪ ﺗﺤﻠﺐ ﺛﺪﻳﻬﺎ ﺗﺴﻘﻲ، ﺇﺫﺍ ﻭﺟﺪﺕ ﺻﺒﻴﺎً ﻓﻲ
ﺍﻟﺴﺒﻲ ﺃﺧﺬﺗﻪ، ﻓﺄﻟﺼﻘﺘﻪ ﺑﺒﻄﻨﻬﺎ ﻭﺃﺭﺿﻌﺘﻪ، ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻨﺎ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : (ﺃﺗﺮﻭﻥ ﻫﺬﻩ ﻃﺎﺭﺣﺔ ﻭﻟﺪﻫﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺎﺭ ). ﻗﻠﻨﺎ: ﻻ، ﻭﻫﻲ ﺗﻘﺪﺭ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻻ ﺗﻄﺮﺣﻪ، ﻓﻘﺎﻝ: (ﻟﻠﻪ ﺃﺭﺣﻢ ﺑﻌﺒﺎﺩﻩ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﺑﻮﻟﺪﻫﺎ
 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kedatangan rombongan tawanan perang. Di tengah-tengah rombongan itu ada seorang ibu yang sedang mencari-cari bayinya.
Tatkala dia berhasil menemukan bayinya di antara tawanan itu, maka dia pun memeluknya erat-erat ke tubuhnya dan menyusuinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada kami,

“Apakah menurut kalian ibu ini akan tega melemparkan anaknya ke dalam kobaran api?”
Kami menjawab, “Tidak mungkin, demi Allah. Sementara dia sanggup untuk mencegah bayinya terlempar ke dalamnya.”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga kita selalu berprasangka baik terhadap Allah dan takdir-Nya

_____________
@Gemawang, Yogyakarta tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen
Artikel www.muslimafiyah.com
Baca Selengkapnya >>>

Kamis, 29 September 2016

Permasalahan Yang Sering Menghinggapi Kaum Remaja


PERMASALAHAN YANG SERING MENGHINGGAPI KAUM REMAJA
Hati yang mati tidak akan dihampiri oleh perasaan was-was atau pikiran yang bertentangan dengan agama Islam ini yang dihembuskan oleh syaitan. Syaitan tidak terpesona dan tidak tertarik dengan hati yang sudah mati seperti ini. Hati yang mati itu pasti akan binasa dan itulah yang diinginkan oleh syaitan, tidak lebih dari itu. Oleh karena itu, ketika ada yang mengatakan kepada Ibnu Mas’ûd Radhiyallahu anhu atau Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhu ,”Sesungguhnya orang-orang Yahudi mengatakan bahwa mereka tidak pernah diganggu dengan rasa was-was saat mereka beribadah (diganggu dengan pikiran-pikiran yang merusak kekhusu’an ibadah mereka)”. Shahabat Nabi tersebut mengatakan, “Mereka benar. Syaitan tidak melakukan apapun pada hati yang sudah rusak dan mati.”
Hati yang menjadi incaran syaitan adalah hati yang hidup, hati yang terisi benih keimanan. Syaitan akan terus menyerangnya tanpa henti dan tak kenal lelah. Syaitan akan melemparkan ke dalam hati ini berbagai macam penyakit was-was yang bisa meracuni keimannya. Rasa was-was ini bisa menjadi virus dan senjata mematikan apabila hamba tersebut menyerah lalu mengikuti bisikan syaitan. Syaitan akan terus meniupkan rasa was-was sampai akhirnya bisa membuat seseorang menjadi ragu terhadap Rabbnya, agamanya dan akidahnya. Jika syaitan mendapati celah dalam hati seseorang, syaitan tidak akan menyia-nyiakan peluang itu sampai ia berhasil membuatnya keluar dari agamanya. Akan tetapi sebaliknya, disaat syaitan mendapatkan perlawanan dari hati tersebut serta mendapati hati tersebut begitu kokoh mempertahankan keimanannya, syaitan akan berpaling dan pulang dengan penuh kecewa, malu dan hina.
Virus was-was yang dilemparkan oleh syaitan kedalam hati seseorang, sejatinya tidak akan berbahaya bagi seseorang jika ia mampu menjaga hatinya dengan pengobatan yang telah diajarkan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhuma mengatakan, “Ada seorang pria datang menghadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengatakan, ‘Ada sesuatu yang kurasakan dalam hati ini, seandainya aku jadi humamah (arang) jauh lebih aku senangi ketimbang harus mengatakannya.’ Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْحَمْدُ للهِ رَدَّ كَيْدَهُ إِلَى الْوَسْوَسَةِ      
Segala puji bagi Allâh yang telah mengembalikan tipu daya syaitan  kepada was-was tersebut[1]
Beberapa orang dari kalangan Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah datang menghadapnya seraya mengatakan, “Wahai Rasûlullâh, kami mendapati dalam diri kami sesuatu yang sangat berat bagi kami untuk mengucapkannya (merasa berat).” Lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada mereka, ‘Benarkah kalian sudah mendapati perasaan itu?’ Mereka menjawab, ‘Benar.’ Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan kepada mereka:
ذَلِكَ صَرِيْحُ الإِيْمَانِ
Itulah bukti keimanan yang nyata[2]
Maknanya adalah pengingkaran kalian terhadap rasa was-was yang sering muncul itu juga perasaan berat yang kalian rasakan saat rasa was-was itu muncul tidak akan membahayakan keimanan kalian sama sekali, bahkan itu merupakan indikasiakan kesempurnaan dan kokohnya iman kalian.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ مَنْ خَلَقَ كَذَا مَنْ خَلَقَ كَذَا حَتَّى يَقُولَ مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ
Setan akan datang pada salah satu di antara kalian, lalu dia berkata, ‘Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?’ Sampai akhirnya dia membisikkan, ‘Siapa yang menciptakan Rabbmu?’ Jika sudah sampai pada (tahap) ini, maka hendaklah dia memohon perlindungan kepada Allâh dan berhentilah”.[3]
Dalam riwayat lain “Maka hendaklah dia mengatakan, ‘Aku beriman kepada Allâh dan rasul-Nya.”
Dalam hadist lain riwayat Abu Daud, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Hendaklah kalian mengucapkan:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Katakanlah! Allâh itu Maha Esa, Allâh itu tempat bergantung, Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan,dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia
kemudian hendaklah ia meludah ke arah kiri sebanyak tiga kali dan mohonlah berlindungan kepada Allâh dari godaan syaitan yang terkutuk”.[4]
Dalam hadist-hadits di atas disebutkan bahwa para Shahabat menceritakan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang penyakit was-was, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan solusi penyembuhannya, yaitu melalui empat perkara berikut ini :
  1. Pertama : Berusaha maksimal untuk menghentikan rasa was-was itu. Maksudnya adalah menghindari pemikiran semacam itu secara totalitas, berusaha melupakannya sampai seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa dan menyibukkan diri dengan pemikiran-pemikiran yang bagus.
  1. Kedua : Memohon dan meminta perlindung kepada Allâh dari bisikan was-was dan dari godaan syaitan yang terkutuk.
  1. Ketiga : Hendaknya mengatakan, “Saya beriman kepada Allâh dan Rasul-Nya.”
  1. Keempat : Hendaklah membaca surat al-Ikhlas :
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Katakanlah Allâh itu Maha Esa, Allâh itu tempat bergantung, Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkandan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia
Kemudian meludah ke kiri tiga kali dan berdoa :
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
Aku berlindunglah kepada Allâh dari godaan syaitan yang terkutuk
RAGU DAN BINGUNG DENGAN TAKDIR
Permasalahan takdir adalah salah satu permasalahan yang sering menimbulkan polemik dalam hati dan pemikiran generasi muda. Mereka sering merasa bimbang dan bingung dalam masalah ini, padahal beriman kepada takdir merupakan salah satu rukun iman. Tanpa itu, keimanan seseorang tidak akan sempurna. Beriman kepada takdir Allâh yaitu dengan cara mempercayai dan meyakini penuh keyakinan bahwa Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah mengetahui dan mentakdirkan segala yang terjadi di langit dan di bumi, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :
أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۗ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَابٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allâh mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Sesungguhnya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amatlah mudah bagi Allâh. [Al-Hajj/22:70]
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah melarang debat dan berselisih dalam masalah takdir, sebagaimana larangan ini telah diisyaratkan dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa ia berkata, ‘Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendatangi kami disaat kami (para Shahabat) sedang berselisih tentang takdir, maka memerahlah wajah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena marah’ kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَبِهَذَا أُمِرْتُمْ؟ أَوَ بِهَذَا أُرْسِلْتُ إِلَيْكُمْ , إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حِينَ تَنَازَعُوا فِي هَذَا الْأَمْرِ , عَزَمْتُ عَلَيْكُمْ أَنْ لَا تَنَازَعُوا فِيهِ
Apakah dengan ini kalian diperintahkan? Atau untuk inikah aku diutus kepada kalian? Sesungguhnya umat-umat sebelum kalian binasa ketika mereka berdebat dalam masalah ini. Aku tegaskan kepada kalian, janganlah kalian perdebatkan masalah ini!”[5]
Debat dan perbincangan yang dalam masalah takdir dapat menjerumuskan seseorang kedalam berbagai kebingungan yang terus mengikutinya sehingga sulit baginya untuk melepaskan diri. Jalan untuk menyelamatkan diri adalah dengan terus berusaha melakukan semua kebaikan yang diperintahkan dengan cara yang diperintahkan oleh Allâh Azza wa Jalla . Karena Allâh Azza wa Jalla telah mengaruniai kita akal dan pikiran sehat, Allâh juga telah mengutus para Rasul serta mewahyukan kepada mereka kitab suci. Allâh Azza wa Jalla berfirman dalam al-Qur’ân:
لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا
Agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allâh sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allâh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [An-Nisâ/4:165]
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengatakan kepada para Shahabatnya, “Tiada seorangpun dari kalian kecuali telah ditulis tempatnya di neraka atau di surga.” Mereka berkata, “Wahai Rasûlullâh! Bolehkah kami bertawakal (pasrah) saja pada ketetapan yang telah ditetapkan buat kami?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :“Tidak, akan tetapi beramallah!! karena setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan ketetapan yang telah ditetapkan untuknya. Orang yang ditetapkan sebagai orang yang bahagia akan dimudahkan untuk beramal dengan amalan orang yang bahagia. Adapun orang yang sengsara akan dimudahkan baginya untuk beramal dengan amalan orang yang sengsara.” Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat ini :
فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ ﴿٥﴾ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ ﴿٦﴾ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ ﴿٧﴾ وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَىٰ ﴿٨﴾ وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَىٰ ﴿٩﴾ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَىٰ
Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allâh), bertakwa dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil, merasa dirinya cukup dan mendustakan pahala yang terbaik, maka Kami kelak akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar [Al-Lail/92:5-10] [6]
Dalam riwayat ini Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka untuk berusaha dan beramal serta melarang mereka pasrah kepada takdir yang telah tertulis, karena jika seseorang tercatat sebagai penghuni surga maka dia tidak akan menjadi penghuni surga kecuali jika dia beramal dengan amalan ahli surga. Begitu juga sebaliknya, kalau dia tercatat sebagai penghuni neraka maka dia tidak akan menjadi penghuni neraka kecuali jika dia melakukan amalan ahli neraka. Amalan itu sesuai kemampuan seseorang, karena ia tahu bahwa Allâh Azza wa Jalla telah menganugerahkan kepadanya keinginan dan kesanggupan untuk melakukan suatu amalan. Dengan kemauan dan kemampuan, dia bisa berbuat atau meninggalkan sesuatu.
Sebagai contoh sederhana, seseorang yang ingin melakukan travel (perjalanan), maka dia bisa melakukan perjalanan atau berkeinginan untuk menetap di suatu tempat, maka dia bisa menetap di tempat yang diinginkanya. Begitu pula ketika seseorang yang melihat kebakaran maka ia akan lari menghindarinya, sama  seperti seseorang yang melihat sesuatu yang ia sukai, maka ia akan berusaha untuk mendapatkannya. Kesimpulannya, segala ketaatan dan kemaksiatan yang diperbuat atau ditinggalkan  oleh seseorang adalah berdasarkan kehendak dan keinginannya.
Ada dua syubhat (kerancuan pola pikir) yang terjadi pada sebagian masyarakat :
  1. Syubhat Pertama : Seseorang meyakini bahwa perbuatan yang ia lakukan dan yang ia tinggalkan hanya berdasarkan kehendak saja tanpa merasakan ada unsur takdir dalam melakukan dan meninggalkan perbuatan tersebut. Lalu bagaimana membuat ini sejalan dengan konsep keimanan, bahwa segala sesuatu itu terjadi atas kehendak dan takdir Allâh?
 Jawabannya adalah: Kalau kita perhatikan perbuatan dan tingkah laku seseorang manusia, maka kita akan tahu dengan jelas bahwa setiap perbuatan dan tingkah laku seseorang itu merupakan hasil dari dua sebab; yakni kehendak dan kemampuan. Karena tidak mungkin perbuatan dapat terwujud tanpa dua sebab ini, kedua sebab ini merupakan ciptaan Allâh Azza wa Jalla . Kehendak adalah hasil daya otak dan kemampuan adalah hasil daya tubuh. Seandainya Allâh Azza wa Jalla mencabut akal dan kemampuan manusia, niscaya mereka tidak akan mungkin bisa melakukan sesuatu apapun.
Kesimpulnnya, ketika seseorang memiliki keinginan kuat untuk melakukan perbuatan sampai ia bisa merealisasikannya, maka dengan tegas kita yakini bahwa sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla telah menghendaki dan mentakdirkan hal itu. Karena jika Allâh Azza wa Jalla tidak menghendaki hal tersebut niscaya Allâh Azza wa Jalla akan menghapus darinya keinginan atau Allâh akan menjadikan sesuatu yang dapat menghalangi kemampuannya saat hendak merealisasikan keinginan tersebut. Hal ini senada dengan tanggapan seorang arab baduwi ketika ditanya : ‘Bagaimanakah engkau dapat mengenal Allâh?’ ia menjawab :‘Aku mengenal Allâh dengan hilangnya rasa tekad dan berubahnya keinginanku’.
  1. Syubhat Kedua : Seseorang dihukum atas perbutan maksiat dan dosa yang telah diperbuatnnya. Mengapa dia dihukum atas perbuatan maksiatnya padahal itu sudah ditakdirkan baginya serta tidak mungkin baginya untuk menghindarinya?
Ini dijawab dengan dua jawaban: 
Pertama, Jika demikian pernyataan yang anda katakan, maka anda harus menyatakan ini juga! Seseorang diberikan pahala atas perbuatan baik yang ia lakukan. Mengapa dia diberikan pahala atas apa yang dia lakukan padahal itu sudah tertulis dan sudah ditakdirkan baginya serta dia tidak mampu untuk menghindar dari takdir tersebut.
Adalah suatu yang tidak adil, jika anda menjadikan takdir sebagai alasan untuk dalam perkara kemaksiatan namun tidak dalam perkara ketaatan.
Kedua : Allâh Azza wa Jalla telah mengingkari syubhat semacam ini dan mengategorikannya sebagai pernyataan tanpa ilmu sebagaimana tercantum dalam firman-Nya :
سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍ ۚ كَذَٰلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ حَتَّىٰ ذَاقُوا بَأْسَنَا ۗ قُلْ هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوهُ لَنَا ۖ إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَخْرُصُونَ
Orang-orang yang mempersekutukan Allâh akan mengatakan, “Jika Allâh menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan sesuatu apapun”. Demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah, “Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada Kami?” Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta” [Al-An’âm/6:148]
Allâh Azza wa Jalla menjelaskan bahwa kaum musyrikin yang berdalih dengan takdir atas perbuatan syirik yang mereka lakukan itu memiliki pendahulu. Mereka itu telah mendustakan para rasul sebagaimana yang diperbuat oleh para pendahulu mereka. Begitulah keadaan mereka sampai Allâh Azza wa Jalla murka dan menimpakan siksa-Nya kepada mereka. Seandainya dalih mereka benar, niscaya Allâh Azza wa Jalla tidak menimpakan siksa kepada mereka. Allâh Azza wa Jalla juga telah memerintahkan Nabi-Nya untuk menantang mereka agar mendatangkan bukti kebenaran dalih mereka. Juga Allâh Azza wa Jalla telah menjelaskan sesunguhnya tidak ada alasan bagi mereka untuk berdalih dengan takdir dalam melakukan kemaksiatan.
Ketiga : Takdir Allâh Azza wa Jalla itu adalah rahasia Allâh Azza wa Jalla yang tersembunyi yang hanya  diketahui oleh Allâh Azza wa Jalla sampai peristiwa yang ditakdirkan itu terjadi. Darimana si pelaku maksiat itu mengetahui bahwa Allâh Azza wa Jalla telah menakdirkannya untuk melakukan perbuatan maksiat sehingga dia berani melakukannya? Bukankah ada kemungkinan, Allâh telah mentakdirkan baginya perbuatan ketaatan?! Mengapa dia tidak mendahulukan ketaatan dari pada kemaksiatan, kemudian mengatakan, “Sesungguhnya Allâh telah mentakdirkan bagiku untuk melakukan ketaatan”.
Keempat :  Allâh telah mengistimewakan manusia dengan mengaruniakan akal pikiran, kemampuan untuk memahami dan menurunkan al-Qur’an, mengutus para rasul, menjelaskan kepada meraka jalan yang baik dan jalan yang buruk. Allâh Azza wa Jalla juga telah menganugerahkan kepada mereka kehendak dan kemampuan yang dengan keduanya seseorang bisa memilih jalan mana yang akan mereka tempuh? Mengapa mereka lebih memilih jalan kemaksiatan yang mendatangkan kesengsaraan dari pada jalan ketaatan yang mendatangkan manfaat?
Secara logika, jika pelaku maksiat itu hendak melakukan perjalanan ke suatu negara sementara dihadapannya ada dua jalan, salah satu jalannya itu bagus dan aman, sementara yang satunya lagi sulit, rusak lagi berbahaya. Dalam keadaan seperti ini, dia pasti akan memilih jalan yang pertama dan sama sekali tidak akan memilih jalan kedua dengan dalih Allâh Azza wa Jalla telah menakdirkannya untuk menempuh jalan itu. Seandainya dia memilih jalan yang sulit lagi menakutkan itu dengan dalih takdir, pasti dia akan dianggap bodoh dan gila oleh orang banyak.
Begitu pula dalam masalah ketaatan dan kemaksiatan, tidak ada berbeda. Maka hendaklah seseorang menempuh jalan yang baik, dan janganlah tertipu untuk memilih jalan yang sesat dengan alasan itu sudah menjadi takdir baginya. Demikian pula ketika kita melihat orang-orang bekerja, bersusah payah jalan kesana kemari dalam usaha mendapatkan rezeki, mereka tidak duduk santai di rumah tanpa kerja dan usaha dengan alasan ini sudah menjadi takdir.
Dengan demikian, adakah perbedaan antara amalan dunia dan akhirat?! Jika tidak ada perbedaan antara keduanya,kenapa anda jadikan takdir sebagai alasan untuk meninggalkan ketaatan kepada Allâh, sedangkan anda tidak menjadikan takdir sebagai alasan untuk meninggalkan amalan dunia?
Sesungguhnya perkara ini sebenarnya sangat mudah dan jelas sekali, akan tetapi  bisikan hawa nafsu belaka yang telah membuat hati menjadi buta dan telinga menjadi tuli.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XVIII/1436H/2015M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079 ]
_______
Footnote
[1] HR. Ahmad (1/235), Abu daud di kita “al-Adab” bab “fi Raddi al-Waswasah” no hadist 5112, An-Nasai dalam As-Sunanin Al-Kubra no hadits 10503

[2] HR. Muslim dalam Shahih-nya di kitab “Al Iman”, bab “Bayan al Waswasati fil-Iman wa ma Yaquluhu man Wajadaha”, hadits no. 132
[3]HR. Bukhari dalam Shahih-nya di kitab “Bad’ul-Khalqi”, bab “Shifatu Iblisa wa Junudihi”, hadits no. 3276; dan Muslim dalam Shahih-nya di kitab “Al Iman”, bab “Bayan al Waswasati fil-Iman wa ma Yaquluhu man Wajadaha”, hadits no. 134, 214.
[4] HR Abu Dawud dalam Sunan-nya, kitab “As-Sunnah”, bab “Fil-Jahmiyyah”, hadits no. 4722.
[5] HR. At-Tirmidzi, kitab Al-Qodar, Bab Maa Jaa Fi Tasydid Fi Al-Khoud Fi Al-Qodar No : 2133
[6] HR. Bukhari Muslim


Sumber: https://almanhaj.or.id/5780-permasalahan-yang-sering-menghinggapi-kaum-remaja.html


Baca Selengkapnya >>>