Islam Pedoman Hidup: Larangan
Tampilkan postingan dengan label Larangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Larangan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Agustus 2016

Larangan Memandangi Bintang Jatuh

Al-Imaam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata:
حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، حَدَّثَنَا هِشَامٌ، عَنْ مُحَمَّدٍ، قَالَ: كُنَّا مَعَ أَبِي قَتَادَةَ عَلَى ظَهْرِ بَيْتِنَا، فَرَأَى كَوْكَبًا انْقَضَّ فَنَظَرُوا إِلَيْهِ، فَقَالَ أَبُو قَتَادَةَ: إِنَّا قَدْ نُهِينَا أَنْ نُتْبِعَهُ أَبْصَارَنَا "
Telah menceritakan kepada kami Yaziid bin Haaruun : Telah menceritakan kepada kami Hisyaam, dari Muhammad, ia berkata : Kami pernah bersama Abu Qataadah di atas atap rumah kami. Lalu ia melihat bintang jatuh. Orang-orang memandanginya. Kemudian Abu Qatadah berkata : 'Sungguh kami dilarang untuk memperhatikannnya" [Al-Musnad 5/299; dishahihkan oleh Al-Arna’uth dkk. dalam Tahqiq dan Takhrij-nya terhadap Musnad Al-Imaam Ahmad, 37/244].
Hisyaam mempunyai mutaba’ah dari:
1.     Ayyuub As-Sikhtiyaaniy sebagaimana diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq 11/290 no. 20007, Al-Haakim 4/286, dan Al-Baghawiy dalam Syarhus-Sunnah no. 1155.
2.     ‘Aashim Al-Ahwal sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Baghawiy dalam Syarhus-Sunnah no. 1154.
Perkataan ‘kami dilarang’, maksudnya dilarang oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sehingga hadits di atas dihukumi marfuu’.
Diriwayatkan pula Ibnu Abi Syaibah 9/103 (13/557-558) no. 27163 dari jalan ‘Abdurrahiim bin Sulaimaan, dari ‘Aashim (Al-Ahwal), dari Muhammad bin Siiriin, dari Abu Qataadah secara mauquuf. Riwayat marfuu’ lebih kuat daripada yang mauquuf ini.
Ibnu Muflih berdalil dengan hadits di atas terhadap larangan untuk melihat bintang, kecuali jika dipergunakan untuk penunjuk kiblat [Aadaabusy-Syar’iyyah, hal. 434].
Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab Al-Wushaabiy hafidhahullah pernah ditanya:
"Apakah shahih doa yang dipanjatkan ketika bintang jatuh ?".
Beliau menjawab :
"Aku tidak mengetahui hadits (shahih) tentang hal tersebut. Hadits yang ada hanyalah terkait bahwa apabila ada orang yang melihat bintang yang digunakan untuk melempar setan (bintang jatuh) agar tidak memperhatikannya. Tidak boleh memperhatikannya. Inilah yang aku ketahui, yaitu tidak boleh memperhatikannya" [sumber : olamayemen].
Tentang hadits ruqyah :
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ، حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ، أَخْبَرَنَا حُصَيْنُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، قَالَ: " كُنْتُ عِنْدَ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، فَقَالَ: أَيُّكُمْ رَأَى الْكَوْكَبَ الَّذِي انْقَضَّ الْبَارِحَةَ؟ قُلْتُ: أَنَا، ثُمَّ قُلْتُ: أَمَا إِنِّي لَمْ أَكُنْ فِي صَلَاةٍ، وَلَكِنِّي لُدِغْتُ، ......
Telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin Manshuur : Telah menceritakan kepada kami Husyaim : Telah mengkhabarkan kepada kami Hushain bin ‘Abdirrahmaan, ia berkata : Aku pernah berada di sisi Sa’iid bin Jubair, lalu ia berkata : Siapakah di antara kalian yang melihat bintang jatuh semalam ?”. Aku berkata : “Aku”. Lalu aku berkata : “Akan tetapi aku tidak sedang mengerjakan shalat. Aku terbangun karena disengat binatang.....” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 220].
Pertama, Hushain bin ‘Abdirrahmaan dan Sa’iid bin Jubair hanyalah melihat secara tidak sengaja (sekilas) bintang yang kebetulan jatuh, bukan memperhatikan/memandanginya. Ini jelas beda konteksnya. Kedua, seandainya hadits di atas dipahami bahwa keduanya benar-benar memperhatikan bintang yang jatuh, maka hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidaklah akan gugur dengan perbuatan selain beliau. Sa’iid bin Jubair adalah seorang taabi’iy.
Semoga artikel ini ada manfaatnya.
Wallaahu a’lam.

[abul-jauzaa’ – 18 Dzulhijjah 1435].

from=http://abul-jauzaa.blogspot.fr/2014/10/larangan-memandangi-bintang-jatuh.html
Baca Selengkapnya >>>

Selasa, 22 Desember 2015

Larangan Safar (dalam Rangka Ibadah) Selain Tiga Masjid

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata:
فَلَقِيتُ بَصْرَةَ بْنَ أَبِي بَصْرَةَ الْغِفَارِيَّ، فَقَالَ: مِنْ أَيْنَ أَقْبَلْتَ؟ فَقُلْتُ: مِنْ الطُّورِ، فَقَالَ: لَوْ أَدْرَكْتُكَ قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ إِلَيْهِ مَا خَرَجْتَ، سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: " لَا تُعْمَلُ الْمَطِيُّ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ: إِلَى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَإِلَى مَسْجِدِي هَذَا، وَإِلَى مَسْجِدِ إِيلِيَاءَ أَوْ بَيْتِ الْمَقْدِسِ يَشُكُّ "
“....Lalu aku bertemu dengan Bashrah bin Abi Bashrah Al-Ghifaariy. Ia berkata : “Dari mana engkau?”. Aku menjawab : “Dari bukit Thuur”. Ia berkata : “Seandainya saja aku bertemu denganmu sebelum engkau pergi ke Bukit Thuur, niscaya engkau tidak akan pergi. Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah hewan tunggangan dipersiapkan untuk perjalanan jauh kecuali menuju tiga masjid : Masjid Haraam, masjidku ini (Masjid Nabawiy), dan masjid Iliya’ atau Baitul-Maqdis” [Diriwayatkan oleh Maalik dalam Al-Muwaththa’ no. 243; shahih].
Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ، الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى
Janganlah engkau melakukan perjalanan jauh (safar) kecuali menuju tiga masjid: Al-Masjid Haram, Masjid Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan Masjid Al-Aqshaa” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1189 dan Muslim no. 3364].
Dua hadits di atas menunjukkan bahwa setelah Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhudikhabari oleh Bashrah tentang hadits tersebut, ia menyepakatinya dan kemudian meriwayatkannya.
Dari Qaza’ah, dari Abu Sa’iid Al-Khudriy radliyallaahu ‘anhu; ia (Qaza’ah) berkata:
سَمِعْتُ مِنْهُ حَدِيثًا فَأَعْجَبَنِي، فَقُلْتُ لَهُ: أَنْتَ سَمِعْتَ هَذَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: فَأَقُولُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا لَمْ أَسْمَعْ، قَالَ: سَمِعْتُهُ يَقُولُ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " لَا تَشُدُّوا الرِّحَالَ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ: مَسْجِدِي هَذَا، وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَالْمَسْجِدِ الْأَقْصَى "
“Aku mendengar darinya (Abu Sa’iid) satu hadits yang membuatku kagum. Aku berkata kepadanya : “Apakah engkau mendengar hadits ini dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ?”. Ia menjawab : “Apakah aku berkata atas diri Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sesuatu yang tidak pernah aku dengar (dari beliau) ?”. Lalu aku mendengar Abu Sa’iid berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Janganlah kalian melakukan perjalanan jauh (safar) kecuali menuju tiga masjid : masjidku ini (yaitu Masjid Nabawiy – Abul-Jauzaa’), Masjid Haraam, dan Al-Masjidul-Aqshaa….” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 827].
Para ulama berbeda pendapat dalam memahami larangan syaddur-rihaal di atas.
Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa larangan tersebut kembali kepada tempat (secara umum), dan ulama lain berpendapat kembali pada masjid saja – sebagaimana sesuatu yang diperkecualikannya.
Yang raajih adalah pendapat pertama, karena dalam hadits Bashrah bin Abi Bashrah secara jelas menunjukkan bahwa larangan tersebut tidak hanya berlaku pada masjid, namun juga ke tempat lain (Thuur).
Dikuatkan lagi oleh pemahaman Ibnu ‘Umar yang semisal dengan Bashrah radliyallaahu ‘anhum sebagaimana riwayat:
حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ عَمْرٍو، عَنْ طَلْقٍ، عَنْ قَزَعَةَ، قَالَ: سَأَلْتُ ابْنَ عُمَرَ آتِي الطُّورَ؟ قَالَ: " دَعِ الطُّورَ وَلَا تَأْتِهَا، وَقَالَ: لَا تَشُدُّوا الرِّحَالَ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ "
Telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Uyainah, dari ‘Amru, dari Thalq, dari Qaza’ah, ia berkata : Aku pernah bertanya kepada Ibnu ‘Umar : “Bolehkah aku pergi mendatangi bukit Thuur ?”. Ia menjawab : “Tinggalkan Thuur, janganlah engkau mendatanginya. Janganlah engkau melakukan perjalanan jauh (syaddur-rihaal) kecuali pada tiga masjid” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 4/65; sanadnya hasan].
Dalam hal ini, tidak diketahui adanya penyelisihan di kalangan shahabat terhadap mereka (Bashrah, Abu Hurairah, dan Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhum), dan pemahaman shahabat atas suatu hadits lebih dikedepankan dibandingkan yang lainnya.
Keumuman larangan ini meliputi perjalanan jauh (safar) dalam rangka ibadah ke semua tempat selain tiga masjid, misalnya ziarah ke kubur orang shaalih serta shalat dan bertabarruk di tempat tertentu.
Ibnu Hajar rahimahullah menukil beberapa ulama yang menguatkan pendapat ini:
فَقَالَ اَلشَّيْخُ أَبُو مُحَمَّد اَلْجُوَيْنِيّ : يَحْرُمُ شَدّ اَلرِّحَال إِلَى غَيْرِهَا عَمَلًا بِظَاهِرِ هَذَا اَلْحَدِيثِ ، وَأَشَارَ اَلْقَاضِي حُسَيْن إِلَى اِخْتِيَارِهِ وَبِهِ قَالَ عِيَاض وَطَائِفَة ، وَيَدُلُّ عَلَيْهِ مَا رَوَاهُ أَصْحَابُ اَلسُّنَنِ مِنْ إِنْكَار بَصْرَة اَلْغِفَارِيّ عَلَى أَبِي هُرَيْرَة خُرُوجه إِلَى اَلطُّورِ وَقَالَ لَهُ " لَوْ أَدْرَكْتُك قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مَا خَرَجْت " وَاسْتَدَلَّ بِهَذَا اَلْحَدِيثِ فَدَلَّ عَلَى أَنَّهُ يَرَى حَمْلَ اَلْحَدِيثِ عَلَى عُمُومِهِ ، وَوَافَقَهُ أَبُو هُرَيْرَة
“Asy-Syaikh Abu Muhammad Al-Juwainiy berkata : ‘Diharamkan melakukan perjalanan jauh (syaddur-rihaal) selain dari tiga masjid tersebut berdasarkan dhahir hadits ini. Al-Qaadliy Husain mengisyaratkan pilihannya (terhadap pendapat ini). Dan pendapat inilah yang dipegang oleh ‘Iyaadl dan sekelompok ulama lain. Hal ini ditunjukkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh ashhaabus-sunan dari pengingkaran Bashrah Al-Ghifaariy terhadap Abu Hurairah karena perjalanannya ke bukit Thuur. Ia (Bashrah) berkata kepadanya : ‘Seandainya saja aku bertemu denganmu sebelum engkau pergi ke Bukit Thuur, niscaya engkau tidak akan pergi’. Ia berdalil dengan hadits ini sehingga menunjukkan bahwa ia berpandangan kandungan hadits ini ada pada keumumannya, dan hal itu disepakati oleh Abu Hurairah” [Fathul-Baariy, 3/65].
Al-Qasthalaaniy rahimahullah berkata:
اُخْتُلِفَ فِي شَدّ الرِّحَال إِلَى غَيْرهَا كَالذَّهَابِ إِلَى زِيَارَة الصَّالِحِينَ أَحْيَاء وَأَمْوَاتًا وَالْمَوَاضِع الْفَاضِلَة فِيهَا وَالتَّبَرُّك بِهَا ، فَقَالَ أَبُو مُحَمَّد الْجُوَيْنِيُّ يَحْرُم عَمَلًا بِظَاهِرِ الْحَدِيث ، وَاخْتَارَهُ الْقَاضِي الْحُسَيْن ، وَقَالَ بِهِ الْقَاضِي عِيَاض وَطَائِفَة وَالصَّحِيح عِنْد إِمَام الْحَرَمَيْنِ وَغَيْره مِنْ الشَّافِعِيَّة الْجَوَاز وَخَصَّ بَعْضهمْ النَّهْي فِيمَا حَكَاهُ الْخَطَّابِيُّ بِالِاعْتِكَافِ فِي غَيْر الثَّلَاثَة لَكِنْ لَمْ أَرَ عَلَيْهِ دَلِيلًا
“Diperselisihkan tentang perjalanan jauh (syaddur-rihaal) selain ke tempat tersebut (yaitu tiga masjid yang disebutkan dalam hadits – Abul-Jauzaa’) seperti pergi berziarah ke orang-orang shaalih baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal (yaitu di kuburan) serta tempat-tempat yang mempunyai keutamaan untuk bertabarruk (mencari berkah) dengannya. Abu Muhammad Al-Juwainiy berkata : ‘Diharamkan berdasarkan dhahir hadits’. Al-Qaadliy Al-Husain memilih pendapat tersebut. Pendapat tersebut dipegang oleh Al-Qaadliy ‘Iyaadl dan sekelompok ulama lain. Dan yang benar menurut Imam Al-Haramain dan yang lainnya dari kalangan ulama Syaafi’iyyah adalah diperbolehkan. Sebagian di antara mereka mengkhususkan larangan tersebut – sebagaimana dihikayatkan oleh Al-Khaththaabiy – dalam hal i’tikaaf yang dilakukan di selain tiga masjid tersebut. Akan tetapi aku tidak melihat adanya dalil yang melandasainya” [‘Aunul-Ma’buud, 4/417].
Maalik bin Anas rahimahullah berkata:
مَنْ قَالَ لِلَّهِ عَلَيَّ أَنْ آتِيَ الْمَدِينَةَ أَوْ بَيْتَ الْمَقْدِسِ أَوْ الْمَشْيُ إلَى الْمَدِينَةِ أَوْ إلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ ، فَلَا شَيْءَ عَلَيْهِ إلَّا أَنْ يَكُونَ نَوَى بِقَوْلِهِ ذَلِكَ أَنْ يُصَلِّيَ فِي مَسْجِدِ الْمَدِينَةِ أَوْ مَسْجِدِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ فَإِنْ كَانَتْ تِلْكَ نِيَّتَهُ وَجَبَ عَلَيْهِ الذَّهَابُ إلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ أَوْ إلَى الْمَدِينَةِ رَاكِبًا وَلَا يَجِبُ عَلَيْهِ الْمَشْيُ
“Barangsiapa yang berkata : ‘Wajib bagiku untuk mendatangi Madiinah atau Baitul-Maqdis, atau berjalan menuju Madiinah atau menuju Baitul-Maqdis karena Allah’; maka tidak ada kewajiban apapun baginya (untuk ditunaikan) kecuali jika ia berniat dengan perkataannya itu untuk shalat di Masjid Madiinah (Masjid Nabawiy) atau masjid Baitul-Maqdis. Jika memang itu niatnya, wajib baginya untuk pergi ke Baitul-Maqdis atau Madiinah dengan naik kendaraan, namun tidak wajib baginya berjalan kaki” [Al-Mudawwanah, 3/255 – via Syaamilah].
Dapat dipahami dari perkataan Maalik bahwa semata-mata bernadzar pergi ke Madiinah dengan niat untuk berziarah ke kubur Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam atau kubur para shahabat, maka tidak wajib ditunaikan. Padahal, asal pelaksanaan nadzar adalah wajib. Nadzar tidak wajib dilaksanakan apabila nadzar tersebut bukan amalan ketaatan, diharamkan, atau tidak disyari’atkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Ibnu ‘Abdil-Barr, fuqahaa’ madzhab Maalikiyyah, menjelaskan senada:
ولم يختلف العلماء فيمن قال: علي المشي إلى بيت المقدس، أو إلى مسجد المدينة، ولم ينو الصلاة في واحد من المسجدين، وإنما أراد قصدهما لغير الصلاة، أنه لا يلزمه الذهاب إليهما
“Dan tidak diperselisihkan para ulama atas orang yang berkata : ‘Wajib bagiku berjalan menuju Baitul-Maqdis atau menuju Masjid Madiinah’, tanpa berniat shalat pada salah satu di antara dua masjid tersebut dimana niatnya ke sana hanyalah selain shalat; maka tidak wajib baginya pergi ke dua masjid tersebut” [Al-Istidzkaar, 5/342].
Ibnu ‘Abdil-Haadiy rahimahullah berkata:
ولو نذر السفر إلى غير المساجد أو السفر إلى مجرد قبر نبي ، أو صالح لم يلزمه الوفاء بنذر باتفاقهم ، فإن هذا السفر لم يأمر به النبي - صلى الله عليه وسلم - ، بل قد قال : (( لا تشد الرحال إلا إلى ثلاثة مساجد )) وإنما يجب بالنذر ما كان طاعة ، وقد صرح مالك وغيره بأن من نذر السفر إلى المدينة النبوية إن كان مقصوده الصلاة في مسجد النبي - صلى الله عليه وسلم - وفى بنذره ، وإن كان مقصوده مجرد زيارة القبر من غير صلاة في المسجد لم يف بنذره ، قال : لأن النبي - صلى الله عليه وسلم - قال : (( لا تعمل المطي إلا إلى ثلاثة مساجد )).
“Dan seandainya seseorang bernadzar untuk safar menuju selain dari masjid-masjid atau safar menuju kubur Nabi saja atau orang shaalih, maka tidak wajib baginya untuk menepati nadzar tersebut berdasarkan kesepakatan mereka, karena safar ini tidaklah diperintahkan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Janganlah engkau melakukan perjalanan jauh (safar) kecuali menuju tiga masjid’. Yang diwajibkan dalam nadzar hanyalah sepanjang merupakan ketaatan (kepada Allah). Maalik dan yang lainnya telah menjelaskan bahwa siapa saja yang bernadzar untuk safar menuju Madiinah Nabawiyyah jika maksudnya adalah melaksanakan shalat di Masjid Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ia harus melaksanakan nadzarnya. Jika maksudnya hanyalah murni berziarah kubur (Nabi) tanpa shalat di dalam masjid, nadzarnya tidak boleh ditunaikan. Karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Tidaklah hewan tunggangan dipersiapkan untuk perjalanan jauh kecuali menuju tiga masjid’ [Ash-Shariimul-Munkiy, hal. 33].
Adapun Asy-Syaafi’iy rahimahullah berkata:
وَلَوْ نَذَرَ فَقَالَ: عَلَيَّ الْمَشْيُ إلَى إفْرِيقِيَّةَ، أَوِ الْعِرَاقِ، أَوْ غَيْرِهِمَا مِنَ الْبُلْدَانِ، لَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ شَيْءٌ ؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ لِلَّهِ طَاعَةٌ فِي الْمَشْيِ إلَى شَيْءٍ مِنَ الْبُلْدَانِ، وَإِنَّمَا يَكُونُ الْمَشْيُ إلَى الْمَوَاضِعِ الَّتِي يُرْتَجَى فِيهَا الْبِرُّ، وَذَلِكَ الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ، وَأَحَبُّ إلَيَّ لَوْ نَذَرَ أَنْ يَمْشِيَ إلَى مَسْجِدِ الْمَدِينَةِ أَنْ يَمْشِيَ، وَإِلَى مَسْجِدِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ أَنْ يَمْشِيَ ؛ لِأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إلَّا إلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ ؛ الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ، وَمَسْجِدِي هَذَا، وَمَسْجِدُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ "
“Seandainya seseorang bernadzar, lalu ia berkata : ‘Wajib bagiku berjalan menuju Afrika atau ‘Iraaq, atau negeri-negeri yang lain’, maka tidak ada kewajiban apapun baginya (untuk ditunaikan), karena tidak ada ketaatan kepada Allah dalam perjalanan menuju negeri-negeri tersebut. Satu perjalanan itu hanyalah dilakukan menuju tempat-tempat yang diharapkan padanya kebaikan. Dan itu adalah Masjid Haraam. Dan aku suka seandainya ia bernadzar berjalan menuju Masjid Madiinah dan Masjid Baitul-Maqdis, lalu ia pun melakukannya dengan berjalan. Hal itu dikarenakan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : ‘Janganlah engkau melakukan perjalanan jauh (safar) kecuali menuju tiga masjid: Al-Masjid Haram, masjidku ini (Masjid Nabawiy), dan MasjidBaitul-Maqdis’…….” [Al-Umm, 2/280].
Ibnu Baththah Al-‘Ukbariy rahimahullah berkata:
وَمِنَ الْبِدَعِ : البناءُ على القبورِ، وَتَجْصِيصُهَا، وَشَدُّ الرِّحَالِ إِلَى زِيَارَتِهَا
“Dan termasuk diantara bid’ah adalah : membangun bangunan di atas kubur dan mengkapurnya, serta melakukan perjalanan jauh (syaddur-rihaal) dalam rangka menziarahinya” [Asy-Syarh wal-Ibaanah, hal. 274].
Muhyiddiin Al-Barqawiy Al-Hanafiy rahimahullah berkata:
فإن جمهور العلماء قالوا: السفر إلى زيارة قبور الأنبياء والصالحين بدعة، لم يفعلها أحد من الصحابة والتابعين، ولا أمر بها رسول رب العالمين، ولا استحبها أحد من أئمة المسلمين. فمن اعتقد ذلك قربة وطاعة، فقد خالف الإجماع. ولو سافر إليها بذلك الاعتقاد، يحرم بإجماع المسلمين
“Sesungguhnya jumhur ulama berkata : ‘Safar dalam rangka berziarah ke kubur para Nabi dan orang-orang shaalih adalah bid’ah, tidak pernah dilakukan oleh seorang pun dari kalangan shahabat dan taabi’iin; tidak diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; serta tidak pula dianggap mustahab oleh seorang pun dari imam kaum muslimin. Barangsiapa meyakini hal itu adalah amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya, sungguh ia telah menyelisihi ijmaa’. Seandainya ia melakukan safar ke tempat tersebut tanpa adanya satu keyakinan, maka tetap diharamkan berdasarkan iijmaa’ kaum muslimin” [Ziyaaratul-Qubuur, hal. 18].
Semoga artikel ini ada manfaatnya.
Wallaahu a’lam.

[abul-jauzaa’ – 09042014 : 15:50].


from=http://abul-jauzaa.blogspot.fr/2014/04/larangan-safar-dalam-rangka-ibadah.html
Baca Selengkapnya >>>

Rabu, 16 Desember 2015

Larangan Memungut Barang Tercecer Milik Penduduk Makkah dan Jama'ah Haji

عن عبد الرحمن بن عثمان التيمي أن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى عن لقطة الحاج
Dari ‘Abdurrahman bin ‘Utsman At-Taimi radliyallaahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang memungut barang jama’ah haji (HR. Muslim no. 1724).
عن بن عباس رضى الله تعالى عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم فتح مكة إن هذا البلد حرمه الله لا يعضد شوكه ولا ينفر صيده ولا يلتقط لقطته إلا من عرفها
Dari Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhuma ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallampada hari Fathu Makkah : “Sesungguhnya Allah telah memuliakan negeri ini, tidak boleh dicabut durinya, diburu binatangnya, dan dipungut barang yang tercecer di dalamnya kecuali bagi orang yang ingin mengumumkannya” (HR. Bukhari no. 1834).

عن أبي هريرة رضى الله تعالى عنه قال لما فتح الله على رسوله صلى الله عليه وسلم مكة قام في الناس فحمد الله وأثنى عليه ثم قال ........ولا تحل ساقطتها إلا لمنشد....
Dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu ia berkata : Ketika Allah membukakan Makkah (Fathu Makkah) bagi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau berdiri di hadapan manusia. Kemudian beliau mengucapkan pujian dan sanjungan kepada Allah seraya bersabda : “…..Dan tidak halal barang yang tercecer di dalamnya kecuali bagi orang yang ingin mengumumkannya….” (HR. Bukhai no. 2434).
Kandungan Bab :
1.    Tidak halal memungut barang yang tercecer milik jama’ah haji atau penduduk Makkah untuk memilikinya meskipun setelah mengumumkannya.
2.    Boleh mengambil barang yang tercecer milik jama’ah haji dan penduduk Makkah untuk diumumkan atau dipublikasikan.
Berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
ولا تحل ساقطتها إلا لمنشد
“Dan tidak halal barang yang tercecer di dalamnya kecuali bagi orang yang ingin mengumumkannya”
Dan dalam hadits lain berbunyi :
ولا يلتقط لقطته إلا من عرفها
“Dan tidak boleh dipungut barang yang tercecer di dalamnya kecuali bagi orang yang ingin mengumumkannya”
Asy-Syaukani berkata dalam kitab Nailul-Authar (6/96) :“Pengkhususan barang tercecer milik jama’ah haji memunculkan kerumitan dalam masalah seperti ini. Padahal barang yang tercecer harus diumumkan tanpa dibedakan antara barang milik jama’ah haji atau selainnya. Kerumitan ini dapat dijawab sebagai berikut : Bahwa maknanya adalah barang tercecer milik jama’ah haji tidak halal kecuali bagi orang yang ingin mengumumkannya saja tanpa boleh memilikinya (memanfaatkannya). Adapun bagi orang yang ingin mengumumkannya tanpa memiliki atau memanfaatkannya, maka dibolehkan”.
Al-Hafidh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani berkata dalam kitab Fathul-Bari (5/88) : “Hadits Abdullah bin ‘Abbaas dan Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhum yang dicantumkan dalam bab ini dapat diangkat sebagai dalil bahwa barang yang tercecer di Makkah dilarang dipungut untuk dimiliki, namun hanya boleh diambil untuk diumumkan. Ini merupakan pendapat jumhur ulama. Perkara ini dkhususkan karena tidak ada kemungkinan mencari pemiliknya. Jika barang itu milik penduduk Makkah, maka urusannya tentu sudah jelas. Namun, apabila barang itu milik orang asing yang berasal dari luar negeri, maka biasanya negeri-negeri tersebut dikunjungi oleh para musafir. Apabila penemu barang mengumumkannya tiap tahun, maka akan lebih memudahkan untuk mengetahui pemilik barang tersebut. Demikianlah dikatakan oleh Ibnu Baththal”.
[Ditulis kembali oleh Abul-Jauzaa’ dari buku Ensiklopedi Larangan Jilid 2 karangan Syaikh Salim Al-Hilaly; Pustaka Imam As-Syafi’I, Cet. I; 1426/2005; halaman 355-356].

from=http://abul-jauzaa.blogspot.fr/2010/07/larangan-memungut-barang-tercecer-milik.html
Baca Selengkapnya >>>

Rabu, 09 Desember 2015

Larangan Mengatakan : "Aku Telah Lupa Ayat Ini dan Ini"

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu, ia berkata : Aku mendengar Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
بِئْسَ مَا لِأَحَدِهِمْ يَقُوْلُ : نَسِيْتُ أَيَةَ كَيْتَ وَكَيْتَ بَلْ هُوَ نُسِّيَ
“Sungguh buruk orang yang berkata : Aku lupa ayat ini dan ini. Namun sebenarnya ia dibuat lupa (oleh Allah ‘azza wa jalla)” [HR. Al-Bukhari no. 5039 dan Muslim no. 791].

Masih dari Abdullah bin Mas’ud radliyallaahu ’anhu, ia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
لا يَقُلْ أَحَدُكُم : نَسِيْتُ أَيَةَ كَيْتَ وَكَيْتَ بَلْ هُوَ نُسِّيَ
“Janganlah seseorang dari kamu mengatakan : ‘Aku lupa ayat ini’. Karena sesungguhnya ia dibuat lupa (oleh Allah ‘azza wa jalla)” [HR. Muslim no. 790 dan 229].

Kandungan Hadits :
  1. Larangan mengatakan : “Aku lupa ayat ini dan ini”. Perkataan tersebut mengesankan ketidakpeduliannya terhadap Al-Qur’an. Sebab, biasanya lupa itu terjadi karena tidak mengulang-ulanginya atau karena sering melalaikannya. Andaikata rutin membacanya dan mengulang-ulangnya dalam shalat niscaya hafalannya akan awet dan ia akan mudah mengingatnya. Perkataan seseorang : “Aku lupa ayat ini”; merupakan persaksian atas kelalaian dirinya.
  2. Boleh mengatakan : “Aku dibuat lupa ayat ini dan ini atau aku dibuat terlupa ayat ini dan ini”. Yakni Allahlah yang membuatnya lupa. Dan ini merupakan penyandaran perbuatan tersebut kepada Allah yang telah menciptakannya.
  3. Kita harus selalu mengulang-ulangi Al-Qur’an dan memelihara hafalannya serta selalu mengingat-ingatnya. Karena hafalan Al-Qur’an itu lebih cepat hilangnya dari dada kita dari unta yang terlepas dari ikatannya.

[Dinukil dari Mausuah Al-Manahiyyisy-Syar’iyyah (Ensiklopedi Larangan) – Asy-Syaikh Salim Al-Hilaly hafidhahullah ta’ala].
from=http://abul-jauzaa.blogspot.fr/2008/07/larangan-mengatakan-aku-telah-lupa-ayat.html
Baca Selengkapnya >>>

Selasa, 17 November 2015

Larangan Meninggikan Suara di Sisi Jenazah

Para ulama sepakat dimakruhkannya meninggikan suara di sisi jenazah, sebagaimana hal itu dikatakan para shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallamdan pembesar taabi’iin[1], dimana hal itu merupakan madzhab imam empat[2].
Mereka ber-istidlaal atas pendapat itu dengan beberapa dalil di antaranya :

Pertama : Riwayat yang berasal dari Abu Hurairahradliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
لَا تُتْبَعُ الْجِنَازَةُ بِنَارٍ، وَلَا صَوْتٍ
“Janganlah jenazah diiringi dengan api dan suara”.[3]
Suara dalam hadits di atas mencakup ratapan, qiraa’ah (bacaan), dzikir, dan yang lainnya. Sebagian jenis suara tersebut terdapat dalil yang menunjukkan pengharamannya (tidak sekedar makruh – Abul-Jauzaa’).[4]
Kedua : Riwayat yang berasal dari beberapa orang shahabat yang menyatakan kemakruhannya, diantaranya :
Atsar dari Qais bin ‘Abbaad[5], ia berkata :
كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم يكرهون رفع الصوت عند ثلاث : عند القتال، وعند الجنائز، وعند الذكر
“Adalah para shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam membenci mengangkat/meninggikan suara dalam tiga keadaan : saat peperangan, saat berada di sekitar jenazah-jenazah, dan saat berdzikir”.[6]
Ketiga : Mereka berkata bahwa perbuatan itu termasuk tasyabbuh dengan Ahli Kitab, karena ia termasuk adat kebiasaan mereka[7] sehingga hukumnya makruuh.[8]
Keempat : Mereka berkata : Dikarenakan sikap diam dan tenang lebih menentramkan jiwa dan mengkonsentrasikan pikiran terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan jenazah. Itulah yang dituntut dalam keadaan tersebut.[9]
Madzhab jumhur ulama dalam perkara inilah yang benar (yaitu makruuh). Dan nampak bahwasannya yang menghalangi mereka menetapkan pengharamannya adalah tidak shahihnya nash dalam pelarangan. Adapun orang yang melakukannya dengan alasanta’abbud dengan keyakinan disunnahkannya perbuatan itu,  maka tidak syakk (ragu) lagi akan status keharamannya. Adapun alasan bahwa perbuatan orang tersebut menyerupai Ahli Kitaab, tidaklah hal itu termasuk yang nampak dari adat kebiasaan mereka yang nyata. Dan hal itu sudah tidak diketahui lagi (kenyataannya) dari mereka sekarang. Namun jika realitasnya tidak seperti itu (yaitu perbuatan meninggikan suara nampak nyata dalam adat kebiasaan mereka- Abul-Jauzaa’), maka meninggikan suara di sisi jenazah menjadi haram hukumnya, wallaahu a’lam.
[Abu Al-Jauzaa’ - Dari buku At-Tasyabbuh Al-Manhiy ‘anhu fil-Fiqhil-Islaamiy oleh Jamiil bin Habiib Al-Luwaihiq Al-Mathiiriy, hal. 313-314; Thesis Fakultas Syari’ah Univ. Ummul-Qurraa’, 1417 H].


[1]      Lihat Al-Ausath oleh Ibnul-Mundzir 5/389.
[2]      Lihat : Badaai’ush-Shanaai’ oleh Al-Kasaaniy 1/310, Al-Fataawaa Al-Hindiyyah 1/162,Syarh Al-Kharsyiy ‘alaa Khaliil 2/137, Al-Adzkaar oleh An-Nawawiy hal. 136, Al-Mustau’aboleh As-Saamiriy 2/148, dan kasysyaaful-Qinaa’ oleh Al-Bahuutiy 2/130.
[3]      Musnad Al-Imaam Ahmad, lihat Al-Fathur-Rabbaaniy oleh As-Saa’atiy, Bab : An-Nahyu ‘an Ittibaa’il-Janaazati bi-Shiyaahin au Naar, hadits no. 214 – 8/20; dan Sunan Abi Daawud, Kitaabul-Janaaiz, Baab : Fin-Naar Yatba’u bihal-Mayyit, hadits no. 3171 – 3/203. Dalam sanadnya terdapat perawi majhuul.
[4]      Lihat : Al-Fathur-Rabbaaniy oleh As-Saa’atiy 8/20, dan Al-Kharsyiy ‘alaa Khaliil 2/137.
[5]      Ia adalah Qais bin ‘Abbaad Al-Qaisiy, Abu ‘Abdillah Al-Bashriy, tabi’iy muhdlaram (hidup semasa Jahiliyyah, namun tidak berjumpa dengan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam- Abul-Jauzaa’) lagi tsiqah. Datang ke Madinah saat masa pemerintahan ‘Umar (bin Al-Khaththaab). Ia meriwayatkan hadits dari sekelompok shahabat, namun diragukan periwayatannya dari beberapa shahabat yang lainnya. Lihat : Tahdziibut-Tahdziib oleh Ibnu Hajar, biografi no. 5802 – 8/346, dan At-Taqriib oleh Ibnu Hajar biografi no. 5582 – hal. 457.
[6]      Lihat : Al-Ausath oleh Ibnul-Mundzir 5/389.
[7]      Lihat : Iqtidlaa’ Ash-Shiraathil-Mustaqiim oleh Ibnu Taimiyyah 1/316.
[8]      Lihat : Badaai’ush-Shanaai’ oleh Al-Kasaaniy 1/310, dan Al-Fathur-Rabbaaniy oleh As-Saa’atiy 8/20.
[9]      Lihat : Al-Adzkaar oleh An-Nawawiy hal. 136.







from=http://abul-jauzaa.blogspot.fr/2011/01/larangan-meninggikan-suara-di-sisi.html
Baca Selengkapnya >>>