Islam Pedoman Hidup: Tasyabbuh
Tampilkan postingan dengan label Tasyabbuh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tasyabbuh. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Juni 2021

Hukum Membeli Diskon Natal dan Hari Raya Non-Muslim

 



Perlu diketahui bahwa hukum asal muamalah dengan non-muslim adalah boleh. Sebagaimana dalam hadits bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermuamalah dengan yahudi di Madinah dan orang kafir Quraisy, baik dalam jual beli, pinjam-meminjam, gadai dan dalam muamalah lainnya.

Berikut hadits mengenai muamalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana baju perang beliau masih dalam keadaan tergadaikan pada seorang Yahudi ketika beliau meninggal.

Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,

ﺗُﻮُﻓِّﻰَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻭَﺩِﺭْﻋُﻪُ ﻣَﺮْﻫُﻮﻧَﺔٌ ﻋِﻨْﺪَ ﻳَﻬُﻮﺩِﻯٍّ ﺑِﺜَﻼَﺛِﻴﻦَ ﺻَﺎﻋًﺎ ﻣِﻦْ ﺷَﻌِﻴﺮٍ

“Ketika Rasulullah  wafat, baju besi beliau tergadaikan pada orang Yahudi sebagai jaminan untuk 30 sha’ gandum.”[1]

Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa berdasarkan hadits ini bolehnya bermuamalah dengan orang kafir, beliau berkata

وفي الحديث جواز معاملة الكفار فيما لم يتحقق تحريم عين المتعامل فيه

“Hadits ini merupakan dalil bolehnya bermuamalah dengan orang kafir selama belum terbukti keharamannya.[2]

Boleh membeli diskon natal dan perayaan non-muslim dengan syarat berikut

Sebagaimana kita ketahui bahwa agama kita melarang ikut serta dalam perayaan agama orang kafir dan tidak boleh mengucapkan selamat kepada mereka walaupun sekedar formalitas karena ini menunjukkan bentuk ridha pada perayaan agama mereka. Silahkan baca tulisan berikut:

https://islampedomanhidup.blogspot.com/2021/06/ucapan-selamat-natal-satu-kalimat-yang.html

Muncul pertanyaan, ketika ada perayaan agama mereka, terkadang ada diskon pada beberapa toko dan penjualan produk, apakah muslim boleh membelinya atau tidak?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bolehnya hal ini dengan membawa kisah imam Ahmad yang ditanya, apakah boleh datang ke pasar mereka untuk membeli saja dan tidak sampai masuk ke gereja mereka, yaitu ketika ada perayaan agama mereka. Imam Ahmad membolehkan hal ini, kemudian Ibnu Taimiyyah berkata,

ﻓﻤﺎ ﺃﺟﺎﺏ ﺑﻪ ﺃﺣﻤﺪ ﻣﻦ ﺟﻮﺍﺯ ﺷﻬﻮﺩ ﺍﻟﺴﻮﻕ ﻓﻘﻂ ﻟﻠﺸﺮﺍﺀ ﻣﻨﻬﺎ، ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺩﺧﻮﻝ ﺍﻟﻜﻨﻴﺴﺔ، ﻓﻴﺠﻮﺯ؛ ﻷﻥ ﺫﻟﻚ ﻟﻴﺲ ﻓﻴﻪ ﺷﻬﻮﺩ ﻣﻨﻜﺮ، ﻭﻻ ﺇﻋﺎﻧﺔ ﻋﻠﻰ ﻣﻌﺼﻴﺔ؛

“Adapun jawaban Imam Ahmad yang membolehkan datang ke pasar saja untuk menbeli tanpa masuk ke gereja, maka boleh saja, karena tidak termasuk menghadiri acara kemungkaran dan tidak membantu mereka dalam kemaksiatan.”[3]

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid juga menjelaskan bahwa hal ini boleh dengan dua syarat, beliau berkata:

ﻻ ﺣﺮﺝ ﻓﻲ ﺷﺮﺍﺀ ﺍﻟﻤﻼﺑﺲ ﻭﺍﻷﺛﺎﺙ ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ ﻓﻲ ﻣﻮﺳﻢ ﺃﻋﻴﺎﺩ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ ﻛﺎﻟﻜﺮﻳﺴﻤﺲ ، ﺑﺸﺮﻁ ﺃﻻ ﻳﺸﺘﺮﻱ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻣﺎ ﻳﺴﺘﻌﺎﻥ ﺑﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻻﺣﺘﻔﺎﻝ ﺑﺎﻟﻌﻴﺪ ﺃﻭ ﺍﻟﺘﺸﺒﻪ ﺑﺎﻟﻜﻔﺎﺭ ﻓﻲ ﻋﻴﺪﻫﻢ .

“Boleh menjual beli pakaian, perabotan dan lain-lainnya ketika terkait dengan momen perayaan agama orang kafir seperti natal, dengan syarat jual beli ini tidak membantu mereka untuk merayakan hari raya mereka atau menyerupai mereka dalam hari raya mereka.

Beliau melanjutkan,

ﺃﻧﻪ ﻳﺠﻮﺯ ﻟﻠﻤﺴﻠﻢ ﻓﺘﺢ ﻣﺘﺠﺮﻩ ﻓﻲ ﺃﻳﺎﻡ ﺃﻋﻴﺎﺩ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ ، ﺑﺸﺮﻃﻴﻦ :
ﺍﻷﻭﻝ : ﺃﻻ ﻳﺒﻴﻊ ﻟﻬﻢ ﻣﺎ ﻳﺴﺘﻌﻤﻠﻮﻧﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻌﺼﻴﺔ ﺃﻭ ﻳﺴﺘﻌﻴﻨﻮﻥ ﺑﻪ ﻋﻠﻰ ﺇﻗﺎﻣﺔ ﻋﻴﺪﻫﻢ .
ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ : ﺃﻻ ﻳﺒﻴﻊ ﻟﻠﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻣﺎ ﻳﺴﺘﻌﻴﻨﻮﻥ ﺑﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺘﺸﺒﻪ ﺑﺎﻟﻜﻔﺎﺭ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻋﻴﺎﺩ

“Boleh bagi seorang muslim melakukan jual-beli pada hari raya orang kafir dengan dua syarat:

Pertama: Tidak menjual untuk mereka yang bisa membantu mereka untuk melakukan kemaksiatan dan membantu melakukan hari raya mereka (misalnya menjual perlengkapan natal atau kue-kue khas natal, pent)

Kedua: Tidak menjual kepada kaum muslimin yang bisa menyerupai orang kafir (tasyabbuh) pada hari raya tersebut (misalnya, menjual petasan, lonceng khas natal, topi sinterklas, pent).”[4]

Muhammad Syam Al-Haq dalam kitab ‘Aunul Ma’bud menjelaskan rinciannya, bahwa maksud boleh membeli di sini adalah membeli apa yang ia biasa beli dalam kesehariannya, semisal biasa membeli di tempat itu kemudian ada diskon, ia beli sesuai dengan kebutuhannya yang menjadi kebiasaannya. Beliau berkata,

عن القاضي أبي المحاسن الحسن بن منصور الحنفي أن من اشترى فيه شيئاً لم يكن يشتريه في غيره أو أهدى فيه هدية فإن أراد بذلك تعظيم اليوم كما يعظمه الكفره فقد كفر وإن أراد بالشراء التنعم والتنزه وفي الإهداء التحاب جرياً على العادة لم يكن كفراً لكنه كان مكروه كراه التشبه بالكفرة فحينئذٍ يحترز عنه”

“Dari Al-Qadhi Abul Mahasin al Hasan bin Manshur al Hanafi (berkata) bahwa siapa saja yang pada saat hari raya orang kafir membeli sesuatu yang biasanya tidak dia beli di hari-hari yang lain atau memberikan hadiah pada hari tersebut untuk bermaksud mengagungkan hari raya orang kafir sebagaimana pengagungan orang-orang kafir maka dia menjadi kafir karenanya.

Akan tetapi jika ia bermaksud membeli barang tersebut pada waktu itu adalah ingin mengambil manfaat barang tersebut dan maksud hatinya dengan memberi hadiah adalah mewujudkan rasa cinta sebagaimana biasanya maka tidak kafir akan tetapi terlarang karena menyerupai orang kafir. Karenanya hal ini harus dijauhi.[5]

Demikian semoga bermanfaat

@ Yogyakarta Tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel www.muslim.or.id

Catatan kaki:

 [1] HR. Bukhari no. 2916
 [2] Fathul Bari 5/141, Darul Ma’rifah, Beirut, 1397 H, syamilah
 [3] Iqtidha’ Shiratil Mustaqim 2/14
 [4] Sumber: https://islamqa.info/ar/145676
 [5] ‘Aunul Ma’bud 3/341

Sumber: https://muslim.or.id/35296-hukum-membeli-diskon-natal-dan-hari-raya-non-muslim.html

Baca Selengkapnya >>>

Rabu, 03 Mei 2017

Apakah Boleh Menghadiri Wisuda Sebuah Kampus Yang Biayai Oleh Budha ?



97014: Apakah Boleh Menghadiri Wisuda Sebuah Kampus Yang Biayai Oleh Budha ?


Saya termasuk yang tinggal di daerah minoritas umat Islamnya, suatu ketika kami di wisuda untuk meraih gelar sarjana (S1), ada dua perkara yang menjadikan saya bertanya-tanya adalah:
1. Pada acara tersebut dihadiri oleh para rahib dari agama Budha, mereka berdoa’ dan berdzikir –menurut keyakinan agama mereka- agar memberikan berkah pada wisuda kami sebagaimana kebiasaan di negara kami. Maka bagaimanakah hukumnya menghadiri wisuda tersebut ?,
2. Apakah menghadirinya termasuk menghinakan agama Islam kita ?, jika wisuda tersebut dimulai sebelum Dzuhur dan selesai setelah Ashar, maka berarti akan melewati sholat Dzuhur, apakah boleh menjama’ ta’khir sholat Dzuhur dan Ashar ? atau tidak boleh menghadirinya sama sekali ?
Alhamdulillah
Semoga Alloh –Ta’ala- memberikan keberkahan kepada anda yang telah lulus dan semoga ilmu anda bermanfaat bagi umat Islam.
Pada saat para mahasiswa diwisuda akan terkumpul dua kebahagiaan sekaligus, kebahagiaan mahasiswa atas kelulusannya, dan kebahagiaan keluarga akan keberhasilan anaknya. Hal ini merupakan bagian dari nikmat Alloh –Ta’ala- kepada para hamba-Nya dan keagungan karunia dan rahmat-Nya.
Maka menjadi kewajiban kita untuk mensyukuri nikmat tersebut dengan memperhatikan hak Alloh dan syari’ah-Nya, hanya saja kami berpendapat –alangkah disayangkan- banyak terjadi penyimpangan dan maksiat pada pelaksanaan wisuda para mahasiswa, hingga menjadi kebiasaan dalam realita wisuda masyarakat dan kebiasaan mereka, di antaranya adalah:
1.      Pelaksaan wisuda diiringi dengan alunan musik, kebanyakan juga mengundang kelompok musik yang terkenal, musik tersebut sudah menjadi salah satu rukun penting dalam banyak perayaan, termasuk pada acara wisuda.
Hukum mendengarkan alunan musik pada syariat Islam adalah haram, sebagian ulama menyatakan hukum tersebut sudah disepakati, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya pada jawaban soal nomor: 5000.
2.      Berbaur antara mahasiswa dan mahasiswi, mereka semua duduk di satu tempat, pintu keluar masuknya mereka pada satu pintu, para tamu undangan pun berbaur antara laki-laki dan perempuan, di antara mereka juga ada wanita yang berpakaian transparan (tidak menutup aurat) dan memakai wewangian, tidak ada rasa malu untuk mengungkapkan perasaan bahagianya dengan sesuatu yang tidak layak seperti bersuara keras, gerakan tubuh yang berlenggoktepuk tangansiulanbersalaman dengan laki-laki, dan yang lain-lain dari bentuk kemungkaran yang terjadi karena berbaur yang diharamkan.
3.      Sedangkan pakaian wisuda yang biasa dipakai sekarang adalah baju kurung hitam dengan topi lingkaran yang ditutup dengan segi empat, seragam tersebut termasuk ciri khas pakaian orang kafir kemudian beralih kepada kita, sebagian para ulama menyebutkan bahwa model pakaian tersebut diambil dari pakaian para rahib, para pastur pada masa tertentu, oleh karenanya mereka memfatwakan haram memakainya.
Syeikh Bakr Abu Zaid –hafidzahullah- berkata:
Penguji skripsi datang dengan memakai  jubah atau kostum hitam, hal ini merupakan kebiasaan pada gereja pada saat menerima beberapa pengaduan yang masuk, diwajibkan bagi para ulama dan ahlul iman untuk menyelisihi mereka”. (Al Majmu’ah al Ilmiyah, Rasail at Taklim: 89)
Ulama’ Lajnah Daimah lil Ifta’ berkata: Diharamkan bagi seorang muslim untuk menyerupai orang-orang kafir dalam hal pakaian khusus mereka, baik orang-orang kafir dari kalangan Yahudi, nasrani atau yang lainnya; berdasarkan keumuman dalil-dalil dari al Qur’an dan sunnah yang melarang untuk menyerupai mereka, diantaranya adalah sebagaimana yang diriwayatkan dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda
( من تشبه بقوم فهو منهم ) أخرجه الإمام أحمد وأبو داود وغيرهما
Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka”. (HR. Imam Ahmad dan Abu Daud dan lainnya)
Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda pada saat melihat Abdulloh bin ‘Amr dua pakaian yang berwarna merah: 
( إن هذه من ثياب الكفار فلا تلبسها ) خرجه مسلم في صحيحه ،
Pakaian ini termasuk pakaian orang-orang kafir, maka jangan dipakai”. (HR. Muslim dalam Shahihnya)
Diriwayatkan dalam Shahih Muslim bahwa Umar –radhiyallahu ‘anhu- telah menulis surat kepada pegawainya di Adzarbijan “Utbah bin Furqad –radhiyallahu ‘anhu- yang di antara isinya adalah: 
( وإياكم والتنعم وزي أهل الشرك ولبوس الحرير(
Janganlah kalian menikmati kostum orang-orang musyrik dan memakai kain sutera”.
Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, maka tidak boleh memakai pakaian “toga” pada saat wisuda sekolah, mahad, atau fakultas; karena termasuk pakaiannya orang nasrani. Menjadi kewajiban seorang muslim untuk menjaga izzah agama Islam dan para Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, dan janganlah terpesona untuk bertaklid kepada mereka yang dimurkai dan disesatkan dari kalangan orang-orang yahudi, nasrani dan yang lainnya”. (Fatawa Lajnah Daimah: 24/26-27)
Ulama Lajnah Daimah lil Ifta’ juga pernah ditanya:
Kampus-kampus di Amerika ada perbuatan taklid, pada saat mahasiswa menyelesaikan studinya dan diwisuda mereka memakai kostum khusus semacam baju kurung serupa dengan gamis arab, dengan topi khusus pula, katanya kostum tersebut dahulu adalah kostumnya para rahib mereka, maka apakah boleh bagi seorang mahasiswa muslim pada saat mengikuti prosesi wisuda ikut memakai kostum tersebut ?
Mereka menjawab:
Tidak boleh bagi mahasiswa muslim memakai kostum tersebut jika termasuk pakaian khusus para rahib, berdasarkan sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-:
( من تشبه بقوم فهو منهم )
Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka”.
Larangan tersebut menjadi jelas jika diketahui bahwa kostum tersebut termasuk syiar dari para rahib mereka”. (Fatawa Lajnah Daimah: 24/98)
4.      Kemungkaran terbesar yang terjadi pada wisuda tersebut adalah meninggalkan sholat; karena proses wisuda berlangsung lama disela-sela waktu sholat tiba, kemudian anda tidak melihat para undangan, mahasiswa atau panitia penyelenggaranya yang menjaga hak Alloh dan menunaikan kewajiban mereka kepada-Nya, mereka tidak memperhatikan suara adzan dan dzikir, mereka melupakan hak Alloh –Ta’ala-, mereka sibuk dengan kegiatan duniawi yang fana, dan seutas kenikmatan yang sebentar, mereka menutup mata dari firman Alloh –Ta’ala-:
( فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا ) مريم/ 59
Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan”. (QS. Maryam: 59)
Ibnu Mas’ud berkata: “Makna (أضاعوها) bukan meninggalkan sholat secara keseluruhan, akan tetapi mengakhirkannya waktunya”.
Ibnu Hajar al Haitsami –rahimahullah- berkata:
Dosa besar yang ke-77 adalah sengaja mengakhirkan sholat dari waktunya, atau mendahulukannya tanpa udzur”. (Az Zawajir ‘an Iqtiraaf al Kabair: 1/220-221)
Hadirnya orang-orang budha pada acara wisuda tersebut dengan mengadakan ritual keagamaan agar prosesi wisuda diberkahi –menurut keyakinan mereka- termasuk kemungkaran yang lain. Keberkahan yang mana yang akan diterima dengan diiringi syirik kepada Alloh –Ta’ala- dan kufur kepada-Nya, dan tidak boleh bagi anda untuk menghadiri tempat-tempat syirik kecuali dalam keadaan darurat atau karena dipaksa, Alloh –Ta’ala- berfirman:
وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا) النساء/140 . 
Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur'an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam”. (QS. An Nisa’: 140)
Atas dasar itulah, maka hadir dalam acara tersebut hukumnya adalah haram, dan jika haram maka tidak ada alasan untuk menjama’ sholat Dzuhur dan Ashar.
Wallhu a’lam.
______________
Syekh Muhammad Sholeh Al-Munajid

from = https://islamqa.info/id/97014
Baca Selengkapnya >>>

Senin, 06 Februari 2017

Hukum Memakai Gelang Bagi Pria

Haram Laki-laki Pakai Gelang?

Assalamualaikum warahmatullah hi wabarakatu,, ustad saya mau bertanya,,,bolehkah seorang pria memakai asesoris seperti gelang (bukan terbuat dari emas dan perak),, yang terbuat dari karet dan benang,, dan bagiamana menurut pandangan syariat islam? apakah sah sholatnya jga?
Dari : Cahya Kurniawan
via Tanya Ustadz for Android
Jawaban :
Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh.
Bismillah wassholaatu wassalam ‘ala Rasulillah, waba’du.
Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kaum laki-laki menyerupai wanita dan melarang kaum wanita untuk menyerupai laki-laki. Bahkan beliau mendo’akan laknat bagi mereka yang melakukan demikian. Ibnu Abbas radhiyallahu `anhuma mengatakan,
لعن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المتشبهين من الرجال بالنساء، والمتشبهات من النساء بالرجال. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.
Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.
(HR. Bukhari).
Kapan disebut menyerupai (tasyabbuh)?
Syaikhul Islam Zakariya Al Anshori rahimahullah (salah seorang ulama mazhab Syafi’i) menerangkan batasan menyerupai di sini,
ضبط ابن دقيق العيد ما يحرم التشبه بهن فيه بأنه ما كان مخصوصاً بهن في جنسه وهيئته، أو غالباً في زيهن، وكذا يقال في عكسه، فإن تشبه النساء بالرجال حرام في مثل ما ذكر
Ibnu Daqiq Al ‘Ied menjelaskan batasan haram menyerupai perempuan adalah dalam hal yang menjadi kekhususan mereka. Baik dalam jenis atau bentuknya atau pada hal yang biasa menjadi pakaian mereka. Demikian pula yang berlaku sebaliknya (batasan tasyabbuh perempuan dengan laki-laki, pent). Karena wanita menyerupai laki-laki pada hal-hal yang telah disebutkan, hukumnya adalah haram. (Hawasyi Tuhfatul Minhaj Bisyarhi Al Minhaj 3/26).
Dalam ensklopedia fikih juga dijelaskan,
لا خلاف بين الفقهاء في أنه يحرم على الرجال أن يتشبهوا بالنساء في الحركات ولين الكلام والزينة واللباس وغير ذلك من الأمور الخاصة بهن عادة أو طبعاً. انتهى.
Para ulama sepakat terkait haramnya laki-laki menyerupai perempuan, dalam gerakan, kelembutan tutur kata, perhiasan, pakaian dan perkara lainnya yang menjadi kekhususan mereka secara adat (kebiasaan) atau tabi’at. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah 11/267).
Sehingga bisa disimpulkan, dikatakan tasyabbuh manakala menyerupai pada hal yang menjadi kekhususan yang diserupai.

Hukum Gelang Untuk Laki-Laki

Memakai gelang, adalah diantara ciri khas kaum wanita, baik secara adat kebiasaan maupun tabi’at. Hampir tidak ditemui orang-orang yang terpandang secara akhlak dan memiliki pribadi yang baik memandang gelang adalah perhiasan kaum pria. Maka karena benda ini adalah perhiasan khusus wanita, kaum laki-laki tidak boleh memakainya. Apapun bahannya, baik karet, plastik, kuningan dan yang lainnya. Karena terdapat unsur menyerupai (tasyabbuh) perempuan. Sementara ancaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini sangat keras, menunjukkan penekanan dalam larangan (haram).
Sebagaimana pernah difatwakan oleh Ibnu Hajar Al Haitami rahimahullah dalam buku fatwa beliau,
يحرم التشبه بهن [ أي : بالنساء ] بلبس زيهن المختص بهن اللازم في حقهن كلبس السوار والخلخال ونحوهما بخلاف لبس الخاتم
Diharamkan menyerupai kaum wanita dengan memakai perhiasan yang menjadi ciri khas mereka. Seperti memakai gelang, gelang kaki dan yang lainnya. Berbeda dengan memakai cincin (pent. hukumnya boleh bagi laki-laki asal bukan cincin emas)… (Al Fatawa Al Fiqhiyyah Al Kubra 1/261).
Pakailah perhiasan lain yang sesuai dengan tabi’at atau selera laki-laki, tidak menyelisihi keumuman masyarakat dan yang terpenting tidak melanggar aturan agama.
Adapun apakah sholatnya sah. Kita katakan sholatnya sah namun dia berdosa !
Wallahua’lam bis showab.
Kota Nabi ﷺ, Islamic University of Madinah, 8 Jumadal-ula 1438 H.
Dijawab oleh : Ustadz Ahmad Anshori


Sumber: https://konsultasisyariah.com/28993-hukum-memakai-gelang-bagi-pria.html
Baca Selengkapnya >>>

Minggu, 22 Januari 2017

Ucapan Selamat Tahun Baru Imlek Tidak Terkait Akidah, Bolehkah?


Ada yang mengatakan bahwa seorang Muslim boleh mengucapkan selamat hari raya Imlek atau Gong Xi Fa Cai karena tidak berhubungan dengan akidah. Karena Imlek tidak terkait akidah dan Gong Xi Fa Cai artinya: “Selamat dan semoga sejahtera”. Benarkah demikian?

Hari Raya Nairuz dan Mahrajan dilarang walaupun tidak terkait akidah

Simak hadits berikut! Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, ia berkata:
قدم رسول الله صلى الله عليه وسلم المدينة ولهم يومان يلعبون فيهما فقال ما هذان اليومان قالوا كنا نلعب فيهما في الجاهلية فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن الله قد أبدلكم بهما خيرا منهما يوم الأضحى ويوم الفطر
Di masa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam baru hijrah ke Madinah, warga Madinah memiliki dua hari raya yang biasanya di hari itu mereka bersenang-senang. Rasulullah bertanya: ‘Perayaan apakah yang dirayakan dalam dua hari ini?’. Warga Madinah menjawab: ‘Pada dua hari raya ini, dahulu di masa Jahiliyyah kami biasa merayakannya dengan bersenang-senang’. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘Sungguh Allah telah mengganti hari raya kalian dengan yang lebih baik, yaitu Idul Adha dan ‘Idul Fithri (HR. Abu Daud, 1134, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud).
Dua hari raya Jahiliyah itu adalah Nairuz dan Mahrajan. Dan disebutkan dalam hadits di atas bahwa dua hari raya tersebut adalah hari senang-senang saja tidak ada kaitannya dengan akidah, namun tetap dilarang oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Karena merayakan hari raya selain hari raya kaum Muslimin adalah bentuk menyerupai non-Muslim. Al Majd Ibnu Taimiyah (kakek dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah) rahimahullah menjelaskan:
الحديث يفيد حرمة التشبه بهم في أعيادهم لأنه لم يقرهما على العيدين الجاهليين ولا تركهم يلعبون فيهما على العادة
“hadits ini memberi faidah tentang haramnya tasyabbuh kepada orang kafir dalam hari raya mereka, karena Nabi tidak mentolerir dirayakannya dua hari raya Jahiliyyah tersebut, dan tidak membiarkan penduduk Madinah bermain-main di dua hari raya tersebut pada sudah menjadi tradisi” (Faidhul Qadir, 4/511).
Ibnu Hajar Al Asqalani juga menjelaskan:
وَاسْتُنْبِطَ مِنْهُ كَرَاهَةُ الْفَرَحِ فِي أَعْيَادِ الْمُشْرِكِينَ وَالتَّشَبُّهِ بِهِمْ
“diambil istinbath (kesimpulan hukum) dari hadits ini bahwa terlarangnya bersenang-senang di hari raya kaum Musyrikin dan tasyabbuh (menyerupai) kebiasaan mereka” (Fathul Baari, 2/442).

Kata Umar, jauhi semua hari raya orang kafir

Umar bin Khathab radhiallahu’anhu juga mengatakan:
اجْتَنِبُوا أَعْدَاءَ اللَّهِ فِي عِيدِهِمْ
Jauhi perayaan hari-hari raya musuh-musuh Allah (HR. Bukhari dalam At Tarikh Al Kabir no. 1804, dengan sanad hasan).
Beliau tidak mengatakan: “jauhi hari-hari raya musuh Allah yang terkait akidah” tapi hari raya secara umum yang mencakup semua hari raya selain hari raya kaum Muslimin, baik terkait akidah ataupun tidak.
Lalu, jika beliau sahabat yang mulia ini radhiallahu’anhu mewasiatkan kita untuk menjauhinya, apakah malah justru kita akan ikut serta atau memberi selamat?

Hari raya suatu kaum itu terkait perkara akidah

Jika dikatakan bahwa hari raya Imlek tidak terkait akidah, maka itu kurang tepat. Karena sebenarnya setiap hari raya yang dimiliki suatu kaum itu terkait dengan perkara akidah. Karena perayaan atau id suatu kaum adalah representasi dan ciri khas kaum tersebut. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
إن لكل قوم عيدا ، وهذا عيدنا
Setiap kaum memiliki ‘Id sendiri dan ‘Idul Fithri ini adalah ‘Id kita (kaum muslimin) (HR. Bukhari no. 952, 3931, Muslim no. 892).
Maka minimalnya, perayaan atau id sangat terkait dengan akidah al wala wal bara’. Yaitu keyakinan bahwa kaum Muslimin hendaknya loyal (wala) kepada saja yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dengan iman yang benar, dan berlepas diri (bara’) dari setiap orang yang kufur kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan bentuk bara’ah adalah tidak mengikuti mereka dan menyerupai kebiasaan dan ciri khas mereka.
Terlebih lagi pada umumnya hari raya suatu kaum sangat terkait dengan akidah yang mereka miliki. Termasuk juga perayaan imlek. Sebagaimana dijelaskan dalam wikipedia,
Praktik perayaan tahun baru Imlek di Indonesia
Tahun baru Imlek biasanya berlangsung sampai 15 hari. Satu hari sebelum atau pada saat hari raya Imlek, bagi etnis Tionghoa adalah suatu keharusan untuk melaksanakan pemujaan kepada leluhur, seperti dalam upacara kematian, memelihara meja abu atau lingwei (lembar papan kayu bertuliskan nama almarhum leluhur), bersembahyang leluhur seperti yang dilakukan di hari Ceng Beng (hari khusus untuk berziarah dan membersihkan kuburan leluhur). Oleh sebab itu, satu hari sebelumnya atau pada saat Hari Raya Imlek para anggota keluarga akan datang ke rumah anggota keluarga yang memelihara lingwei (meja abu) leluhur untuk bersembahyang, atau mengunjungi rumah abu tempat penitipan lingwei leluhur untuk bersembahyang. Sebagai bentuk penghormatan dan sebagai tanda balas-budi maka pada saat acara sembahyang dilakukan pula persembahan jamuan makan untuk arwah para leluhur. Makna dari adanya jamuan makan untuk arwah leluhur adalah agar kegembiraan dan kebahagian saat menyambut hari raya Imlek yang dilakukan di alam manusia oleh keturunannya juga dapat turut serta dinikmati oleh para leluhur di alam lain. Selain jamuan makan juga dilakukan persembahan bakaran Jinzhi (Hanzi=金紙;sederhana=金纸;hanyu pinyin=jīnzhǐ;Hokkien= kimcoa;harafiah=kertas emas) yang umumnya dikenal sebagai uang arwah (uang orang mati) serta berbagai kesenian kertas (紙紮) zhǐzhā (pakaian, rumah-rumahan, mobil-mobilan, perlengkapan sehari-hari, dan pembantu). Makna persembahan bakaran Jinzhi dan zhǐzhā yang dilakukan oleh keturunannya adalah agar arwah para leluhur tidak menderita kekurangan serta sebagai bekal untuk mencukupi kebutuhannya di alam lain. Praktik jamuan makan dan persembahan bakaran Jinzhi dan zhǐzhā yang dilakukan oleh keturunannya untuk arwah para leluhur di alam lain merupakan bentuk perwujudan tanda bakti dan balas-budi atas apa yang telah dilakukan oleh orang-tuanya saat masih hidup kepada anak-anaknya di alam manusia.
Jelas sekali perayaan ini sangat jauh dan bertentangan dengan akidah Islam. Apakah layak seorang Muslim memberi selamat atas perayaan ini?

Ulama Ijma Terlarangnya Ucapan Selamat Hari Raya Non-Muslim

Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah mengatkan:
وَأَمَّا التَّهْنِئَةُ بِشَعَائِرِ الْكُفْرِ الْمُخْتَصَّةِ بِهِ فَحَرَامٌ بِالِاتِّفَاقِ مِثْلَ أَنْ يُهَنِّئَهُمْ بِأَعْيَادِهِمْ وَصَوْمِهِمْ، فَيَقُولَ: عِيدٌ مُبَارَكٌ عَلَيْكَ، أَوْ تَهْنَأُ بِهَذَا الْعِيدِ، وَنَحْوَهُ، فَهَذَا إِنْ سَلِمَ قَائِلُهُ مِنَ الْكُفْرِ فَهُوَ مِنَ الْمُحَرَّمَاتِ، وَهُوَ بِمَنْزِلَةِ أَنْ يُهَنِّئَهُ بِسُجُودِهِ لِلصَّلِيبِ، بَلْ ذَلِكَ أَعْظَمُ إِثْمًا عِنْدَ اللَّهِ وَأَشَدُّ مَقْتًا مِنَ التَّهْنِئَةِ بِشُرْبِ الْخَمْرِ وَقَتْلِ النَّفْسِ وَارْتِكَابِ الْفَرْجِ الْحَرَامِ وَنَحْوِهِ.
“Adapun memberi ucapan selamat terhadap syi’ar-syi’ar kekufuran yang merupakan ciri khas orang kafir hukumnya haram secara ijma’ (kata sepakat) para ulama. Semisal memberi ucapan selamat pada hari raya dan selamat atas puasa dengan mengatakan, ‘Semoga hari raya ini berkah untuk anda’, atau ucapan: “saya ucapkan selamat atas hari raya anda ini” atau semisal itu. Andaikan pengucapkan tidak jatuh pada kekufuran, maka tetap saja ini adalah perkara yang diharamkan. Ucapan selamat yang demikian itu sama seperti kita mengucapkan selamat atau sujudnya seseorang kepada salib. Bahkan perbuatan ini lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dibenci Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat kepada orang yang minum khamr, membunuh, berzina, atau ucapan selamat atas maksiat yang lainnya” (Ahkam Ahlidz Dzimmah, 1/441).
Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan, ulama besar Saudi Arabia, menjelaskan :
“Tidak boleh memberi selamat pada hari raya orang kafir, karena di dalamnya terdapat banyak hal-hal yang terlarang, diantaranya:
Pertama, ini adalah bentuk wala‘ (loyal) terhadap orang kafir, dan kita dilarang untuk wala’ kepada mereka berdasarkan banyak dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah. Diantaranya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim (QS. Al Maidah: 51).
Dan diantara bentuk muwalah (loyal) kepada mereka adalah memberikan ucapan selamat kepada mereka. Karena hal ini akan membangun rasa cinta kepada mereka dan kepada agama mereka. Sebab orang yang tidak kita cintai tentu tidak akan kita beri ucapan selamat. Allah Ta’ala berfirman:
لا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ
Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka (QS. Al Mujadalah: 22).
Jika kita dilarang untuk mencintai kerabat kita yang menentang Allah dan Rasul-Nya, maka bagaimana lagi dengan selainnya?
Kedua: ucapan selamat merupakan bentuk ridha terhadap perayaan mereka dan pengakuan akan benarnya perayaan mereka dan juga dukungan terhadapnya.
Satu saja dari perkara di atas sudah cukup untuk mengatakan terlarangnya mengucapkan selamat hari raya orang kafir. Maka bagaimana lagi jika perkara-perkara di atas terkumpul semuanya? ” (Sumber: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/13680).

Kesimpulan

Terlarang bagi seorang Muslim untuk memberi ucapan selamat Imlek walaupun diklaim tidak terkait dengan akidah. Karena ucapan selamat merupakan bentuk wala dan juga dukungan terhadap perayaan yang batil tersebut. Terlebih lagi jika ternyata perayaan tersebut sangat terkait dengan akidah yang batil.
Sikap seorang Muslim dalam menghadapi orang kafir di hari raya mereka adalah dengan bersikap biasa saja, menganggap hari tersebut sebagaimana hari-hari biasanya. Tidak boleh pula mengganggu dan menzalimi mereka tanpa hak. Kedepankan akhlak mulia dan muamalah yang baik, tunjukkan keindahan Islam, dengan demikian bisa menjadi sebab mereka untuk mendapatkan hidayah Islam.
Semoga Allah memberi taufiq.
***
Penulis: Yulian Purnama
Artikel Muslim.or.id


Sumber: http://muslim.or.id/29313-ucapan-selamat-tahun-baru-imlek-tidak-terkait-akidah-bolehkah.html
Baca Selengkapnya >>>

Sabtu, 27 Agustus 2016

Patokan Tasyabbuh


Banyak kalangan yang masih bingung tentang patokan tasyabbuh yang dilarang dalam agama Islam, sehingga mereka menghukumi banyak hal sebagai tasyabbuh padahal bukan, seperti kopyah hitam, pakaian jawa, dan sebagainya.
Bagaimana sebenarnya patokan tasyabbuh itu? Simak penjelasan ulama berikut:
Syaikh Sulaiman Ar Ruhaili berkata:
الضابط للتشبه بالكفار (أن يفعل الإنسان فعلًا لا يفعله إلا الكفار لا بمقتضى الإنسانية)
“Patokan tasyabbuh adalah melakukan perbuatan yang tidak dilakukan kecuali orang kafir bukan karena kebutuhan manusia”.
Perhatikan patokan ini baik-baik, jika bukan ciri khas orang kafir maka tidak termasuk tasyabbuh. Seperti celana jeans-nya menurut saya.
Demikian juga hal itu dilakukan oleh orang kafir karena kebutuhan manusia seperti mobil maka ini bukan termasuk tasyabbuh (kajian Tsalatsah Ushul di Masjid Nabawi pada musim haji tahun 1429-1430 H).
Syaikh Ibnu Utsaimin juga berkata:
مقياس التشبه أن يفعل المتشبِه ما يختص به المتشبَه به، فالتشبه بالكفار أن يفعل المسلم شيئاً من خصائصهم، أما ما انتشر بين المسلمين وصار لا يتميز به الكفار فإنه لا يكون تشبهاً، فلا يكون حراماً من أجل أنه تشبه، إلا أن يكون محرماً من جهة أخرى. وهذا الذي قلناه هو مقتضى مدلول هذه الكلمة. وقد صرح بمثله صاحب الفتح حيث قال (صــ272 ج10.
“Patokan Tasyabbuh kepada orang kafir adalah seorang muslim melakukan hal yang merupakan ciri khas kafir. Adapun jika hal itu tersebar antara kaum muslimin dan bukan ciri khas kaum kuffar maka bukanlah tasyabbuh, tidak terlarang karena tasyabbuh kecuali jika ada alasan lainnya yang mengharamkan.
Apa yang kami sampaikan ini sesuai dengan kandungan kalimat dan dikuatkan oleh penulis Fathul Bari (Ibnu Hajar Al Asqolani, 10/272)”.
Maka jangan gegabah menghukumi tasyabbuh….
***
Penulis: Ust. Abu Ubaidah As Sidawi
Artikel Muslim.or.id


Sumber: https://muslim.or.id/27819-patokan-tasyabbuh.html
Baca Selengkapnya >>>

Jumat, 22 April 2016

Batasan Tasyabbuh yang Diharamkan

Pernah diajukan pertanyaan kepada Asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimiin rahimahullah :
عن مقياس التشبه بالكفار ما هو ؟.
“Bagaimana ukuran/batasan tasyabbuh terhadap orang-orang kafir (yang diharamkan) ?
Beliau menjawab :
مقياس التشبه أن يفعل المتشبه ما يختص به المتشبه به، فالتشبه بالكفار أن يفعل المسلم شيئًا من خصائصهم، أما ما انتشر بين المسلمين وصار لا يتميز به الكفار فإنه لا يكون تشبهًا، فلا يكون حرامًا من أجل أنه تشبه، إلا أن يكون محرمًَا من جهة أخرى. وهذا الذي قلناه هو مقتضى مدلول هذه الكلمة. وقد صرح بمثل صاحب الفتح حيث قال : (وقد كره بعض السلف لبس البرنس لأنه كان من لباس الرهبان، وقد سئل مالك عنه فقال : لا بأس به. قيل : فإنه من لبوس النصارى، قال : كان يلبس ههنا.أ.هـ.). قلتُ : لو استدل مالك بقول النبي صلى الله عليه وسلم حين سئل ما يلبس المحرم، فقال : ((لَا يَلْبَسُ الْقَمِيْصَ وَلَا الْعِمَامَةَ وَلَا السَّرَاوِيْلَ وَلَا الْبُرْنُسَ)) الحديث : لكان أولى.
وفي الفتح أيضًَا : وإن قلنا النهي عنها (إي عن المياثر الأرجوان) من أجل التشبه بالأعاجم فهو لمصلحة دينية، لكن كان ذلك شعارهم حينئذ وهم كفار، ثم لما لم يصر الآن يختص بشعارهم زال ذلك المعنى، فتزول الكراهة. والله أعلم.أ.هـ.

“Batasan tasyabbuh adalah seseorang melakukan tasyabbuh (penyerupaan) terhadap apa yang menjadi ciri khas objek yang diserupai. Tasyabbuh terhadap orang-orang kafir maknanya adalah seorang muslim yang melakukan sesuatu hal dari kekhususan mereka. Adapun sesuatu yang telah umum tersebar di kaum muslimin dimana hal itu tidak membedakannya dengan orang-orang kafir, maka tidak termasuk tasyabbuh. Bukan pula termasuk sesuatu yang diharamkan dari sisi tasyabbuh-nya itu, kecuali jika sesuatu itu diharamkan dari sisi yang lain. Inilah yang kami katakan tentang makna kata tersebut (tasyabbuh). Perkataan semisal telah dijelaskan Penulis kitab Al-Fath (yaitu Ibnu Hajar – Abul-Jauzaa’) saat ia berkata : ‘Sebagian ulama salaf memakruhkan memakai burnus karena ia termasuk pakaian para rahib/pendeta. Maalik pernah ditanya tentang hal itu lalu ia berkata : ‘Tidak mengapa dengannya’. Lalu dikatakan kepadanya (Maalik) : ‘Ia merupakan pakaian orang-orang Nashara’. Maalik menjawab : ‘Dulu ia pernah dipakai di daerah sini’ – selesai – . Aku (Ibnu ‘Utsaimin) berkata : Seandainya Maalik berdalil dengan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam saat beliau ditanya apa yang dipakai orang-orang yang sedang berihram, lalu beliau bersabda : ‘Jangan memakai qamish, imamah, celana/sirwal, dan juga burnus’[1] – tentu lebih baik.
Dalam kitab Al-Fath juga disebutkan : ‘Seandainya kita mengatakan tentang larangannya (yaitu memakai warna ungu) karena tasyabbuh dengan orang-orang ‘Ajam(non Arab); maka ia adalah demi kemaslahatan agama. Akan tetapi hal itu termasuksyi’ar-syi’ar orang-orang kafir. Lalu ketika sudah tidak menjadi ciri khas syi’ar-syi’armereka pada saat ini, maka hilanglah makna tersebut (tasyabbuh) sehingga hilang pula kemakruhannya. Wallaahu a’lam”.
[selesai - Fatawaa Al-‘Aqiidah, Asy-Syaikh Ibnu  ‘Utsaimin, hal. 245].
Pada kesempatan lain beliau menjawab :
التثبه بالكفار يكون في المظهر واللباس والمأكل وغير ذلك لأنه كلمة عامة، ومعناها أن يقوم الإنسان بشيء يختص به الكفار بحيث يدل من رآه أنه من الكفار. وهذا هو الضابط، أما إذا كان الشيء قد شاع بين المسلمين والكفار فإن التشبه يجوز، وإن كان أصله مأخوذًَا من الكفار ما لم يكن محرمًَا لعينه كلباس الحرير.
Tasyabbuh terhadap orang-orang kafir bisa terjadi pada penampilan, pakaian, makanan, dan yang lainnya; karena ia merupakan kata yang masih (bersifat) umum. Maknanya adalah seseorang melakukan sesuatu yang menjadi ciri khas orang-orang kafir dimana itu ditunjukkan ketika ada orang lain melihatnya, maka orang tersebut menyangkanya sebagai orang kafir. Demikianlah persisnya. Namun jika ada sesuatu yang telah umum tersiar di kalangan kaum muslimin dan orang-orang kafir, makatasyabbuh itu diperbolehkan; meskipun asal sesuatu itu terambil dari orang-orang kafir selama statusnya tidak haram seperti misal memakai pakaian sutera (bagi laki-laki)”.
[selesai - Majmuu’ Duruus wa Fataawaa Al-Haraam Al-Makkiy, 3/367].
Semoga ada manfaatnya……………
Abul-Jauzaa’, perumahan Ciomas Permai, 26052010, 22.40.



[1]     Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1542 & 5803, Muslim no. 1177, Ahmad 2/63, Abu Dawud no. 1824, An-Nasaa’iy 5/131-132 & 5/133-134, Ibnu Maajah no. 2929 & 2932, Ath-Thahawiy 2/135, Al-Baihaqiy 5/49, Ibnu Hibbaan no. 3784, dan yang lainnya.

from=http://abul-jauzaa.blogspot.fr/2010/05/batasan-tasyabbuh-yang-diharamkan.html
Baca Selengkapnya >>>

Kamis, 24 Maret 2016

Takhrij Hadits : “Barangsiapa yang Menyerupai Suatu Kaum, Maka Ia Termasuk Golongan Mereka” dan Faedah Ringkas yang Terdapat di dalamnya

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”.
Hadits ini diriwayatkan dari beberapa jalan :


1.    ‘Abdullah bin ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa.
Diriwayatkan oleh Abu Daawud[1] no. 4031, Ahmad[2] 2/50 & 2/92[3], Ath-Thabaraaniy dalam Musnad asy-Syaamiyyiin[4] no. 216, ‘Abdun bin Humaid dalamAl-Muntakhab[5] no. 846, Ibnu Abi Syaibah[6] 5/313 & 12/531, Abu Ya’laa Al-Maushiliy sebagaimana dibawakan Al-Bushairiy dalam Ittihaaful-Khairah[7] no. 5437 & 6205, Ibnul-‘Arabiy dalam Mu’jam-nya[8] no. 1137, Ad-Diinawawiy dalam Al-Mujaalasah wa Jawaahirul-‘Ilmi[9] no. 147, Al-Baihaqiy dalam Syu’abul-Iimaan[10]no. 1199, Al-Harawiy dalam Dzammul-Kalaam[11] no. 476, Al-Khathiib dalam Al-Faqiih wal-Mutafaqqih[12] 2/73, Tamaam Ar-Raaziy dalam Al-Fawaaid[13] no. 770, Ibnul-Jauziy dalam Tabliis Ibliis[14] 1/170, Muhammad bin Nashr Ar-Ramliy dalamTafsiir ‘Athaa’ Al-Khurasaaniy[15] no. 395, Al-Mizziy dalam Tahdziibul-Kamaal[16]34/324, Adz-Dzahabiy dalam As-Siyar[17] 15/509, dan Ibnu Hajar dalam Taghliiqut-Ta’liq[18] 3/444; dari beberapa jalan, dari ‘Abdurrahmaan bin Tsaabit bin Tsaubaan : Telah menceritakan kepada kami Hassaan bin ‘Athiyyah, dari Abul-Muniib Al-Jurasyiy, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ"
“Aku diutus dengan pedang menjelang hari kiamat hingga hanya Allah semata lah yang disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya; dijadikan rizkiku di bawah bayangan tombakku; dan dijadikan kehinaan dan kerendahan bagi siapa saja yang menyelisihi perkaraku. Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”.
Keterangan para perawi :
‘Abdurrahman bin Tsaabit bin Tsaubaan Al-‘Ansiy, Abu ‘Abdillah Asy-Syaamiy Ad-Dimasyqiy Az-Zaahid (75 – 165 H).
Ahmad bin Hanbal berkata : “Hadits-haditsnya munkar”. Di lain tempat ia berkata : “Tidak kuat dalam hadits”. Di lain tempat ia berkata : “Ia seorang ahli ibadah dari kalangan penduduk Syaam”. Yahyaa bin Ma’iin berkata : “Shaalih”. Di tempat lain ia berkata : “Dla’iif”. Di tempat lain ia berkata : “Tidak mengapa dengannya”. Dan seperti itulah yang dikatakan oleh ‘Aliy bin Al-Madiiniy, Ahmad bin ‘Abdillah Al-‘Ijliy, dan Abu Zur’ah Ar-Raaziy (yaitu : “Tidak mengapa dengannya”). Berkata Mu’aawiyyah bin Shaalih, ‘Utsmaan bin Sa’iid Ad-Daarimiy, dan ‘Abdullah bin Syu’aib Ash-Shaabuuniy, dari Yahyaa bin Ma’iin : “Dla’iif”. Mu’aawiyyah menambahkan : “Aku bertanya (kepada Ibnu Ma’iin) : “Apakah ditulis haditsnya ?”. Ia menjawab : “Ya, bersama dengan kedla’ifannya. Ia seorang laki-laki yang shaalih”. Abu Bakr bin Abi Khaitsamah, dari Yahyaa bin Ma’iin berkata : “Tidak ada apa-apanya”. Ya’quub bin Syaibah As-Saduusiy berkata : “Para shahabat kami berbeda pendapat tentangnya. Adapun Yahyaa bin Ma’iin melemahkannya, sedangkan ‘Aliy bin Al-Madiiniy mempunyai pandangan yang baik terhadapnya. Ibnu Tsaubaan seorang laki-laki yang jujur, tidak mengapa dengannya…”. ‘Amru bin ‘Aliy berkata : “Hadits orang-orang Syaam itu semuanya dla’iif, kecuali beberapa orang, diantaranya : Al-Auzaa’iy, ‘Abdurrahmaan bin Tsaabit bin Tsaubaan,….”. Duhaim berkata : “Tsiqah, dituduh berpemahaman Qadariyyah. Al-Auzaa’iy menuliskan hadits kepadanya. Aku tidak tahu sesuatu yang menjadikan menolaknya”. Abu Haatim berkata : “Tsiqah”. Di tempat lain ia berkata : “….Berubah akalnya di akhir usianya, dan ia seorang yang haditsnya lurus (mustaqiimul-hadiits)”. Abu Daawud berkata : “Tidak mengapa dengannya”. An-Nasaa’iy berkata : “Dla’iif”. Di tempat lain ia berkata : “Tidak kuat”. Di tempat lain ia berkata : “Tidak tsiqah”. Shaalih bin Muhammad Al-Baghdaadiy berkata : “Orang Syaam yang jujur, kecuali ia punya madzhab Qadariyyah. Orang-orang mengingkari hadits-haditsnya yang ia riwayatkan dari ayahnya, dari Mak-huul. Ibnu Khiraasy berkata : “Dalam haditsnya terdapat kelemahan”. Ibnu ‘Adiy berkata : “Ia mempunyai hadits-hadits yang baik….. Ia seorang laki-laki yang shaalih, ditulis haditsnya bersamaan dengan kelemahannya. Adapun ayahnya seorang yang tsiqah”. Ibnu Hibbaan menyebutkannya dalam Ats-Tsiqaat. Abu Bakr Al-Khathiib berkata : “Ia termasuk orang yang disifati dengan zuhd, ahli ibadah, dan kejujuran dalam riwayat” [selengkapnya lihat : Tahdziibul-Kamaal, 17/12-18 no. 3775]. Abu Zur’ah Ad-Dimasyqiy pernah bertanya kepada ‘Abdurrahmaan bin Shaalih : “Apa pendapatmu tentang Ibnu Tsaubaan ?”. Ia berkata : “Tsiqah” [Taariikh Abi Zur’ah, hal. 44 – Syaamilah]. Ibnu Syaahiin berkata : “Tidak mengapa dengannya” [Taariikh Asmaa’ Ats-Tsiqaat, hal. 214 no. 765]. Ibnul-Jauziy memasukkannya dalam Adl-Dlu’afaa’ wal-Matruukuun (2/91 no. 1856).
Ibnu Hajar menyimpulkan : “Shaduuq, sering keliru (yukhthi’), dituduh berpemahaman Qadariyyah, dan berubah hapalannya di akhir usianya” [At-Taqriib, hal. 572 no. 3844]. Adz-Dzahabiy memasukkanya dalam kitab Man Tukullima fiihi Wahuwa Muwatstsaqun au Shaalihul-Hadiits (hal. 324-325 no. 206). Di tempat lain Adz-Dzahabiy menyimpulkan : “Ia bukanlah seorang yang banyak haditsnya, bukan pula hujjah, akan tetapi seorang yang shaalihul-hadiits’ [Siyaru A’laamin-Nubalaa’, 7/314].
Al-Albaaniy berkata : “Hasanul-hadiits” [Irwaaul-Ghaliil, 2/136]. Di tempat lain ia berkata : “Hasanul-hadiits apabila tidak ada penyelisihan” [Ash-Shahiihah, 1/232]. Di tempat lain ia mengatakan : “Padanya ada kelemahan” [Dhilaalul-Jannaah no. 408]. Basyaar ‘Awwaad dan Al-Arna’uth berkata : “Shaduuq hasanul-hadiits” [Tahriirut-Taqriib, 2/309-310 no. 3820].
Kesimpulan : Yang nampak di sini – wallaahu a’lam – ia seorang yang ahli ibadah lagi jujur. Akan tetapi ia diperbincangkan dari segi hapalannya. Oleh karena itu, haditsnya hasan bila tidak ada penyelisihan, sebagaimana dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albaaniy. Apalagi, dalam periwayatan dari Hassaan bin ‘Athiyyah ia tidak bersendirian.
Hassaan bin ‘Athiyyah Al-Muhaaribiy, Abu Bakr Asy-Syaamiy (w. setelah tahun 120 H).
Ibnu Hajar berkata : “Seorang yang tsiqahfaqiih, lagi ‘aabid” [Taqriibut-Tahdziib, hal. 233 no. 1214]. Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya.
Abul-Muniib Al-Jurasyiy Ad-Dimasyqiy Al-Ahdab.
Al-‘Ijliy berkata : “Orang Syaam, taabi’iy, tsiqah’. Ibnu Hibbaan menyebutkannya dalam kitab Ats-Tsiqaat [Tahdziibul-Kamaal, 34/324-325]. Ibnu Hajar berkata : “Tsiqah” [Taqriibut-Tahdziib, hal. 1211 no. 8461]. Adz-Dzahabiy berkata : “Tsiqah” [Al-Kaasyif, 2/464 no. 6859]. Sejumlah perawi tsiqah meriwayatkan darinya (Tsaur bin Yaziid, Hassaan bin ‘Athiyyah, Daawud bin Abi Hind, Zaid bin Waaqid, dan ‘Aashim Al-Ahwal).
Kesimpulannya : Ia seorang yang tsiqah.
‘Abdurrahmaan bin Tsaabit dalam periwayatannya dari Hassaan bin ‘Athiyyah mempunyai muttabi’ dari Al-Auza’iy, sebagaimana diriwayatkan oleh Ath-Thahawiy dalam Musykilul-Aatsaar[19] no. 231 dan Ibnu Hadzlam dalam Juz­-nya[20] no. 31.
Al-Auzaa’iy, ia adalah ‘Abdurrahmaan bin ‘Amru bin Abi ‘Amru, Abu ‘Amru Al-Auzaa’iy; seorang imam tsiqahjaliil, lagi faqiih (w. 157 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [Taqriibut-Tahdziib, hal. 593 no. 3992].
Sanad hadits ini adalah shahih.
2.    Hudzaifah bin Al-Yamaan radliyallaahu ‘anhu.
Diriwayatkan oleh Al-Bazzaar dalam Al-Bahruz-Zakhaar[21] 7/368 no. 2966 dan dalam Kasyful-Astaar no. 144, serta Ath-Thabaraaniy dalam Al-Ausath[22] no. 8327; dari jalan Muhammad bin Marzuuq, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdul-‘Aziiz bin Al-Khaththaab, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Aliy bin Ghuraab, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Hisyaam bin Hassaan, dari Muhammad bin Siiriin, dari Abu ‘Ubaidah bin Hudzaifah, dari ayahnyaradliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ "،
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”.
Keterangan para perawi :
Muhammad bin Muhammad bin Marzuuq bin Bukair/Bakr Al-Baahiliy, Abu ‘Abdillah Al-Bashriy; seorang yang shaduuq, namun mempunyai beberapa keraguan (w. 248 H). Dipakai Muslim dalam Shahih-nya [Taqriibut-Tahdziib, hal. 893-894 no. 6311].
‘Abdul-‘Aziiz bin Al-Khaththaab Al-Kuufiy, Abul-Hasan (w. 224 H). Abu Haatim berkata : “Shaduuq”. Ya’quub bin Syaibah berkata : “Tsiqah lagi shaduuq”. ‘Amru bin ‘Aliy An-Nasaa'iy berkata : “Tsiqah” [selengkapnya lihat : Tahdziibul-Kamaal 18/126-128 no. 3441]. Ibnu Hajar menyimpulkan : “Shaduuq” [Taqriibut-Tahdziib, hal. 611 no. 4118]. Adz-Dzahabiy berkata : “Tsiqah” [Al-Kaasyif, 1/655 no. 3382].
Kesimpulan : Tsiqah.
‘Aliy bin Ghuraab Al-Fazaariy, Abul-Hasan (w. 184). Ahmad bin Hanbal berkata : “Aku mendengar darinya dalam  satu majlis, dan ia melakukan tadliis. Dan aku tidaklah melihatnya kecuali ia seorang yang shaduuq”. Di lain tempat ia berkata : “Haditsnya termasuk hadits ahlush-shidq”. Yahyaa bin Ma’iin berkata : “Shaduuq”. Di lain tempat ia berkata : “’Aliy itu tidak mengapa, akan tetapi ia berbuat tasyayyu’”. Di lain tempat ia berkata : “Tsiqah”. Di lain tempat ia berkata : “Orang-orang telah berbuat dhalim terhadapnya ketika membicarakannya”. Muhammad bin ‘Abdillah bin Numair berkata : “Ia mempunyai beberapa hadits munkar”. Abu Haatim berkata : “Tidak mengapa dengannya”. Abu Zur’ah berkata : “’Aliy bin Ghuraab menurutku shaduuq, dan ia lebih aku senangi daripada ‘Aliy bin ‘Aashim”. Abu Daawud berkata : “Dla’iif, orang-orang meninggalkan haditsnya”. ‘Iisaa bin Yuunus berkata : “Ia seorang yangdla’iif, dan aku ttidak menulis haditsnya. Abu Daawud mengatakan hal itu”. An-Nasaa’iy berkata : “Tidak mengapa dengannya, dan ia sering melakukan tadlis”. Ibraahiim bin Ya’qqub Al-Juzjaaniy : “Saaqith”. Mengomentari perkataan Al-Juzjaaniy ini, Al-Khathiib berkata : “Aku mengira Ibraahiim mencelanya dikarenakan madzhabnya, karena ia ber-tasyayyu’. Adapun riwayatnya, orang-orang telah mensifatinya dengan kejujuran”. Ad-Daaruquthniy berkata : “Digunakan sebagaii’tibar”. Ibnu Hibbaan berkata : “Ia meriwayatkan hadits-hadits maudlu’, sehingga batallah berhujjah dengannya. Ia seorang yang berlebih-lebihan dalam tasyayyu’”. Ibnu ‘Adiy berkata : “Ia mempunyai riwayat-riwayat ghariib dan afraad. Dan ia termasuk orang yang ditulis haditsnya”. Ibnu Sa’d berkata : “Ia seorang yangshaduuq, dan padanya ada kelemahan. Ia bershahabat dengan Ya’quub bin Daawud – yaitu waziir Al-Mahdiy - , sehingga orang-orang meninggalkannya”. Muhammad bin ‘Abdillah bin ‘Ammaar : ia seorang shahiibul-hadiits, yang luas pengetahuannya,… dan ia ber-tasyayyu’”. Ibnu Qaani’ berkata : “Orang Kuufah, Syi’ah, tsiqah”. ‘Utsmaan bin Abi Syaibah berkata : “Tsiqah” [selengkapnya lihat : Tahdziibul-Kamaal21/90-96 no. 4120 dan Tahdziibut-Tahdziib 7/372]. Ibnu Hajar menyimpulkan : “Shaduuq, sering berbuat tadlis (yudallis), dan ber-tasyayyu’. Ibnu Hibbaan telah berlebihan dalam melemahkannya” [Taqriibut-Tahdziib, hal. 703 no. 4817].
Kesimpulannya adalah sebagaimana kesimpulan Ibnu Hajar.
Hisyaam bin Hassaan Al-Azdiy, Abu ‘Abdillah Al-Bashriy; seorang yang tsiqah, dan paling tsabt riwayatnya dari Muhammad bin Siiriin (w. 147/148 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahiih-nya [idem, hal. 1020-1021 no. 7339].
Muhammad bin Siiriin Al-Anshaariytabi’iy masyhur; seorang yang tsiqah lagitsabat (w. 110 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 853 no. 5985].
Abu ‘Ubaidah bin Hudzaifah bin Al-Yamaan; seorang yang maqbuul [idem, hal. 1174 no. 8292]. Yaitu, riwayatnya diterima jika ada mutaba’ah, dan jika tidak, maka dla’iif.
Abu 'Ubaidah bin Hudzaifah mempunyai mutaba’ah dari Numair bin Aus, sebagaimana diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy dalam Musnad Asy-Syaamiyyiin[23] no. 1862 : Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Ishaaq : telah menceritakan kepadaku ayahku : Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Al-Haarits : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Saalim, dari Az-Zubaidiy : Telah menceritakan kepada kami Numair bin Aus : Bahwasannya Hudzaifah bin Al-Yamaan kembali kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau berkata :
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”.
Keterangan para perawi :
‘Amru bin Ishaaq bin Ibraahiim bin Al-‘Alaa’ bin Adl-Dlahhaak bin Al-Muhaajir bin Zibriiq Az-Zubaidiy Al-Himshiy; seorang yang majhuul haal [Irsyaadul-Qaadliy wad-Daaniy, hal. 451-452 no. 718].
Ishaaq bin Ibraahiim bin Al-'Alaa' bin Adl-Dlahhaak bin Zibriiq Al-Himshiy Az-Zubaidiy[Al-Jarh wat-Ta'diil, 2/209 no. 711 dan Tahdziibul-Kamaal 2/369-371 no. 330]. Mengenai Ishaaq bin Ibraahiim bin Zibriiq, Abu Haatim berkata : “Syaikh”. Ibnu Ma’iin memujinya dengan berkata : “Tidak mengapa dengannya (laa ba’sa bihi)” [Al-Jarh wat-Ta’diil 2/209 no. 711]. An-Nasaa’iy – sebagaimana dinukil Al-Mizziy – mengatakan : “Tidak tsiqah”. Namun dalam riwayat Ibnu ‘Asaakir sebagaimana yang dibawakan oleh Ibnu Badraan dalam At-Tahdziib (2/407), An-Nasaa’iy berkata : “Tidak tsiqah, jika ia meriwayatkan dari ‘Amru bin Al-Haarits”. Jadi ketidaktsiqahan ini di-taqyid dalam periwayatan dari ‘Amru. Muhammad bin ‘Auf memutlakkan kedustaan terhadapnya. Abu Dawud mengikuti Muhammad bin ‘Auf dengan perkataannya : “Tidak ada apa-apanya”. Namun perkataan keduanya ini perlu ditinjau kembali, sebab Al-Bukhaariy (dalam Shahih-nya dengan periwayatan mu’allaq), Abu Haatim, Al-Fasaawiy, dan yang lainnya membawakan riwayatnya dimana tidak ada keraguan bahwa mereka tidaklah meriwayatkan dari para pendusta yang dikenal kedustaaannya. Abu Ishaaq Al-Huwainiy dalam Natsnun-Nabaal (hal. 176-177 no. 276) membawakan bahwa Maslamah bin Al-Qaasim mentsiqahkannya. Al-Haakim (Al-Mustadrak 3/290) dan Ibnu Hibbaan (Ats-Tsiqaat 8/113) men-tautsiq-nya. Perkataan yang benar di sini adalah bahwa Ishaaq bin Ibraahiim bin Zibriiq adalah shaduuq; riwayatnya lemah jika berasal dari ‘Amr bin Al-Haarits.
Amru bin Al-Haarits bin Adl-Dlahhaak Az-Zubaidiy Al-Himshiy. Ibnu Hibbaan berkata : “Mustaqiimul-hadiits” [Ats-Tsiqaat, 8/48]. Adz-Dzahabiy berkata : Telah ditsiqahkan” [Al-Kaasyif, 2/73 no. 4136]. Ibnu Hajar berkata : “Maqbuul” [Taqriibut-Tahdziib, hal. 732 no. 5036].
Kesimpulan : Ia tidaklah jatuh dari derajat hasanwallaahu a’lam.
‘Abdullah bin Saalim Al-Asy’ariy Al-Himshiy; seorang yang tsiqah dan dituduh berpemahaman nashb (membenci Ahlul-Bait) (w. 179 H). Dipakai Al-Bukhaariy dalam Shahiih-nya [idem, hal. 509 no. 3355].
Az-Zubaidiy, ia adalah Muhammad bin Al-Waliid bin ‘Aamir Az-Zubaidiy, Abul-Hudzail Al-Himshiy; seorang yang tsiqah lagi tsabat (w. 146/147/149 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahiih-nya [idem, hal. 905 no. 6412].
Numair bin Aus Al-Asy’ariy. Ibnu Hibbaan memasukkannya dalam Ats-Tsiqaat(5/479). Ibnu Hajar berkata : “Tsiqah” [Taqriibut-Tahdziib, hal. 1009 no. 7239]. Namun yang benar – wallaahu a’lam – ia hanyalah seorang yang shaduuq saja, karena hanya Ibnu Hibbaan yang men-tautsiq-nya, akan tetapi sejumlah perawitsiqaat meriwayatkan darinya. Kesimpulan ini adalah sebagaimana diambil Basyar ‘Awwaad dan Al-Arna’uth dalam Tahriirut-Taqriib (4/24 no. 7190).
Mutaba’ah ini pun lemah, karena kelemahan ‘Amru bin Ishaaq dan ayahnya.
3.    Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu.
Diriwayatkan oleh Al-Harawiy dalam Dzammul-Kalaam[24] no. 474, Abu Umayyah Ath-Thursuusiy dalam Musnad-nya[25] no. 56, dan Adz-Dzahabiy dalam As-Siyar[26]16/242; semuanya dari jalan Shadaqah bin ‘Abdillah, dari Al-Auzaa’iy, dari Yahyaa bin Katsiir, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :
بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذُّلُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَنِي، وَمَنْ تَشَّبَهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ "
“Aku diutus menjelang hari kiamat dengan pedang. Dijadikan rizkiku di bawah bayangan tombakku, dan dijadikan kehinaan serta kerendahan atas orang yang menyelisihiku. Dan barangsiapa yang menyerupai satu kaum, maka ia termasuk golongan mereka’.
Akan tetapi riwayat ini di-ta’lil oleh sejumlah ulama.
Dalam kitab Al-‘Ilal lid-Daaruquthniy disebutkan :
وَسُئِلَ عَنْ حَدِيثِ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: " بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ، وَجُعِلَ رِزْقِي فِي ظُلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذُّلُّ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَنِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ "، فَقَالَ: يَرْوِيهِ الْأَوْزَاعِيُّ وَاخْتُلِفَ عَنْهُ، فَرَوَاهُ صَدَقَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ السَّمِينِ وَهُوَ ضَعِيفٌ، عَنْ يَحْيَى، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَخَالَفَهُ الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، رَوَاهُ عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ، عَنْ حَسَّانَ بْنِ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجُرْشِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ وَهُوَ الصَّحِيحُ
“Ad-Daaruquthniy pernah ditanya tentang hadits Abu Salamah, dari Abu Hurairah : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Aku diutus menjelang hari kiamat. Dijadikan rizkiku di bawah bayangan tombakku, dan dijadikan kehinaan serta kerendahan atas orang yang menyelisihiku. Dan barangsiapa yang menyerupai satu kaum, maka ia termasuk golongan mereka’. Lalu ia berkata : ‘Diriwayatkan oleh Al-Auza’iy dan terdapat perselisihan padanya. Diriwayatkan oleh Shadaqah bin ‘Abdillah As-Samiin, dan ia seorang yang dla’iif, (dari Al-Auza’iy), dari Yahyaa, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah. Al-Waliid bin Muslim menyelisihinya dimana ia meriwayatkan dari Al-Auza’iy dari Hassaan bin ‘Athiyyah, dari Abul-Muniib Al-Jursyiy, dari Ibnu ‘Umar. Dan inilah yang benar/shahih” [Al-‘Ilal no. 1754].
Adapun Ibnu Abi Haatim rahimahullah berkata :
وَسألت أبي عَنْ حديث رَوَاهُ عُمَرُ بْنُ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ صَدَقَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنِ الأَوْزَاعِيِّ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: " بُعِثْتُ بِالسَّيْفِ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذُّلُّ، وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَنِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ ". قَالَ أَبِي: قَالَ لِي دُحَيْمٌ: هَذَا الْحَدِيثُ لَيْسَ بِشَيْءٍ، وَالْحَدِيثُ حَدِيثُ الأَوْزَاعِيِّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جَبَلَةَ، عَنْ طَاوُسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم
“Dan aku pernah bertanya kepada ayahku tentang hadits yang diriwayatkan oleh ‘Umar bin Salamah, dari Shadaqah bin ‘Abdillah, dari Al-Auza’iy, dari Yahyaa bin Katsiir, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Aku diutus dengan pedang menjelang hari kiamat, dan dijadikan rizkiku di bawah bayangan tombakku, dan dijadikan kehinaan serta kerendahan atas orang-orang yang menyelisihiku. Dan barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka’. Lalu ayahku (Abu Haatim) berkata : ‘Duhaim pernah berkata kepadaku : Hadits ini tidak ada apa-apanya. Hadits itu yang benar adalah hadits Al-Auzaa’iy, dari Sa’iid bin Jabalah, dari Thaawus, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam secara mursal” [Al-‘Ilal no. 956].
Adapun Shadaqah bin ‘Abdillah, statusnya adalah seperti yang dikatakan Ad-Daaruquthniy, dan ia didla’ifkan oleh jumhur ahli hadits [lihat : Tahdziibul-Kamaal13/133-138 no. 2863 dan Taqriibut-Tahdziib, hal. 451 no. 2929].
4.    Abu Umaamah Al-Baahiliy radliyallaahu ‘anhu.
Diriwayatkan oleh Abu Dzawaalah dalam Hadiits-nya[27] no. 3 : Telah menceritakan kepada kami Abu Dzawaalah : Telah menceritakan kepadaku Abu ‘Abdil-‘Aziiz bin Marwaan, dari kakeknya Abaan bin Sulaimaan bin Maalik Al-Laitsiy, dari Abu Umaamah Al-Baahiliy, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ، وَمَنْ أَحَبَّ قَوْمًا حُشِرَ مَعَهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka. Dan barangsiapa mencintai suatu kaum, maka ia akan dikumpulkan bersama mereka”.
Abaan bin Sulaimaan bin Maalik Al-Laitsiy, tidak diketemukan biografinya [lihat :Rijaalul-Haakim, hal. 87 no. 147]. Begitu pula Abu ‘Abdil-‘Aziiz bin Marwaan, belum saya ketemukan biografinya. Wallaahu a’lam.
5.    Anas bin Maalik radliyallaahu ‘anhu.
Diriwayatkan oleh Al-Harawiy dalam Dzammul-Kalaam[28] no. 475 dan Abu Nu’aim dalam Akhbaar Ashbahaan[29] 1/166; semuanya dari jalan Al-Hajjaaj bin Yuusuf bin Qutaibah : Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Al-Husain, dari Az-Zubair bin ‘Adiy, dari Anas, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
جُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذُّلُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Dijadikan rizkiku di bawah bayangan tombakku, dan dijadikan kehinaan serta kerendahan bagi siapa saja yang menyelisihiku. Dan barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”.
Sanad ini sangat lemah karena Bisyr bin Al-Husain, Abu Muhammad Al-Hilaaliy Al-Ashbahaaniy, seorang yang matruuk [Mishbaahul-Ariib, 1/243 no. 4828].
6.    Al-Hasan Al-Bashriy rahimahullah secara mursal.
Diriwayatkan oleh Sa’iid bin Manshuur[30] no. 2194 : Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin ‘Ayyaasy, dari Abu ‘Umair Ash-Shuuriy, dari Al-Hasan, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam :
إن الله بعثني بسيفي بين يدي الساعة ، وجعل رزقي تحت ظل رمحي ، وجعل الذل والصغار على من خالفني ، ومن تشبه بقوم فهو منهم
“Sesungguhnya Allah mengutusku dengan pedangku menjelang hari kiamat, dijadikan rizkiku di bawah bayangan tombakku, dan dijadikan kehinaan serta kerendahan bagi siapa saja yang menyelisihiku. Dan barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”.
Keterangan perawi :
Ismaa’iil bin ‘Ayyaasy bin Sulaim Al-‘Ansiy, Abu ‘Utbah Al-Himshiy; seorang yangshaduuq dalam riwayat penduduk negerinya, namun tercampur (mukhtalith) dalam riwayat selainnya (w. 181/182 H) [Taqriibut-Tahdziib, hal. 142 no. 477].
Abu ‘Umair Ash-Shuuriy, namanya Abaan bin Sulaimaan. Ibnu Abi Haatim berkata : “ia termasuk hamba Allah yang shaalih, berbicara dengan hikmah” [Al-Jarh wat-Ta’diil, 2/300 no. 1106].
Al-Hasan, ia adalah Ibnu Abil-Hasan yang terkenal dengan Al-Hasan Al-Bashriy; seorang yang tsiqahfaadlil, lagi masyhuur (w. 110 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [Taqriibut-Tahdziib, hal. 236 no. 1237].
Selain mursal, sanad riwayat ini juga lemah sampai Al-Hasan karena Abu ‘Umair Ash-Shuuriy. Ia seorang yang majhuul haal.
7.    Thaawus rahimahullah secara mursal.
Diriwayatkan oleh Ibnul-Mubaarak dalam Al-Jihaad[31] no. 105, Al-Qadlaa’iy dalamMusnad Asy-Syihaab[32] no. 390, dan Ibnu Abi Syaibah[33] 5/313 & 12/351; semuanya dari Al-Auzaa’iy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin Jabalah, ia berkata : telah menceritakan kepadaku Thaawus Al-Yamaaniy : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ اللَّهَ بَعَثَنِي بِالسَّيْفِ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ، وَجَعَلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجَعَلَ الذُّلَّ وَالصَّغَارَ عَلَى مَنْ خَالَفَنِي، وَمَنْ تشبه بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ "
“Sesungguhnya Allah mengutusku dengan pedang menjelang hari kiamat. Ia menjadikan rizkiku di bawah bayangan tombakku, dan menjadikan kehinaan serta kerendahan atas orang yang menyelisihiku. Dan barangsiapa yang menyerupai satu kaum, maka ia termasuk golongan mereka’.
Selain mursal, riwayat ini juga tidak shahih sampai Thaawuus. Sa’iid bin Jabalah dari Thaawuus didla’ifkan oleh Asy-Syiiraaziy [Mishbaahul-Ariib, 2/19 no. 10594].
Kesimpulan hadits dengan keseluruhan jalannya adalah shahih.
Penjelasan Ringkas Hadits[34]
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengkhabarkan bahwa diri beliau diutus menjelang hari kiamat dengan pedang, maksudnya adalah dekat masanya antara masa pengutusan beliau kepada manusia hingga nanti ditegakkannya hari kiamat.
Sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘dengan pedang’ ; maksudnya beliau mengkhususkan diri beliau dengan pedang, meskipun nabi-nabi yang lain juga diutus dengan berperang dengan musuh-musuhnya, adalah karena apa yang mereka (para nabi lain) lakukan tidak menyamai apa yang beliau lakukan dalam hal ini. Bisa juga bahwa beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam hanya mengkhususkan dirinya dengan hal tersebut karena telah terdapat dalam kitab-kitab dimana hal itu dimaksudkan untuk menegur dua golongan Ahlul-Kitaab serta mengingatkan mereka apa-apa yang ada pada mereka.[35]
Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan inti risalah dan tujuan diutusnya beliau itu adalah untuk mentauhidkan Allah ta’ala dengan peribadahan, dan membatalkan segala macam bentuk kesyirikan. Dalam hadits tersebut terdapat isyarat pencapaian tujuan ini tidaklah akan terjadi kecuali dengan penegakkan jihad fii sabiilillahdengan memerangi para pelaku kesyirikan dan kesesatan.
Sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam ‘dan dijadikan rizkiku di bawah bayangan tombakku’ ; padanya terdapat isyarat halalnya ghanimah bagi umat ini. Dan juga bahwasannya rizki Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam ada pada ghaniimah tersebut, bukan selainnya dari penghasilan kerja (makaasib). Oleh karena itu, sebagian ulama berkata : Ini adalah penghasilan yang paling utama.[36] Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam makan dari sumber yang lain, akan tetapi kebanyakan rizkinya diperoleh dari jihad dimana beliau mempunyai bagian khusus dalam harta ghaniimah.[37]
Hikmah dalam pembatasan penyebutan tombak dalam hadits di atas, bukan selainnya dari peralatan perang seperti pedang, karena adat kebiasaan yang berlaku pada mereka saat itu bahwa bendera/panji peperangan diletakkan di ujung tombak. Maka ketika bayangan tombak menjadi sempurna (karenanya), penisbatan keberadaan rizki padanya pun menjadi lebih sesuai.[38]
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga mengkhabarkan bahwa kerendahaan dan kehinaan itu ada pada orang yang menyelisihi perkara yang beliau bawa. Itulah makna kerendahan/kehinaan secara maknawiy. Adapun secara hissiy (kongkret), maka kehinaan itu diwujudkan dengan pembayaran jizyah (orang kafir dzimmiy) kepada kaum muslimin.
Sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka
menunjukkan siapa saja yang berusaha meniru-niru/menyerupai seseorang, maka ia seperti orang yang ia serupai dalam keadaan dan tempat kembalinya.
Barangsiapa yang menyerupai orang-orang shaalih, maka orang itu pun shaalih dan akan dikumpulkan (kelak) bersama mereka. Dan begitu juga sebaliknya bagi orang yang menyerupai orang-orang kafir atau fasiq.[39]
Al-Munaawiy rahimahullah berkata :
وقيل المعنى : من تشبه بالصالحين وهو من أتباعهم يكرم كما يكرمون، ومن تشبه بالفساق يهان ويخذل كهم، ومن وضع عليه علامة الشرف أكرم وإن لم يتحقق شرفه، وفيه أن من تشبه من الجن بالحيات وظهر بصورتهم قتل....
“Dikatakan maknanya adalah : barangsiapa yang menyerupai orang-orang shaalih, maka ia termasuk orang yang mengikuti mereka. Ia pun dimuliakan sebagaimana orang-orang shaalih itu dimuliakan. Barangsiapa yang menyerupai orang-orang fasiq, maka akan dihinakan dan direndahkan sebagaimana mereka (dimuliakan dan direndahkan). Dan barangsiapa yang diletakkan padanya tanda-tanda kehormatan, ia lebih mulia meskipun kehormatannya itu tidak kelihatan. Dalam hadits itu juga terdapat faedah : barangsiapa menyerupai ular dan nampak dalam bentuknya (seperti ular) dari kalangan jin, boleh dibunuh….”.[40]
Ash-Shan’aaniy rahimahullah berkata :
والحديث دال على أن من تشبه بالفساق كان منهم أو بالكفار أو بالمبتدعة في أي شيء مما يختصمون به من ملبوس أو مركوب أو هيئة...
“Hadits tersebut menunjukkan bahwa siapa saja yang menyerupai orang-orang fasiq, maka ia termasuk golongan mereka. Atau menyerupai orang-orang kafir atau mubtadi’(pelaku bid’ah) dalam hal apa saja yang menjadi kekhususan mereka dengannya dalam gaya berpakaian, berkendaraan, atau gaya/tata cara yang lainnya….”.[41]
Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah berkata :
هذا الحديث أقل أحواله أن يقتضي تحريم التشبه بأهل الكتاب، وإن كان ظاهره كفر المتشبه بهم....
“Minimal, hadits ini menetapkan adanya keharaman tasyabbuh kepada Ahlul-Kitaab, meskipun pada dhahirnya (dapat) mengkafirkan orang yang bertasyabbuh kepada mereka…”.[42]
Perbuatan tasyabbuh dapat terjadi dalam perkara-perkara hati seperti keyakinan (i’tiqad) dan kehendak; dan bisa juga dalam perkara-perkara lahiriyah seperti berbagai macam ibadah dan kebiasaan.[43]
Wallaahu a’lam bish-shawwaab.
Itu saja yang dapat dituliskan. Semoga yang sedikit ini ada manfaatnya.
[abu al-jauzaa’, jokja, awal tahun baru masehi 2011].



[1]      حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتٍ، حَدَّثَنَا حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجُرَشِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: " مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ "
[2]      حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَزِيدَ يَعْنِي الْوَاسِطِيَّ، أَخْبَرَنَا ابْنُ ثَوْبَانَ، عَنْ حَسَّانَ بْنِ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجُرَشِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: " بُعِثْتُ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ "
حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتِ بْنِ ثَوْبَانَ، حَدَّثَنَا حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجُرَشِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: " بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ"
[3]      حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتِ بْنِ ثَوْبَانَ، حَدَّثَنَا حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجُرَشِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: " بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذُّلُّ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ"
[4]      حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ ثَوْرٍ الْجُذَامِيُّ، قَالَ: ثنا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ الْفِرْيَابِيُّ، ح وَحَدَّثَنَا أَبُو زُرْعَةَ الدِّمَشْقِيُّ، ثنا عَلِيُّ بْنُ عَيَّاشٍ الْحِمْصِيُّ، ح وَحَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَزِيزٍ الْمَوْصِلِيُّ، ثنا غَسَّانُ بْنُ الرَّبِيعِ، قَالُوا: ثنا ابْنُ ثَوْبَانَ، عَنْ حَسَّانَ بْنِ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجُرَشِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: " بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَتِ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَنِي،وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ " – 216.
[5]      حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ ثَابِتِ بْنِ ثَوْبَانَ، قَالَ: حَدَّثَنِي حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجُرَشِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: " بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ مَعَ السَّيْفِ، وَجُعِلَ رِزْقِي فِي ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذُّلُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ ".
[6]      حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ ثَوْبَانَ، حَدَّثَنَا حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجُرَشِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: " بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا يُشْرَكَ بِهِ شَيْءٌ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تشبه بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ".
حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجُرَشِيِّ،عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: " إنَّ اللَّهَ جَعَلَ رِزْقِي تَحْتَ رُمْحِي وَجَعَلَ الذِّلَّةَ وَالصَّغَارَ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، مَنْ تشبه بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ " – 12/531.
[7]      وَقَالَ أَبُو يَعْلَى الْمَوْصِلِيُّ: ثنا زُهَيْرٌ، ثنا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ، ثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتِ بْنِ ثَوْبَانَ، ثنا حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْحَارِثِ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: " بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيَّ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ، حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَا شَرِيكَ لَهُ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجَعَلَ الذِّلَّةَ وَالصَّغَارَ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي،وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ ".
قَالَ أَبُو يَعْلَى الْمَوْصِلِيُّ: ثنا زُهَيْرٌ، ثنا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ، ثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتِ بْنِ ثَوْبَانَ، ثنا حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجَرْشِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: " بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ تَعَالَى وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَجَعَلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجَعَلَ الذِّلَّةَ وَالصَّغَارَ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ ". قَالَ: وثنا إِسْحَاقُ بْنُ أَبِي إِسْرَائِيلَ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ يَزِيدَ، ثنا ابْنُ ثَوْبَانَ فَذَكَرَهُ..
[8]      نا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُعَاوِيَةَ الْقَيْسَرَانِيُّ، نا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ الْفِرْيَابِيُّ، نا ابْنُ ثَوْبَانَ، عَنْ حَسَّانَ بْنِ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجُرَشِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: " بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهَ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذُّلُّ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهو مِنْهُمْ.
[9]      حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْوَرَّاقُ، نَا غَسَّانُ بْنُ الرَّبِيعِ، نَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتِ بْنِ ثَوْبَانَ، عَنْ حَسَّانِ بْنِ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: " بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَنِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ، فَهُوَ مِنْهُمْ ".
[10]     أَخْبَرَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ الأَصْبَهَانِيُّ، أنا أَبُو سَعِيدِ ابْنُ الأَعْرَابِيِّ، ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُعَاوِيَةَ الْقَيْسَرَانِيُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ الْفِرْيَابِيُّ، ثنا ابْنُ ثَوْبَانَ. ح وَأَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ، ثنا أَبُو الْعَبَّاسِ الأَصَمُّ، ثنا الْحَسَنُ بْنُ الْمُكَرَّمِ، ثنا أَبُو النَّضْرِ، ثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتِ بْنِ ثَوْبَانَ، ثنا حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجُرَشِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: " بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ، حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ ".
[11]     وَأَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، أَخْبَرَنَا زَاهِرُ بْنُ أَحْمَدَ الْفَقِيهُ، حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ الْجَعْدِ، أَخْبَرَنَا ابْنُ عَسْكَرٍ، حَدَّثَنَا الْفِرْيَابِيُّ، وَعَلِيُّ بْنُ عَيَّاشٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا ابْنُ ثَوْبَانَ، عَنْ حَسَّانِ بْنِ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: " بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَّبَهَ بَقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ ".
[12]     وَنَا أَبُو الْحُسَيْنِ عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْمُعَدِّلُ، إِمْلاءً، وَأَنَا الْحَسَنُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ، قِرَاءَةً عَلَيْهِ، قَالا: أنا أَبُو عُمَرَ الزَّاهِدُ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْوَاحِدِ، نا مُوسَى بْنُ سَهْلٍ الْوَشَّاءُ، أنا أَبُو النَّضْرِ، نا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتِ بْنِ ثَوْبَانَ، نا حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجُرَشِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: " بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ، حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَجَعَلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجَعَلَ الذُّلَّ وَالصَّغَارَ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي،وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ ".
[13]     أَخْبَرَنَا أَبُو الْحُسَيْنِ عَلِيُّ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ الْوَلِيدِ الْمُرِّيُّ الْمُقْرِئُ، ثنا أَبُو الْقَاسِمِ أَخْطَلُ بْنُ الْحَكَمِ بْنِ جَابِرٍ الْقُرَشِيُّ، ثنا الْفِرْيَابِيُّ، ثنا ابْنُ ثَوْبَانَ، عَنْ حَسَّانَ بْنِ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجُرَشِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: " بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذُّلُّ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ ".
[14]     وقد أخبرنا ابن الحسين نا بن المذهب نا احمد بن جعفر ثنا عبد الله بن احمد ثنى أبي ثنا أبو النصر ثنا عبد الرحمن بن ثابت بن ثوبان ثنا حسان بن عطية عن أبي منيب الحرسي عن ابن عمر قال قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "من تشبه بقوم فهو منهم"
[15]     ثنا مُحَمَّدٌ قَالَ: ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْهَيْثَمِ قَالَ: ثنا عَلِيُّ بْنُ عَيَّاشٍ، قَالَ: ثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتِ بْنِ ثَوْبَانَ، عَنْ حَسَّانِ بْنِ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجُرَشِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَتِ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي،وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ "..
[16]     أَخْبَرَنَا بِهِ أبو الفرج بن قدامة، وأَبُو الْغَنَائِمِ بْنُ عَلانَ، وأحمد بن شيبان، قَالُوا: أَخْبَرَنَا حنبل، قال: أَخْبَرَنَا ابْنُ الْحُصَيْنِ، قال: أَخْبَرَنَا ابن المذهب، قال: أَخْبَرَنَا الْقَطِيعِيُّ، قال: حَدَّثَنَا عبد الله بن أحمد، قال: حَدَّثَنِي أَبِي، قال: حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ، قال: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتِ بْنِ ثَوْبَانَ، قال: حَدَّثَنَا حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجُرَشِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قال: قال رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم: " بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِّ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ وحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ رُمْحِي، وجُعِلَ الذُّلُّ والصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، ومَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ ".
[17]     قَرَأْتُ عَلَى أَحْمَدَ بْنِ إِسْحَاقَ الزَّاهِدِ، أَنْبَأَنَا ظَفْرُ بْنُ سَالِمٍ بِبَغْدَادَ سَنَةَ عِشْرِينَ وَسِتِّ مِائَةٍ، أَخْبَرَنَا هِبَةُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ الشِّبْلِيُّ سَنَةَ 557، أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ أَبِي عُثْمَانَ، أَخْبَرَنَا أَبُو الْحُسَيْنِ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ الْقَاسِمِ سَنَةَ سَبْعٍ وَأَرْبَعِ مِائَةٍ، حَدَّثَنَا أَبُو عُمَرَ غُلَامُ ثَعْلَبٍ، حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ سَهْلٍ الْوَشَّاءُ، حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتِ بْنِ ثَوْبَانَ، حَدَّثَنَا حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجُرَشِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: " بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ، حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ، لا شَرِيكَ لَهُ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذُّلُّ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ ". إِسْنَادُهُ صَالِحٌ.
[18]     قَرَأْتُهُ تَامًّا عَلَى إِبْرَاهِيمَ بْنِ أَحْمَدَ بْنِ الْحَرِيرِيِّ، عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ يُوسُفَ بْنِ مَكْتُومٍ، وَغَيْرِ وَاحِدٍ، أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ بْنِ اللَّتِّيِّ أَخْبَرَهُمْ، أنا عَبْدُ الأَوَّلِ بْنُ عِيسَى، أنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مُحَمَّدٍ الدَّاوُدِيُّ، أنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ أَعْيَنَ، أنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ خُرَيْمِ بْنِ قَمَرٍ، أنا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ، حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ هُوَ الطَّيَالِسِيُّ،، قَالا: ثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتِ بْنِ ثَوْبَانَ. ح وَقَرَأْتُهُ عَلَى فَاطِمَةَ بِنْتِ، أَخْبَرَكُمْ أَحْمَدُ بْنُ أَبِي طَالِبٍ، عَنْ يَاسَمِينَ بِنْتِ الْبَيْطَارِ، أَنَّ هِبَةَ اللَّهِ بْنَ الشِّبْلِيِّ أَخْبَرَهُمْ، أنا أَبُو الْغَنَائِمِ بْنُ الْمُنْتَابِ، أنا أَبُو الْحُسَيْنِ الضَّبِّيُّ، ثنا أَبُو عُمَرَ الزَّاهِدُ غُلامُ تَغْلِبَ، ثنا مُوسَى بْنُ سَهْلٍ، ثنا أَبُو النَّضْرِ، ثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتِ بْنِ ثَوْبَانَ، عَنْ حَسَّانِ بْنِ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجُرْشِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ مَعَ السَّيْفِ "، وزاد أبو النضر: " حتى يعبد الله وحده لا شريك له " ثم اتفقوا: " وجعل رزقي تحت ظل رمحي، وجعل الذلة والصغار على من خالف أمري، ومن تشبه بقوم فهو منهم ".
[19]     حَدَّثَنَا أَبُو أُمَيَّةَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ وَهْبِ بْنِ عَطِيَّةَ، حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، حَدَّثَنَا الأَوْزَاعِيُّ، عَنْ حَسَّانَ بْنِ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجُرَشِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلامُ: " بُعِثْتُ بِالسَّيْفِ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ لِيُعْبَدَ اللَّهُ صلى الله عليه وسلم وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذُّلُّ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَنِي،وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ "..
[20]     حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْمُعَلَّى بْنِ يَزِيدَ، قَالَ: حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ، وَعَمْرُو بْنُ عُثْمَانَ، وَكَثِيرُ بْنُ عُبَيْدٍ، قَالُوا: حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا الأَوْزَاعِيُّ، عَنْ حَسَّانَ بْنِ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي الْمُنِيبِ الْجُرَشِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: " إِنَّ اللَّهَ بَعَثَنِي بِالسَّيْفِ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ لا يُشْرَكَ بِهِ، وَجَعَلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجَعَلَ الذُّلَّ وَالصَّغَارَ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ ".
[21]     حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَرْزُوقٍ، قَالَ: أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ الْخَطَّابِ، قَالَ: أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ غُرَابٍ، قَالَ: أَخْبَرَنَا هِشَامُ بْنُ حَسَّانَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ، عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ بْنِ حُذَيْفَةَ، عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: " مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ "،.
[22]     حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ زَكَرِيَّا، ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَرْزُوقٍ، نا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ الْخَطَّابِ، ثَنَا عَلِيُّ بْنُ غُرَابٍ، عَنْ هِشَامِ بْنِ حَسَّانٍ، عَنِ ابْنِ سِيرِينَ، عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ بْنِ حُذَيْفَةَ، عَنْ أَبِيهِ، أَنّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: " مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ".
[23]     حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ إِسْحَاقَ، ثَنَا أَبِي، ثَنَا عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ، ثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَالِمٍ، عَنِ الزُّبَيْدِيِّ، ثَنَا نُمَيْرُ بْنُ أَوْسٍ، أَنَّ حُذَيْفَةَ بْنَ الْيَمَانِ، كَانَ يَرُدُّهُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: " مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ".
[24]     أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدٍ الْحَافِظُ، أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ يَعْقُوبَ الْحَجَّاجِيُّ، أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ هَاشِمِ بْنِ مِرْثَدٍ، أَنَّ دُحَيْمًا حَدَّثَهُمْ، حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ أَبِي سَلَمَةَ، حَدَّثَنَا صَدَقَةُ، عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: " بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذُّلُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَنِي، وَمَنْ تَشَّبَهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ ".
[25]     حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، ثنا ابْنُ عَبْدِ اللَّهِ، عَنِ الأَوْزَاعِيِّ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: " إِنَّ اللَّهَ تعالى بَعَثَنِي بِالسَّيْفِ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ، وَجَعَلَ رِزْقِي فِي ظِلِّ رُمْحِي، وَجَعَلَ الذُّلَّ وَالصَّغَارَ عَلَى مَنْ خَالَفَنِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ ".
[26]     أَخْبَرَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ اللَّتِّيِّ، أَخْبَرَنَا أَبُو الْوَقْتِ، أَخْبَرَنَا أَبُو إِسْمَاعِيلَ، أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ الْحَافِظُ، أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْحَجَّاجِيُّ، أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ هَاشِمٍ، حَدَّثَنَا دُحَيْمٌ، حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ أَبِي سَلَمَةَ، حَدَّثَنَا صَدَقَةُ، عَنِ الأَوْزَاعِيِّ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: " بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذُّلُّ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ ".
[27]     حَدَّثَنَا أَبُو ذَوَالَةَ، حَدَّثَنِي أَبِي عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مَرْوَانَ، عَنْ جَدِّهِ أَبَانِ بْنِ سُلَيْمَانَ بْنِ مَالِكٍ اللَّيْثِيِّ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: " مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ، وَمَنْ أَحَبَّ قَوْمًا حُشِرَ مَعَهُمْ ".
[28]     وَحَدَّثَنِيهِ عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ بْنِ مُحَمَّدٍ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ السُّرِّيِّ الْبَوْسَنْجِيُّ، حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عُفَيْرٍ، حَدَّثَنَا الْحَجَّاجُ بْنُ يُوسُفَ بْنِ قُتَيْبَةَ، حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْحُسَيْنِ، عَنِ الزُّبَيْرِ بْنِ عَدِيٍّ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: " جُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذُّلُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ ".
[29]     حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرِ بْنِ يُوسُفَ، ثنا أَبُو الْعَبَّاسِ أَحْمَدُ بْنُ مَحْمُودِ بْنِ صُبَيْحٍ، ثنا الْحَجَّاجُ بْنُ يُوسُفَ بْنِ قُتَيْبَةَ، ثنا بِشْرُ بْنُ الْحُسَيْنِ الأصبهانيُّ، ثنا الزُّبَيْرُ بْنُ عَدِيٍّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: " بُعِثْتُ بَيْنَ يَدِيِ السَّاعَةِ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذُّلُّ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَنِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ لِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ ".
[30]     حدثنا سعيد قال : نا إسماعيل بن عياش ، عن أبي عمير الصوري ، عن الحسن ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « إن الله بعثني بسيفي بين يدي الساعة ، وجعل رزقي تحت ظل رمحي ، وجعل الذل والصغار على من خالفني ، ومن تشبه بقوم فهو منهم »
[31]     عَنِ الأَوْزَاعِيِّ، قَالَ: حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ جَبَلَةَ، قَالَ: حَدَّثَنِي طَاوُسٌ الْيَمَانِيُّ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: " إِنَّ اللَّهَ بَعَثَنِي بِالسَّيْفِ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ، وَجَعَلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجَعَلَ الذُّلَّ وَالصَّغَارَ عَلَى مَنْ خَالَفَنِي، وَمَنْ تشبه بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ ".
[32]     أَخْبَرَنا أَبُو الْقَاسِمِ الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدٍ الأَنْبَارِيُّ، ثنا أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ مِسْوَرٍ، ثنا مِقْدَامٌ، ثنا عَلِيُّ بْنُ مَعْبَدٍ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ، عَنِ الأَوْزَاعِيِّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جَبَلَةَ، قَالَ: حَدَّثَنِي طَاوُسٌ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: " مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ ".
[33]     حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ، عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جَبَلَةَ، عَنْ طَاوُسٍ، أَنّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: " إنَّ اللَّهَ بَعَثَنِي بِالسَّيْفِ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذُّلُّ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَنِي وَمَنْ تشبه بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ " – 5/313.
حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ، عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جَبَلَةَ، عَنْ طَاوُسٍ، أَنّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: " إنَّ اللَّهَ بَعَثَنِي بِالسَّيْفِ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ، وَجَعَلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجَعَلَ الذُّلَّ وَالصَّغَارَ عَلَى مَنْ خَالَفَنِي، وَمَنْ تشبه بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ "، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جَبَلَةَ، عَنْ طَاوُسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ ذَكَرَ مِثْلَهُ - 12/351.
[34]     Saya ambil dari buku At-Tasyabbuh Al-Manhiy fil-Fiqhil-Islaamiy oleh  Jamiil bin Habiib Al-Luwaihiq, hal. 28-29; thesis Fakultas Syari’ah, Univeristas Ummyl-Qurra’, tahun 1417 H.
[35]     Lihat : Al-Fathur-Rabbaaniy li-Tartiibi Musnad Al-Imaam Ahmad bin Hanbal Asy-Syaibaaniy bersama dengan syarh-nya : Buluughul-Amaaniy; keduanya merupakan tulisan Ahmad bin ‘Abdirrahmaan Al-Bannaa, Daaru Ihyaa At-Turaats Al-‘Arabiy, Beirut, 22/40.
[36]     Lihat : Fathul-Baariy 6/.
[37]     Lihat : Al-Fathur-Rabbaaniy 22/40.
[38]     Lihat : Fathul-Baariy oleh Ibnu Hajar, 6/98.
[39]     Lihat : Al-Fathur-Rabbaaniy oleh Al-Bannaa 22/40.
[40]     Faidlul-Qadiir oleh Al-Munaawiy, 6/104.
[41]     Subulus-Salaam oleh Ash-Shan’aaniy, 4/347.
[42]     Iqtidlaa’ Ash-Shiraathil-Mustaqiim oleh Ibnu Taimiyyah, 1/237.
[43]     Lihat : Faidlul-Qadiir oleh Al-Munaawiy, 6/104.


from=http://abul-jauzaa.blogspot.fr/2011/01/takhrij-hadits-barangsiapa-yang.html
Baca Selengkapnya >>>