Islam Pedoman Hidup: Waktu
Tampilkan postingan dengan label Waktu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Waktu. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Maret 2022

Pertanyaan Pedih…

 


Ust, boleh minta nasehatnya sedikit ?

Begini, kakak saya mengadu pada saya, suaminya kan aktif sekali di medsos. Setiap pagi bangun tidur yang dipegang hp duluan, buka twitter atau fb. Sebelum sholat shubuh & sesudahnya, juga liat hp, bahkan kadang dzikir paginya terlewat. Jika ditegur, alasannya berdakwah. Semua-semua dikomentari & ditanggapi. Nanti ditempat kerja juga demikian, sampai sore dan malam menjelang tidur. Kakak saya liat yang difollow pun banyak akhowat.

Bagaimana sebaiknya sikap kakak saya terhadap suaminya ini?

Jawabanku untuknya..

Hendaklah bertaqwa kepada Allah..
sibukkanlah dengan yang lebih bermanfaat..
berapa banyak ilmu yang belum kita kuasai..
berapa banyak ayat dan hadits yang belum kita hafal..
akankah kita sibuk di dunia maya..
lalu sunnah sunnah Nabi kita lalaikan..
hak Allah kita gampangkan..
dimanakah hak istri dan keluarga..
dimanakah tanggung jawab amanah dalam pekerjaan..

Saudaraku..
janganlah tertipu dengan tipu daya setan..
ia datang kepadamu dibalik alasan yang mentereng..
katanya untuk dakwah..
katanya untuk kebaikan..
seakan kebaikan hanya ada pada media sosial..
lantas..
dimanakah mushaf al qur’an..
dimanakah shahih bukhari dan muslim..
jiwa yang hanif tak akan pernah puas dari al qur’an..

Saudaraku..
kesibukkan di medsos..
membuat lalai dari berdzikir kepada Allah..
hati pun sibuk untuk berfikir memberi komentar..
lalu seringkali jatuh dalam perdebatan..
menimbulkan kekeruhan hati..
padahal salaf terdahulu berkata..
mengingat manusia adalah penyakit..
sedangkan mengingat Allah adalah obat..

Saudaraku..
komentar komentarmu kelak akan ditanya oleh Allah..
berfikirlah sejenak dengan keilmuan..
dengan hati yang dingin..
bukan dengan ego dan kemarahan..
apakah kesibukanmu di medsos lebih baik..
atau sibuk duduk mengkaji ilmu..
mendalami al quran dan hadits..
tanyalah dirimu..
renungkanlah..

Semoga Allah memberi taufiq..
Kepadamu dan kepadaku.

_____

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc,  حفظه الله تعالى

 

Baca Selengkapnya >>>

Jumat, 17 Mei 2019

Nikmat Waktu Luang, untuk Apa?







Kalau kita mau merenungkan dan menghitung nikmat-nikmat Allah Ta’ala, siapa pun manusia di dunia tentu tidak akan mampu menghitungnya. Allah Ta’ala berfirman,
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak mampu untuk menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).(QS. Ibrahim [14]: 34)

Berbagai nikmat Allah Ta’ala itu seharusnya bisa kita manfaatkan dengan baik, untuk meningkatkan ibadah dan ketaatan kepada Allah Ta’ala. 
Sedikit apa pun nikmat yang kita terima, seharusnya kita syukuri. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ
Barangsiapa yang tidak mensyukuri (nikmat) yang sedikit, maka dia sulit untuk mensyukuri (nikmat) yang banyak.(HR. Ahmad 4: 278. Dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah no. 667)

Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan kita bahwa terdapat dua nikmat yang mayoritas manusia tidak bisa memanfaatkannya dengan baik, apalagi mensyukurinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
Ada dua nikmat yang banyak manusia tidak bisa memanfaatkan dengan baik, yaitu nikmat sehat dan waktu luang. (HR. Bukhari no. 6412).

Waktu senggang (waktu luang) adalah di antara nikmat yang banyak dilalaikan dan disia-siakan.
Padahal, setiap nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan kepada kita, kelak akan ditanyakan pada hari kiamat. Allah Ta’ala berfirman,
ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
“Kemudian kamu pasti akan ditanya tentang kenikmatan (yang kamu bermegah-megahan di dunia itu).(QS. At-Takaatsur [102]: 8)

Berkaitan dengan nikmat waktu, Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam pernah menasehati seseorang,
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: (1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu; (2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu; (3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu; (4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu; (5) Hidupmu sebelum datang matimu.(HR. An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra no. 11832; Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no. 7846; dan lain-lain. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhiib.)

Di antara metode dan kiat terbesar bagi kita agar dapat memanfaatkan waktu dengan baik adalah dengan meninggalkan segala aktivitas yang sia-sia. Diriwayatkan dari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ
Di antara kebaikan Islam seseorang adalah dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.(HR. Tirmidzi no. 2317; Ibnu Majah no. 3976. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani.)

Betapa sering kita melewatkan waktu hanya untuk aktivitas yang sia-sia. Di antaranya dengan menghabiskan waktu malam hanya untuk “ngobrol” yang tidak ada manfaatnya. Sehingga akibatnya, kita tidur larut malam sehingga terlambat bangun subuh.

Padahal, perlu diketahui bahwa menghabiskan malam dengan begadang tanpa ada urgensi dan kepentingan yang memang bermanfaat (baik manfaat duniawi maupun manfaat untuk agama) itu termasuk perbuatan yang dibenci oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan dari Abu Barzah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.” (HR. Bukhari no. 568)

Dan karena bangun kesiangan, kita pun akhirnya terlewat dari mendapatkan keberkahan waktu subuh. Dari sahabat Shakhr Al-Ghamidiy, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا
“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.(HR. Abu Dawud no. 2606; At-Tirmidzi no. 1212; Ibnu Majah no. 2236; dan dinilai shahih oleh Al-Albani)
Kita berdoa kepada Allah Ta’ala, agar di Ramadhan tahun ini, kita bisa dimudahkan untuk memanfaatkan setiap detik waktu kita untuk aktivitas ibadah kepada Allah Ta’ala untuk meraih derajat ketakwaan.

*** @Bengkel AHASS Godean, 1 Ramadhan 1440/6 Mei 2019
Penulis: M. Saifudin Hakim
Artikel: Muslim.Or.Id
_______________
Share Ulang
Baca Selengkapnya >>>

Sabtu, 14 April 2018

Di Bela-Belain…


FENOMENA NYATA yang ada di sekitar kita:
   Acara arisan dibela-belain hadir
   Jalan-jalan keluar kota dibela-belain ikutan
   Olahraga ini dan itu dibela-belain ikut serta
   Ada sepeda santai juga dibela-belain daftar
   Makan bareng di luar pun dibela-belain gabung
   Kegiatan ini itu benar-benar dibela-belain bisa ikutan
   Untuk nonton bola/batminton, dll. on-line dibela-belain beli kuota internet
   Langganan koran setiap hari juga dibela-belain, dst.

Terkadang sampai keluar biaya tidak sedikit,
bisa jadi sampai izin cuti kerja,
hingga hal yang lebih penting benar-benar terlalaikan.

Namun, ada satu hal yang tidak dibela-belain, apa itu ?
Urusan akhirat;
beli buku-buku agama, hadir di majelis-majelis ilmu, melancarkan bacaan al-Quran, keluar kota untuk menuntut ilmu, beli kendaraan untuk menghadiri taman-taman surga, dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan agama.

Padahal, perkara agama jauh lebih penting dan utama dari pada urusan dunia. Akhirat akan kekal abadi, sementara dunia akan fana dan sirna.

SEMESTINYA, YANG PENTING untuk dibela-belain itu:
   Sekali, dua kali atau lebih ambil cuti kerja untuk menghadiri majelis ilmu; yang dekat dan yang jauh
   Beli alat tulis, rekam, dst. untuk menuntut ilmu
   Sebagian gaji bulanan dibelikan buku agama, seperti setiap bulan belanjakan Rp. 100.000 atau lebih
   Beli mobil tuk menghadiri majelis ilmu, ajak serta-merta keluarga, sahabat dan tetangga untuk menghadirinya
   Beli kuota internet untuk menyimak kajian-kajian Islam
   Asah terus bacaan al-Quran hingga benar-benar lancar. Hafalan surat-surat pendek pun sangat perlu untuk terus ditambah
   Kerjakanlah ini itu dari perkara agama. Benar-benar dibela-belain untuk bisa mengerjakannya, lalu dirutinkan.

Jika anda sudah mengerjakannya, maka alhamdulillah,
pujilah Allah semata dan bersyukurlah kepada-Nya.
Kemudian yang diperlukan adalah dibela-belain untuk istiqomah mengerjakannya.
Jika belum melakukannya,
maka usahakan untuk dilakukan dan perlu dibela-belain untuk bisa melakukannya.

Kalau ada yang bilang, “Ngurus amat, ente. Nafsi-nafsi ajalah!
Maka perlu diketahui,
bahwa ini adalah nasihat. Bila baik, maka hak nasihat kebaikan adalah diterima dan diamalkan.
Bila tidak baik, abaikan dan lupakan saja.

Semoga Allah membimbing kita semua untuk istiqomah di atas agama-Nya.

_________
Ustadz Muhammad Sulhan Jauhari, Lc., M.H.I.,  حفظه الله تعالى




____________________________
Share Ulang

·                  Citramas, Cinunuk.
·                  from= http://bbg-alilmu.com/archives/35361

Baca Selengkapnya >>>

Selasa, 26 September 2017

Satu Nafas Yang Sebanding Dengan Lebih Dari Semilyar Tahun…


Ibnu Qudamah -rohimahulloh- mengatakan:

Manfaatkanlah kehidupanmu yang berharga, dan jagalah waktumu yang bernilai tinggi -semoga Allah merahmatimu-.
Ingatlah bahwa masa hidupmu itu terbatas, dan nafasmu itu terhitung, dan setiap nafas (yang keluar) itu mengurangi bagian dari dirimu.
Umur ini semuanya pendek, dan sisa dari umur itu tinggal sedikit, dan setiap bagian dari umur itu adalah mutiara berharga yang tiada bandingannya dan tiada gantinya, karena dengan kehidupan yang sedikit ini akan (didapatkan) keabadian yang tiada akhir; dalam kenikmatan atau dalam azab yang pedih.
Dan jika kau bandingkan kehidupan ini dengan keabadian yang tiada akhir itu, kamu akan tahu bahwa setiap nafas itu sebanding dengan lebih dari SEMILYAR tahun; DALAM KENIKMATAN YANG TAK TERBAYANGKAN ATAU SEBALIKNYA
Maka, janganlah kamu sia-siakan umurmu -yang merupakan mutiara berharga itu- dengan tanpa amal, dan jangan sampai dia pergi tanpa ganti.
Bersungguh-sungguhlah agar setiap nafasmu tidak kosong dari amal ketaatan atau amal ibadah yang mendekatkanmu (kepada-Nya).
Karena seandainya kamu memiliki suatu perhiasan dunia saja; kamu akan merugi bila dia hilang, lalu bagaimana meruginya bila kamu menyia-nyiakan waktu-waktumu, dan bagaimana kamu tidak sedih karena umurmu hilang tanpa ada ganti ?!”. [Kitab: Ghidza’ul Albab 2/351].

Subhanallah… ternyata setiap nafas Anda itu sangat berharga sekali… Sudahkah Anda menghargainya sesuai dengan nilainya? Jawablah untuk diri Anda sendiri.
__________________

Ustadz Musyaffa Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى


Share Ulang:

  • Citramas, Cinunuk, Bandung
  • from= http://bbg-alilmu.com/archives/12799
Baca Selengkapnya >>>

Minggu, 19 Februari 2017

Waktu Berlalu Panjang…


Allah Ta’ala berfirman:
ألم يأن للذين ءامنوا أن تخشع قلوبهم لذكر الله و ما نزل من الحق ولا يكونوا كالذين أوتوا الكتاب من قبل فطال عليهم الأمد فقست قلوبهم وكثير منهم فاسقون
“Belumkah saatnya untuk orang-orang yang beriman..
agar hati mereka merasa khusyu’ dengan mengingat Allah..
dan apa yang Allah turunkan dari alhaq (al qur’an)..
Dan jangan mereka seperti ahli kitab terdahulu..
waktu berlalu panjang kepada mereka..
lalu hati mereka menjadi keras dan kebanyakan mereka orang-orang yang fasiq.” (Al Hadiid: 16).
Belumkah saatnya ?
Ya.. Sudah saatnya..
sekarang juga saatnya..
Membuka lembaran baru..
Menghidupkan hari hari dengan berdzikir dan membaca al qur’an..
Namun..
Allah melarang kita seperti ahli kitab..
Panjangnya waktu kepada mereka ternyata tidak menambah kekhusyu’an..
Malah menjadi keras hati mereka..
Sungguh..
Peringatan untuk kita semua..
Sudah berapa tahun kita sholat?
Sudah berapa tahun kita menuntut ilmu?
Sudah berapa tahun kita membaca alqur’an?
Apakah semua itu menambah rasa takut kita kepada Allah?
Ataukah menambah kerasnya hati..
Laa ilaaha illallah..
Ya Allah.. Jangan jadikan hati kami keras dengan panjangnya waktu..
Tambahkan kekhusyu’an di hati kami..
Wahai yang membolak balikkan hati..
Kokohkan hati kami..
Untuk senantiasa istiqomah di jalanMu..
Sampai akhir hayat kami..
Amiin
_________
Badru Salam,  حفظه الله تعالى
from=http://bbg-alilmu.com/archives/1239
Baca Selengkapnya >>>

Minggu, 14 Agustus 2016

Karena Waktu Kita Begitu Berharga


Renungan Pertama : Waktu dalam pandangan Islam

Orang barat mengatakan “Time is Money“, “Waktu adalah Uang”.  Sebuah semboyan yang setidaknya benar-benar menggambarkan pola pikir mereka yang individualis, materialistis, dan kapitalis dalam menyikapi arti sebuah waktu. Yang setidaknya hal ini juga tercermin didalam pola bermuamalah yang mereka terapkan.

Sedangkan orang arab mengatakan di dalam pepatahnya :
الوقت كالسيف إن لم تقطعه قطعك ، ونفسك إن لم تشغلها بالحلال شغلتك بالحرام والوقوع في الآثام
Waktu diibaratkan pedang, jika engkau tidak memotongnya maka waktulah yang akan memotongmu, dan jika engkau tidak menyibukkan dirimu dengan sesuatu yang halal, maka dia akan menyibukkanmu dengan sesuatu yang haram serta perbuatan-perbuatan dosa”,

Tentunya sebuah semboyan yang sangat indah serta menyentuh jiwa.
Lalu seperti apakah ajaran agama Islam dalam memandang dan menyikapi waktu ??,  Berikut ini adalah ulasannya secara singkat,

Pertama : Islam menjadikan waktu sebagai sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia, sebagaimana telah diisyaratkan oleh Alloh  yang telah bersumpah dengan nama waktu di dalam banyak ayat, diantaranya dalam firmanNya  :
{ وَالْعَصْرِ,  إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ }
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian”  (QS. Al-`Ashr: 1-2 )

{ وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى,  وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى }
Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan siang apabila terang benderang” ( QS. Al-Lail : 1-2 )

{ وَالضُّحَى,  وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى }
Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi (gelap)”  (QS. Adh-Dhuha : 1-2)

Dan tidaklah Alloh  bersumpah di beberapa ayat dengan nama waktu, melainkan hal tersebut menunjukkan atas kemuliaan serta keagungan hal tersebut, yaitu dalam hal ini adalah waktu. 

Kedua : Islam mendorong seseorang untuk menggunakan waktu dengan baik, agar orang tersebut bisa mengambil pelajaran dan bersyukur atas nikmat waktu yang Alloh  anugerahkan kepadanya.

Alloh Subhanahu wa ta'ala telah berfirman :
{ وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِّمَنْ أَرَادَ أَن يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا }
Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur” (QS. Al-Furqan : 62)

Yaitu dengan perputaran waktu, maka manusia dapat mengambil pelajaran yang sangat penting mengenai tujuan penciptaannya, yaitu beribadah kepada Allah  serta menjalankan Syariat-Nya, mengingat ajal yang pasti akan menjemputnya, dan mempersiapkan bekal bagi kehidupan di akhiratnya yang kekal dan abadi. 

Ketiga : Islam telah memberikan pujiannya serta mensifati orang-orang yang mengisi waktunya dengan berfikir dan menjalankan ketaatan dijalan Alloh  dengan sebutan Ulil Albab  (Orang yang berakal).

Alloh  Ta'ala telah berfirman :
{ إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لِّأُوْلِي الألْبَابِ }
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal ” (QS. Ali Imran : 190)

Berdasarkan ayat diatas, maka orang-orang yang tidak bisa mensyukuri serta mengisi waktunya dengan berfikir dan menjalankan ketaatan dijalan Alloh  maka tidaklah pantas untuk dikatakan sebagi manusia yang berakalwal `iyadzu billah.  

Keempat : Waktu adalah nikmat & karunia Alloh  yang terlupakan oleh kebanyakan manusia.

Rasululloh Shallallahu'alaihi wa sallam pernah bersabda :
(( نعمتانِ مغْبونٌ فيهما كثيرُ من الناس : الصِحةُ والفراغُ ))
Dua nikmat yang kebanyakan manusia rugi di dalamnya : Kesehatan dan Waktu Luang ” (HR. Bukhari)

Akan tetapi, sangat disayangkan sekali, banyak sekali manusia yang lalai akan kedua nikmat ini. Dan merekapun baru menyadari akan besarnya nikmat ini setelah mereka kehilangannya. Kehilangan kesehatan yang telah berganti dengan sakit menahun yang berkepanjangan tidak diketahui ujungnya, dan kehilangan Waktu luang yang telah berganti dengan kegiatan dan kesibukan yang tiada henti dan datang secara bertubi-tubi, wal `iyadzu billah.     

Kelima : Kita akan dimintai pertanggung jawaban dihadapan Alloh  akan waktu yang telah kita pergunakan.

Rasululloh Shallallahu'alaihi wa sallam pernah menjelaskan hal ini didalam sabdanya  :
 لنْ تزُولَ قدما عبد يوم القيامة حتى يُسألُ عن أربع ))
 عن عمره فيما أفناه ، وعن شبابه فيما أبلاه ، وعن علمه ماذا عمِل به ،
 (( وعن ماله من أين أخذه وفيما أنفقه 
Tidak tergelincir kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga Allah menanyakan empat hal: Umurnya; dihabiskan untuk apa, Waktu mudanya; digunakan untuk apa,  Ilmunya; apakah diamalkan atau tidak, Hartanya; darimana dia mendapatkan dan untuk apa saja dihabiskannya” (Hadist Hasan, Riwayat Tirmidzi )

Dan sebagai bahan perenungan bersama,
Apakah umur, masa muda, serta waktu kita telah dipakai untuk menggapai keRidhoan Alloh  ??
Ataukah justru kita biarkan berlalu dan terbuang dengan sia-sia dengan berbagai kemaksiatan ??
Renungkanlah sebelum terlambat….., 

Keenam : Umat manusia benar-benar berada didalam kerugian yang nyata apabila tidak memanfaatkan waktu yang telah diberikan oleh Allah  seoptimal mungkin untuk berjalan diatas ketaatanNya.

{ وَالْعَصْرِ,  إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ, إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ }
Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al-`Ashr: 1-3). 

Renungan Kedua : Memahami Karakteristik Waktu Sebelum Melangkah Lebih Jauh…

Setelah kita memahami arti pentingnya waktu dalam pandangan ajaran Islam, maka diperlukan adanya sebuah kiat-kiat yang tepat untuk mengaturnya seoptimal dan seefisien mungkin. Dan tidak lain hal ini dilakukan dengan tujuan supaya kelak kita bisa mempertanggung jawabkannya dihadapan Alloh.

Sebelum melangkah, setidaknya ada beberapa karakteristik waktu yang harus kita pahami dengan baik agar kita bisa mengaturnya dengan baik, diantaranya adalah :
·           Pertama : Waktu akan habis dan berlalu dengan cepat.
·           Kedua : Waktu yang telah habis tak akan pernah kembali dan tak mungkin dapat diganti.
·           Ketiga : Waktu adalah modal terbaik bagi manusia. Karena waktu adalah wadah bagi setiap amal perbuatan manusia.
·           Keempat : Kita akan dimintai pertanggung jawaban dihadapan Alloh  atas waktu yang telah kita pergunakan. 

Renungan Ketiga :  Sebuah Potensi Yang Sama

Setiap manusia diberikan oleh Alloh  bekal serta potensi yang sama untuk bisa meraih tujuan serta cita-citanya. Namun, walaupun diberikan bekal serta potensi yang sama, kenapa pada kenyataannya ada segolongan manusia yang sukses didalam hidupnya dan ada juga segolongan manusia lain yang justru gagal dan terpuruk ??

Kuncinya adalah pada bagaimanakah sudut pandang serta sikap seseorang dalam memandang arti pentingnya sebuah waktu dan cara-cara mengoptimalkannya. Karena secara umum, manusia terbagi menjadi dua golongan : Golongan manusia sukses dan Golongan manusia gagal. Kesuksesan dan kegagalan seseorang sangat erat sekali kaitannya dengan kemampuannya di dalam mengoptimalkan waktu yang dimilikinya.
  • Jika seseorang mampu mengoptimalkan waktu yang Allah  anugerahkan kepadanya untuk selalu meningkatkan keimanan, ilmu, amal shaleh, dan berdakwah di jalan Allah, maka tentunya dia akan menjadi orang yang sukses dan beruntung di dunia serta di akhirat.
  • Namun sebaliknya, jika ia gagal mengoptimalkan waktu yang ia lewati untuk memperkuat keimanan, memperbanyak ilmu, amal shaleh dan berdakwah di jalan Alloh , maka ia dipastikan akan menjadi orang yang merugi di dunia dan terlebih lagi di akhirat kelak. 
Renungan Keempat : Beberapa Metode Untuk Mengoptimalkan Waktu Yang Kita Miliki

Dan berikut ini adalah beberapa hal yang dapat diterapkan untuk mengoptimalkan waktu kita yang terbatas ini dengan sebaik mungkin, 

Pertama : Jangan biarkan waktu kita kosong dan berlalu begitu saja tanpa adanya aktifitas yang bermanfaat.

Dikatakan dalam pepatah :
الوقت كالسيف إن لم تقطعه قطعك ، ونفسك إن لم تشغلها بالحلال شغلتك بالحرام والوقوع في الآثام
Waktu diibaratkan pedang, jika engkau tidak memotongnya maka waktulah yang akan memotongmu, Dan jika engkau tidak menyibukkan dirimu dengan sesuatu yang halal, maka dia akan menyibukkanmu dengan sesuatu yang haram serta perbuatan-perbuatan dosa

Dalam pepatah lain dikatakan :
الفراغ للرجال غفلة ، وللنساء غلمة
Waktu yang kosong bagi laki-laki adalah sebuah kelalaian, dan bagi wanita akan menjerumuskan kepada hal-hal yang buruk (syahwat)."

Oleh karena itu, bukanlah hal yang mengherankan jika Nabi Yusuf  pernah dirayu untuk berbuat zina oleh istri seorang pejabat di zamannya. Yang semua ini disebabkan karena kekosongan hati dan jiwa yang bersumber dari kosongnya waktu dari berbagai aktifitas yang bersifat positif.

Begitu pula kita bisa melihat dampak dari kekosongan waktu yang menimpa para pengangguran di negeri ini.  Yang ternyata dengan meningkatnya angka pengangguran ternyata berbanding lurus dengan peningkatan angka kriminalitas dan tindak pidana. 

Kedua : Jangan pernah menunda-nunda sebuah amalan/pekerjaan. Kerjakanlah semua amalan/pekerjaan pada tempat serta waktu yang tepat.

Terkait dengan larangan untuk menunda-nunda sebuah amal pekerjaan, Rosululloh Shallallahu'alaihi wa sallam pernah bersabda :
(( بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ,  فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ, يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا, أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا
يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا ))
“Bersegeralah dalam beramal (sholih), sesungguhnya datangnya fitnah sebagaimana malam yang gelap gulita.  Seseorang beriman dipagi hari lalu menjadi kafir pada sore harinya, dan seseorang beriman pada sore hari lalu menjadi kafir pada pagi harinya, menukar agamanya dengan kehidupan dunia” (HR. Muslim)

Kemudian setelah itu, hal terpenting yang harus diperhatikan dalam beramal dan beraktifitas adalah bukan sekedar bekerja dan beraktifitas sebanyak-banyaknya tanpa mempedulikan kualitas amalan. Akan tetapi kita juga harus melihatnya dari sisi waktu dan tempatnya. Apakah suatu amalan yang kita kerjakan sudah sesuai dengan tempat serta waktu yang seharusnya, ataukah tidak. Dikatakan didalam sebuah pepatah :
لكل مقام مقال, ولكل مقال مقام
Di setiap kondisi ada ucapan (yang layak untuk diucapkan), dan setiap ucapan ada waktunya (yang cocok)

Oleh sebab itu, disebutkan oleh para ulama bahwa amalan yang paling utama adalah amalan yang dikerjakan sesuai dengan waktunya. Sebagai contoh, ketika datang waktu sholat, maka yang paling utama adalah melakukan sholat, ketika datang waktu Ramadlan, maka amalan yang paling utama dikerjakan adalah puasa. Ketika datang waktu haji, maka yang paling utama dikerjakan adalah haji . Dan ketika waktu ujian, maka amalan yang paling utama dikerjakan adalah belajar untuk menghadapi ujian.

Dan terkait pembahasan ini, kita bisa merujuk kepada kitab :
لطائف المعارف فيما لمواسم العام من الوظائف
(Pengetahuan tentang amalan-amalan bagi setiap musim ) karya Ibnu Rajab Al-Hambali (736-795 H) yang menerangkan tentang amalan-amalan berdasarkan urutan waktunya.

Ketiga : Beramal pada waktu-waktu yang memiliki keutamaan.

Waktu yang diberikan oleh Alloh  begitu terbatas, sedangkan kewajiban yang harus kita tunaikan begitu banyak. Oleh sebab itu, seorang Muslim harus mensiasati keterbatasan waktu yang dimilikinya dengan cara memperhatikan beberapa waktu khusus yang telah Alloh  siapkan bagi para hambanya.

Sesungguhnya Alloh dengan rahmatnya telah menyiapkan waktu-waktu tertentu yang mempunyai keutamaan-keutamaan yang tidak dimiliki oleh waktu-waktu lainnya. Dan hal ini merupakan keuntungan tersendiri bagi seorang hamba untuk mengumpulkan sebanyak mungkin pundi-pundi pahala dan amalan-amalan kebaikan dengan cara yang cukup instan. Diantaranya :
a. Keutamaan bulan Ramadhon, di dalamnya terdapat 10 malam terakhir yang yang apabila kita bersungguh-sungguh beribadah didalamnya, maka kita akan mendapatkan Lailatul Qadr yang keutamaannya melebihi 1000 bulan pada malam-malam lainnya.

b. Keutamaan 10 hari pertama dari bulan Dzulhijjah, puncaknya pada tanggal 10 Dzulhijjah,
(( ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله منه في هذه الأيام العشر))
قالوا : ولا الجهاد في سبيل الله !!
قال : (( ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله ولم يرجع من ذلك بشيء ))
“Tidak ada hari, amal shalih padanya yang lebih Allah cintai daripada sepuluh hari (Dzul Hijjah).” Mereka berkata; wahai Rasulullah, tidak pula berjihad di jalan Allah? Beliau berkata: “Tidak pula berjihad di jalan Allah, kecuali seorang laki-laki yang keluar dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak kembali membawa sesuatupun.(HR. Abu Dawud)

c. Hari Jum’at, merupakan hari terbaik tiap pekan dan terdapat di banyak keutamaan didalamnya. Di dalamnya suatu waktu yang jika seorang muslim berdoa, maka Allah akan mengabulkannya.
 خيرُ يومٍ طلعت عليه الشمسُ يوم الجمعة ))
(( فيها ساعةٌ لا يوافقها عبد مسلم وهو قائم يصلى يسأل الله شيئا, إلا أعطاه إياه 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan pada hari Jumat dengan bersabda: “Di dalamnya terdapat satu waktu, tiada seorang hamba muslim yang menepatinya dengan berdiri shalat memohon sesuatu pada Allah, melainkan Allah pasti akan memberi apa yang dia minta.” (HR. Bukhori)

d. Sepertiga malam terakhir (Waktu Sahur).
(( ينزلُ الله كل ليلة إلى سماء الدنيا حين يبقى ثلث الليل الآخر, فيقول:
من يدعوني فأستجيب له،  ومن يسألني فأعطيه،  ومن يستغفرني فأغفر له))
Rabb Tabaaraka wa Ta’ala kita turun di setiap malam ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir dan berfirman: “Siapa yang berdo’a kepadaKu pasti Aku kabulkan dan siapa yang meminta kepadaKu pasti Aku penuhi dan siapa yang memohon ampun kepadaKu pasti Aku ampuni”. (Muttafaqun Alaihi)

Oleh karenanya, para ulama menggambarkan sholat 5 waktu sebagai timbangan harian, hari Jum’at sebagai timbangan mingguan, bulan Ramadhon sebagai timbangan tahunan, sedangkan haji sebagai timbangan seumur hidup.

Oleh karenanya, mereka begitu memperhatikan bagaimana hariannya bisa terjaga dengan baik, setelah berhasil maka mereka berusaha menjaga mingguannya, setelah berhasil maka mereka berusaha untuk menjaga tahunannya, setelah berhasil mereka menjaga umurnyadan itulah penutup yang baik. 

Keempat : Mensiasati keterbatasan waktu dengan  cara menjalankan beberapa aktifitas didalam satu waktu yang sama.

Aktifitas, kebutuhan, tuntutan hidup, kewajiban, serta tujuan yang hendak diraih oleh manusia sangatlah banyak. Akan tetapi waktu yang tersedia sangatlah terbatas dan seakan berputar dengan sangat cepat.

Oleh karenanya, agar tidak terus tertinggal dari yang lain dan agar tidak tergerus oleh waktu, maka ada baiknya kita bercermin dari kisah para ulama terdahulu yang sampai saat ini nama mereka masih harum mengenai bagaimana mereka mensiasati keterbatasan waktu yang mereka miliki.
  • Mari kita lihat bersama, bagaimana seorang Khatib Al-Baghdadi senantiasa berjalan dengan sebuah buku yang senantiasa dibawa dan dibaca olehnya.
  • Kita lihat juga, bagaimana Abu Al-Wafa’ Ibnu `Uqail Al-Hambali yang menyingkat waktu makan dengan memilih makanan yang praktis, beliau bisa memanfaat perbedaan waktu makan roti kering dengan roti yang diberi air, untuk membaca 50 ayat Al-Qur’an.
  • Dan bagaimana Abul Barakat Majiduddin (kakek dari Abul Abbas Ibnu Taimiyah) jika ia masuk kamar mandi/WC, ia menyuruh saudaranya untuk membacakan sebuah buku dengan suara keras agar dia bisa mendengarnya
Kelima : Menjadikan waktu kita lebih lebih diberkahi oleh Alloh dengan cara menjadikan aktifitas kita bermanfaat bagi orang banyak.

Misalnya dengan cara mengisi aktifitas kita dengan mencari ilmu yang bermanfaat, kemudian mendakwahkannya kepada orang lain, serta menjadikan diri kita lebih bermanfaat bagi orang banyak. Rosululloh Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda di dalam hadits Jabir :
((خير الناس أنفعهم للناس ))
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (Mu`jam al-Ausath:6/58)

Oleh karena itu, sebagai seorang muslim hendaknya kita selalu memilih kegiatan dan amalan yang manfaatnya bisa dirasakan oleh orang banyak. Karena amalan yang bermanfaat bagi orang banyak jauh lebih utama dan memiliki nilai manfaat yang lebih besar bila dibanding dengan amalan yang hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri.

Salah satunya adalah At-Tafaqquh fi Dien (belajar agama) jauh lebih utama dibanding dengan sholat malam atau puasa sunnah, karena manfaat ilmu yang didapatnya tersebut akan bisa dirasakan oleh orang lain. Sedang sholat malam dan puasa sunnah manfaatnya hanya terbatas pada diri sendiri. Disamping itu, ilmu adalah pemimpin bagi amalan karena dengan ilmu amalan bisa diluruskan, lain halnya orang yang beramal tanpa ilmu, maka dia akan terus menerus tenggelam dalam ibadat yang salah, dan otomatis tidak akan diterima oleh Allah.

Dikatakan oleh Abu Darda :
لأنْ أتعلَّمَ مسألةً أحبُّ إليَّ من قيام ليلة
Sungguh, aku mempelajari satu masalah (dalam pembahasan Ilmu) adalah lebih aku sukai dari pada sholat semalaman

Dan dikatakan juga oleh Al-Hasan Al-Bashri :
لأنْ أتعلَّمَ باباً من العلم فأعلِّمُه مسلما أحبُّ إليَّ من أن تكونَ ليِ الدنيا كلُّها في سبيل الله
Sungguh, aku mempelajari ilmu satu bab, lalu aku ajarkan kepada seorang Muslim, hal itu lebih aku cintai daripada aku memiliki dunia seluruhnya lalu saya infakkan di jalan Alloh

Dan pada akhirnya nanti, kebaikan ilmu serta faidah yang telah diberikannya untuk orang lain akan kembali kepada dirinya sendiri, sebagaimana sabda Rosululloh Shallallahu'alaihi wa sallam:
(( إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ, أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ ))
Apabila anak Adam meninggal, terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara : Shodaqoh Jariyah, atau Ilmu yang bermanfaat, atau anak Sholih yang mendoakannya(HR. Muslim)

Keenam : Setiap orang punya waktu & kesempatan yang sama, akan tetapi tidak semua orang bisa mem-PRIORITAS-kan waktunya untuk menggapai cita-cita serta tujuan hidupnya.

Orang yang gagal dalam menggapai tujuan serta cita-cita dalam hidupnya selalu terjebak dalam sugestinya sendiri : ”Saya tidak mampu”, “Mustahil”, “Tidak Mungkin”, “Susah”, “Bisa….Tapi..” dan sejenisnya. Dan hal ini disebut Mental Blocking, yaitu faktor penghambat bagi seseorang dalam mencapai kesuksesannya.

Namun sebaliknya, orang yang sukses adalah seseorang yang mampu menyediakan waktu dan komitmen di dalamnya dirinya untuk menggapai tujuannya. Dan mereka adalah orang-orang yang mempunyai tekad serta semangat yang kuat untuk menggapai impian mereka.

Selain itu, kita juga harus mengetahui urutan ibadah dan (skala) prioritas sebuah amalan. Karena hal ini termasuk dari faktor penting yang dapat menunjang seseorang dalam mengatur waktu agar menghasilkan kerja yang optimal serta terhindar dari kesemrawutanitas aktifitas.

Ketujuh : Buatlah Target, Rencana, dan Tujuan yang hendak diraih beserta dengan langkah-langkahnya yang nyata.

Percayalah, bahwa kita hanya bisa mencapai tujuan dan sasaran hidup dengan setapak demi setapak, dan tidak bisa seketika. Oleh karena itu, ketika kita menghimpun kesuksesan, maka kitapun menghimpunnya secara setapak demi setapak.

Dan disinilah peran penting dari sebuah rencana dalam kehidupan kita. Sebuah perencana yang tersusun dengan baik akan memandu kita untuk melakukan tindakan demi tindakan yang akan menghasilkan sukses-sukses kecil sebelum pada akhirnya sukses-sukses kecil itu terakumulasi menjadi sebuah kesuksesan besar.

Jadi, keberadaan sebuah perencanaan hidup sangatlah vital. Karena hidup dengan perencanaan adalah pilihan yang memberi peluang sukses daripada hidup tanpa perencanaan sama sekali. Dan rencana hidup yang kita buat akan membuat kita bertindak secara lebih terarah, efektif, dan efisien. Artinya bahwa kita hanya akan melakukan tindakan-tindakan kehidupan yang semakin mendekatkan anda kepada sasaran/ tujuan hidup kita. Disisi lain, rencana hidup juga akan meningkatkan tingkat efesiensi serta efektifitas hidup seseorang.

Dengan sebuah perencanaan, kita akan terbimbing untuk melakukan tindakan-tindakan/hal-hal yang semakin mendekatkan kita kepada tujuan hidup serta melakukan tindakan-tindakan yang mendorong produktifitas harian. Jika sudah demikian, maka masalah hasil, Insya Alloh tinggal menunggu waktunya saja, biidzinillah Ta`ala.

Kedelapan : Tulislah sekarang juga RENCANA HIDUP/KEGIATAN yang kita inginkan…….!!!

Misalnya :
a. Membuat perencanaan 1 tahun kedepan,  (mencakup aspek-aspek yang ingin kita raih dan kita tuju, seperti contohnya aspek Pendidikan, Keagamaan, Keluarga, Karir/Bisnis, dan sebagainya)
Lalu, Rencana 3 tahun kedepan…….
Lalu, Rencana 5 tahun kedepan…….
Lalu, Rencana 10 tahun kedepan…..

b. Kita juga dapat membuat sebuah simple autobiografi (Curriculum Vitae) yang berisikan gambaran perjalanan hidup yang ingin kita raih dimasa yang akan datang.

Kita dapat membuatnya di setiap lembarnya dengan cara mengisinya dengan hal-hal atau peristiwa-peristiwa yang ingin kita wujudkan nantinya, Yang nantinya dapat kita buka-buka kembali dikala senggang.  Pada akhirnya nanti hal ini diharapkan dapat memotivasi kita untuk lebih giat dan fokus pada target, tujuan, dan impian yang kita raih.

c. Kita juga bisa membuat Check List atas kegiatan rutin yang harus kita lakukan, serta menyiapkan sebuah diary untuk mencatat hal-hal yang terjadi pada aktifitas keseharian.
Dan pada akhirnya, selamat mencoba dan selamat menyambut kesuksesan yang telah Alloh Ta`ala siapkan untuk kita bersama….(Tamat).
الله العليم الحكيم أعلم بالصواب, وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله و أصحابه أجمعين

-----------




Baca Selengkapnya >>>