Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Pembicaraan seputar berjual beli secara kredit lagi marak. Oleh karena itu, mohon kepada yang mulia untuk menjelaskan hukum mejual dengan kredit !
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Pembicaraan seputar berjual beli secara kredit lagi marak. Oleh karena itu, mohon kepada yang mulia untuk menjelaskan hukum mejual dengan kredit !
Jawaban
Menjual dengan kredit artinya bahwa seseorang menjual sesuatu (barang) dengan harga tangguh yang dilunasi secara berjangka. Hukum asalnya adalah dibolehkan berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Menjual dengan kredit artinya bahwa seseorang menjual sesuatu (barang) dengan harga tangguh yang dilunasi secara berjangka. Hukum asalnya adalah dibolehkan berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Artinya : Hai
orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai
untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya” [Al-Baqarah : 282]
Demikian pula, karena Nabi Shallallahu alaihi wa salam telah membolehkan jual beli As-Salam, yaitu membeli secara kredit terhadap barang yang dijual.
Akan tetapi kredit (angsuran) yang dikenal di kalangan orang-orang saat
ini adalah termasuk dalam bentuk pengelabuan terhadap riba. Teknisnya
ada beberapa cara, di antaranya :
Pertama
Seseorang memerlukan sebuah mobil, lalu datang kepada si pedagang yang tidak memilikinya, sembari berkata, “Sesungguhnya saya memerlukan mobil begini”. Lantas si pedagang pergi dan membelinya kemudian menjual kepadanya secara kredit dengan harga yang lebih banyak. Tidak dapat disangkal lagi, bahwa ini adalah bentuk pengelabuan tersebut karena si pedagang mau membelinya hanya karena permintaannya dan bukan membelikan untuknya karena kasihan terhadapnya tetapi karena demi mendapatkan keuntungan tambahan, seakan dia meminjamkan harganya kepada orang secara riba (memberikan bunga, pent), padahal para ulama berkata, “Setiap pinjaman yang diembel-embeli dengan tambahan, maka ia adalah riba”. Jadi, standarisasi dalam setiap urusan adalah terletak pada tujuan-tujuannya.
Seseorang memerlukan sebuah mobil, lalu datang kepada si pedagang yang tidak memilikinya, sembari berkata, “Sesungguhnya saya memerlukan mobil begini”. Lantas si pedagang pergi dan membelinya kemudian menjual kepadanya secara kredit dengan harga yang lebih banyak. Tidak dapat disangkal lagi, bahwa ini adalah bentuk pengelabuan tersebut karena si pedagang mau membelinya hanya karena permintaannya dan bukan membelikan untuknya karena kasihan terhadapnya tetapi karena demi mendapatkan keuntungan tambahan, seakan dia meminjamkan harganya kepada orang secara riba (memberikan bunga, pent), padahal para ulama berkata, “Setiap pinjaman yang diembel-embeli dengan tambahan, maka ia adalah riba”. Jadi, standarisasi dalam setiap urusan adalah terletak pada tujuan-tujuannya.
Kedua
Bahwa sebagian orang ada yang memerlukan rumah tetapi tidak mempunyai uang, lalu pergi ke seorang pedagang yang membelikan rumah tersebut untuknya, kemudian menjual kepadanya dengan harga yang lebih besar secara tangguh (kredit). Ini juga termasuk bentuk pengelabuan terhadap riba sebab si pedagang ini tidak pernah menginginkan rumah tersebut, andaikata ditawarkan kepadanya dengan separuh harga, dia tidak akan membelinya akan tetapi dia membelinya hanya karena merasa ada jaminan riba bagi dirinya dengan menjualnnya kepada orang yang berhajat tersebut.
Bahwa sebagian orang ada yang memerlukan rumah tetapi tidak mempunyai uang, lalu pergi ke seorang pedagang yang membelikan rumah tersebut untuknya, kemudian menjual kepadanya dengan harga yang lebih besar secara tangguh (kredit). Ini juga termasuk bentuk pengelabuan terhadap riba sebab si pedagang ini tidak pernah menginginkan rumah tersebut, andaikata ditawarkan kepadanya dengan separuh harga, dia tidak akan membelinya akan tetapi dia membelinya hanya karena merasa ada jaminan riba bagi dirinya dengan menjualnnya kepada orang yang berhajat tersebut.
Gambaran
yang lebih jelek lagi dari itu, ada orang yang membeli rumah atau
barang apa saja dengan harga tertentu, kemudian dia memilih yang
separuh harga, seperempat atau kurang dari itu padahal dia tidak
memiliki cukup uang untuk melunasinya, lalu dia datang kepada si
pedagang, sembari berkata, “Saya telah membeli barang anu dan telah
membayar seperempat harganya, lebih kurang atau lebih banyak dari itu
sementara saya tidak memiliki uang, untuk membayar sisanya”. Kemudian
si pedagang berkata, Saya akan pergi ke pemilik barang yang
menjualkannya kepada anda dan akan melunasi harganya untuk anda, lalu
saya mengkreditkannya kepada anda lebih besar dari harga itu. Dan
banyak lagi gambaran-gambaran yang lain.
Akan tetapi yang menjadi dhabit (ketentuan yang lebih khusus)
adalah bahwa setiap hal yang tujuannya untuk mendapatkan riba, maka ia
adalah riba sekalipun dikemas dalam bentuk akad yang halal, sebab
tindakan pengelabuan tidak akan mempengaruhi segala sesuatu. Mengelabui
hal-hal yang diharamkan oleh Allah, hanya akan menambahnya menjadi
semakin lebih buruk karena mengandung dampak negativ dari hal yang
diharamkan dan penipuan, padahal Rasulullah Shallallahu alaihi wa
sallam bersabda.
“Artinya : Janganlah
kamu melakukan dosa sebagaimana dosa yang dilakukan oleh orang-orang
Yahudi sehingga (karenanya) kemudian menghalalkan apa-apa yang telah
diharamkan oleh Allah (sekalipun) dengan serendah-rendah (bentuk)
pengelabuan (siasat licik)”. [1]
[Fatwa Muashirah, hal. 52-53, dari Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin]
[Disalin
dari buku Al-Fatawa Asy-Syariyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa
Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyusun Khalid Al-Jurasiy, Edisi Indonesia
Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Amir Hamzah dkk, Penebit Darul Haq]
_________
_________
Sumber: https://almanhaj.or.id/1468-hukum-berjual-beli-secara-kredit.html